Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.
Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.
"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilanbelas
Langkah kaki Shen Ran yang konstan bergema di koridor batu pualam yang sunyi, menjauh dari Aula Agung. Angin malam berembus kencang, memainkan ujung jubah sutra biru samudra miliknya. Di belakangnya, Lian’er dan Mei’er berjalan dengan napas yang masih memburu akibat ketegangan politik tingkat tinggi yang baru saja mereka saksikan.
"Permaisuri..." Lian’er berbisik setelah memastikan mereka berada cukup jauh dari jangkauan telinga penjaga aula. "Apakah tidak apa-apa membiarkan Selir Chu kembali ke istananya? Hamba takut dia akan menggunakan waktu ini untuk memusnahkan surat-surat rahasia klan Chu yang tersisa."
Clara, yang mengendalikan tubuh Shen Ran, menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap lurus ke arah bulan purnama yang tertutup awan tipis. Senyuman dingin terukir di wajah cantiknya.
"Memusnahkan bukti? Justru itu yang kuharapkan, Lian’er," jawab Shen Ran, suaranya terdengar tenang namun penuh perhitungan taktis. "Orang yang panik akan bertindak ceroboh. Istana Barat sekarang telah disegel rapat oleh pasukan elit atas perintah Kaisar sendiri. Setiap tikus yang mencoba keluar dari sana membawa dokumen, atau setiap surat yang mencoba diselundupkan masuk, akan langsung jatuh ke tangan kita."
Sebagai mantan pengacara yang terbiasa menangani sengketa bisnis skala besar, Clara tahu betul prinsip dasar interogasi dan investigasi: Jangan mengejar umpan jika kau bisa membuat umpan itu membawa seluruh sarangnya kepadamu.
Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi melangkah keluar dari balik pilar koridor yang gelap. Gerakannya begitu senyap hingga membuat Lian’er dan Mei’er tersentak mundur, secara insting memasang posisi protektif di depan Permaisuri. Namun, Shen Ran tetap berdiri tegak. Ia mengenali jubah hitam dan aura menonjol dari pria bertopeng perak di hadapannya.
"Pangeran Sembilan," sapa Shen Ran datar. "Saya kira Anda sedang sibuk mengumpulkan pasukan di gerbang utara."
Feng Muye menurunkan sedikit topeng peraknya, menampilkan sudut bibirnya yang terangkat membentuk senyuman apresiatif. "Pasukan saya selalu siap bergerak dalam waktu lima belas menit, Permaisuri. Saya hanya ingin memastikan bahwa rekan sekutu saya di ibu kota tidak kekurangan bidak selama saya pergi ke Selatan."
Pria itu melangkah mendekat, memotong jarak di antara mereka hingga aroma gaharu yang pekat kembali memenuhi indra penciuman Shen Ran. Feng Muye menyerahkan sebuah token perunggu kecil dengan ukiran lambang burung elang kepada Shen Ran.
"Ini adalah token komando untuk intelijen bayangan saya yang tersisa di ibu kota," bisik Feng Muye, suaranya berat dan bersungguh-sungguh. "Gunakan mereka untuk mengawasi setiap pergerakan menteri sayap kanan yang tersisa. Long Tianqi mungkin telah mengunci Chu Xinyue, tapi menteri-menteri tua itu adalah serigala licik yang bisa berbalik menggigit jika terdesak."
Shen Ran menerima token logam yang terasa dingin di telapak tangannya. Matanya beradu dengan mata Feng Muye, sebuah tatapan yang penuh dengan kalkulasi politik, tanpa ada ruang untuk romansa klise, melainkan murni rasa hormat antar dua penguasa strategi.
"Terima kasih, Pangeran Sembilan. Pergilah ke Selatan dan amankan tambang garam itu. Pastikan klan Chu tidak memiliki jalur logistik untuk kembali. Urusan di ibu kota... serahkan pada saya. Saya akan memastikan bahwa saat Anda kembali, struktur birokrasi kekaisaran ini sudah bersih dari akar-akar busuk mereka," ucap Shen Ran tegas.
"Saya memegang kata-kata Anda, Permaisuri," ujar Feng Muye.
Feng Muye memasang kembali topeng peraknya, membungkuk hormat dengan gestur teatrikal yang elegan, lalu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan malam secepat ia datang. Shen Ran mengepalkan jemarinya di atas token perunggu tersebut. Fajar sebentar lagi akan tiba, dan esok hari, sidang umum kekaisaran akan menjadi panggung eksekusi politik yang sesungguhnya.
"Permaisuri jadi lebih cerdik semenjak keluar dari Istana dingin. Hamba jadi tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Yang mulia Permaisuri lagi," kata Mei'er senang.
Mendengar celetukan polos Mei’er, Shen Ran tidak langsung menjawab. Ia kembali melangkah, membiarkan jubah biru samudranya menyapu lantai pualam yang dingin. Keheningan malam itu kembali merayap, hanya menyisakan suara ketukan sepatunya yang konstan dan berwibawa.
"Cerdik saja tidak cukup untuk bertahan di tempat ini, Mei'er," sahut Shen Ran tanpa menoleh, suaranya terdengar datar namun sarat akan penekanan. "Di dalam istana ini, kelengahan sekecil apa pun dinilai dengan kepala yang penggal. Jika aku tetap menjadi Shen Ran yang lama, yang hanya bisa menangis dan mengharapkan belas kasihan dari pria yang menduduki takhta itu, maka malam ini kita semua sudah mendekam di penjara bawah tanah."
Lian’er yang berjalan di samping Mei’er segera menyenggol lengan temannya itu, memberi isyarat agar tidak terlalu banyak bicara. Sebagai pelayan yang paling lama mendampingi Shen Ran, Lian’er bisa merasakan perubahan drastis pada aura junjungannya. Permaisuri mereka yang sekarang bukan lagi wanita rapuh yang menderita akibat cinta yang dikhianati, melainkan sosok penguasa yang kalkulatif dan tak tersentuh.
"Hamba mengerti, Yang Mulia," ucap Mei’er, langsung menundukkan kepalanya, menyadari bobot kata-kata sang Permaisuri.
"Mei'er, aku punya tugas untukmu," kata Shen Ran, menghentikan langkahnya menatap Mei'er.
Mei’er mendongak dengan cepat, keterkejutan dan rasa antusias terpancar di matanya yang bulat. Ia segera merapatkan tangannya di depan dada, membungkuk takzim dengan kesetiaan penuh. "Hamba siap menerima perintah, Yang Mulia Permaisuri. Tugas apa yang ingin Anda berikan kepada hamba?"
Shen Ran melirik ke sekeliling mereka sekali lagi, memastikan angin malam yang berembus adalah satu-satunya hal yang bergerak di koridor sepi itu. Ia menurunkan sedikit volume suaranya, membawa intonasi dingin.
"Awasi selir Chu, dan laporkan setiap gerakannya. Aku yakin selir Chu tidak akan tinggal diam," kata Shen Ran, memberi perintah kepada Mei'er.
Mei’er mengangguk mantap, sorot matanya yang biasa jenaka kini berubah menjadi sangat serius. Tugas ini adalah tanggung jawab besar yang menuntut kehati-hatian tingkat tinggi. "Hamba mengerti, Yang Mulia. Hamba akan melebur dengan bayang-bayang di sekitar Istana Barat. Tidak akan ada satu pun desah napas atau surat yang keluar dari sana tanpa sepengetahuan Anda."
"Ingat, Mei'er," potong Shen Ran, suaranya merendah hampir menyerupai bisikan angin malam, namun sarat akan ketegasan hukum yang tak terbantahkan. "Jangan sampai tertangkap. Saat ini, Istana Barat memang sedang dikepung oleh pasukan elit Long Tianqi, tetapi justru di bawah tekanan seperti itulah Chu Xinyue akan meluncurkan kartu as terakhirnya. Sampaikan pesan pada intelijen bayangan Pangeran Sembilan untuk membantumu memantau dari luar."
Clara tahu betul dari pengalamannya sebagai pengacara bahwa musuh yang terpojok adalah musuh yang paling berbahaya. Chu Xinyue yang licik pasti akan mencari celah sekecil apa pun untuk menyelamatkan posisinya, entah itu dengan mengirim pesan rahasia kepada menteri faksi sayap kanan yang tersisa, atau memusnahkan dokumen-dokumen yang bisa menyeretnya lebih dalam ke jurang makar.
"Lian’er," panggil Shen Ran kemudian, beralih pada pelayan seniornya. "Siapkan pakaian pelayan pengantar air atau pelayan dapur untuk Mei’er. Penyamaran yang rapi adalah kunci utama agar ia bisa bergerak bebas di sekitar perimeter Istana Barat tanpa memicu kecurigaan prajurit jaga."
"Baik, Yang Mulia. Segala sesuatunya akan hamba siapkan begitu kita menginjakkan kaki di Istana Phoenix," jawab Lian’er dengan patuh.
Shen Ran kembali menatap Mei’er, memberikan sebuah anggukan kecil yang sarat akan kepercayaan. "Pergilah sekarang sebelum fajar benar-benar menyingsing. Dan laporkan apa pun yang kau temukan langsung kepadaku, bukan kepada orang lain."
"Hamba mohon pamit, Yang Mulia Permaisuri. Hamba tidak akan mengecewakan Anda," bisik Mei’er. Ia membungkuk dalam untuk terakhir kali, lalu berbalik dengan gerakan yang sangat tangkas dan senyap, melebur ke dalam kegelapan koridor menuju arah paviliun samping untuk mengganti pakaiannya.
Setelah siluet Mei’er menghilang sepenuhnya, Shen Ran melanjutkan langkah kakinya yang konstan menuju gerbang Istana Phoenix. Di balik lipatan lengan baju sutra biru samudranya, jemarinya meraba token logam pemberian Feng Muye yang terasa dingin.
Matahari esok hari akan segera terbit, membawa serta sidang umum kekaisaran yang akan menjadi arena pembuktian sesungguhnya. Dan Clara sudah memastikan bahwa setiap bidak di papan catur ini telah ditempatkan di posisi yang tepat untuk mengepung mangsanya tanpa menyisakan ruang untuk bernapas.