Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Berkunjung Ke Rumah Archmage William
"Jangan billing kau bermain gila dengan wanita-wanita penghibur di luar sana. Kudengar dari Ayah, kau dan Paman Ethan semalam pergi ke sebuah tempat hiburan malam."
Uhuk!
Edgard seketika tersedak air liurnya sendiri mendengar tebakan tajam Scarlett. Jantungnya berdegup kencang, takut jika rahasia bejatnya terbongkar di sini.
"Kau benar tentang tempat hiburan itu," ucap Edgard setelah berhasil menguasai diri, meski keringat dingin mulai membasahi tengkuknya.
"Tapi aku tidak melakukan hal sekotor dan segila itu. Aku ke sana murni hanya bertugas menemani dan mengawal Paman Ethan saja."
"Benarkah? Tapi mengapa aku mencium aroma lautan yang begitu pekat di tubuhmu serta..." Scarlett menjeda kalimatnya sejenak.
Ia tampak mengetuk-ngetuk dagunya, berpikir keras untuk mengenali aroma asing tersebut. "Bau bunga ini... bunga apa, ya? Ah, pokoknya ini perpaduan antara lautan luas dan kelopak bunga segar. Kau jangan coba-coba membohongiku, Edgard. Jadi, apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan dariku?"
Butiran keringat dingin mulai mengucur melewati pelipis Edgard. Ia meremas setir mobilnya dengan erat, berusaha mati-matian memfokuskan pandangannya pada jalanan lurus di depan agar kegugupannya tidak semakin kentara.
"Kau terlalu berlebihan, Scar. Sudahlah," kilah Edgard cepat, memutar otak untuk mencari alasan paling logis. "Kalau soal bau lautan, aku memang sengaja meminta sisa parfum milik Bibi Moana saat aku berkunjung ke Kastil Salvatore kemarin. Dan soal aroma bunga itu... aku menyemprotkan parfum yang ada di rumah sebelum kita berangkat tadi. Kebetulan itu parfum mahal pemberian dari Bibi White, jadi aku penasaran dan mencoba mencampurkan keduanya."
Edgard terpaksa menjadikan Moana—ibu dari si kembar tiga Jonas, Jonah, dan Josiah—sebagai tamengnya. Ia tahu betul Bibi Moana adalah seorang mermaid sejati, sehingga wajar jika memiliki wewangian khas samudra. Ia juga sengaja menyeret nama Bibi White, istri dari Alpha Ethan, karena seisi klan tahu bahwa wanita itu adalah kolektor parfum beraroma bunga-bungaan.
Scarlett mendengus geli, melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar pada kursi mobil. "Alasan yang sangat konyol. Mencampur parfum laut dan bunga? Tapi sudahlah... yang jelas aku tetap tidak percaya begitu saja padamu, Edgard."
Scarlett akhirnya memilih untuk menyandarkan tubuhnya dan menikmati pemandangan jalanan di luar jendela. Sementara itu, Edgard mendesah lega dalam hati. Untuk saat ini ia selamat dari interogasi sepupunya, namun ia tidak bisa menjamin rahasia ini akan tetap aman di kemudian hari.
Edgard memantapkan tekad; setelah seluruh rangkaian acara ini selesai dan mereka pulang kembali ke Luminara, ia harus segera melakukan pencarian terhadap gadis Siren itu demi menyelamatkan masa depannya sendiri.
Perjalanan yang memakan waktu dua jam tersebut akhirnya berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Iring-iringan mobil mewah mereka pun tiba dan memasuki pekarangan sebuah mansion megah yang berdiri dengan arsitektur kuno nan artistik. Itulah kediaman dari Archmage William Pendragon.
Satu per satu pintu mobil terbuka. Para suami Elisa—si kembar tiga Jonas, Jonah, dan Josiah—bergerak dengan sigap dan cekatan. Mereka menggendong bayi-bayi mereka yang menggemaskan, Jayden, Joy, dan Jacelyn, sembari menenteng berbagai tas perlengkapan bayi. Scarlett juga ikut turun, melangkah anggun menyusul yang lain.
Berbeda dengan para sepupunya, Edgard justru bergeming di kursi kemudi. Ia tidak langsung terburu-buru turun dari mobil. Entah mengapa, dadanya mendadak didera rasa gelisah yang teramat sangat. Pikirannya dipenuhi ketakutan luar biasa jika Archmage William tidak sengaja bersentuhan dengannya.
Edgard tahu betul seberapa mengerikannya kemampuan psikometri sang penyihir agung. William Pendragon pasti akan mengetahui segalanya—termasuk dosa brutal yang ia perbuat semalam—walaupun hanya lewat jabat tangan formal atau sekadar tepukan ringan di pundak.
"Bagaimana ini?" bisik Edgard panik, mencengkeram erat kemudinya dengan tangan yang mulai basah oleh keringat dingin.
"Ed! Kau tidak ikut turun?" teriak Josiah dari ambang pintu mansion, melambaikan tangan ke arah mobil Edgard yang masih tertutup rapat.
Edgard tersentak kaget dari lamunannya. Ia buru-buru mengatur ekspresi wajahnya dan berpura-pura merapikan penampilannya di depan kaca spion tengah. "Iya! Aku akan turun sekarang!" jawabnya setengah berteriak, berusaha menyembunyikan getaran gugup di suaranya.
Dengan berat hati dan langkah yang terasa amat kaku, Edgard membuka pintu mobil, bersiap menghadapi sang Archmage dengan sejuta ketakutan yang mengintai di kepalanya.
Begitu melangkah masuk ke dalam ruang tengah mansion yang luas, rombongan langsung disambut dengan kehangatan yang tulus oleh William dan Violet.
Suasana seketika mencair, dipenuhi rona kebahagiaan saat pandangan semua orang tertuju pada bayi perempuan mungil yang baru lahir satu minggu lebih tersebut. Violet tampak menggendong sang putri dengan penuh kasih sayang, memamerkan keajaiban kecil itu kepada para keponakan dan cicit yang datang berkunjung.
"Wah, Bibi kecil sangat lucu, Kakek!" ucap Scarlett dengan mata berbinar-binar. Gadis keturunan Pegasus itu mendekat, lalu dengan gemas menoel pelan pipi gembul sang bayi yang tertidur pulas.
Pria tampan berambut putih perak nan berkilau dengan manik mata senada—yang tak lain adalah Archmage William Pendragon—tersenyum lebar mendengar pujian cucunya.
Jika diperhatikan sekilas, penampilan fisik William menipu siapa saja; parasnya masih tampak seperti pria matang yang baru memasuki usia awal 30-an dengan rahang tegas yang sempurna. Padahal aslinya, penyihir agung legendaris itu sudah hidup melintasi zaman dan berumur lebih dari 600 tahun.
"Dia lucu dan menggemaskan... sama persis seperti dirimu saat masih bayi dulu, Scar," sahut William, suaranya terdengar bariton dan berwibawa namun sarat akan kelembutan seorang kakek.
Mendengar gurauan manis itu, beberapa sepupu lain ikut terkekeh, menambah ramai suasana ruang tengah yang kini dipenuhi suara celoteh riang bayi kembar tiga milik Elisa yang mulai aktif merangkak di atas karpet tebal.
Namun, di sudut ruangan, Edgard hanya bisa berdiri dengan tubuh kaku. Di saat yang lain larut dalam tawa, detak jantung Edgard justru berpacu liar. Ia terus memutar otak, waspada penuh agar jaraknya dan sang Archmage tidak terkikis, takut jika satu sentuhan tidak sengaja dari kakeknya itu akan membongkar seluruh aib yang disembunyikannya rapat-rapat.
"Edgard, kenapa kau hanya berdiam diri di sana? Kemarilah, bergabung bersama kami," tegur Jonas, memecah kecanggangan saat menyadari sepupunya itu terus berdiri mematung di sudut ruangan layaknya sebuah patung pajangan.
Pertanyaan mendadak dari Jonas seketika membuat Edgard tersentak. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata di ruangan itu mulai beralih menatapnya dengan heran.
"Hari ini... hari ini sangat panas sekali. Aku butuh sedikit angin segar," kilah Edgard gugup, memberikan alasan yang terdengar sangat dipaksakan. "Maaf, aku akan menunggu di luar saja."
______________________
Bagi kalian yang suka sama cerita author, baca juga sekuel novel sebelumnya 'Pegasus From Diamond Planet' biar kalian lebih kenal sama karakter pendukung lainnya. Di jamin ceritanya gak kalah seru. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah buat author ya!