"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Cahaya matahari pagi yang menembus celah gorden apartemen terasa menyilaukan. Almeera menggeliat pelan, mengerjapkan matanya yang masih berat. Tidurnya semalam terasa sangat nyenyak. Hujan badai yang turun di luar seolah tak mampu menembus kehangatan di sekitarnya.
Namun, saat kesadarannya perlahan kembali, Almeera menyadari dua hal yang sangat fatal.
Pertama, ia tidak sedang memeluk guling. Kedua, pipinya menempel pada sesuatu yang keras, hangat, dan... bergerak naik-turun seiring dengan irama napas.
Mata Almeera membelalak sempurna. Ia perlahan mendongak.
Tepat di atasnya, wajah Akram terlihat damai dalam tidurnya. Lengan kokoh cowok itu melingkar posesif di pinggang Almeera, menarik tubuh gadis itu merapat hingga nyaris tidak ada jarak di antara mereka. Aroma mint bercampur wangi khas bangun tidur Akram langsung menginvasi indra penciuman Almeera, membuat otaknya error seketika.
Sejak kapan gue pindah posisi jadi meluk dia begini?! jerit Almeera dalam hati. Ia ingat semalam mereka berpegangan tangan, tapi ia tidak ingat kapan dirinya merayap menyeberangi kasur dan menjadikan dada bidang sang Ketua OSIS sebagai bantal.
Dengan sangat hati-hati, Almeera mencoba melepaskan lengan Akram dari pinggangnya. Ia bergerak sepelan siput, menahan napasnya. Sedikit lagi. Tinggal satu jengkal lagi sebelum ia bisa kabur ke kamar mandi.
Namun, tepat saat Almeera baru saja mengangkat tubuhnya, lengan Akram kembali mengencang. Tarikan itu membuat Almeera jatuh terjerembap kembali ke dada Akram.
"Mau ke mana... hm?"
Suara bariton serak khas orang bangun tidur itu terdengar tepat di atas kepala Almeera. Getarannya terasa hingga ke dada gadis itu.
Almeera mendongak kaku. Akram sedang menatapnya dengan sebelah mata terbuka. Rambut cowok itu berantakan, benar-benar jauh dari citra Ketua OSIS yang rapi, namun entah kenapa justru terlihat ratusan kali lebih tampan. Seringai menyebalkannya mulai terbentuk di sudut bibir.
"G-gue... gue mau mandi!" Almeera buru-buru mendorong dada Akram, meronta dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus. "Lepasin! Tangan lo berat banget tahu nggak!"
Akram terkekeh pelan. Ia melepaskan pelukannya, membiarkan Almeera melompat turun dari ranjang layaknya kucing yang ekornya baru saja terinjak.
"Nyenyak banget tidurnya, Ibu Negara," goda Akram sambil mengubah posisinya menjadi duduk, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Ia mengusap belakang lehernya sambil tersenyum geli menatap Almeera yang salah tingkah. "Udah gue bilang, kan? Dipeluk gue itu jauh lebih enak daripada meluk guling."
"Enak mata lo! Dada lo keras kayak triplek, bikin leher gue sakit!" bantah Almeera sengit, meski ia sibuk merapikan piyamanya dengan tangan gemetar. Ia menyambar handuknya dari jemuran kecil dan melesat masuk ke kamar mandi.
Di luar, Akram tertawa lepas. Mood-nya pagi ini benar-benar luar biasa baik. Ia menatap telapak tangannya sendiri, mengingat sensasi menggenggam tangan Almeera semalaman.
Badai belum berlalu, tapi Akram tahu, ia sudah tidak ingin mundur lagi.
Pukul 10.00 WIB, SMA Bina Bangsa.
Hari Puncak Pensi akhirnya tiba. Sekolah yang biasanya tertib dan kaku kini berubah menjadi lautan manusia penuh warna. Suara dentuman bass dari panggung utama menggetarkan kaca-kaca jendela kelas. Tenda-tenda bazaar berjejer rapi di pinggir lapangan, menjual segala macam makanan dan suvenir.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Akram berjalan membelah kerumunan dengan handy talky di tangan kirinya. Ia mengenakan kaos panitia berwarna hitam yang pas di badan, memamerkan lekuk otot bahu dan dadanya, dipadukan dengan celana cargo hitam dan sepatu kets. Rambutnya ditata rapi ke belakang dengan sedikit juntaian di dahi, membuat aura ketampanannya berada di level maksimal. Sepanjang jalan, puluhan siswi dan siswi dari sekolah lain terang-terangan mencuri pandang ke arahnya.
"Bas, lighting sayap kiri tolong dicek ulang. Kayaknya agak redup," lapor Akram ke HT-nya sambil terus berjalan menuju area backstage.
"Siap, Bos. Laksanakan," balas Bastian dari seberang saluran.
Begitu Akram melangkah melewati barikade keamanan dan masuk ke tenda backstage, langkahnya otomatis terhenti. Matanya langsung terkunci pada satu sosok di sudut ruangan.
Almeera.
Gadis itu sedang duduk di atas case alat musik, berbincang dengan anak-anak NOISE. Namun, bukan itu yang membuat Akram terpaku. Penampilan Almeera hari ini sukses membuat kewarasan Akram menguap.
Almeera mengenakan kaos band vintage hitam yang kebesaran, dipadukan dengan jaket kulit merah gelap dan celana jins hitam berpotongan skinny. Sepatu bot tempur hitam melengkapi gaya rocker-nya. Rambutnya yang biasa dicepol kini digerai bebas dengan efek gelombang berantakan, dan makeup di wajahnya sedikit lebih bold dengan eyeliner tajam yang menonjolkan mata cokelat terangnya.
Ia tidak terlihat seperti gadis bar-bar yang setiap pagi berebut kamar mandi di apartemen. Ia terlihat seperti bintang rock sesungguhnya. Dan ia luar biasa cantik.
Akram menelan ludah. Rasa posesif yang gila tiba-tiba mencengkeram dadanya saat ia melihat bagaimana cowok-cowok panitia di sekitar backstage mencuri pandang ke arah istrinya.
"Al, lo gila sih! Cantik banget hari ini! Aura musisinya tumpah-tumpah!" Sophia yang baru datang langsung memekik heboh, memeluk Almeera dari samping.
"Biasa aja kali, Phia. Cuma pakai jaket doang," Almeera tertawa, meski ia diam-diam melirik ke arah cermin, memastikan eyeliner-nya tidak luntur karena keringat.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Akram berhenti tepat di depan Almeera, memegang clipboard di tangannya seolah sedang mengecek sesuatu.
"NOISE tampil jam dua belas teng. Jangan ada yang ke mana-mana," instruksi Akram dengan suara baritonnya yang tegas.
Nino yang sedang menyetel senar gitar hanya mengacungkan jempol. "Aman, Pak Ketos."
Akram menundukkan pandangannya, menatap langsung ke mata Almeera. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, pura-pura mengecek daftar nama di clipboard-nya.
"Penampilan lo hari ini..." Akram menggantung kalimatnya. Almeera menahan napas, menanti lanjutan kalimat itu dengan jantung berdebar. "...kurang garang. Jaketnya terlalu tebal, nanti lo kepanasan pas main drum."
Almeera mendengus kesal. Harapannya untuk dipuji hancur lebur. "Ngurusin banget sih lo! Ini namanya fashion! Ketos kaku kayak lo mana ngerti seni!"
Akram tersenyum miring. Ia memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa sepuluh sentimeter, mengabaikan tatapan heran dari Sophia dan anak-anak NOISE.
"Gue ngerti," bisik Akram sangat pelan, hanya untuk didengar Almeera. Kilat gelap di matanya tak bisa disembunyikan. "Gue cuma nggak suka lihat terlalu banyak mata cowok lain merhatiin lo dari tadi."
Napas Almeera tercekat. Sebelum ia bisa membalas, Akram sudah menegakkan tubuhnya kembali dan melangkah pergi menuju area panel listrik, seolah tak terjadi apa-apa.
"Gila, itu Akram ngomong apa sama lo sampai sedeket itu, Al?" Sophia menyikut lengan Almeera dengan mata memicing penuh selidik.
"Nggak! Dia cuma... ngancem gue biar nggak mukul drum sampai jebol!" kilah Almeera cepat, memalingkan wajahnya yang kini terasa sepanas oven.
"Ngomong-ngomong soal aneh," Sophia melongokkan kepalanya ke arah pintu tenda backstage. "Lo perhatiin Heera nggak hari ini? Dia dari tadi pagi diam terus. Pas papasan sama lo tadi, dia langsung buang muka dan jalannya nunduk. Kayak... orang ketakutan."
Almeera terdiam. Tangannya tanpa sadar meremas ujung jaket kulitnya. Ancaman Akram di koridor kemarin siang rupanya benar-benar bekerja. Ketua OSIS itu berhasil membungkam sang primadona tanpa ampun.
"Mungkin dia lagi sakit perut," jawab Almeera asal, berharap Sophia segera mengganti topik.
Namun, doa Almeera sepertinya tidak dikabulkan semesta. Masalah yang satu beres, masalah lain datang dengan senyum menawannya.
"Halo, calon bintang panggung."
Reyhan melangkah masuk ke backstage. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung asal, dipadukan dengan celana chino. Kehadiran alumni tampan itu langsung membuat beberapa panitia perempuan berbisik heboh.
Reyhan tidak memedulikan sekitarnya. Matanya langsung tertuju pada Almeera. Ia berjalan menghampiri gadis itu dengan senyum lebar yang memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Kak Reyhan!" sapa Nino girang.
"Gila, Al. Lo beneran siap bakar panggung hari ini," puji Reyhan tanpa basa-basi. Matanya menatap Almeera dari atas ke bawah dengan kekaguman yang terang-terangan. "Jaket kulitnya cocok banget di lo."
"Makasih, Kak," Almeera tersenyum kaku, ekor matanya secara refleks melirik ke arah panel listrik, mencari sosok Akram. Ia tahu, kehadiran Reyhan di sini adalah alarm bahaya tingkat tinggi.
Reyhan mengikis jarak. Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kalung choker kulit hitam dengan bandul cincin perak. "Gue bawa ini dari rumah. Tadi pas lihat outfit lo, gue ngerasa ada yang kurang di leher lo. Boleh gue pasangin?"
Tanpa menunggu jawaban pasti dari Almeera, Reyhan sudah mengangkat tangannya, bersiap melingkarkan choker itu ke leher Almeera.
Sophia menahan napas. Anak-anak NOISE saling senggol. Ini adalah adegan ala drama Korea di dunia nyata.
Namun, sebelum jari Reyhan sempat menyentuh kulit leher Almeera...
Sebuah tangan besar dan kokoh mencengkeram pergelangan tangan Reyhan dari udara. Cengkeramannya begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangan itu menonjol.
Ruangan backstage seketika senyap.
Akram berdiri di samping Reyhan. Rahangnya mengeras sekeras batu karang. Tidak ada lagi senyum miring, tidak ada lagi ekspresi datar. Yang ada hanyalah kemarahan murni yang siap meledak.
"Aturan backstage poin ketujuh, Bang," suara Akram sangat rendah, namun bergema di setiap sudut tenda. "Dilarang melakukan kontak fisik yang tidak perlu dengan pengisi acara."
Reyhan menoleh. Ia menatap tangan Akram yang mencengkeram pergelangannya, lalu menatap wajah Ketua OSIS itu. Alih-alih takut, Reyhan justru mendengus geli.
"Lo lagi, lo lagi," desah Reyhan. Ia menarik tangannya dengan sentakan cukup keras hingga terlepas dari cengkeraman Akram. "Kram, lo itu Ketos atau bodyguard pribadinya Almeera sih? Lebay banget lo."
"Gue Ketos yang lagi ngawasin jalannya acara. Dan lo mengganggu konsentrasi penampil," balas Akram dingin. Ia melangkah maju, memosisikan dirinya tepat di antara Almeera dan Reyhan, secara harfiah menjadi tameng hidup bagi istrinya. "Simpen barang lo. Dia nggak butuh aksesoris tambahan."
Reyhan menyipitkan matanya, mengamati postur Akram yang sangat defensif. Instingnya semakin kuat mengatakan bahwa Akram bukan sekadar cemburu biasa.
"Kram," suara Reyhan kini berubah serius, tak ada lagi nada santai. "Lo bilang lo babysitter-nya karena orang tuanya nitipin dia ke nyokap lo, kan? Tapi sikap lo ini... terlalu posesif buat ukuran babysitter. Lo suka sama dia?"
Pertanyaan tembak langsung itu membuat napas Almeera tertahan. Ia mendongak, menatap punggung tegap Akram dengan jantung berdebar tak karuan.
Akram membalas tatapan Reyhan tanpa berkedip sedikit pun. "Terserah lo mau narik kesimpulan apa. Yang jelas, selama dia ada di lingkungan gue, nggak ada satu orang pun yang boleh nyentuh dia tanpa seizin gue."
Ketegangan di backstage terasa begitu pekat hingga bisa dipotong dengan pisau. Sophia menelan ludah. Nino dan Darren siap melerai jika terjadi baku hantam.
Namun, sebelum pertengkaran itu memanas, suara dari pengeras suara memecah suasana.
"Untuk band NOISE, silakan standby di tangga panggung. Waktu kalian lima menit lagi."
Akram membuang muka dari Reyhan, lalu berbalik menatap Almeera. Tatapannya kembali melembut secara instan saat melihat wajah tegang gadis itu.
"Naik ke panggung. Tunjukin ke semua orang apa yang bisa lo lakuin," perintah Akram. Kata-katanya bukan lagi perintah otoriter seorang Ketos, melainkan dukungan dari orang yang paling mempercayainya.
Almeera mengangguk pelan. Ia meraih stik drumnya, melangkah melewati Reyhan tanpa mengatakan apa pun, dan berjalan menuju tangga panggung bersama anak-anak NOISE.
Dua puluh menit berikutnya adalah keajaiban.
Begitu tirai dibuka dan intro distorsi gitar Darren mengalun, lapangan utama SMA Bina Bangsa meledak oleh sorakan ribuan siswa. Almeera menghantam crash cymbal-nya dengan tenaga penuh, mengalirkan seluruh emosi, ketegangan, dan kebingungan di hatinya melalui setiap ketukan drum.
Keringat bercucuran membasahi wajah dan lehernya, namun ia tak peduli. Ia tersenyum lepas. Ini adalah dunianya.
Di deretan VIP, tepat di depan pagar barikade, Akram berdiri bersedekap. Di tengah lautan manusia yang melompat dan berteriak, cowok itu berdiri diam layaknya patung. Matanya sama sekali tidak menatap vokalis atau gitaris. Seluruh fokusnya, sejak detik pertama hingga detik terakhir, hanya tertuju pada gadis yang duduk di balik drum set itu.
Jantung Akram berdegup mengikuti irama pukulan bass drum Almeera. Ia melihat bagaimana Almeera tersenyum, bagaimana gadis itu memutar stik drum di jarinya dengan percaya diri yang luar biasa.
Dia luar biasa. Dan dia milik gue. Pemikiran posesif itu mengalir deras di darah Akram, membuatnya nyaris gila.
Saat lagu terakhir mencapai klimaksnya, Almeera memukul cymbal dengan satu hentakan mematikan yang diiringi oleh kembang api kecil dari depan panggung. Sorakan penonton pecah, memanggil-manggil nama NOISE.
Almeera berdiri dari kursi drumnya dengan napas terengah-engah. Ia melangkah maju ke bibir panggung bersama anak-anak band lainnya untuk membungkuk memberi hormat. Saat ia menunduk, matanya tanpa sengaja bertemu dengan mata Akram yang berdiri tepat di bawahnya.
Di tengah kebisingan itu, seolah dunia di sekitar mereka melambat.
Akram tidak tersenyum menyebalkan, tidak juga berwajah datar. Cowok itu menatapnya dengan senyum tulus yang begitu hangat, mengangkat sebelah tangannya, dan menunjuk Almeera dengan telunjuknya, sebelum kemudian menepuk dadanya sendiri dua kali.
Gue bangga sama lo.
Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk mata Almeera. Jantungnya berteriak memberikan jawaban atas segala kebingungannya selama ini. Ia benar-benar telah jatuh cinta pada Ketua OSIS arogan ini.
Begitu MC mengambil alih panggung, anak-anak NOISE berlarian turun menuju backstage dengan euforia luar biasa.
Almeera berjalan setengah berlari melewati lorong gelap di belakang panggung, menghindari kerumunan panitia. Ia butuh udara segar. Adrenalin dari panggung dan tatapan Akram tadi membuatnya merasa seolah tubuhnya akan meledak.
Saat ia berbelok ke sebuah lorong sempit yang mengarah ke gudang properti yang kosong, sebuah tangan tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.
"Akh!" Almeera terkesiap, tubuhnya ditarik masuk ke dalam lorong gelap itu. Punggungnya menghantam dinding beton dengan bunyi buk pelan.
Belum sempat ia melawan, wangi mint dan musk maskulin yang sangat dihapalnya mengunci penciumannya.
Akram berdiri tepat di depannya. Napas cowok itu sama memburunya dengan napas Almeera. Kedua tangan Akram bertumpu di dinding, mengurung tubuh Almeera sepenuhnya di ruang yang sangat sempit dan remang-remang itu. Suara musik dari panggung utama terdengar teredam dari tempat ini.
"K-Kram? Lo ngapain—"
"Berhenti ngomong bentar, Al," potong Akram dengan suara parau yang bergetar.
Akram menundukkan wajahnya. Ia mengangkat satu tangannya, ujung jari-jarinya yang kasar menyentuh pipi Almeera yang masih basah oleh keringat. Usapannya begitu lembut, penuh kehati-hatian, seolah Almeera adalah barang pecah belah paling berharga di dunia.
Almeera membeku. Otaknya tidak bisa merangkai satu kata pun. Ia hanya menatap wajah Akram yang kini berjarak tidak lebih dari lima sentimeter dari wajahnya.
"Lo gila hari ini," bisik Akram, matanya turun menatap bibir Almeera yang terbuka karena napasnya yang terengah. "Lo bikin gue nyaris kehilangan akal dari pagi."
Akram memiringkan kepalanya sedikit. Jarak di antara mereka semakin menipis. Almeera refleks memejamkan matanya, pasrah pada gravitasi yang menarik mereka berdua. Ia bisa merasakan hembusan napas hangat Akram di bibirnya. Seluruh ego, gengsi, dan permusuhan mereka menguap tanpa sisa. Ini adalah momen mereka.
Satu detik. Dua detik. Bibir mereka nyaris bersentuhan...
Cekrek.
Sebuah suara nyaring dari tombol shutter kamera ponsel, diikuti kilatan cahaya flash yang sangat terang, menyambar lorong gelap itu layaknya petir.
Akram dan Almeera terperanjat hebat. Keduanya otomatis menarik tubuh menjauh, menoleh ke arah ujung lorong dengan mata membelalak karena silau dan terkejut.
Di ujung lorong yang remang, berdirilah sesosok tubuh tegap dengan ponsel yang masih terangkat di tangannya. Layar ponsel itu menyala, menampilkan foto Akram yang sedang mengurung Almeera dalam posisi sangat intim.
Sosok itu menurunkan ponselnya perlahan, menyunggingkan senyum sinis yang mematikan.
"Wah, wah," suara bariton Reyhan menggema pelan namun terdengar seperti vonis hukuman mati. "Oh, jadi gini cara kerja seorang babysitter? Ngurung anak asuhnya di lorong gelap?"
Darah di tubuh Almeera berhenti mengalir detik itu juga. Akram mengumpat tertahan, rahangnya mengeras, tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Skandal yang susah payah mereka tutupi kini bukan sekadar rahasia lisan, melainkan sudah berubah menjadi bukti digital di tangan orang yang paling berbahaya.