NovelToon NovelToon
Kontrak Hamil Anak Bos

Kontrak Hamil Anak Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Pasta di Tengah Malam

Malam di mansion Samudra terasa sangat sunyi. Setelah semua pelayan dan staf rumah tangga beristirahat, hanya ada suara angin yang berhembus pelan di luar jendela, dan sesekali suara jangkrik dari taman. Cahaya rembulan masuk melalui tirai tipis, menerangi lorong-lorong mansion dengan cahaya perak yang lembut.

Sarah sudah berada di kamarnya sejak pukul sembilan malam. Ia berbaring di atas tempat tidur yang sangat empuk, mencoba tidur, tapi matanya tetap terbuka. Pikirannya masih melayang pada kebakaran siang tadi, pada asap hitam yang mengepul, dan pada rumah kecilnya yang kini hanya tinggal kenangan.

Ia menghela napas, membolak-balikkan tubuhnya. Dan tiba-tiba, perutnya keroncongan. Sarah mengerutkan kening. Ia sudah makan malam, tapi rasa lapar itu datang lagi. Mungkin efek kehamilan, atau mungkin karena rasa cemas yang membuatnya gelisah.

"Aku harus makan sesuatu," batinnya.

Sarah bangkit dari tempat tidur, mengenakan sandal, dan berjalan keluar kamar. Lorong mansion gelap, hanya diterangi oleh lampu malam yang menyala redup di sudut-sudut. Sarah berjalan pelan, menuruni tangga marmer menuju dapur utama.

Dapur mansion itu sangat besar dan modern. Ada meja marmer panjang di tengahnya, kompor gas dengan enam tungku, dan lemari es besar yang menyimpan berbagai bahan makanan. Sarah membuka lemari es, mencari sesuatu yang mudah dimasak. Matanya tertuju pada sebungkus pasta fettuccine, sebotol saus tomat, dan sepotong keju parmesan.

"Pasta saja, yang cepat dan tidak ribet," pikirnya.

Sarah mengambil panci, mengisinya dengan air, lalu menaruhnya di atas kompor. Ia menyalakan api, menunggu air mendidih. Suasana dapur sangat sepi. Hanya ada suara gelembung air dan bunyi jari-jarinya yang mengetuk meja marmer karena tidak sabar.

Sarah melihat sekeliling. Rumah yang megah ini terasa sangat sunyi pada malam hari. Ia sedikit merinding. Rasa takut akan keheningan mulai merayapi hatinya. Ia membayangkan hal-hal menyeramkan, meskipun ia tahu itu hanya khayalan.

"Kenapa aku takut? Ini kan hanya rumah biasa. Samudra di atas, para pelayan tidur. Tidak ada yang menakutkan," Sarah meyakinkan dirinya sendiri.

Tapi tetap saja, ia sesekali melirik ke arah pintu dapur, memastikan tidak ada bayangan yang tiba-tiba muncul.

Air mulai mendidih. Sarah memasukkan pasta fettuccine ke dalam air, lalu mengaduknya pelan. Ia mengambil wajan, menumis sedikit bawang putih dengan minyak zaitun, lalu menuangkan saus tomat. Aroma yang harum mulai memenuhi dapur. Sarah merasa sedikit lebih tenang.

Saat pasta sudah matang, Sarah meniriskan airnya, lalu mencampurnya dengan saus tomat di atas piring. Ia mengambil keju parmesan, siap untuk menaburkannya di atas pasta.

Namun, saat Sarah akan mengambil keju, ia merasakan ada sesuatu di belakangnya. Sebuah kehadiran. Ia menunduk, dan di lantai, ia melihat bayangan seorang pria tinggi besar yang jatuh di bawah cahaya lampu dapur.

Sarah terkesiap, jantungnya berdegup kencang. Ia berbalik dengan cepat, hampir menjatuhkan piring pasta di tangannya.

"Pak... Bos?!"

Di belakang Sarah, berdiri Samudra Grayson dengan kemeja putih lengan panjang yang sedikit terbuka di bagian kerah, dan celana panjang hitam. Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya terlihat mengantuk. Ia sedang memegang segelas air mineral kosong.

Samudra juga terlihat kaget saat melihat Sarah. "Sarah? Kamu belum tidur?"

Sarah menghela napas lega. "Maaf, Pak. Saya mengejutkan Bapak. Saya... saya lapar. Jadi saya membuat pasta."

Samudra menatap pasta di tangan Sarah, lalu tersenyum tipis. "Kamu membuat pasta tengah malam?"

"Saya tidak bisa tidur, Pak. Dan perut saya keroncongan," jawab Sarah jujur.

Samudra mengangguk. "Saya juga tidak bisa tidur. Air di kamar saya habis, jadi saya turun untuk mengambil air." Ia melambaikan gelas kosongnya.

Sarah menatap gelas Samudra, lalu menatap pastanya. Ia merasa sedikit canggung. Ini adalah pertama kalinya mereka berdua berada di dapur pada tengah malam, tanpa ada pelayan, tanpa Felix, tanpa siapa pun.

"Pak, mau... mencoba pasta saya?" tawar Sarah, tidak tahu harus berkata apa.

Samudra menatap pasta itu. Aroma saus tomat dan bawang putih tercium sangat menggoda. Ia yang biasanya tidak makan tengah malam, kali ini merasa tergoda.

"Baik. Saya akan mencoba sedikit," jawab Samudra.

Sarah tersenyum. Ia mengambil piring lain, membagi pastanya menjadi dua bagian, lalu menaburkan keju parmesan di atasnya. Ia menyodorkan satu piring pada Samudra.

Mereka berdua duduk di meja marmer dapur. Samudra mengambil garpu, dan mencoba suapan pertama. Matanya sedikit melebar.

"Enak," puji Samudra.

"Benarkah, Pak?" tanya Sarah, merasa senang.

"Sangat enak. Kamu pandai memasak."

Sarah tersenyum. "Saya hanya bisa masak yang sederhana, Pak. Tidak seperti koki Bapak."

"Tapi ini enak. Jauh lebih enak daripada pasta restoran yang terlalu berbumbu," jawab Samudra.

Mereka makan bersama dalam keheningan. Tapi kali ini, keheningan itu tidak terasa canggung. Ada kenyamanan di antara mereka. Lampu dapur yang terang, suara garpu yang bersentuhan dengan piring, dan aroma pasta yang masih mengepul.

Setelah beberapa suapan, Samudra menatap Sarah. "Kamu tadi bilang tidak bisa tidur. Apa yang mengganggu pikiramu?"

Sarah berhenti mengunyah. Ia menatap Samudra, lalu menunduk. "Pak, saya masih memikirkan kebakaran tadi. Rumah saya... semua barang saya yang terbakar. Dan saya rasa saya tidak punya apa-apa lagi selain yang ada di tas ini."

Samudra menatap Sarah. Matanya melembut. "Sarah, barang bisa dibeli kembali. Kenangan bisa dibuat lagi. Yang penting, kamu dan janinmu selamat. Itu yang utama."

Sarah menatap Samudra. "Bapak benar, Pak. Tapi kadang, sulit untuk tidak merasa kehilangan."

Samudra menghela napas. Ia meletakkan garpunya, lalu menatap Sarah dengan tatapan serius. "Kamu bukan hanya asisten kontrak lagi, Sarah. Aku sudah menganggapmu... lebih dari itu. Mungkin aku tidak bisa mengatakannya dengan kata-kata yang indah, tapi aku peduli padamu."

Sarah membelalak. Matanya mulai berkaca-kaca. "Pak..."

"Jangan menangis," ujar Samudra cepat. "Kamu harus kuat. Untuk dirimu sendiri, dan untuk bayi ini."

Sarah mengangguk, mengusap matanya. "Iya, Pak. Terima kasih sudah... menjadi baik padaku."

Samudra tersenyum tipis. "Sekarang, habiskan pastamu. Lalu tidur. Besok, kita akan bicara tentang perbaikan apartemenmu."

Sarah mengangguk, dan melanjutkan makannya. Pasta yang tadinya terasa biasa, kini terasa lebih lezat. Mungkin karena ada Samudra di sampingnya. Mungkin karena perhatiannya. Atau mungkin, karena mulai ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka.

Malam itu, mereka selesai makan, lalu berpisah di tangga. Samudra naik ke kamarnya, dan Sarah kembali ke kamarnya. Namun, sebelum tidur, Sarah menatap jendela kamarnya yang menghadap ke taman. Ia tersenyum.

"Mungkin, ini bukan kebetulan. Mungkin, kebakaran ini membawaku ke tempat yang seharusnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!