Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Mimpi Sonja
Malam semakin larut. Langit telah berubah menjadi hamparan hitam pekat, sementara embusan angin dingin terus berdesir, menusuk kulit siapa pun yang berada di bawahnya. Namun hawa dingin itu sama sekali tidak mengganggu sosok cantik berambut panjang yang tengah berdiri menjelajah di tengah gelapnya malam.
Elleanor terlihat sedang menikmati santapan malamnya.
Kedua taringnya menancap di leher seorang pria manusia. Cairan merah hangat mengalir perlahan memenuhi mulutnya. Elle memejamkan mata, menikmati setiap tetes darah yang ditelannya dengan begitu rakus. Sudah berhari-hari dia menahan dahaga. Baginya, ini adalah kenikmatan yang tak tergantikan.
"Manusia itu benar-benar beruntung," ujar Yuno sambil menyandarkan tubuhnya pada batang pohon. Senyum jahil tak pernah lepas dari wajah tampannya."Bisa mati di tangan vampir secantik dirimu."
Elle hanya melirik sekilas. Tatapannya dingin namun buas. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya seolah pria itu tidak pernah ada.
Sejak meminta izin kepada Arthur untuk berburu, Elle langsung pergi menuju sebuah desa manusia yang letaknya cukup jauh dari Hutan Fork. Berbeda dengan Alea yang mampu menahan rasa haus selama berminggu-minggu, Elle sama sekali tidak memiliki kesabaran seperti itu. Begitu rasa hausnya sedikit mereda, Elle mencabut taringnya. Tubuh manusia itu jatuh tanpa nyawa ke atas tanah. Pria hidung belang yang sejak tadi mencoba menyentuhnya kini terbaring kaku dengan mata terbuka lebar. ketika mencari mangsa, Elle memang memiliki kriteria khusus, harus manusia yang memiliki tabiat buruk, seperti pencuri, atau pria kasar dan hidung belang.
"Manusia menjijikkan," gumam Elle dingin.
"Sudah kenyang, Sayang?" goda Yuno sambil berjalan mendekat.
Elle mendecak kesal."Tutup mulutmu yang menjijikkan itu. Apa yang kaulakukan di sini, vampir mesum?"
Tanpa menunggu jawaban dari Yuno, wanita vampir itu segera melangkah meninggalkan mayat buruannya. Namun Yuno tetap mengikuti di belakangnya.
"Tentu saja aku mencarimu."
"Tidak bisakah kau berhenti mengikutiku?" Dari nada suaranya, Elle terdengar begitu muak.
"Kurasa tidak bisa." Yuno tersenyum lebar.
"Kenapa?"
"Karena aku suka melihatmu marah."
Elle memutar bola matanya malas."Apa maumu sebenarnya?"
Yuno berhenti tepat di hadapannya. Tatapannya berubah jauh lebih serius."Kau."
Elle mengernyit.
"Jadilah milikku."
Elle mendengus sinis."Dalam mimpimu, bajingan. Pergi sebelum aku benar-benar mencabikmu."
Alih-alih takut, Yuno justru tertawa pelan. Dia melangkah lagi.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Elle bisa merasakan napas dingin Yuno menyentuh wajahnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"Kau ingin mati?" gertaknya, berusaha tetap terlihat tenang.
Yuno menyeringai."Jika harus mati di tanganmu, sepertinya itu bukan pilihan yang buruk."
"Vampir mesum!""
Elle berusaha mundur. Sayangnya, punggungnya sudah menyentuh batang pohon. Dia terjebak.
"Menjauh darinya, Yuno." Suara dingin itu memecah suasana.
Elle langsung mengembuskan napas lega, ketika melihat kedatangan Alea, dan segera menyingkir dari hadapan Yuno. Hampir saja dia terbuai oleh wajah tampan pria menyebalkan itu.
"Kau selalu merusak suasana, Lea," keluh Yuno sambil mengacak rambutnya frustrasi.
Alea hanya menatapnya datar."Ayo." Satu kata itu sudah cukup. Elle segera mengikuti sahabatnya.
"Elle!" teriak Yuno dari belakang."Kita belum selesai, Sayang!"
Elle hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa menoleh."Teruslah bermimpi."
Yuno tersenyum tipis melihat kedua wanita itu menghilang di balik pepohonan."Aku akan membuatmu jatuh cinta suatu hari nanti."
Sesampainya di Hutan Fork, Alea dan Elleanor segera kembali ke kastel. Mereka tidak ingin mencari masalah dengan Arthur.
Di sisi lain, Sonja sedang berdiri di dekat jendela kamar, tatapannya kosong menembus gelapnya malam. Bayangan Bibi Carmen kembali memenuhi pikirannya. Mimpi itu terasa begitu nyata. Apakah Bibi Carmen mengetahui sesuatu tentang ibunya?
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"
Sonja tersentak. Dia menoleh dan mendapati Alea telah berdiri di belakangnya, sementara Elleanor bersandar santai di kusen pintu."Bagaimana kau tahu?"
Elle langsung menyela dengan senyum jahil."Alea bisa membaca pikiran Sonja."
Kedua mata Sonja membulat."Benarkah?"
Alea menghela napas pelan."Elle hanya membual. Kulihat keningmu berkerut."
Elle langsung mendekat."Coba kulihat."
Tangannya hampir menyentuh dahi Sonja. Namun Alea lebih dulu menepisnya."Jangan mengganggunya."
Elle langsung mengerucutkan bibir."Pelit."
Alea kembali memandang Sonja."Jadi, apa yang sedang kau cemaskan?"
Sonja pun menceritakan mimpi-mimpi buruk yang terus menghantuinya. Tentang wanita yang terus memanggil namanya. Tentang ibunya. Dan tentang Bibi Carmen.
"Aku ingin menemui Bibi Carmen," ucap Sonja lirih. "Tapi Arthur selalu melarangku."
Elle langsung menepukkan kedua tangannya."Kalau begitu kita kabur saja."
Sonja dan Alea menoleh bersamaan.
"Aku sudah muak tinggal serumah dengan sekumpulan makhluk berbulu itu."
"Elleanor." Suara Alea sedikit meninggi."Jaga ucapanmu."
Elle mendengus pelan."Memangnya aku salah?"
"Bersikap gegabah hanya akan membuat kita mati sia-sia." Alea sendiri sebenarnya ingin segera mencari Pangeran Alex. Sampai sekarang belum ada kabar sedikit pun darinya. Perasaan tidak tenang terus menghantui hatinya. Namun mereka sedang berada di bawah pengawasan Arthur. Satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal.
"Kita tetap di sini," putus Alea.
Elle menghela napas panjang."Baiklah." Kemudian ia tersenyum lebar."Apa pun keputusanmu, Alea, aku akan selalu berada di sampingmu." Ekspresi berlebihan itu membuat Sonja terkekeh pelan.
"Sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu yang menarik." Suara berat yang tiba-tiba terdengar membuat ketiga wanita itu terkejut.
Arthur.
Pria itu sudah berdiri tidak jauh dari mereka.
Sonja langsung menghampirinya."Kau membuat kami kaget."
Arthur tersenyum tipis."Kau mencariku?"
"Tentu saja. Seharian ini aku tidak melihatmu."
Arthur langsung menarik tubuh Sonja ke dalam pelukannya. Begitu erat. Seolah takut gadis itu akan menghilang."Aku juga merindukanmu." Bibirnya beberapa kali mengecup lembut rambut Sonja.
Pemandangan itu membuat Elleanor membelalakkan mata."Bukan seperti Arthur yang kukenal?"bisiknya lirih.
"Tutup mulutmu, Sayang." Tiba-tiba Yuno sudah berdiri di sampingnya."Biasakan saja. Kalau sedang bersama Sonja, dia memang berubah menjadi pria paling manis di dunia."
Elle menatap Arthur dengan wajah tidak percaya."Menyeramkan."
Yuno terkekeh pelan.
Sementara itu Arthur sama sekali tidak memedulikan tatapan para vampir di sekelilingnya. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Sonja.
"Memangnya kau pergi ke mana seharian ini?" tanya Sonja penasaran.
"Aku sedang mempersiapkan sesuatu."
Sonja mendongak. Dia baru menyadari dagu Arthur kini dipenuhi bulu-bulu halus yang mulai tumbuh."Mempersiapkan apa?"
Arthur menangkup kedua pipi Sonja dengan lembut. Tatapannya begitu dalam. Begitu serius. "Aku sedang mempersiapkan pesta pernikahan kita, Sonja."
Deg.
Mata Sonja membelalak. Napasnya seolah tertahan.
"P-pernikahan...?"
Arthur hanya tersenyum tipis. Senyum penuh kemenangan. Sebentar lagi Sonja akan menjadi miliknya sepenuhnya. Tidak akan ada lagi siapa pun yang dapat merebut gadis itu darinya.
Sonja hanya miliknya.