NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Penyelamatan dan Imbalan Tanpa Nama

Di pelataran luar gudang tua yang sepi, pertempuran singkat namun sengit sedang berlangsung. Tiga penculik bertubuh kekar yang awalnya berniat mengeroyok Egi kini meratapi nasib mereka. Dengan kombinasi gerakan kuda-kuda yang kokoh serta sabetan tendangan melingkar yang presisi, Egi dengan sangat mudah menumbangkan mereka satu per satu dalam hitungan detik.

Brak! BUK!

Suara benturan keras terdengar saat penculik ketiga ambruk ke tanah dengan mata mendelik pingsan. Egi menyapu keringat di dahinya, lalu bergegas mengambil tali tambang bekas di sekitar lokasi untuk mengikat erat tangan dan kaki ketiga penjahat tersebut agar tidak bisa kabur saat siuman nanti.

"Tiga orang beres," gumam Egi seraya memperketat ikatan simpul mati pada kaki salah satu penculik. "Tinggal sisa tujuh orang lagi di dalam. Semoga Arkan bisa bertahan."

Sementara itu, di area belakang gudang yang dipenuhi tumpukan besi tua dan kayu lapuk, aku berusaha menyusup masuk melalui celah dinding seng yang menganga. Namun, nasib sial mendadak menimpaku. Langkah kakiku tak sengaja menginjak kaleng bekas yang menimbulkan suara lumayan nyaring.

Klek!

"Heh, Bocah! Kamu ngapain di sini?!"

Suara berat mendadak mengejutkanku dari arah samping. Seorang penculik bertubuh tinggi besar keluar dari balik tumpukan kayu, menatapku dengan pandangan penuh curiga.

Aku langsung menghentikan langkah, memutar otak dengan cepat, lalu mengikis jarak sambil memasang wajah sepaling memelas yang kubisa.

"Maaf, Bang... Aku lagi cari besi rongsokan di sini," ujarku dengan suara agak gemetar yang dibuat-buat, menunjuk tumpukan besi karatan di tanah. "Aku butuh uang buat beli buku sekolah, Bang."

Pria tinggi besar itu mengamati penampilanku dari atas sampai bawah. Bukannya marah atau langsung memukulku, raut wajah beringasnya mendadak melunak. Dia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan selembar uang berwarna merah.

"Nih, pakai uang Abang saja. Cukup kan buat beli buku?" katanya seraya menyodorkan uang seratus ribu rupiah itu padaku.

Aku melongo sejenak di balik ekspresi memelas ini. Ini penjahat sebenarnya baik apa bodoh sih? gumamku heran dalam hati. Mana ada penculik berhati mulia yang memberi uang saku pada anak sekolah di tengah aksi kejahatan?

"Nggak usah, Bang," balasku pura-pura menolak dengan sopan. "Aku tidak mau kalau dikasih cuma-cuma tanpa kerja keras."

"Sudah, ambil saja! Abang lagi banyak uang hari ini!" paksa pria itu seraya mengulurkan tangannya lebih dekat.

"Ya sudah, terima kasih banyak ya, Bang," jawabku pasrah sambil meraih uang tersebut.

Saat jemariku menyentuh uang kertas itu dan perhatian si penculik teralih sepenuhnya karena merasa telah berbuat kebaikan, aku tidak membuang peluang emas ini. Dengan gerakan kilat, aku mengayunkan kepalan tanganku tepat menghantam titik saraf di samping lehernya!

BUK!

Mata pria tinggi besar itu langsung mendelik ke atas, dan tubuh bongsornya roboh seketika ke tanah tanpa sempat mengeluarkan suara sedikit pun.

"Maaf ya, Bang, uangnya saya simpan dulu," bisikku sambil memasukkan lembaran seratus ribu itu ke saku celana.

Tanpa membuang waktu lagi, aku melangkah cepat mendekati ruangan tengah tempat Clara disekap. Namun, baru saja aku mau melangkah melewati ambang pintu, sebuah hentakan angin keras berembus dari arah samping!

Brak!

Sebuah tendangan membabi buta menghantam bahu kiriku dengan sangat telak! Benturan keras itu membuat tubuhku terpental ke samping dan jatuh tersungkur di atas lantai semen yang kotor. Rasa nyeri mendadak menjalar hebat dari bahuku.

"Dasar tikus kecil! Berani-beraninya kamu menyusup ke sini!" bentak seorang penculik berkepala botak yang berdiri menatapku dengan seringai kejam.

Aku meringis pelan, menyapu debu di bajuku, lalu perlahan bangkit berdiri. Aku memperbaiki posisi berdiri, memasang kuda-kuda rapat, dan menatap matanya tanpa rasa takut sedikit pun.

"Jangan banyak bicara, ayo maju!" tantangku dingin.

Si kepala botak menggeram marah. Dia melayangkan pukulan lurus mengincar wajahku. Aku memiringkan badan ke kanan, melangkah masuk ke area terbukanya, lalu melayangkan kombinasi pukulan ke arah perut dan rahang bawahnya secara beruntun!

BUK! BUK!

Pria botak itu terhuyung ke belakang dengan napas memburu. Sebelum dia sempat menguasai keseimbangannya kembali, aku menyapu kaki tumpuannya hingga dia jatuh terjerembap.

Dengan cepat, aku menyambar sisa tali di lantai dan mengikat tangan serta kakinya rapat-rapt.

Di saat yang bersamaan, Egi yang mendengar suara keributan dari area depan langsung masuk menerobos pintu samping. Dia berhadapan dengan dua penculik lain yang mencoba menghadangnya. Tanpa keraguan sedikit pun, Egi melayangkan tendangan dwichagi—tendangan belakang berputar yang sangat bertenaga—tepat di dada penculik pertama, lalu menyapu penculik kedua dengan kombinasi pukulan mematikan.

Brak! BUK!

Kedua penculik itu tumbang dalam sekali gelombang serangan. Egi dengan sigap mengikat mereka dalam hitungan detik.

"Enam musuh sudah dituntaskan di area depan dan samping," ujar Egi sambil menyapu keringat di wajahnya dengan lengan baju. "Semoga saja Arkan baik-baik saja di dalam..."

Egi melangkah masuk lebih dalam ke area tengah gudang, dan matanya berbinar lega saat melihatku sedang berdiri di samping Clara. "Nah! Itu Arkan! Syukurlah kamu baik-baik saja,

Bro!"

Namun, saat mata kami saling bertatap, pandanganku menangkap bayangan dua penculik tersisa—termasuk si ketua penculik—yang merangkak bangun di belakang tubuh Egi membawa batang kayu tebal! Di saat yang bersamaan, aku juga merasakan pergerakan angin kencang di belakang punggungku sendiri!

"Egi! Awas di belakang kamu!" teriakku memberi peringatan sekuat tenaga.

Egi yang paham betul kode-kode bertarung kami langsung berteriak membalas dari kejauhan, "Arkan! Di belakang kamu juga! Ingat besi siku!"

"Besi siku" adalah kode pertarungan yang sering kami latih—sebuah instruksi untuk memutar tubuh setengah lingkaran dan mendorong siku tangan secara horizontal ke arah belakang dengan memanfaatkan seluruh bobot tubuh.

Srettt... BUK! BUK!

Secara serentak, aku dan Egi memutar badan secara drastis, mengayunkan siku kami dengan dorongan bertenaga penuh! Siku kananku menghantam rahang penculik di belakangku, sementara siku Egi mendarat telak di ulu hati penculik yang mencoba menyergapnya dari belakang.

Kedua penculik terakhir itu terlempar ke udara sebelum akhirnya jatuh terkapar tak berdaya di atas lantai. Seluruh sepuluh penculik kini telah berhasil kami lumpuhkan sepenuhnya!

Nguooong... Nguooong... Nguooong...

Suara raungan sirene mobil polisi dan deru mesin kendaraan

mewah mendadak bergaung nyaring dari arah luar gudang.

Lampu strobo merah-biru memantul indah di dinding-dinding seng. Pasukan polisi bersama Pak Frans Sanjaya dan istrinya akhirnya tiba di lokasi penyelamatan.

Aku segera memotong tali yang mengikat tubuh Clara dan melepas isolasi di mulutnya. Clara masih terkulai lemas belum sadarkan diri akibat sisa efek obat bius.

Para petugas polisi bergerak cepat mengamankan kesepuluh penculik yang sudah terikat rapi, sementara Pak Frans Sanjaya dan istrinya berlari histeris menghampiri tubuh putri mereka. Ibu Clara menangis sejadi-jadinya sambil memeluk erat Clara yang belum siuman.

Pak Frans lalu berbalik, menatapku dan Egi dengan mata berkaca-kaca dipenuhi rasa haru dan terima kasih yang mendalam.

"Terima kasih... Terima kasih banyak, Anak-anak Muda!" ujar Pak Frans dengan suara bergetar seraya menjabat tangan kami berdua erat-erat. "Kalian berdua adalah pahlawan keluarga kami! Jika tidak ada kalian, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Clara..."

Aku tersenyum tipis, lalu menatap Pak Frans dengan pandangan sangat serius. "Pak Frans... Kami mohon dengan sangat, tolong jangan beritahukan pada Clara atau siapa pun di sekolah kalau kami berdua yang sudah menolongnya hari ini."

Pak Frans dan istrinya tertegun kaget mendengar permintaan aneh itu. "Loh? Kenapa begitu? Kalian sudah menyelamatkan nyawa putri saya! Kalian berhak mendapat penghargaan dan rasa hormat dari Clara!"

Aku menghela napas pelan, teringat akan dinamika hubunganku dengan Clara di sekolah. "Situasinya sangat rumit jika dia tahu, Pak. Clara punya gengsi yang sangat tinggi, dan kami tidak ingin hubungan kami di sekolah menjadi canggung atau membuat situasi semakin aneh. Cukup katakan saja kalau polisi yang menemukannya di sini."

Egi mengangguk setuju di sampingku. "Iya, Pak. Kami menolong tulus tanpa mengharapkan Clara harus merasa berutang budi pada kami."

Setelah melalui perdebatan kecil dan banyak alasan yang kami sampaikan demi menjaga kebaikan bersama, Pak Frans akhirnya mengalah dan menyetujui permintaan unik kami.

Clara segera digendong oleh petugas medis menuju ambulan untuk dibawa ke rumah sakit terdekat guna mendapatkan perawatan intensif. Sebelum kami berdua berpamitan untuk pulang, Pak Frans merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berisi uang tunai dalam jumlah sangat besar.

"Sebagai rasa terima kasih saya yang sangat besar, tolong terima uang ini untuk biaya sekolah dan kebutuhan kalian," paksanya seraya menyodorkan amplop itu.

Aku dan Egi saling pandang, lalu dengan santun menggelengkan kepala dan menolaknya secara halus.

"Maaf, Pak Frans... Kami menolong Clara murni karena kewajiban sesama manusia, bukan karena mengejar imbalan uang," tolakku dengan nada bicara yang sopan namun tegas.

Melihat penolakan tegas dari kami, Pak Frans makin terpukau oleh integritas dan kejujuran dua pemuda sederhana di hadapannya ini. Dia menarik kembali amplop uang tersebut, lalu mengambil dua lembar kartu plastik tebal berwarna hitam dari dalam dompetnya. Kartu itu berlapiskan ukiran emas dengan logo resmi Sanjaya Group.

"Uang mungkin bisa kalian tolak, tapi tolong... jangan tolak kartu ini," tegas Pak Frans seraya menyelipkan kartu-kartu tersebut ke dalam saku kemeja kami masing-masing. "Ini adalah Kartu Akses Prioritas Sanjaya Group. Kapan pun kalian berdua membutuhkan pekerjaan di masa depan—entah itu setelah lulus sekolah atau saat membutuhkan posisi apa pun—cukup tunjukkan kartu ini di kantor pusat kami, dan kalian dipastikan akan langsung diterima bekerja tanpa syarat."

Aku dan Egi menatap kartu hitam elegan di tangan kami. Sebuah jaminan masa depan yang luar biasa berharga dari seorang pimpinan konglomerat terbesar di kota ini.

"Terima kasih banyak, Pak Frans," ujar kami berdua seraya membungkukkan badan memberi hormat.

"Kami yang harus berterima kasih pada kalian," balas Ibu Clara sambil menyapu air matanya.

Setelah pamit pada orang tua Clara dan pihak kepolisian, aku dan Egi melangkah keluar dari area gudang tua tersebut.

Sambil menuntun motor bututku di bawah pendar sinar mentari sore yang mulai meredup, aku tersenyum tipis membayangkan masa depan. Siapa yang menyangka, sebuah kartu akses di dalam saku kemejaku ini kelak akan menjadi awal dari takdir baru—takdir yang akan membawaku kembali berhadapan dengan Clara Adelin, bukan lagi sebagai Ketua OSIS atau tukang galon, melainkan sebagai supir pribadinya.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!