⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Kemarin lo nggak masuk kenapa? Lo baik-baik aja kan? Atau lo sakit? Sorry, tapi gue cuma khawatir."
Disty diam, lalu menatap Zayna yang memperlihatkan gurat khawatir padanya.
"Dia.. khawatir sama gue?" batin Disty.
"Dis." Zayna melambaikan tangannya di depan muka Disty yang malah terdiam tidak menjawab pertanyaannya.
Disty berdehem sebentar lalu mengangguk pelan. "Gue baik," katanya menjawab.
"Huft, syukurlah, lega banget gue," kata Zayna menghela napas lega.
"Tau nggak, gue kemarin nungguin lo di gerbang, dan sampe bel bunyi ternyata lo nggak datang juga. Khawatir banget gue takut lo sakit, mau jenguk lo tapi gue nggak tau alamat rumah lo ada di mana," oceh Zayna sebelum memakan bakso nya.
Disty tersenyum tipis dan memakan bakso nya juga. Mereka berdua makan dengan tenang sampai—
"Disty!"
Zaffar datang dan duduk di kursi panjang sebelah Disty yang tubuhnya menegang. Karena bersamaan dengan Zaffar yang duduk, Javeno juga masuk ke dalam kantin.
Javeno datang memang untuk melihat Disty. Benar bersama Zayna atau tidak. Muka dan pergerakan Javeno tetap tenang.
Disty berdiri dan memegang mangkuk nya hendak pergi, namun Zaffar menahan tangannya tanpa persetujuan.
"Mau kemana? Aku baru duduk," ucap Zaffar mendongak.
Disty menggeram pelan dan memberi tatapan tajam pada Zaffar agar melepaskan tangannya. Javeno mulai mendekat sekarang.
"Zaf...."
"Zayna diem! Ini urusan Zaffar sama Disty," kata Zaffar memotong dan menatap Zayna yang memutar bola mata.
"Dasar pengganggu," cibir Zayna pelan, tidak sadar dengan kehadiran Javeno.
"Zaffar Alariksyah!"
Suara Javeno itu membuat suasana kantin mendadak sunyi. Semua orang terdiam dengan tubuh menegang termasuk Disty.
Zaffar berdecak dan melepaskan tangan Disty, membuat gadis itu segera berpindah ke tempat duduk yang sendirian dan di pojok tanpa siapapun.
Semua orang tau kalau Javeno sering datang menyelamatkan Disty dari gangguan Zaffar.
Zayna menoleh sebentar menatap Javeno yang terus menatap Disty, lalu ia juga menatap Disty yang sangat terlihat ketakutan.
"Mereka pacaran atau enggak? Kalau pacaran, masa Disty sampe setakut itu sama Javen," batin Zayna berpikir.
Kringg
Bel berbunyi lagi, membuat mereka berdiri dan membayar lalu keluar dari kantin untuk kembali ke kelas dan belajar lagi.
Zayna ingin mengajak Disty juga yang masih belum beranjak, tapi sepertinya waktunya tidak tepat karena Javeno juga masih berdiri di tempat tadi. Jadi Zayna pergi meninggalkan kantin juga.
Kantin sudah kosong, hanya tersisa Disty yang tidak berani beranjak karena Javeno juga masih di sana.
Javeno mendekat dan duduk di sebelah Disty yang masih belum menghabiskan bakso nya.
"Jav...."
"Kamu berbohong," sela Javeno sambil mengambil mangkuk itu, membuat bakso menjadi beberapa bagian kecil agar tidak terlalu besar di mulut Disty nanti.
Disty menggeleng cepat. "Enggak! Aku nggak bohong," bantah nya.
Javeno meletakkan sendok dan garpu sedikit kasar sampai membuat dentingan yang semakin membuat jantung Disty berpacu cepat.
"Aku harus menyingkir kan siapa lebih dulu?" tanya Javeno lirih tapi menusuk.
"Zaffar?"
Disty diam.
"Atau... Zayna?"
Disty menggeleng ribut dengan air mata yang luruh. "Maaf. Jangan, dia nggak salah," ucap nya.
"Terus siapa yang salah?" tanya Javeno dengan tangan yang bergerak menghapus air mata Disty.
"Kamu?" tanyanya.
Disty menggeleng. "Aku juga nggak salah," ucapnya membela diri.
"Terus?"
Disty diam. Tidak bisa menjawab kalau Zaffar yang salah.
"Kamu melindungi Zaffar?" tanya Javeno dingin.
Karena Disty jelas tau kalau Zaffar yang salah karena tiba-tiba datang mengganggu ketenangan. Tapi saat di tanya, Disty malah diam seolah menyembunyikan kalau Zaffar memang salah.
"Aku nggak...."
"Sssttt, mau aku ajak untuk membunuh Zaffar?"
Disty menggeleng ribut dan langsung mengalungkan tangan di leher Javeno, menyembunyikan wajah dan air mata di leher Javeno.
"Jangan," lirih Disty.
"Kenapa? Dia terlalu sering ganggu kamu kan? Selain kamu yang nggak suka, aku jauh lebih nggak suka," bisik Javeno mengusap kepala Disty.
"Enggak." Disty semakin mengeratkan pelukan. "Kamu bukan pembunuh," lirihnya.
"Makan," kata Javeno dingin.
Disty tidak berani melepas pelukan untuk melihat wajah Javeno yang datar dengan tatapan tajam itu.
"Disty!"
"Iya," sahut Disty cepat.
"Makan," ulang Javeno lebih dingin.
Disty melepaskan pelukan, menghapus air matanya, lalu perlahan menatap Javeno yang tatapan nya seolah ingin menerkam.
"Suapin," pinta Disty pelan.
"Tanganmu bermasalah?" tanya Javeno semakin dingin.
Disty menarik napas dan menggeleng pelan. Lalu ia bergerak kaku dan mulai memakan bakso nya dengan Javeno yang menunggu sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari, dengan ritme yang beratur.
Itu jauh lebih membuat Disty merinding sekarang.