NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6: Bayangan yang Mulai Memburu

Arga baru menyadari dirinya sedang diburu ketika kota perlahan kembali terdengar normal. Deru mesin bus, suara pedagang yang saling memanggil, dan tawa anak-anak yang berlarian di trotoar menciptakan ilusi kedamaian yang nyaris sempurna. Namun setelah sepuluh tahun hidup di dunia yang dipenuhi pemburu dan mangsa, ia memahami bahwa bahaya terbesar justru selalu pandai menyamar sebagai sesuatu yang biasa.

Dengung mesin bus memenuhi kabin saat kendaraan itu bergerak meninggalkan kawasan industri.

Vruumm...

Arga duduk di dekat jendela sambil memandangi pantulan kaca, bukan jalanan di luar. Kebiasaan itu terbentuk sejak bertahun-tahun lalu, ketika pantulan kaca jauh lebih sering menyelamatkan nyawanya daripada tindakan menoleh secara langsung.

Di balik pantulan tersebut, sebuah SUV hitam muncul sekitar lima mobil di belakang bus. Kendaraan itu tidak berusaha mendekat, tetapi juga tidak menjaga jarak terlalu jauh. Ia hanya tetap berada di sana seperti bayangan yang tidak memiliki bentuk, namun terus mengikuti setiap langkah mangsanya.

Arga tidak langsung bereaksi. Ia justru menguap kecil, menyandarkan kepala ke jendela, dan berpura-pura menjadi penumpang yang kelelahan sepulang bekerja. Semakin sedikit perhatian yang ia tarik, semakin mudah baginya mengetahui siapa yang sedang memperhatikannya.

Sekitar lima belas menit kemudian, bus berhenti di sebuah halte yang ramai. Arga turun bersama belasan penumpang lain, lalu berjalan santai menuju deretan kios makanan. Ia membeli sebotol air mineral hanya untuk memberi dirinya alasan berhenti, sementara matanya diam-diam mengamati arus manusia yang berlalu-lalang.

"Kembali lagi, Mas?" tanya penjual sambil menyerahkan botol minuman.

"Iya, sekalian istirahat sebentar," jawab Arga sambil tersenyum tipis.

Belum sempat ia membuka tutup botol, seorang pria bertopi abu-abu melintas di seberang jalan. Penampilannya tampak biasa saja, tetapi beberapa detik kemudian muncul pria lain berjaket hitam yang berhenti di depan etalase toko tanpa benar-benar memperhatikan barang dagangan. Semuanya terlihat terlalu rapi, terlalu tenang, dan yang paling mencurigakan, terlalu sering melirik ke arah yang sama.

Jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat. Ia memang tidak mengenali wajah mereka, tetapi ia mengenali pola pergerakan mereka. Orang-orang itu bukan penguntit amatir. Mereka menjaga jarak dengan disiplin, berganti posisi secara bergantian, dan tidak pernah saling berbicara secara langsung.

"Jadi kalian memang ada..."

Ia meneguk air mineral perlahan.

"...Organisasi Hitam."

Tanpa mengubah ekspresi, Arga kembali berjalan. Kali ini ia sengaja memasuki sebuah gang sempit yang menghubungkan dua jalan utama. Gang itu hanya cukup dilewati satu sepeda motor, sementara dinding rumah di kanan-kirinya dipenuhi jemuran pakaian yang bergoyang tertiup angin.

Plap...

Plap...

Suara sandal anak-anak yang berlari menggema dari ujung gang, membuat suasana tampak begitu biasa. Namun justru di tempat seperti itulah Arga memperlambat langkahnya. Saat melewati sebuah jendela rumah, ia memanfaatkan pantulan kaca untuk mengamati keadaan di belakang tanpa menarik perhatian.

Pria bertopi abu-abu itu masih mengikuti. Jaraknya sekitar tiga puluh meter, cukup dekat untuk mengawasi tetapi cukup jauh agar tidak mencurigakan. Teknik seperti itu merupakan ciri khas orang-orang yang telah terlatih.

Arga kembali berbelok menuju sebuah pasar tradisional yang dipenuhi pembeli. Aroma ikan segar bercampur rempah-rempah memenuhi udara, sementara suara para pedagang saling bersahutan hingga membentuk keramaian yang memekakkan telinga.

"Heh, cabenya murah!"

"Ikan masih segar!"

"Ayo, Bu, lihat dulu!"

Keramaian seperti ini selalu menjadi tempat terbaik untuk menghilang. Arga berpindah dari lorong sayuran menuju kios pakaian, kemudian keluar melalui pintu samping tanpa pernah berjalan lurus lebih dari lima belas langkah. Begitu melihat sebuah angkot berhenti di pinggir jalan, ia segera naik dan menyerahkan ongkos kepada sopir.

"Cepat, Bang."

Sopir itu mengangguk sebelum menginjak pedal gas.

Brrmmm...

Angkot segera melaju meninggalkan kawasan pasar. Melalui kaca belakang, Arga melihat pria bertopi abu-abu itu muncul beberapa detik terlambat. Pria tersebut tampak mencari ke kanan dan kiri sebelum mengangkat sesuatu ke dekat telinganya, kemungkinan sebuah alat komunikasi yang sengaja disembunyikan.

Sudut bibir Arga terangkat tipis.

"Kalian terlambat."

Ia turun hanya dua kilometer kemudian, berganti ojek daring, lalu kembali berpindah ke bus kota yang bergerak ke arah berlawanan. Seluruh perpindahan itu dilakukan dengan cepat dan tanpa pola yang jelas sehingga siapa pun yang mencoba mengikutinya harus menebak langkah berikutnya tanpa pernah sempat memastikan keberadaannya.

Hampir satu jam berlalu sebelum Arga akhirnya merasa cukup yakin. SUV hitam yang sebelumnya membuntuti tidak lagi terlihat, begitu pula pria-pria asing yang mengawasinya sejak keluar dari laboratorium. Meski berhasil melepaskan mereka, sedikit pun rasa lega tidak muncul. Sebaliknya, pikirannya justru semakin berat.

"Jadi aku bukan satu-satunya yang bermain sebelum kiamat dimulai."

Kalimat itu keluar bersama embusan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Arga benar-benar menyadari bahwa setiap langkahnya kini diawasi oleh musuh yang bahkan tidak pernah tercatat dalam ingatan sepuluh tahun kehidupannya yang terdahulu.

Malam telah turun ketika ia kembali ke kamar kos. Begitu pintu terkunci, seluruh dokumen yang dibawa dari laboratorium segera dikeluarkan dari Ruang Dimensi dan dibentangkan di atas meja. Lampu belajar menjadi satu-satunya sumber cahaya yang menerangi peta, laporan distribusi, dan berbagai catatan yang nyaris dimusnahkan.

Sekilas, seluruh dokumen itu tampak berantakan tanpa hubungan yang jelas. Namun semakin lama diperhatikan, Arga mulai menemukan pola yang tersembunyi. Garis-garis merah yang menghubungkan beberapa kota ternyata bukan jalur penelitian, melainkan rute distribusi sampel Necrovirus menuju berbagai fasilitas penelitian rahasia.

Jarinya berhenti pada satu nama yang terus berulang di berbagai dokumen.

Fasilitas Sektor-9.

Arga segera mengambil buku catatan miliknya dan mulai mencocokkan setiap informasi dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya. Setelah hampir satu jam menganalisis seluruh data, sebuah kesimpulan perlahan terbentuk di benaknya.

"Sektor-9 bukan laboratorium utama."

Ia menarik sebuah garis melingkar di atas peta.

"Tempat ini hanya pusat transit."

Kalau dugaan itu benar, berarti seluruh sampel dari berbagai laboratorium akan dikumpulkan lebih dahulu di sana sebelum dikirim menuju lokasi penelitian yang sebenarnya. Dengan kata lain, siapa pun yang menguasai Sektor-9 memiliki akses menuju jaringan yang jauh lebih besar daripada fasilitas penelitian mana pun yang telah ia temukan.

Arga kembali membuka catatan kecil milik Dr. Adrian. Tanggal pengiriman berikutnya masih tetap sama, yaitu 17 Juni. Ia lalu melirik kalender yang tergantung di dinding.

Hari ini masih tanggal empat belas.

Masih ada tiga hari.

Tiga hari untuk menyusup.

Tiga hari untuk mencegat sampel.

Atau...

Tiga hari untuk menemukan siapa dalang sebenarnya.

Ia kemudian mengeluarkan Kristal Tier 1 dari Ruang Dimensi. Permukaannya yang kusam masih tampak sama seperti saat pertama kali ditemukan, tetapi kini benda kecil itu terasa jauh lebih berat di tangannya. Arga mengingat kembali resep ramuan Awakener yang telah ia tuliskan sebelumnya. Satu kristal, air murni, dan beberapa bahan pendukung memang cukup untuk satu percobaan awal, tetapi itu jelas tidak akan memadai. Ia membutuhkan jauh lebih banyak kristal jika ingin memperkuat dirinya, melindungi Sari, sekaligus menghadapi ancaman baru yang kini bukan hanya berasal dari para zombie.

Kristal itu kembali menghilang ke dalam Ruang Dimensi.

Wussh...

"Masih jauh dari cukup."

Keesokan paginya Arga kembali keluar. Kali ini tujuannya bukan lagi mengumpulkan logistik, melainkan melengkapi berbagai perlengkapan yang sebelumnya belum sempat ia persiapkan. Ia membeli pakaian berwarna gelap tanpa ciri khas, peta jalan cetak, radio komunikasi sederhana, kunci serbaguna, hingga beberapa pelat nomor kendaraan bekas yang dijual di pasar loak.

Setiap barang yang selesai dibeli langsung ia simpan ke dalam Ruang Dimensi ketika tidak ada orang yang memperhatikan. Ia tidak mengetahui seberapa luas jaringan organisasi misterius tersebut, tetapi ia tidak berniat memberi mereka kesempatan sekecil apa pun untuk melacak pergerakannya.

Menjelang sore, Arga berhenti di sebuah bengkel kecil yang menjual sepeda motor bekas tanpa banyak pertanyaan. Ia memilih sebuah motor tua dengan cat yang mulai memudar dan suara mesin yang terdengar kasar. Kendaraan seperti itu sama sekali tidak menarik perhatian, dan justru itulah alasan utama ia memilihnya.

"Yakin pilih yang ini?" tanya pemilik bengkel heran. "Yang sebelah lebih bagus."

"Yang ini cukup."

Pemilik bengkel hanya mengangkat bahu sebelum menyerahkan kunci motor.

"Kalau begitu semoga awet."

Arga membalas dengan senyum tipis. Ia tidak membutuhkan kendaraan yang nyaman. Ia hanya membutuhkan kendaraan yang bisa ditinggalkan kapan saja tanpa menimbulkan rasa sayang sedikit pun.

Malam harinya, buku catatan kembali terbuka di atas meja. Tepat di bawah daftar nama para pengkhianat masa depan, Arga menambahkan satu entri baru menggunakan tinta hitam. Ia menuliskan nama Organisasi Hitam, lalu memberi catatan bahwa identitas mereka masih belum diketahui. Setelah terdiam beberapa saat, ujung pulpennya kembali bergerak dan menambahkan satu kalimat lagi.

"Prioritas eliminasi: tinggi."

Tatapannya mengeras. Kini ia memahami satu kenyataan yang sebelumnya luput dari seluruh perhitungannya. Zombie mungkin akan menjadi pihak yang menghancurkan dunia, tetapi manusialah yang tampaknya sedang membuka pintu menuju kehancuran itu.

Ratusan kilometer dari kamar kos sederhana tersebut, sebuah gedung tanpa papan nama berdiri sunyi di tengah kawasan industri yang dikelilingi pagar tinggi. Lorong-lorongnya bersih tanpa satu pun jendela, sementara para pria berseragam hitam berjalan cepat membawa map dan tablet berisi berbagai laporan.

Pintu ruang rapat terbuka perlahan.

Klik...

Seorang pria melangkah masuk, meletakkan sebuah map di atas meja panjang, lalu membungkukkan badan dengan hormat.

"Tim pembersih melaporkan ada penyusup di Laboratorium Delta."

Ruangan itu tetap sunyi. Di ujung meja hanya tampak siluet seseorang yang duduk membelakangi cahaya sehingga wajahnya sepenuhnya tertutup bayangan.

"Kerugian?"

"Satu Kristal Tier 1 hilang."

"Beberapa dokumen juga tidak ditemukan."

Keheningan kembali memenuhi ruangan hingga suara pendingin udara terdengar begitu jelas.

Hummm...

Pria di ujung meja akhirnya berbicara dengan nada datar yang justru terasa jauh lebih menekan daripada teriakan.

"Identitas penyusup?"

"Belum diketahui."

"Kami sedang melacaknya."

Jari telunjuk pria itu mengetuk sandaran kursi secara perlahan.

Tok...

Tok...

Tok...

Ia kemudian menoleh sedikit ke arah layar yang menampilkan foto Laboratorium Delta yang telah porak-poranda.

"Jika dia sudah mengetahui keberadaan kristal..."

Suara itu berhenti sesaat.

"...berarti ada variabel yang tidak tercatat."

Tidak seorang pun di dalam ruangan berani mengangkat kepala. Mereka hanya menunggu perintah berikutnya yang akhirnya keluar dengan tenang, tetapi tidak memberi ruang sedikit pun untuk ditolak.

"Temukan dia."

"Dan sebelum pengiriman ke Sektor-9 dimulai..."

"...pastikan variabel itu dihapus."

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!