Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.
Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.
Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.
Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.
Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekasih yang Tidak Mengingatku
Pintu balairung terbuka, dan Lin Xiurong melihat Yao Tian untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun. Dunia mendadak menyempit. Suara rantai, napas iblis, langkah Qi An, bahkan api di dinding terasa menjauh. Yang tersisa hanya wajah pria berbaju putih itu: mata yang sama, garis rahang yang sama, suara yang pernah memanggilnya Rong Er di taman istana manusia.
Lin Xiurong berdiri tanpa sadar. Bawahannya terkejut karena ia tidak pernah kehilangan kendali di depan siapa pun. Namun Yao Tian hanya memberi hormat sopan, seolah ia sedang menyapa penguasa asing.
Tidak ada rindu di matanya. Tidak ada pengenalan. Itu lebih menyakitkan daripada pedang.
Di sela peristiwa itu, satu hal menjadi semakin jelas: tidak ada keputusan yang benar-benar bersih di tiga alam. Setiap pilihan selalu membawa bayangan pilihan lain yang tidak diambil. Musuh bisa bersembunyi di balik sumpah, keluarga bisa lahir dari kesetiaan, dan takdir sering datang dengan wajah yang terlalu kejam untuk dikenali sejak awal.
Qi An tidak menyukai kemungkinan. Baginya, yang tidak pasti harus dipotong sebelum tumbuh menjadi bahaya. Song Xiaolian berbeda; ia selalu memberi kesempatan pada hal kecil untuk bertahan.
Yao Tian meminta izin tinggal beberapa hari. Alasannya terdengar ringan, tetapi Lin Xiurong melihat luka racun di lengan kirinya sudah mulai menghitam. Ia tahu pria itu akan mati jika dibiarkan pergi, dan bagian paling bodoh dari dirinya masih tidak sanggup melihat Yao Tian mati di hadapannya lagi.
Maka ia mengizinkan. Bukan karena percaya. Bukan karena tertipu. Ia mengizinkan karena penantian ribuan tahun tidak bisa dipadamkan oleh satu tatapan asing.
Saat Yao Tian berterima kasih dan keliru hampir memanggil namanya tanpa gelar, Lin Xiurong tersenyum. Ia berkata pria itu boleh memanggilnya apa pun. Dalam hati, ia berharap satu hari nanti ia kembali memanggilnya Rong Er.
Di sela peristiwa itu, satu hal menjadi semakin jelas: tidak ada keputusan yang benar-benar bersih di tiga alam. Setiap pilihan selalu membawa bayangan pilihan lain yang tidak diambil. Musuh bisa bersembunyi di balik sumpah, keluarga bisa lahir dari kesetiaan, dan takdir sering datang dengan wajah yang terlalu kejam untuk dikenali sejak awal.
Di tempat seperti Alam Bawah, kebenaran jarang datang dalam bentuk terang. Ia lebih sering muncul sebagai bau darah, bekas luka, atau keheningan yang terlalu lama dipertahankan.
Bagi Lin Xiurong, malam itu bukan sekadar bagian dari pemerintahan atau perang. Malam itu adalah pengingat bahwa makhluk yang sudah mati berkali-kali tetap bisa dibuat takut oleh satu nama. Ia dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang dewa tanpa gemetar. Namun ketika masa lalu berjalan mendekat dengan wajah Yao Tian, seluruh kekuatan itu terasa seperti perhiasan yang tidak sanggup menutup luka.
Sementara bagi Yao Tian, Alam Bawah tidak lagi sesederhana laporan yang ia terima di langit. Ia menemukan kekejaman, benar, tetapi juga menemukan aturan, kesetiaan, rasa takut, dan jenis kasih sayang yang tidak mau disebut kasih sayang. Semakin lama ia tinggal, semakin sulit membedakan apakah ia sedang mendekati musuh atau justru mendekati bagian dari dirinya yang sengaja dikubur.
Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada tatapan ragu Yao Tian, tidak percaya pada belas kasihan Lin Xiurong, dan terutama tidak percaya pada cerita lama yang menyebut cinta mampu menyelamatkan seseorang. Dalam pengalamannya, cinta lebih sering menjadi tangan yang membuka pintu untuk pisau. Karena itu, ia berjanji dalam hati akan menjadi pisau yang lebih cepat.
Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan seseorang untuk menyelamatkannya, tetapi mungkin membutuhkan seseorang yang berani melihat kesepiannya tanpa memanfaatkannya. Harapan itu kecil, hampir bodoh, dan di Alam Bawah hal kecil sering mati lebih dulu. Namun ia tetap menjaganya seperti menjaga nyala lilin di tengah badai merah.
Dan di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Benang merah yang pernah salah diikat tidak langsung putus hanya karena pemiliknya mati. Ia bersembunyi, kusut, terbakar, lalu muncul lagi pada saat paling tidak tepat. Jika Lin Xiurong dan Yao Tian benar-benar ditakdirkan bertemu, maka pertemuan itu tidak akan datang sebagai hadiah. Ia akan datang sebagai ujian yang meminta darah.
Bagi Lin Xiurong, malam itu bukan sekadar bagian dari pemerintahan atau perang. Malam itu adalah pengingat bahwa makhluk yang sudah mati berkali-kali tetap bisa dibuat takut oleh satu nama. Ia dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang dewa tanpa gemetar. Namun ketika masa lalu berjalan mendekat dengan wajah Yao Tian, seluruh kekuatan itu terasa seperti perhiasan yang tidak sanggup menutup luka.
Sementara bagi Yao Tian, Alam Bawah tidak lagi sesederhana laporan yang ia terima di langit. Ia menemukan kekejaman, benar, tetapi juga menemukan aturan, kesetiaan, rasa takut, dan jenis kasih sayang yang tidak mau disebut kasih sayang. Semakin lama ia tinggal, semakin sulit membedakan apakah ia sedang mendekati musuh atau justru mendekati bagian dari dirinya yang sengaja dikubur.
Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada tatapan ragu Yao Tian, tidak percaya pada belas kasihan Lin Xiurong, dan terutama tidak percaya pada cerita lama yang menyebut cinta mampu menyelamatkan seseorang. Dalam pengalamannya, cinta lebih sering menjadi tangan yang membuka pintu untuk pisau. Karena itu, ia berjanji dalam hati akan menjadi pisau yang lebih cepat.
Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan seseorang untuk menyelamatkannya, tetapi mungkin membutuhkan seseorang yang berani melihat kesepiannya tanpa memanfaatkannya. Harapan itu kecil, hampir bodoh, dan di Alam Bawah hal kecil sering mati lebih dulu. Namun ia tetap menjaganya seperti menjaga nyala lilin di tengah badai merah.
Dan di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Benang merah yang pernah salah diikat tidak langsung putus hanya karena pemiliknya mati. Ia bersembunyi, kusut, terbakar, lalu muncul lagi pada saat paling tidak tepat. Jika Lin Xiurong dan Yao Tian benar-benar ditakdirkan bertemu, maka pertemuan itu tidak akan datang sebagai hadiah. Ia akan datang sebagai ujian yang meminta darah.
Bagi Lin Xiurong, malam itu bukan sekadar bagian dari pemerintahan atau perang. Malam itu adalah pengingat bahwa makhluk yang sudah mati berkali-kali tetap bisa dibuat takut oleh satu nama. Ia dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang dewa tanpa gemetar. Namun ketika masa lalu berjalan mendekat dengan wajah Yao Tian, seluruh kekuatan itu terasa seperti perhiasan yang tidak sanggup menutup luka.
Sementara bagi Yao Tian, Alam Bawah tidak lagi sesederhana laporan yang ia terima di langit. Ia menemukan kekejaman, benar, tetapi juga menemukan aturan, kesetiaan, rasa takut, dan jenis kasih sayang yang tidak mau disebut kasih sayang. Semakin lama ia tinggal, semakin sulit membedakan apakah ia sedang mendekati musuh atau justru mendekati bagian dari dirinya yang sengaja dikubur.
Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada tatapan ragu Yao Tian, tidak percaya pada belas kasihan Lin Xiurong, dan terutama tidak percaya pada cerita lama yang menyebut cinta mampu menyelamatkan seseorang. Dalam pengalamannya, cinta lebih sering menjadi tangan yang membuka pintu untuk pisau. Karena itu, ia berjanji dalam hati akan menjadi pisau yang lebih cepat.
Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan seseorang untuk menyelamatkannya, tetapi mungkin membutuhkan seseorang yang berani melihat kesepiannya tanpa memanfaatkannya. Harapan itu kecil, hampir bodoh, dan di Alam Bawah hal kecil sering mati lebih dulu. Namun ia tetap menjaganya seperti menjaga nyala lilin di tengah badai merah.
Dan di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Benang merah yang pernah salah diikat tidak langsung putus hanya karena pemiliknya mati. Ia bersembunyi, kusut, terbakar, lalu muncul lagi pada saat paling tidak tepat. Jika Lin Xiurong dan Yao Tian benar-benar ditakdirkan bertemu, maka pertemuan itu tidak akan datang sebagai hadiah. Ia akan datang sebagai ujian yang meminta darah.
Bagi Lin Xiurong, malam itu bukan sekadar bagian dari pemerintahan atau perang. Malam itu adalah pengingat bahwa makhluk yang sudah mati berkali-kali tetap bisa dibuat takut oleh satu nama. Ia dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang dewa tanpa gemetar. Namun ketika masa lalu berjalan mendekat dengan wajah Yao Tian, seluruh kekuatan itu terasa seperti perhiasan yang tidak sanggup menutup luka.
Sementara bagi Yao Tian, Alam Bawah tidak lagi sesederhana laporan yang ia terima di langit. Ia menemukan kekejaman, benar, tetapi juga menemukan aturan, kesetiaan, rasa takut, dan jenis kasih sayang yang tidak mau disebut kasih sayang. Semakin lama ia tinggal, semakin sulit membedakan apakah ia sedang mendekati musuh atau justru mendekati bagian dari dirinya yang sengaja dikubur.
Yao Tian berkata ia datang karena kagum pada penguasa baru Alam Bawah. Kalimatnya halus, matanya tenang, dan senyumnya terlalu tepat. Lin Xiurong segera tahu ada sihir langit di suaranya. Ia bisa merasakan usaha kecil untuk melunakkan hati, seperti jari yang menyentuh pintu terkunci.
Ia hampir tertawa. Yao Tian tidak perlu sihir untuk melemahkannya. Selama ribuan tahun, nama pria itu sudah menjadi celah paling besar dalam pertahanannya.
Qi An menodongkan pedang ke leher Yao Tian. Lin Xiurong menyuruhnya mundur. Perintah itu membuat seluruh aula lebih dingin daripada kematian.
Di sela peristiwa itu, satu hal menjadi semakin jelas: tidak ada keputusan yang benar-benar bersih di tiga alam. Setiap pilihan selalu membawa bayangan pilihan lain yang tidak diambil. Musuh bisa bersembunyi di balik sumpah, keluarga bisa lahir dari kesetiaan, dan takdir sering datang dengan wajah yang terlalu kejam untuk dikenali sejak awal.
Tiga alam tidak pernah benar-benar adil. Surga punya aturan, Alam Bawah punya hukum, dan manusia hanya punya harapan yang sering pecah sebelum sempat tumbuh.