Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Yang Terlambat
Pagi datang dengan langit yang cerah, seolah tidak pernah terjadi apa pun pada malam sebelumnya. Cahaya matahari menyusup melalui jendela kamar Aluna, menerangi kotak kayu hitam yang masih tergeletak di atas meja belajarnya.
Ia belum memindahkannya.
Sejak menerima pesan misterius itu, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh logika.
Siapa yang mengirim kotak tersebut?
Mengapa orang itu mengetahui pertemuannya dengan Niel?
Dan yang paling mengganggunya, mengapa semua pesan yang diterimanya selalu terdengar seperti peringatan, bukan ancaman?
Aluna mengambil secarik kertas yang tersimpan di dalam kotak.
Ia membacanya sekali lagi.
"Jangan terlalu percaya kepada orang yang datang setelah hujan."
Kalimat itu masih terasa sama membingungkannya.
Namun kali ini, ia memutuskan satu hal.
Ia tidak ingin terus hidup di antara dugaan.
Jika memiliki kesempatan bertemu Niel lagi, ia akan menanyakan semuanya secara langsung.
______________________________________
Di markas organisasi, Niel sedang menatap layar besar yang menampilkan denah kota.
Beberapa titik berwarna merah berkedip pelan.
"Itu posisi tim kita?" tanyanya.
Darren mengangguk.
"Semua anggota telah ditempatkan di sekitar rumah, kampus, dan tempat-tempat yang biasa dikunjungi Nona Aluna."
"Ada pergerakan mencurigakan?"
"Belum."
Niel terdiam.
Ia justru semakin waspada ketika keadaan terlihat terlalu tenang.
Pengalaman mengajarkannya bahwa musuh paling berbahaya bukanlah mereka yang bergerak terburu-buru, melainkan mereka yang mampu menunggu saat yang paling tepat.
"Tetap lanjutkan pengawasan."
"Baik, Tuan."
"Jangan sampai dia mengetahui keberadaan kalian."
Darren mengangguk sebelum meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, ponsel Niel bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Kau masih memiliki waktu untuk menjauh dari gadis itu.
Tidak ada nama.
Tidak ada identitas pengirim.
Beberapa detik kemudian, pesan tersebut terhapus dengan sendirinya.
Niel menatap layar ponselnya tanpa ekspresi.
Mereka mulai berani menghubunginya secara langsung.
Artinya, permainan ini telah memasuki tahap berikutnya.
_________________________________________
Menjelang siang, Aluna memenuhi janjinya kepada Celine untuk mengunjungi sebuah bazar amal yang diselenggarakan di taman kota.
Tempat itu jauh lebih ramai dibandingkan biasanya.
Anak-anak berlarian di antara stan permainan, sementara alunan musik akustik memenuhi udara
Aku tidak menyangka akan seramai ini," kata Aluna.
Celine tersenyum.
"Setiap tahun memang selalu seperti ini."
Mereka berjalan perlahan menyusuri setiap stan.
Sesekali Aluna membeli makanan ringan atau hasil kerajinan tangan yang dijual untuk kegiatan amal.
Di balik keramaian itu, empat orang berpakaian kasual menyebar di berbagai sudut taman.
Mereka tidak saling berbicara.
Namun alat komunikasi kecil yang tersembunyi di telinga mereka menunjukkan bahwa mereka sedang menjalankan tugas yang sama.
"Matahari."
Suara Darren terdengar melalui alat komunikasi.
"Target berada di sisi timur."
"Saya melihatnya."
"Jaga jarak."
"Baik."
__________________________________________
Tidak jauh dari sana, sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti di bawah rindangnya pepohonan.
Seorang pria mengenakan kacamata hitam memperhatikan taman melalui teropong kecil.
"Jumlah mereka bertambah."
Pria yang duduk di sampingnya mengangguk.
"Niel benar-benar serius."
"Kalau begitu, kita ubah rencana."
"Menjadi?"
"Bukan gadis itu yang kita dekati."
Ia tersenyum tipis.
"Melainkan orang-orang di sekitarnya."
___________________________________________
Aluna dan Celine berhenti di sebuah stan lukisan.
Seorang seniman muda sedang menggambar potret pengunjung secara langsung.
"Bagaimana kalau kita mencobanya?" tanya Celine.
Aluna mengangguk.
Mereka duduk berdampingan di depan kanvas.
Sang pelukis mulai menggerakkan pensilnya dengan cekatan.
Butuh hampir dua puluh menit hingga lukisan itu selesai.
"Hasilnya bagus sekali," ujar Celine kagum.
Aluna tersenyum.
Namun ketika menerima lukisan tersebut, senyumnya perlahan menghilang.
Di bagian belakang kanvas terdapat sebuah amplop kecil yang sebelumnya tidak ada.
"Maaf," kata Aluna kepada pelukis. "Siapa yang meletakkan ini?"
Pelukis itu tampak bingung.
"Amplop apa?"
"Yang ini."
Pria itu menggeleng.
"Saya tidak melihatnya."
Jantung Aluna berdegup lebih cepat.
Ia membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat selembar foto.
Foto dirinya.
Diambil kemarin sore, saat ia berdiri di jendela kamar.
Wajah Aluna memucat.
Celine yang melihat perubahan ekspresinya segera mendekat.
"Ada apa?"
Aluna menyerahkan foto itu tanpa berkata-kata.
Celine membelalak.
"Siapa yang mengambil gambar ini?"
"Aku... tidak tahu."
Di bagian belakang foto tertulis satu kalimat dengan tinta hitam.
"Aku selalu lebih dekat daripada yang kau kira."
Napas Aluna mulai terasa tidak teratur.
Untuk pertama kalinya, rasa takut benar-benar muncul.
Ini bukan lagi sekadar surat misterius.
Seseorang benar-benar mengawasinya.
_________________________________________
Di saat yang sama, salah seorang anggota tim pengawas menyadari perubahan situasi.
"Darren."
"Apa?"
"Nona Aluna menerima sesuatu."
"Apa itu?"
"Sebuah foto."
Darren langsung mengubah nada suaranya.
"Semua anggota, mendekat ke posisi target."
Empat orang bergerak hampir bersamaan.
Namun...
Saat mereka tiba di depan stan lukisan, seseorang telah lebih dulu menghilang di antara kerumunan.
Yang tertinggal hanyalah sebuah topi hitam di atas bangku taman.
Darren mengambil topi tersebut.
Di bagian dalamnya terdapat simbol yang sama.
Simbol merah yang muncul di gedung kosong dua hari lalu.
Ia langsung menghubungi Niel.
"Tuan."
"Aku mendengarkan."
"Mereka kembali meninggalkan simbol."
Hening beberapa detik.
Lalu suara Niel terdengar jauh lebih dingin daripada biasanya.
"Bawa Aluna pergi dari sana."
"Baik."
"Terlambat sedikit saja..."
Niel menghentikan ucapannya.
Tatapannya mengeras saat layar komputernya tiba-tiba menyala sendiri.
Seseorang telah berhasil meretas sistem keamanan di ruang kerjanya.
Dan di layar itu...
muncul sebuah foto terbaru Aluna yang diambil beberapa detik yang lalu.
Di bawah foto tersebut hanya ada satu kalimat.
"Sekarang giliranmu mengejarku, Niel."
__________________________________________
Niel menatap layar komputer tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
Ruangan yang semula tenang berubah mencekam. Beberapa anggota tim teknologi yang berjaga di luar segera berlari masuk setelah alarm keamanan berbunyi.
"Layar diretas, Tuan!"
"Aku bisa melihatnya."
Salah seorang teknisi segera membuka perangkatnya dan mulai melacak sumber peretasan.
"Kami sedang mencoba memutus koneksi."
"Tidak perlu."
Seluruh orang di ruangan itu menoleh ke arah Niel.
"Biarkan dia menyelesaikan permainannya."
Teknisi itu tampak ragu, tetapi tidak membantah.
Beberapa detik kemudian, tulisan di layar berubah.
Huruf demi huruf muncul perlahan, seolah pengirimnya sengaja memberi waktu agar setiap kata terbaca dengan jelas.
"Lima belas tahun yang lalu kau kehilangan seseorang. Kali ini, jangan kehilangan orang yang salah."
Tatapan Niel membeku.
Perintah itu diucapkan dengan suara pelan.
Namun seluruh ruangan langsung bergerak.
Dalam hitungan detik, layar komputer kembali gelap.
"Berhasil diputus."
Niel berdiri perlahan.
"Temukan siapa pun yang berani memasuki sistemku."
"Kami akan mengerahkan seluruh tim."
"Bukan hanya itu."
Niel mengambil jas hitam yang tergantung di sandaran kursi.
"Periksa semua kamera di sekitar taman."
"Baik."
"Setiap orang yang mengenakan topi, masker, atau meninggalkan lokasi dalam sepuluh menit terakhir."
Darren mengangguk cepat.
Ia belum pernah melihat Niel bereaksi secepat ini terhadap sebuah ancaman.
Bukan karena dirinya diserang.
Melainkan karena seseorang mulai mendekati Aluna.
_________________________________________
Di sisi lain kota, Aluna masih duduk di bangku taman.
Tangannya belum berhenti gemetar.
Foto yang diterimanya kini berada di dalam tas, tetapi bayangan seseorang yang diam-diam memotretnya terus memenuhi pikirannya.
Celine menggenggam tangannya erat.
"Kita pulang saja."
Aluna mengangguk pelan.
Ia tidak lagi menikmati keramaian taman.
Setiap orang yang melintas terasa seperti orang asing yang patut dicurigai.
Saat mereka berjalan menuju area parkir, Aluna sempat menoleh ke belakang.
Di antara kerumunan pengunjung, ia merasa melihat seorang pria bertopi hitam sedang berdiri memandang ke arahnya.
Namun ketika ia berkedip...
Pria itu telah menghilang.
_____________________
Tidak jauh dari taman, sebuah mobil hitam melaju perlahan meninggalkan lokasi.
Di kursi belakang duduk seorang pria yang sejak tadi mengamati semua kejadian melalui layar tablet.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Dia mulai takut."
Pria di kursi depan melirik melalui kaca spion.
"Apakah itu yang Anda inginkan?"
"Bukan."
"Lalu?"
Pria itu mematikan layar tabletnya.
"Aku hanya ingin Niel melakukan satu kesalahan."
"Kesalahan seperti apa?"
Tatapannya beralih ke luar jendela.
"Kesalahan yang hanya dilakukan seseorang ketika mulai melibatkan perasaan."
Mobil itu terus melaju, menghilang di tengah padatnya lalu lintas sore.
Sementara itu, tanpa disadari siapa pun...
Permainan yang selama ini bergerak perlahan mulai berubah menjadi perlombaan.
Dan untuk pertama kalinya...
Niel bukan lagi satu-satunya pemburu.
bersambung...