NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menikah Demi Masa Depan

Sebagai mahasiswi kedokteran, kebutuhan biayanya memang tak bisa dianggap remeh. Setiap minggu selalu ada keperluan baru: pembelian alat praktikum, bahan penelitian, buku referensi yang harganya selangit, sampai biaya laboratorium yang nilainya terus bertambah. Semua itu memakan biaya yang tak sedikit, jauh melebihi apa yang bisa ia penuhi dengan penghasilannya bekerja paruh waktu di kafe.

Kakaknya, Damar, jujur tak bisa membantu apa-apa lagi. Gajinya hanya cukup untuk menutupi biaya pengobatan lanjutan ibunya di Bandung dan kebutuhan hidup sehari-hari keluarga. Satu-satunya bantuan yang didapat Kinasih adalah kiriman uang lima juta rupiah setiap bulan dari ibunya, jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan kebutuhan yang ada, hanya cukup untuk membayar sewa kamar dan makan seadanya saja.

Dan kini, tantangan terbesar sedang menanti. Ujian praktikum akhir semester yang menjadi syarat utama sebelum ia bisa masuk ke masa koas akan segera dilaksanakan. Biaya pendaftaran dan peralatan wajib untuk ujian itu terhitung sangat besar, nilainya mencapai puluhan juta rupiah.

Pihak fakultas sudah memberikan peringatan tegas: jika uang itu belum dibayar sebelum batas waktu yang ditentukan, Kinasih tidak akan diizinkan mengikuti ujian. Artinya, ia harus mengulang satu semester penuh, masa studinya terhambat, dan impiannya menjadi dokter yang ia perjuangkan selama bertahun-tahun bisa hancur begitu saja.

Kinasih duduk termenung di sudut perpustakaan, menatap lembaran pengumuman biaya ujian dengan mata berkaca-kaca. Tangannya menggenggam kertas itu erat sampai jari-jarinya memutih.

Bagaimana ini? Ujian ini sangat menentukan masa depanku… jika tidak ikut, semua perjuanganku sia-sia. Tapi dari mana lagi aku harus cari uang sebanyak ini?batinnya, dadanya terasa sesak dan hampa.

Ia sudah menolak tawaran Kenan dengan keras, memegang teguh harga dirinya semampu mungkin. Tapi kenyataan pahit ini perlahan-lahan mulai menggerus pertahanannya. Di satu sisi ada harga diri, di sisi lain ada masa depan yang terancam lenyap. Kinasih terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan, tak tahu lagi harus melangkah ke mana.

Hari itu terasa paling berat dalam hidup Kinasih. Ia berjalan gontai meninggalkan kampus, kepalanya penuh sesak dengan pikiran yang saling berbenturan, antara harga diri yang ingin dijaga, dan masa depan yang terancam lenyap. Akhirnya, dengan hati yang hancur dan mata berkabut air mata, ia memberanikan diri menghubungi Kenan, mengajukan janji bertemu di sebuah kafe yang sepi dan jauh dari keramaian.

Tak lama kemudian, Kenan datang sendirian. Begitu melihat sosok Kinasih yang sudah menunggu dengan wajah pucat dan tatapan kosong, senyum ceria dan penuh kemenangan langsung terukir di bibirnya. Ia duduk di hadapan gadis itu, menatap lekat-lekat, menunggu dengan sabar apa yang akan disampaikan Kinasih, seolah sudah menduga apa jawaban yang akan keluar.

Suasana hening sejenak, sampai akhirnya Kinasih menunduk dalam, menggenggam tangannya di atas meja dengan gemetar hebat. Ia berbicara dengan suara lirih, terbata-bata, seolah setiap kata yang keluar menusuk hatinya sendiri.

“Baiklah… aku setuju. Aku mau menjadi istri sirrimu… selama satu tahun saja, seperti yang kau tawarkan dulu,” ucapnya singkat dan terbatas, tak sanggup menatap wajah Kenan lebih lama lagi.

Mendengar jawaban itu, Kenan langsung tertawa lebar, bukan tawa menghina, melainkan tawa lega dan bahagia yang tak bisa ia sembunyikan. Ia mengulurkan tangannya, memegang lembut tangan Kinasih yang dingin dan gemetar itu.

“Bagus sekali, Sayang. Keputusan yang paling tepat. Nanti malam, kamu datang saja ke hotel bintang lima di pusat kota, kamar nomor yang sudah aku kirimkan ke ponselmu. Sudah aku siapkan semuanya, tak perlu kau pikirkan apa pun lagi,” ujar Kenan dengan nada penuh kepastian.

Kinasih hanya mengangguk pelan tanpa menjawab sepatah kata pun. Hatinya terasa kosong, namun di balik itu ada sedikit rasa lega karena setidaknya ada jalan keluar yang lebih terhormat dibandingkan transaksi semalam itu.

Malam harinya, tepat sesuai janji, Kinasih melangkah gontai memasuki kamar hotel yang dituju. Ia tertegun kaget begitu membuka pintu, di dalam sana sudah ada dua orang saksi dan seorang penghulu yang duduk dengan sopan, semuanya sudah disiapkan oleh Kenan tanpa ada yang kurang sedikit pun.

Kenan berdiri menunggunya di tengah ruangan, mengenakan pakaian rapi, menatap Kinasih dengan pandangan yang dalam dan penuh rasa memiliki. Ia melangkah maju, berdiri di hadapan penghulu, lalu dengan suara lantang, tegas, dan jelas mengucapkan ijab kabulnya.

Penghulu dan saksi-saksi mengangguk mengiyakan, dan setelah Kinasih mengucapkan qabul dengan suara lemah namun jelas, semua syarat sudah terpenuhi. Malam itu juga, di dalam kamar itu, Kinasih resmi menjadi istri sah Kenan, meski hanya dalam ikatan sirri, dan hanya untuk waktu satu tahun yang disepakati.

Setelah penghulu dan dua orang saksi itu berpamitan dan keluar meninggalkan kamar, kini hanya tinggal Kenan dan Kinasih berdua saja di dalam ruangan yang hening dan remang-remang.

Kenan tersenyum lebar, tatapannya lembut namun penuh rasa memiliki yang mendalam. Ia melangkah perlahan mendekati Kinasih, lalu menunjuk ke arah ranjang empuk yang ada di sudut kamar.

“Duduklah di sana, istriku…” ucapnya dengan suara rendah dan lembut.

Kinasih hanya menunduk dalam, rambutnya terurai menutupi sebagian wajahnya agar tak terlihat rasa malu dan gugup yang meluap di hatinya. Dengan langkah pelan dan tubuh yang masih gemetar, ia berjalan mendekati ranjang lalu duduk dengan posisi membungkuk, tak sanggup sama sekali mengangkat wajah dan menatap mata suaminya itu.

Kenan ikut duduk di sampingnya, menatap sosok istrinya dengan pandangan yang tak pernah lepas. Ia terpesona melihat kecantikan Kinasih yang terlihat makin suci dan memikat malam itu. Perlahan, jari-jarinya yang kekar terangkat, lalu dengan lembut namun pasti ia mengangkat dagu Kinasih agar wajah gadis itu menghadap ke arahnya.

“Lihatlah aku… mulai malam ini, kau adalah milikku sepenuhnya,” bisik Kenan, suaranya terdengar hangat dan memabukkan.

Belum sempat Kinasih membuka mulutnya untuk berkata apa-apa, Kenan langsung mendekatkan wajahnya. Bibirnya mendarat lembut namun penuh gairah di atas bibir Kinasih, menciumnya dalam, dalam sekali, sebagai tanda bahwa mulai malam ini, Kinasih benar-benar menjadi miliknya yang sah.

Dibalas ciuman yang mendalam itu, tubuh Kinasih terasa lemas sepenuhnya. Perlahan-lahan, ia membiarkan punggungnya menyentuh permukaan ranjang yang empuk, merebahkan dirinya sepenuhnya di atas sana. Tak lama, Kenan pun menyusul dan menindih tubuh gadis itu dengan sangat lembut, menopang berat badannya dengan kedua siku agar tak membuat Kinasih terasa tertekan sedikit pun.

Tanpa terburu-buru, Kenan mulai menebarkan ribuan ciuman penuh cinta di seluruh wajah cantik istrinya itu, dari dahi, turun ke pelipis, kedua mata yang terpejam rapat, lalu turun ke hidung, pipi, hingga kembali ke bibirnya. Sentuhannya jauh lebih lembut, lebih hangat, dan lebih tulus dibandingkan malam-malam sebelumnya, seolah ingin memanjakan setiap inci kulit Kinasih sepenuhnya.

Pada awalnya Kinasih hanya diam membeku, matanya terpejam rapat dan jantungnya berdebar kencang menahan rasa malu dan gugup. Namun, kelembutan yang diberikan Kenan perlahan-lahan meluluhkan seluruh pertahanan hatinya. Lama-kelamaan, ia mulai merasakan kehangatan yang menjalar nyaman di sekujur tubuhnya, dan tanpa sadar ia pun mulai membalas ciuman itu, mengikuti irama dan alur yang dibuat suaminya itu. Keduanya pun hanyut sepenuhnya dalam gairah dan keintiman yang terasa begitu indah.

Sambil tak melepaskan tatapan penuh kekaguman, tangan Kenan bergerak perlahan ke bagian depan kemeja Kinasih. Satu per satu kancingnya dibuka dengan gerakan hati-hati, sampai akhirnya terbuka lebar dan memperlihatkan bagian dalam tubuhnya. Ikatan di bagian depan bra yang membungkus kedua gundukan lembut itu pun dibuka, terlepas begitu saja, memperlihatkan keindahan yang hanya boleh ia lihat dan sentuh.

Tanpa ragu lagi, Kenan langsung membenamkan wajahnya ke sana. Ia mulai mencium, menjilat, dan menghisap puncak lembut itu dengan sangat santai dan lembut, tak tergesa, tak kasar, hanya memanjakan hingga membuat seluruh tubuh Kinasih terasa meleleh.

Rasa nikmat yang luar biasa itu menjalar cepat ke seluruh urat nadinya, membuat kepala Kinasih terkulai ke belakang, bahunya terangkat sedikit, dan desahan lembut yang membuai pun keluar begitu saja dari bibirnya yang terbuka.

“Ahhh… hhh… Kak… lembut sekali… ahhh…”bisiknya lirih dan mendayu, seluruh pertahanannya sudah runtuh sepenuhnya, menyerahkan diri sepenuhnya pada suaminya yang kini memiliki dirinya secara sah.

Tak berhenti sampai di dada, ciuman lembut Kenan terus bergerak turun menyusuri lekuk tubuh Kinasih. Ia mencium setiap jengkal kulitnya dengan penuh rasa, melewati perut rata dan halus itu, terus meluncur makin ke bawah hingga akhirnya tiba di tempat yang paling tersembunyi dan paling peka milik istrinya itu.

Di sana, ia bisa merasakan kehangatan yang memancar dan kelembapan yang sudah melimpah, tanda bahwa tubuh Kinasih sudah benar-benar siap dan terbuai sepenuhnya. Tanpa ragu lagi, Kenan membuka sedikit lagi kedua kaki Kinasih, lalu langsung membenamkan wajahnya tepat di daerah intim itu.

Lidahnya yang lembut mulai bergerak aktif, menjilat perlahan dari bawah ke atas, berputar memutar di bagian paling puncak yang paling peka, sesekali menekan dan menghisapnya dengan lembut namun kuat, seolah sedang menikmati rasa manis yang paling istimewa di dunia. Ia juga tak lupa menghisap cairan nikmat yang keluar dari sana, membuat setiap sentuhannya terasa semakin memabukkan.

Rasa kenikmatan yang luar biasa itu langsung meledak menjalar ke seluruh urat nadi Kinasih, melebihi apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya. Kepalanya terasa melayang, seluruh tubuhnya terasa meleleh dan terbakar kehangatan.

“Ahhhh… hhh… Kak… Nikmat sekali… jangan berhenti… ahhhh!”

Desahan-desahan panjang dan keras terus meluncur bebas dari bibirnya, tak ada lagi rasa malu atau sungkan. Kedua tangannya mencengkeram erat-erat sprei di atas ranjang hingga buku-buku jarinya memutih, sementara kedua kakinya tertekuk dan bergetar hebat di samping kepala Kenan, tak sanggup lagi menahan gelombang rasa yang terus memuncak.

Kinasih terasa melayang di antara sadar dan tak sadar, seluruh tenaganya terkuras habis oleh kenikmatan yang tiada tara itu. Hingga akhirnya, dengan satu hisapan dan gerakan lidah terakhir yang tepat, tubuhnya menegang seketika, punggungnya terangkat melengkung, dan gelombang kenikmatan paling dahsyat meledak membanjiri seluruh raganya.

Ia mencapai puncaknya, mendesah panjang dan melengking seolah jiwanya terlepas sejenak, lalu tubuhnya langsung terkulai lemas, terengah-engah hebat, berkeringat, dan hanya bisa merasakan kebahagiaan yang meluap-luap yang membuatnya tak berdaya sama sekali.

Tak berhenti sampai di dada, ciuman lembut Kenan terus bergerak turun menyusuri lekuk tubuh Kinasih. Ia mencium setiap jengkal kulitnya dengan penuh rasa sayang, melewati perut rata dan halus itu, terus meluncur makin ke bawah hingga akhirnya tiba di tempat yang paling tersembunyi dan paling peka milik istrinya itu.

Di sana, ia bisa merasakan kehangatan yang memancar dan kelembapan yang sudah melimpah, tanda bahwa tubuh Kinasih sudah benar-benar siap dan terbuai sepenuhnya. Kenan mengerang pelan penuh kekaguman, lalu berbisik dengan suara parau yang sangat lembut:“Manismu luar biasa, Sayang… semua ini milikku saja, hanya aku yang boleh merasakan dan menikmatinya selamanya…”

Tanpa ragu lagi, Kenan membuka sedikit lagi kedua kaki Kinasih, lalu langsung membenamkan wajahnya tepat di daerah intim itu. Lidahnya yang lembut mulai bergerak aktif, menjilat perlahan dari bawah ke atas, berputar memutar di bagian paling puncak yang paling peka, sesekali menekan dan menghisapnya dengan lembut namun kuat, seolah sedang menikmati rasa manis yang paling istimewa di dunia. Ia juga tak lupa menghisap cairan nikmat yang keluar dari sana, membuat setiap sentuhannya terasa semakin memabukkan.

“Ahhhh… hhh… Kak… enak sekali… ahhhh… jangan berhenti… nikmatnya luar biasa…”Desahan panjang, lembut, dan mendayu terus meluncur bebas dari bibir Kinasih, suaranya terputus-putus karena terhanyut rasa yang semakin memuncak.

Kenan terus memanjakannya, sesekali mengangkat wajahnya sebentar untuk membisikkan kata-kata yang membuat hati Kinasih makin luluh:“Suaramu sangat merdu, Sayang… tubuhmu sempurna sekali… buat aku makin jatuh cinta padamu setiap detiknya…”

Rasa kenikmatan yang luar biasa itu langsung meledak menjalar ke seluruh urat nadi Kinasih, melebihi apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya. Kepalanya terasa melayang, seluruh tubuhnya terasa meleleh dan terbakar kehangatan.

“Ahhhhhh… hhh… Kakkk… lepas sudah… ahhhh… aku tak kuat lagi…”Desahannya makin keras dan melengking, tak ada lagi rasa malu atau sungkan. Kedua tangannya mencengkeram erat-erat sprei di atas ranjang hingga buku-buku jarinya memutih, sementara kedua kakinya tertekuk dan bergetar hebat di samping kepala Kenan, tak sanggup lagi menahan gelombang rasa yang terus memuncak.

1
sunaryati jarum
Semoga pelaku segera tertidur 😄dan keadaan Kinasih dabn bayinya aman
sunaryati jarum: Maksude tertangkap kok tertidur 🤣🤣😄
total 1 replies
sunaryati jarum
Itu perbuatan orang bayaran Kamila
sunaryati jarum
Semoga mereka bersatu setelah Kenan bebas dari pernikahannya
sunaryati jarum
Reyna orangnya Kenan.Semoga rencana busuk Kamila untuk melenyapkan Kinasih gagal,malah orang suruhannya tertangkap
sunaryati jarum
Kamu bener bukankah perjanjiannya jelas Kenan , hanya setahun.Maks untuk saat ini berjuang dan lindungilah Kinasih dari kejahatan yang akan dilakukan Kamila
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!