NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: tamat
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:129.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08

Malam itu, Carolin baru saja pulang dari lokasi pemotretan. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian menghadiri berbagai jadwal pekerjaan yang padat. Namun, begitu memasuki rumah, langkahnya perlahan melambat.

Ada sesuatu yang terasa berbeda. Rumah itu terlalu tenang. Tidak ada suara tangisan bayi.

Tidak ada suara pengasuh yang mondar-mandir. Tidak ada suara pelayan yang panik seperti biasanya.

Carolin bahkan sempat melirik ke arah tangga dengan heran.

"Sepi sekali..." Ia meletakkan tas bermereknya di atas meja konsol dekat pintu masuk. Biasanya pada jam seperti ini, Aurora akan menangis setidaknya beberapa kali. Bahkan, terkadang tangisannya bisa terdengar hingga ruang tamu.

Seorang pelayan yang kebetulan lewat langsung membungkukkan badan.

"Selamat malam, Nyonya."

Carolin mengangguk singkat. "Di mana Tuan Evan?"

"Tuan ada bersama Baby, Nyonya."

Carolin tampak terkejut. "Bersama Aurora?"

"Iya, Nyonya."

Kening Carolin langsung berkerut. Biasanya Evan akan menyerahkan semua urusan bayi kepada pengasuh atau pelayan. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena pria itu lebih sering sibuk dengan pekerjaan.

"Dan Aurora tidak menangis?"

Pelayan itu tersenyum. "Sejak siang tidak banyak menangis, Nyonya."

"Masa?"

"Iya."

Carolin terlihat semakin heran.

Pelayan itu lalu menambahkan, "Semenjak ibu susu yang baru datang."

"Ibu susu baru?"

"Nona Laras."

Pelayan tersenyum kagum.

"Baby Aurora langsung tenang saat digendong olehnya. Bahkan mau menyusu dengan lahap. Setelah itu tidur dengan nyenyak."

Carolin terdiam.

Selama dua bulan terakhir, hampir tidak ada orang yang mampu membuat Aurora setenang itu. Bahkan, dirinya sendiri sering kali gagal.

"Aneh."

Pelayan mengangguk pelan.

"Jujur saja, kami semua juga terkejut. Baby seperti menemukan sesuatu yang membuatnya nyaman."

Entah kenapa, kalimat itu membuat Carolin tidak menyukainya. Perasaan tidak nyaman tiba-tiba muncul di dalam dada. Meski ia tidak tahu alasannya.

"Di mana mereka sekarang?"

"Tuan Evan sedang menemani Nona Laras dan Baby."

Carolin langsung berdiri tegak.

"Di kamar bayi?"

Pelayan tampak sedikit ragu.

"Eh ... tidak, Nyonya."

"Tidak?"

"Tuan memindahkan kamar Baby ke lantai bawah."

"Apa?" Nada suara Carolin langsung meninggi.

Pelayan itu tampak gugup.

"Tuan bilang supaya lebih mudah diawasi oleh ibu susu."

Kening Carolin semakin berkerut. Ia bahkan tidak diajak berdiskusi soal keputusan itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Carolin segera melangkah menuju koridor lantai bawah. Sepatu hak tingginya berdetak pelan di atas lantai marmer.

Semakin dekat, semakin jelas suara yang terdengar dari salah satu kamar. Bukan tangisan bayi, melainkan suara tawa. Disusul suara pria yang terdengar santai.

Langkah Carolin langsung terhenti. Tatapannya mengarah ke pintu kamar yang sedikit terbuka. Dari balik celah pintu, terdengar suara Laras yang sedang berbicara lembut.

"Lihat, dia hampir tertidur lagi."

Kemudian terdengar suara Evan. "Sepertinya dia memang menyukaimu."

Lalu tawa kecil itu terdengar lagi. Seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Wajah Carolin perlahan berubah. Entah kenapa, pemandangan yang bahkan belum ia lihat secara langsung itu membuat dadanya terasa tidak nyaman. Tanpa sadar jemarinya mengepal di sisi tubuhnya.

Ia mendorong pintu kamar itu. Pintu kamar terbuka dengan keras. Suara itu membuat Evan dan Laras sama-sama menoleh. Laras yang sedang duduk di samping tempat tidur bayi terlihat sedikit terkejut.

Sementara Evan langsung berdiri dari kursinya.

"Carolin?"

Wanita itu masuk dengan wajah yang sulit dibaca. Tatapannya lebih dulu tertuju pada Evan sebelum beralih kepada Laras yang sedang memangku Aurora.

"Ada apa?" Tanya Evan.

Carolin menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Seharusnya aku yang bertanya." Nada suaranya terdengar dingin.

"Sedang apa kau di sini?"

Evan mengernyit. "Melihat anakku."

Carolin tidak langsung menjawab.

Pria itu melanjutkan, "Pelayan bilang Aurora jauh lebih tenang sejak Laras datang. Aku hanya ingin memastikan."

Carolin melirik Laras sekilas. Tatapan itu membuat suasana kamar mendadak menjadi canggung. Namun, Laras tetap mempertahankan ekspresi tenangnya. Seolah tidak menyadari bahwa dirinya sedang diamati.

Carolin kemudian berjalan mendekat. Langkahnya berhenti tepat di samping tempat tidur bayi. Tatapannya langsung jatuh pada Aurora yang sedang tertidur pulas.

Namun, sesuatu membuat kening Carolin perlahan berkerut. Tangannya yang kecil sedang menggenggam erat jari telunjuk Laras. Seolah tidak ingin melepaskannya. Pemandangan itu entah mengapa membuat Carolin merasa terganggu.

"Kenapa kau membiarkannya seperti itu?" Suara Carolin memecah keheningan.

Laras mengangkat wajahnya. "Maaf?"

Carolin menunjuk tangan Aurora. "Itu, kau membiarkan dia terus menggenggam tanganmu."

Laras sempat terdiam beberapa detik. Sebelum menjawab dengan hati-hati.

"Dia yang menggenggam sendiri, Nyonya."

"Itu bukan alasan." Nada suara Carolin terdengar tajam.

"Kau bisa melepaskannya."

Laras belum sempat menjawab ketika Evan lebih dulu bersuara.

"Carolin."

Wanita itu menoleh. "Apa?"

"Biarkan saja."

Carolin mengernyit. "Biarkan?"

Evan menunjuk Aurora yang sedang tertidur. "Lihat sendiri, dia tenang. Dia nyaman dan lagipula dia masih bayi."

Pria itu menghela napas. "Memangnya apa masalahnya kalau dia menggenggam tangan Laras?"

Carolin terdiam. Tentu saja ia tidak bisa menjelaskan alasannya. Karena bahkan dirinya sendiri tidak mengerti. Ia hanya tidak suka melihat kedekatan itu.

Tidak suka melihat Aurora tampak begitu nyaman dengan wanita yang baru dikenalnya beberapa jam. Sementara selama ini, bayi itu hampir tidak pernah setenang itu di dekatnya.

"Pokoknya aku tidak suka."

Evan memijat pelipisnya. "Kau terlalu berlebihan."

Carolin langsung menatap tajam suaminya.

"Aku berlebihan?"

"Ya."

"Evan!"

"Oke." Pria itu mengangkat kedua tangannya menyerah.

"Sudah, kita bicarakan di luar."

Carolin tampak masih kesal. Namun, akhirnya ia mengangguk. Sebelum keluar, ia sempat melirik Laras sekali lagi. Tatapan yang membuat suasana kembali terasa dingin. Namun, Laras hanya membalasnya dengan senyum sopan.

"Saya akan menjaga Baby dengan baik, Nyonya."

Carolin tidak menjawab. Ia langsung berbalik dan keluar dari kamar. Evan mengikuti dari belakang.

"Selamat malam, Laras."

"Selamat malam, Pak."

Pintu kamar kembali tertutup.

Keheningan pun menyelimuti ruangan. Laras mengembuskan napas pelan. Kemudian menunduk menatap Aurora yang masih tertidur. Tangannya yang mungil masih menggenggam jari Laras dengan erat.

Perlahan ia mengusap rambut halus putrinya.

"Tidurlah, Sayang." Bisiknya pelan.

Namun, beberapa detik kemudian. Suara pertengkaran terdengar samar dari luar kamar.

"Kau kenapa sih?" suara Evan terdengar kesal.

"Aku hanya tidak suka."

"Tidak suka apa?"

"Melihat cara anak itu menempel padanya. Evan, dia baru datang beberapa jam!"

"Itu justru artinya dia pandai mengurus bayi. Atau mungkin terlalu pandai."

Suara Carolin terdengar semakin tajam. Laras yang mendengar itu perlahan mengangkat kepalanya. Sesuatu yang membuat senyum tipis muncul di bibirnya.

1
Ummee
beneran tamat kak?
nggantung kak😭
masih pensaran siapa yg bikin Elang celaka
Ummee: insyaAllah kalo ada rezeki lebih ya kak, maafff🙏
ini lagi fokus kebutuhan anak.
semoga kakak di lancarkan rezeki nya oleh Allah, Aamiin🤲
total 4 replies
Ummee
malang benar nasib Elang, kak author...
Ummee
kenapa merasa bersalah? kan yg salah bapak nya evan krn menggambil uang perusahaan
Ummee
apa Laras tdk pakai seragam baby sitter?
Ummee
ya iyalah, Aurora takut sama kamu mak lampir, u uppss🤭
Ummee
penasaran, misal ada di dunia nyata, si bayi DNA nya ikut siapa ya? 🙏
Ummee: oke kak, mkasih infonya🥰🙏
total 2 replies
Alfin Jambak
krnapa tidak ada sambungan dari kisah si elang
siska bejo
untuk cerita elang sudah selesai sampai disini kak
Aditya hp/ bunda Lia
nama grup wa nya apa aku cari gak ada
Aisyah Alfatih: DM aja wa ku kak nantinaku undang ke grup
total 3 replies
Keinara Leticia
mau banget kak
Keinara Leticia
mau kak
Aisyah Alfatih: gabung ke grup yang ada di sini ya nanti ada Wanya
total 1 replies
Yani
Ka, mau gabung link
Aisyah Alfatih: boleh kak langsung masuk grup kak
total 1 replies
tenny
seruu
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 💪🥰🥰🥰
Si Memeh
karya mu emang selalu bagus dn seru thooooorrrr 👍👍👍
Woro Septi
tamat ya ga jelas
Aisyah Alfatih: untung di lanjut sampai tamat kak,karna gagal retensi 🫣
total 1 replies
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
karya hebat! tapi masih misterius
Dewi Ansyari
Astaga Elang kasihan celaka😭😭😭,semoga bisa selamat
Dewi Ansyari
Kasihan Elang cinta yg tidak pernah terbalaskan 😭😭
Dewi Ansyari
Tunghulah kehancuran kamu Evan,Carolin dan tuan baskara,sebentar lagi kalian akan mendapatkan ganjarannya 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!