NovelToon NovelToon
Trio Detektif : Kasus Dingin

Trio Detektif : Kasus Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Komedi
Popularitas:89.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Reeves

Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan


Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.

Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Haaaaahhh?

Medical Examiner RS Bhayangkara

"Jadi dia mati karena ...."

"Hypoxia. Kekurangan oksigen. Entah karena disekap tempat tertutup seperti peti atau dibekap," jawab Daisy. "Sayangnya, jenazahnya terlalu rusak untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Tapi yang jelas, dia meninggal karena itu."

Sanji yang sedang berada di ruang kerja tim kasus dingin, tampak berpikir. "Biar aku periksa ulang Dok Daisy."

"Thank you Sanji. Salam buat Nami swaaannnn," kekeh Daisy.

"Dok Daisssyy, saya bukan anggota kru mugiwara," rengek Sanji sambil mematikan panggilan videonya.

Daisy cekikikan sementara dokter Ginanjar dan Mamat menatap malas ke wanita itu.

"Seriously, Dok ... Anda terlalu wibu!" ujar dokter Ginanjar.

"Lha mau gimana. Mas Lucky dan Kenzie lagi nonton ulang One Piece. Mau tidak mau aku ikutan nonton kan sama Elina." Daisy melihat dari CCTV Medical Examiner yang dipasang di monitor komputernya, mobil suaminya datang.

"Ada apa Dok?" tanya Mamat.

"Suamiku datang. Sepertinya kita mau makan siang." Daisy tersenyum senang.

"Dok Daisy. Boleh saya katakan sesuatu?" ucap dokter Ginanjar serius.

Daisy menatap juniornya dengan tatapan bingung. "Soal apa?"

***

Dokter Lucky mendatangi gedung tempat istrinya bekerja. Dia hendak mengajak makan siang nasi Padang Sederhana dan entah kenapa dokter Lucky ingin nasi Padang itu. Sempat dia berpikir Daisy hamil lagi tapi tidak mungkin. Daisy sudah memutuskan punya dua anak saja.

"Pagi Dok Lucky. Cari Dok Daisy?" sapa Fikri, yang sekarang sudah menjadi pegawai tetap Medical Examiner sebagai asisten Mamat.

"Pagi Fikri bukan Fikir ... Eh kok pagi? Siang ini!" protes dokter Lucky.

"Kata dok Daisy harus selalu pagi biar semangat," cengir Fikri.

"Lha? Ngomong-ngomong, dimana istriku yang cantik?" Dokter Lucky celingukan mencari Daisy.

"Tadi masuk di ruang kerjanya. Katanya mau bahas kasus kemarin." Fikri melihat kiri dan kanan lalu berbisik ke dokter Lucky. "Kepala ME yang baru sudah diangkat Dok."

"Siapa namanya?" tanya dokter Lucky. "Lha elu ngapain bisik-bisik tetangga?"

"Namanya dokter Adiwilaga Gumilar. Lulusan Dundee United." Fikri menatap serius ke dokter Lucky. "Sepertinya dia naksir dok Daisy."

"Dundee United? Lu kira klub sepakbola Skotlandia?" omel dokter Lucky sebal. "Dundee University kaleee!"

"Nah itu! Dokter Adiwilaga itu sering curi-curi pandang ke dokter Daisy. Kan kita curigation jadinya!"

Mata dokter Lucky terbelalak. "Haaaaahhh?"

"Sssttttt! Serius ini Dok!" bisik Fikri.

"Seperti apa orangnya?"

Keduanya menoleh ketika melihat seorang dokter usia tiga puluhan, sedang menyapa orang-orang yang menunggu jenazah anggota keluarganya.

"Itu orangnya," bisik Fikri.

Dokter Lucky melihat ke arah pria itu. "Yakin dia mau jadi pebinor? Cukup satu asyu saja yang jadi pebinor!" geramnya.

Fikri tampak bergidik. "Dok, seram."

"Bodo amat!"

Introducing dokter Adiwilaga Gumilar.

***

Museum negara di area Jakarta Utara.

Kombes Steven Sasono dan Iptu Cristiano Santoso mendatangi museum negara dimana Akbar Maulana terakhir bekerja. Oleh penjaga museum, Kombes Steven dan Iptu Cristiano diantarkan ke ruangan kepala museum.

Ruang kerja kepala Museum Negara terasa sunyi. Rak-rak penuh arsip memenuhi dinding, sementara aroma kertas tua bercampur dengan bau kayu antik memenuhi ruangan.

"Kami dari kepolisian," ujar Kombes Steven sambil memperlihatkan kartu identitasnya. "Kami ingin menanyakan tentang salah satu kurator di sini, Akbar Maulana."

Kepala museum, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun bernama Pak Majid, mengangguk pelan.

"Silakan duduk. Ada apa dengan Nak Akbar? Maafkan cara saya memanggilnya karena dia memang masih muda."

Iptu Cristiano membuka buku catatannya. "Kami ingin tahu apakah selama bekerja di museum, Akbar memiliki pekerjaan sampingan."

Pak Majid terdiam cukup lama. Jemarinya mengetuk meja dengan pelan seolah sedang menimbang sesuatu.

"Secara resmi, tidak ada." Matanya yang tampak cekung ditambah kacamata tebal yang dikenakan, membuat Pak Majid seperti tokoh tua dalam film-film kuno.

"Secara resmi?" Kombes Steven langsung menangkap kejanggalan itu.

Pak Majid mengangguk. "Nak Akbar memang sering mengatakan bahwa ia mendapat penghasilan tambahan. Tapi bukan dari pekerjaan yang biasa."

Iptu Cristiano mengangkat alis. "Maksudnya?"

"Dia pernah berkata bahwa 'benda-benda tua selalu punya cara membayar orang yang mau mendengarkan cerita mereka," jawab Pak Majid.

Ruangan mendadak sunyi. Kombes Steven saling berpandangan dengan Iptu Cristiano.

"Itu maksudnya apa?" tanya Iptu Cristiano.

"Saya juga tidak pernah mengerti," jawab Pak Majid "Saya mengira itu hanya gaya bicaranya sebagai kurator."

Iptu Cristiano mencatat setiap kata selain juga merekam lewat alat perekam bentuk bolpoin yang disimpannya dalam saku baju.

"Apakah beliau sering keluar kota?" tanya Kombes Steven.

"Sering. Alasannya selalu melakukan penelitian atau meninjau koleksi milik pribadi."

"Sendirian?" tanya Iptu Cristiano.

"Tidak selalu. Kadang ada seseorang yang menjemputnya," jawab Pak Majid.

"Siapa?" tanya Kombes Steven dengan nada tegang.

Pak Majid menggeleng. "Yang aneh ... orang itu tidak pernah masuk ke museum. Mobilnya selalu berhenti di luar pagar. Nak Akbar yang keluar."

Kombes Steven mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Mobil seperti apa?"

"Itu dia masalahnya. Setiap kali berbeda. Kadang sedan hitam, kadang SUV putih, bahkan pernah mobil bak terbuka."

Iptu Cristiano menghela napas panjang. "Jadi tidak ada pola."

Pak Majid membuka sebuah laci dan mengeluarkan sebuah map lusuh.

"Saya hampir lupa. Beberapa bulan lalu, Nak Akbar menitipkan ini. Katanya kalau suatu hari ada polisi yang mencarinya, berikan saja."

Kombes Steven dan Iptu Cristiano saling berpandangan.

Dengan hati-hati Kombes Steven membuka map itu.

Isinya hanya selembar kertas.

Di tengah kertas terdapat gambar sebuah kompas tua yang dilingkari tinta merah.

Di bawahnya hanya tertulis satu kalimat:

"Jangan cari siapa yang mengambil benda itu. Carilah siapa yang mengembalikannya."

Tidak ada nama. Tidak ada tanggal. Tidak ada penjelasan.

Iptu Cristiano memijat pelipisnya. "Pak, ini malah membuat kami semakin bingung."

Pak Majid tersenyum tipis. "Maaf, saya juga tidak pernah memahami maksud Nak Akbar. Tapi sejak hari itu, dia beberapa kali terlihat gelisah, seolah merasa ada seseorang yang terus mengawasinya."

Kombes Steven menatap kembali gambar kompas itu. "Saya rasa kita tidak sedang menghadapi kasus pencurian biasa."

Iptu Cristiano mengangguk pelan. "Semakin banyak petunjuk yang kita dapat... justru semakin sedikit jawaban yang kita miliki."

Keheningan kembali memenuhi ruangan, sementara misteri di balik Akbar Maulana terasa semakin dalam dan sulit dipecahkan.

Dia terlibat apa sebenarnya ini? - batin keduanya.

***

Yuhuuu up Pagi Yaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu

1
Meeta Baggio
Mau sebanyak apa pun bukti yg ada mash tetap ga mau mengakui perbuatan nya dan anak nya sendir. udah ambil aja ginjal nya
tan_wiedya
si jelaga kuper bet brarti yak, sama hana aja kagak tau. mampus lah kau pebinor sengklek 🤣
Hana Reeves: dia baru pulang dari Dundee dan tidak ketemu Hana karena posisinya kan Hana di Penang
total 1 replies
amilia amel
yeayyyy kena batunya kamu si jelaga sekarang
sukury
amilia amel
oalah.... Jay.... Jay....
ternyata sudah dicekoki pak Tommy sejak kecil to kalo Elina calon jodohmu
awesome moment
jiiiiaaaannnn pancen jelaga tulen. jejaknya dimana2. 8 lho. sregep puuuuuuooooooollllll
beybi T.Halim
mampos😁😁😁 aku boleh ngakak brutal gak ,sayonara dah jelaga barangnya kok diobral murah.,untung gak diambil ginjal luu sama hanabi
sri supadmi
ambil ginjalnya gak nih 🔥🤭
Murti Puji Lestari
langsung klenger ngak kamu dengar ini, akhirnya jelaga triple kill
Bla_bla_bla
bwhahaha rasain kau jelaga makanya sok sombong sih🤣
kan kena karma juga akhirnya🤣
Elsa Fanie
eee s jelaga bener an kurang jauh main ny 🤦🤦🤦,apa kata ny MW ngasih jabatan dan posisi dokter ckckck, punya om yg wakil IDI j sombong ny g ketulungan 🤦🤦🤦🤦 udah g2 NPD parah LG, untung Bu Nana udah pensiun,,,,kasih paham lah siapa Hanabi terlepas dari jabatannya,KLO Hanabi keturunan Pratomo dan Reeves,,,😤😤😤😤👊👊👊geram kali AQ,KLO g s kebiri j Hanabi
Ibu² kang Halu🤩
omaaaaaaa, jgn dulu jantungan ya pebinor, jgn dulu pokoknya, kalau kamu jantungan alamat mbak Hanabi langsung angkut jantungmu dan segala isinya sebadan-badabmu😂😂😂 ehh, aku kesenangan ini😂😂
Tosari Agung
hadeh malah hanabi yang mengeksekusi si pembinor kenapa gak hukuman kasih ke dokter lucky atau ketua IDI tapi jangan hilang gelar tapi hilangin nyawanya aja si pembinor itu thor mana menghasilkan anak pula
Hana Reeves: kan dok Lucky lagi ke kantor IDI. ini waktunya bersamaan 🙏
total 1 replies
Ichy Fitri
hanabi nahan diri ga ambil ginjalnya Gara2 dia sekretaris majelis kehormatan etik ya 🤭
Murti Puji Lestari: padahal sudah gatel pengen cutik ginjalnya itu 😅
total 1 replies
Ani
salah cari lawan kamu jelaga 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 tamatlah riwayatmu
Murti Puji Lestari
keplak saja dash, bapak satu itu emang kok 🤣🤣🤣
Meeta Baggio
Bener2 bapak si Jayy yaa....mendiktrin anak nya jodoh sama Elina, entah itu emang cinta, obsesi or apalahh...lieurr jd na....inti nya skrng mah fokus aja sama sekolah yg bener aja titik ga pake koma. wow....Hana yg turun tangan ini apa lg wajah anak nya si Adi mirip pake banget,udah ambil aja semua organ nyaa deh Hana
Ita Xiaomi
Ini sih gawat. Hasil test DNA blm keluar, ginjal malah udah siap.
Ita Xiaomi
Semangat ya Jay🤣
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣. Emang gigih Pak Tommy.
Ita Xiaomi
Serius Ken. Klo Dokter Lucky tau seru tuh🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!