"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23 Masa Lalu
"Argh... sial!"
Ardy mengacak rambutnya frustrasi hingga tatanan rapinya berantakan. Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kulit kebesarannya dengan napas memburu.
Berkas-berkas rapat evaluasi yang sejak tadi terbuka di hadapannya, sama sekali tak lagi menarik perhatiannya. Kertas-kertas penuh angka itu seolah hanya menjadi pajangan.
Pikirannya sepenuhnya disandera oleh foto-foto yang baru saja dikirimkan oleh anak buahnya sepuluh menit yang lalu.
"Kenapa aku jadi nggak fokus begini?" gumamnya kesal, suaranya serak menahan amarah.
"Dia masih istri sah ku! Beraninya dia pamer kedekatan dengan laki-laki lain di tempat terbuka seperti itu!" geram Ardy pada ruangannya yang kosong.
Napas Ardy memburu cepat. Dadanya naik turun seiring dengan asumsi-asumsi liar yang mulai meracuni otaknya.
"Atau angan-jangan selama ini dia memang sudah punya pria simpanan? Saat aku sibuk bekerja, dia bersenang-senang di luar sana?"
Pikiran itu entah mengapa membuat dadanya mendadak terasa sangat sesak. Ada perih yang tak kasat mata menyayat egonya sebagai seorang laki-laki.
"Kurang puas apa dia sama aku?!"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, menggema di ruang kerja yang kedap suara itu. Namun, sedetik kemudian, Ardy membeku. Tangannya yang mengepal perlahan mengendur.
Puas?
Kata itu tiba-tiba terasa begitu ironis menampar wajahnya. Ia tertawa sumbang, menertawakan kebodohannya sendiri. Selama tiga tahun pernikahan mereka, ia hampir tak pernah menyentuh Kirana. Jangan ditanya soal nafkah batin, menatap matanya saat makan malam pun Ardy enggan.
Bukan karena wanita itu tidak cantik. Melainkan karena hati Ardy telah lama dikunci rapat, dan kuncinya dipegang oleh Siska. Baginya, pernikahan dengan Kirana tak lebih dari sebuah janji dan tanggungjawab. Sebuah bentuk balas budi yang dipaksakan kepada almarhum kakek Kirana, pria yang dulu pernah menggelontorkan dana triliunan untuk menyelamatkan perusahaan keluarganya dari jurang kebangkrutan.
Karena itulah, Ardy selalu membangun tembok es yang tinggi. Ia menjaga jarak. Ia merasa sudah cukup menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga di atas kerta dengan memberi nafkah setiap bulan dan menyediakan tempat tinggal berupa rumah mewah.
Namun, ia tak pernah sudi benar-benar menjadi seorang suami untuk Kirana. Sampai malam terkutuk itu terjadi.
Malam yang hingga detik ini terus menghantui setiap sudut pikirannya. Sepulang dari perayaan tender bisnis besar, Ardy pulang dalam keadaan mabuk berat. Alkohol telah merampas akal sehatnya. Pandangannya kabur. Kesadarannya nyaris hilang sepenuhnya.
Yang ia ingat hanyalah ada aroma vanilla yang menenangkan dan seseorang dengan tangan lembut membantunya naik ke kamar utama. Lalu entah bagaimana, keesokan paginya ia terbangun tanpa busana di atas ranjang yang sama, tepat di samping Kirana.
Sejak saat itu, Ardy memblokir memori itu dan menganggap semuanya sebagai sebuah kesalahan fatal. Kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan terhadap Siska, wanita yang sungguh-sungguh ia cintai.
"Aku sudah mengkhianati Siska. Malam itu, aku menyentuh Kirana," bisiknya lirih sembari memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.
Dan sejak hari itu pula, Ardy bersumpah pada dirinya sendiri tak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Ia semakin menjauhi Kirana, membiarkan wanita itu sendirian dalam dinginnya rumah tangga mereka.
Tetapi, entah sejak kapan, tepatnya setelah Kirana siuman dari kecelakaan beberapa hari lalu, semuanya berubah.
Perubahan Kirana mulai mengusik ketenangan pikirannya siang dan malam. Wanita yang dulu selalu menunduk patuh, kini berani menentang dan menatap langsung ke manik matanya. Wanita yang dulu selalu menangis diam-diam di kamarnya, kini membalas setiap hinaan ibunya dengan senyuman sinis yang mematikan.
"Brengsek!" Ardy memukul meja kerjanya dengan kepalan tangan. "Aku benar-benar sudah tidak waras kalau terus memikirkan ini di sini."
Tanpa pikir panjang lagi, Ardy menyambar jas dan kunci mobilnya di atas meja. Ia harus melihatnya sendiri dengan mata kepalanya.
"Aku harus menjemputnya. Sekarang juga."
*
*
Sementara itu, di tempat yang berbeda.
Setelah selesai menikmati makan siang yang penuh dengan sandiwara yang memuaskan, Tristan membukakan pintu mobil penumpang depan untuk Kirana.
"Silakan masuk, Nona," ucap Tristan dengan nada formal yang sudah kembali.
Kirana tersenyum tipis dan melangkah masuk ke kursi penumpang dengan anggun.
Tristan memutar ke kursi kemudi, menghidupkan mesin dan melaju tenang meninggalkan pelataran parkir restoran.
"Anda yakin ingin pergi ke rumah sakit sendirian hari ini, Nona?"
Kirana menoleh dari jendela, menatap pria disampingnya itu.
"Memangnya kenapa, Tristan? Aku hanya mau memeriksa jahitan di kepalaku. Tidak akan lama."
Tristan menatap lurus ke jalanan. "Bagaimana kalau di sana anda secara tidak sengaja bertemu suami anda? Tuan Ardy punya banyak akses di rumah sakit tersebut. Keadaan bisa menjadi canggung, atau bahkan berbahaya untuk mental anda."
Kirana terkekeh pelan, tawa yang terdengar sangat dingin.
"Tidak masalah. Kalaupun aku bertemu mas Ardy di sana, biar saja. Aku justru ingin melihat bagaimana reaksi wajahnya setelah melihat foto-foto kencan siang kita tadi."
Tristan menghela napas pelan. Jemarinya mencengkeram setir mobil sedikit lebih erat.
Sebagai orang kepercayaan mendiang kakek Kirana, Tristan sudah menjaga wanita ini sejak belasan tahun lalu. Ia merasa sangat bertanggung jawab atas nyawa dan keselamatan wanita di sampingnya ini.
Apalagi, kecelakaan tragis yang menimpa Kirana beberapa hari lalu masih menyisakan trauma dan rasa bersalah yang begitu besar di dada Tristan.
Hari itu, saat hujan deras mengguyur kota, sebenarnya Tristan akan membuntuti Kirana dari sebuah acara. Namun, sebuah rapat pemegang saham dadakan yang sengaja dijebak oleh pihak lawan membuatnya terlambat datang tiga puluh menit.
Dan dalam rentang waktu tiga puluh menit itulah, kecelakaan maut itu terjadi.
Bayangan tubuh Kirana yang terkapar bersimbah darah di aspal jalan masih sering muncul menghantui mimpi Tristan setiap malam.
"Nona, saya tetap merasa sangat bersalah," ucap Tristan tiba-tiba.
"Tristan...,"
"Saat anda mengalami kecelakaan, saat anda sangat membutuhkan perlindungan, saya gagal menjalankan amanah kakek anda. Saya tidak ada di sisi anda," potong Tristan dengan rahang mengeras menahan emosi.
Kirana tersenyum tipis, kali ini senyumnya sangat tulus. Ia menyentuh lengan jas Tristan dengan lembut.
"Itu bukan salahmu, Tristan."
"Tapi, Nona—"
"Kamu sudah bekerja terlalu keras. Kamu masih harus mengurus perusahaan utama peninggalan kakek dari balik layar. Aku tidak ingin terus-terusan merepotkan mu untuk hal sepele seperti mengantarku ke dokter," sela Kirana.
Belum selesai Kirana berbicara, Tristan tiba-tiba menyalakan lampu hazard. Mobil mendadak menepi dan berhenti di bahu jalan raya yang cukup sepi.
Tristan mematikan mesin. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh menatap Kirana dengan wajah yang luar biasa serius dan tegas.
"Maafkan ketidaksopanan saya, Nona."
Kirana mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"
Tristan tidak menjawab. Pria itu melepaskan sabuk pengamannya, turun dari mobil, lalu berjalan memutar ke sisi kiri. Ia membuka pintu di sisi Kirana dan mengulurkan sebelah tangannya.
"Ayo turun!"
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy