Di desa Pantai Kelumbayan, Sumatera Barat, berdiri Batu Tujuh Sudut – batu karang legendaris yang dipercaya menyimpan jejak takdir setiap penghuni desa. Salma, cucu ahli warisan budaya, terpaksa menghadapi tekanan keluarga untuk menikah demi kepentingan ekonomi desa. Sementara itu, Yuda – pemuda yang gagal meraih impian di kota – kembali sebagai petugas pemantau ekosistem laut dan menemukan bahwa batu karang serta terumbu di sekitarnya akan dirusak oleh rencana pembangunan pariwisata besar.
Cinta tumbuh di antara mereka saat mereka berjuang bersama untuk melindungi alam dan budaya yang mereka cintai. Namun, beda latar belakang, tradisi yang kaku, dan takdir yang tak terduga menghadang hubungan mereka. Ketika badai besar menghantam dan kapal Yuda tenggelam dalam misi penyelamatan, Salma harus melanjutkan perjuangan sambil merenungkan makna sejati dari legenda batu karang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana yang Tidak Diharapkan
TAKDIR PADA BATU KARANG
Jalan menuju desa terjalin di antara hamparan kebun kelapa dan pepohonan bakau yang rindang. Udara pagi masih segar dengan aroma garam dari laut dan harum bunga melati yang tumbuh di halaman rumah-rumah penduduk. Salma membantu kakeknya masuk ke dalam rumah kayu mereka yang berdiri di atas tiang tinggi – khas rumah tinggal di pesisir untuk menghindari banjir pasang.
“Kamu istirahat dulu, Kakek,” ucap Salma sambil mengantar kakeknya ke kamar belakang yang teduh. “Aku akan membuatkan minuman jahe hangat untukmu.”
“Terima kasih, Nak,” jawab Haji Mahmud dengan senyum lembut. “Setelah itu, tolong ambilkan kotak kayu yang ada di bawah ranjangku. Ada sesuatu yang harus kuberi padamu sebelum kakakmu datang.”
Salma mengangguk dan segera bergerak ke dapur kecil yang terletak di sisi belakang rumah. Api tungku kayu menyala dengan lembut, mengeluarkan panas yang hangat di antara lantai loyang yang mengkilap. Dia memasak air jahe dengan gula merah dan serai, sambil berpikir tentang sosok pemuda bernama Yuda yang baru saja dia lihat. Mengapa wajahnya terasa begitu akrab padanya?
Setelah minuman siap, Salma membawanya ke kamar kakek dan kemudian mengambil kotak kayu yang diminta. Kotak itu berat dan memiliki ukiran pola batu karang yang sama dengan yang ada di tepi pantai. Saat dia membukanya, ada sebuah buku tua dengan kulit sampul kayu dan beberapa helai kain songket yang sudah lapuk.
“Ini adalah catatan dari leluhur kita, Salma,” ucap Haji Mahmud sambil duduk dan menyiramkan minuman jahe ke dalam cangkir tanah liat. “Di dalamnya tercatat semua legenda desa, termasuk rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang luar.”
Salma membuka halaman pertama buku itu. Tulisan tangan dengan huruf Arab yang indah memenuhi setiap lembar, diselingi dengan gambar-gambar batu karang dan laut yang digambar dengan hati-hati. “Apa rahasia itu, Kakek?”
“Batu Tujuh Sudut bukan hanya batu biasa,” kata kakek dengan suara yang lebih rendah. “Leluhur kita bilang bahwa di bawah batu itu terdapat sumber mata air yang memberi kehidupan pada seluruh ekosistem laut di sekitar desa. Jika batu itu rusak atau digerakkan, mata air itu akan tersumbat dan laut kita akan mati.”
Salma menutup buku dengan hati-hati. “Maka itu batu itu harus selalu dilindungi, bukan?”
“Betul sekali, Nak. Itulah sebabnya kita memiliki aturan adat yang ketat – tidak seorang pun boleh menyentuh atau mencoba memindahkan batu itu. Bahkan sekadar menggali di sekitarnya sudah dilarang keras.”
Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar dari depan rumah. Salma segera berdiri untuk membukanya, dan menemukan sosok kakaknya, Rina, berdiri bersama suaminya, Joko, dan seorang pria yang mengenakan jas hitam dengan dasi merah. Pria itu memiliki wajah yang tajam dan mata yang menyelidiki.
“Assalamualaikum, Kak,” ucap Salma dengan ramah.
“Wa’alaikumussalam, Salma,” jawab Rina dengan senyum yang terlihat dipaksakan. “Ini adalah Bapak Herman, dari perusahaan Pembangunan Pariwisata Nusantara. Dia ingin berbicara dengan kita semua.”
Salma mengundang mereka masuk dan membawanya ke ruang tamu yang terletak di tengah rumah. Haji Mahmud sudah keluar dari kamarnya dan duduk di kursi kayu yang menjadi tempatnya biasanya. Wajahnya tampak tegas ketika melihat tamu yang datang.
“Selamat pagi, Bapak Mahmud,” ucap Bapak Herman dengan suara yang keras dan jelas. “Saya datang dengan usulan yang sangat menguntungkan untuk desa ini. Perusahaan kami ingin mengembangkan Pantai Kelumbayan menjadi kawasan wisata kelas dunia.”
“Kita sudah hidup dengan baik selama ini, Pak,” jawab Haji Mahmud dengan nada yang tenang namun tegas. “Kita tidak membutuhkan pembangunan apa pun.”
“Tapi dengan pembangunan ini, desa akan mendapatkan banyak keuntungan, Bapak,” sambung Joko dengan mata yang bersinar. “Pekerjaan bagi anak muda, jalan yang baik, listrik yang stabil – semua akan kita dapatkan. Bahkan setiap keluarga akan mendapatkan uang kompensasi yang besar.”
“Dan apa yang kalian inginkan sebagai imbalannya?” tanya Haji Mahmud dengan tatapan yang mendalam.
Bapak Herman mengambil selembar kertas dari tasnya dan menyebarkannya di atas meja. “Kami membutuhkan hak penggunaan lahan seluas lima hektar di sekitar pantai, termasuk area di mana Batu Tujuh Sudut berada. Kami berencana untuk membangun kolam renang buatan, hotel mewah, dan pusat perbelanjaan di sana. Batu itu sendiri akan menjadi daya tarik utama – kami akan membuatnya menjadi monumen yang menarik bagi wisatawan.”
Salma merasa darahnya membeku. “Tidak bisa! Batu itu tidak boleh diganggu! Ia adalah bagian dari budaya dan tradisi kita!”
“Budaya dan tradisi tidak akan memberi makan orang-orang desa, Nona Salma,” jawab Bapak Herman dengan senyum yang menjijikkan. “Uang lah yang akan memberi kehidupan yang lebih baik.”
Sementara itu, di dermaga pantai, Yuda sedang melihat sekeliling dengan wajah yang penuh perhatian. Dia membawa sebuah buku catatan dan kamera digital, mencatat kondisi terumbu karang yang terlihat dari permukaan air. Beberapa bagian sudah mulai pudar dan rusak, ditandai dengan warna putih yang menunjukkan bahwa terumbu itu sudah mati.
“Pak Jamil,” ucap Yuda kepada seorang nelayan tua yang sedang memperbaiki jaringnya. “Kapan mulai terjadi kerusakan pada terumbu ini?”
Pak Jamil menghela napas panjang. “Sekitar tiga bulan yang lalu, Nak. Ada kapal besar yang sering muncul di laut jauh, mengeluarkan sesuatu yang membuat air menjadi keruh. Sejak itu, ikan semakin sedikit dan terumbu mulai rusak.”
Yuda mencatat hal itu di buku catatannya. Dia sudah mendengar kabar tentang rencana pembangunan perusahaan besar di desa ini, dan dia tahu bahwa aktivitas mereka akan semakin merusak ekosistem laut yang sudah rapuh. Dia harus melakukan sesuatu sebelum terlambat.
Saat matahari mulai memasuki tengah hari, Yuda melihat seorang perempuan mengenakan baju adat hitam dengan motif emas sedang berjalan cepat menuju pantai. Wajahnya tampak cemas dan marah. Dia mengenali dia sebagai perempuan yang telah dia lihat pagi tadi bersama lelakinya yang tua. Tanpa berpikir panjang, Yuda berjalan mendekatinya.
“Permisi, Nona,” ucap Yuda dengan sopan. “Apakah ada yang bisa saya bantu?”
Salma menghentikan langkahnya dan melihat ke arah pria yang berdiri di depannya. Wajahnya yang tampan dengan alis yang tegas membuat hatinya berdebar sedikit. “Aku… aku hanya ingin melihat batu karang sekali lagi. Ada orang yang ingin merusaknya.”
Yuda mengangguk dengan pemahaman. “Saya juga khawatir tentang itu. Nama saya Yuda. Saya baru saja kembali ke desa untuk membantu menjaga ekosistem laut sini.”
“Salma,” jawabnya dengan suara yang sedikit lembut. “Kita harus melakukan sesuatu untuk melindungi batu itu, bukan?”
Yuda menatap ke arah Batu Tujuh Sudut yang berdiri kokoh di kejauhan. Matahari tengah hari menyinari permukaannya dengan cahaya yang terang, membuat lekukan-lekukannya tampak lebih jelas. “Ya, kita harus melakukannya. Karena batu itu bukan hanya milik desa ini – dia adalah milik alam yang harus kita jaga bersama.”