**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 rencana busuk Tiffany
Sementara kehangatan dan kebahagiaan domestik mulai menyelimuti Penthouse Lavender, di belahan kota Jakarta yang lain, sebuah atmosfer yang bertolak belakang sedang mendidih. Rasa hangat tidak ada di sana. Yang ada hanyalah hawa dingin penuh dendam yang siap meledak kapan saja.
Di dalam ruang VIP sebuah bar privat mewah di kawasan bisnis Jakarta Selatan, Tiffany Alexander duduk dengan segelas *wine* merah di tangannya. Gaun sutra mahalnya tampak sedikit kusut, senada dengan raut wajahnya yang kini dipenuhi oleh gurat kemarahan yang pekat.
Sudah tiga hari berlalu sejak ia diseret keluar dari penthouse Devan bagaikan seorang kriminal rendahan. Tiga hari, dan harga dirinya sebagai putri tunggal keluarga Alexander masih terasa diinjak-injak setiap kali ia mengingat bagaimana Devan mendekap wanita miskin bernama Alya itu di depannya.
*PRANK!*
Tiffany melemparkan gelas *wine*-nya ke dinding marmer hingga pecah berkeping-keping, meninggalkan noda merah yang mengalir bagaikan darah.
"Kurang ajar! Wanita sialan itu... berani-beraninya dia merebut Dev-ku!" desis Tiffany dengan suara bergetar menahan amarah. "Pewaris tunggal Dirgantara? Calon istri yang sah? Cih! Devan pasti telah dijebak oleh trik murahan jalang itu!"
Pintu ruang VIP terbuka pelan. Seorang pria bertubuh kurus dengan setelan jas hitam yang tampak mencurigakan melangkah masuk. Ia adalah Bram, orang kepercayaan yang biasa disewa oleh Tiffany untuk melakukan 'tugas-tugas khusus' di balik layar.
"Bagaimana, Bram? Apa kamu sudah mendapatkan informasi yang kuperintahkan?" tanya Tiffany tajam, tidak sabar.
Bram membungkuk hormat sebelum menyerahkan sebuah map cokelat tebal ke atas meja. "Sudah, Nona Tiffany. Saya telah menyelidiki latar belakang wanita bernama Alya Putri itu. Informasi dari lapangan menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang yatim piatu miskin yang tidak memiliki keluarga atau koneksi apa pun. Tapi..." Bram menjeda kalimatnya sejenak.
"Tapi apa?!" bentak Tiffany jengkel.
"Dua hari lalu, Tuan Besar Abraham Dirgantara sendiri yang turun tangan untuk mendaftarkan nama Alya Putri ke dalam sistem perlindungan internal keluarga Dirgantara. Akses medis, pengawalan, hingga identitasnya kini dijaga ketat oleh tim keamanan tingkat satu. Sangat sulit untuk mendekatinya secara langsung di penthouse," jelas Bram dengan raut wajah serius.
Tiffany mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya yang mengenakan cat kuku merah merangsek ke dalam telapak tangannya. "Kakek Abraham bahkan melindunginya?! Ini tidak masuk akal! Bagaimana mungkin pria tua yang terkenal sangat pemilih itu bisa menerima sampah jalanan seperti Alya?!"
Tiffany berdiri, berjalan mondar-mendir di dalam ruangan dengan napas yang memburu. Otaknya yang dipenuhi kedengkian mulai berputar mencari celah.
"Jika kita tidak bisa menyentuhnya di dalam penthouse, maka kita harus memancingnya keluar," ucap Tiffany lambat laun, sebuah senyuman licik yang mengerikan perlahan terukir di bibirnya yang merah merona. "Wanita hamil muda sepertinya pasti memiliki titik lemah. Bagaimana dengan jadwal pemeriksaan kandungannya?"
Bram membuka lembar berikutnya dari dokumen tersebut. "Menurut informasi dari orang dalam rumah sakit resmi Dirgantara, tiga hari lagi Nona Alya dijadwalkan untuk melakukan pemeriksaan rutin di Klinik Utama Medika. Devan Dirgantara biasanya akan mengawalnya, namun pada hari yang sama, ada kunjungan kerja mendadak dari investor luar negeri ke pabrik utama Dirgantara di luar kota. Kemungkinan besar Devan tidak bisa mendampinginya secara langsung."
Mendengar hal itu, mata Tiffany seketika berbinar penuh kelicikan. "Bagus. Kesempatan emas tidak akan datang dua kali."
Tiffany melangkah mendekati Bram, menatap pria itu dengan pandangan dingin yang mematikan. "Bram, aku ingin kamu mengatur sebuah 'kecelakaan bersih' di klinik itu. Aku tidak peduli bagaimana caramu melakukannya. Gunakan obat pencahar dosis tinggi, picu kepanikan massal, atau sewa seseorang untuk menabraknya secara tidak sengaja di koridor rumah sakit."
Tiffany menjeda kalimatnya, lalu berbisik dengan nada yang sangat kejam. "Tujuan utamanya hanya satu: buat wanita sialan itu mengalami keguguran. Aku ingin anak di dalam kandungannya itu lenyap. Tanpa anak itu, dia tidak akan memiliki nilai apa pun di mata keluarga Dirgantara, dan Devan akan menendangnya kembali ke selokan tempat asalnya!"
Bram menelan ludah, sedikit ngeri dengan kekejaman rencana Tiffany. "Tapi Nona, jika Tuan Muda Devan mengetahui kita berada di balik ini..."
"Dia tidak akan tahu jika kamu melakukannya dengan bersih!" potong Tiffany tajam. "Urus semuanya. Aku akan membayar dua kali lipat dari tarif biasanya. Ingat, pastikan anak itu mati!"
---
Sementara itu, di dalam ketenangan Penthouse Lavender, Alya yang baru saja selesai membaca sebuah buku tentang nutrisi ibu hamil mendadak merasakan firasat yang sangat tidak nyaman. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, dan hawa dingin yang aneh merayap di sepanjang tulang belakangnya.
> *[Ibu... ada riak energi negatif yang sangat kotor sedang mengarah ke arah kita. Seseorang dengan jiwa yang penuh busuk sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk mencelakaimu—atau lebih tepatnya, mencelakaku.]*
Suara Baby El menggema di kepala Alya, namun kali ini nadanya tidak lagi santai atau penuh canda seperti biasanya. Suara sang janin ajaib terdengar sangat dingin, berwibawa, dan memancarkan aura kegelapan yang pekat, mencerminkan sosok kaisar bisnis kejam di kehidupan masa lalunya yang sedang murka.
Alya refleks mengelus perutnya yang masih tampak rata dengan tangan kanan yang dihiasi cincin platinum pemberian Devan. "El... apa maksudmu? Siapa yang ingin mencelakai kita?" batin Alya cemas.
> *[Siapa lagi kalau bukan wanita berbaju merah yang tempo hari kita usir seperti anjing kurap? Jiwanya yang dangkal dan penuh kedengkian itu rupanya tidak tahu diri. Dia sedang menyewa beberapa kecoak tanah untuk membuat 'rencana kecelakaan' pada hari pemeriksaan kandunganmu tiga hari lagi.]*
Alya membelalakkan matanya terkejut. "Tiffany? Dia... dia ingin menggugurkanmu?!" Rasa takut sebagai seorang ibu seketika menyerang Alya. Bagaimanapun, secara fisik ia hanyalah wanita biasa yang tidak memiliki kemampuan bertarung.
> *[Tenang, Ibu. Jangan biarkan detak jantungmu meningkat karena ketakutan, itu tidak baik untuk plasentaku. Menggugurkanku? Hmph! Sungguh sebuah lelucon kosmik yang sangat menggelikan. Dia mengira dia sedang berhadapan dengan janin manusia lemah yang tak berdaya.]*
Suara Baby El terdengar mendengus meremehkan, diiringi gelombang energi hangat yang kembali menenangkan gejolak di dada Alya.
> *[Dia ingin bermain di air keruh? Maka aku akan menyeretnya masuk ke dalam palung laut terdalam hingga dia tidak akan bisa bernapas lagi seumur hidupnya. Ibu, jangan beritahu Ayah tentang hal ini dulu. Ayah memiliki terlalu banyak urusan bisnis resmi yang membosankan minggu ini. Biarkan janin jeniusmu ini yang membereskan kecoak-kecoak itu dengan caraku sendiri.]*
Alya mengembuskan napas perlahan, mencoba mempercayai kemampuan luar biasa dari calon anaknya. "Tapi El, kamu harus berhati-hati. Tubuh fisikmu saat ini masih sangat rapuh di dalam rahim Ibu."
> *[Aku tahu, Ibu. Karena itulah aku tidak akan menggunakan serangan fisik primer yang kasar. Aku hanya akan membalikkan seluruh manipulasi energi mereka. Apa pun jebakan yang mereka siapkan untuk kita di rumah sakit nanti... hal itu akan berbalik menghantam tubuh dan nasib Tiffany Alexander sepuluh kali lipat lebih menyakitkan.]*
> *[Pemeriksaan medis tiga hari lagi... ah, aku sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana badut sirkus itu akan menghancurkan masa depan keluarganya sendiri demi memuaskan dendam bodohnya.]*
Di bawah langit langit Penthouse Lavender yang mulai menggelap seiring datangnya malam, Alya kembali bersandar di sofa. Meskipun tahu ada bahaya besar yang sedang mengintai di luar sana, kehadiran batin Baby El yang begitu protektif dan kuat entah bagaimana memberikan rasa aman yang mutlak baginya. Pertarungan di balik bayang-bayang dunia konglomerat baru saja dimulai, dan kali ini, pihak lawan sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang berjalan menuju gerbang neraka yang diciptakan oleh seorang monster kecil ajaib di dalam rahim Alya.