Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghitung Detik dalam Keheningan
Suara deru mesin mobil-mobil milik Nicholas perlahan memudar, digantikan oleh simfoni mengerikan dari hantaman air hujan yang seolah ingin merubuhkan dinding-dinding batu mansion.
Thomas segera bergerak dengan efisiensi yang menakutkan untuk seorang pria paruh baya. Dia menekan beberapa tombol di panel kendali rahasia di balik pilar aula utama.
Seketika itu juga, terdengar suara gerendel besi tebal yang turun dari balik dinding, mengunci setiap pintu akses dan jendela kaca di lantai bawah dengan lapisan baja anti peluru.
Mansion Barrett kini resmi berubah menjadi sebuah bunker mewah yang kedap udara. Namun bagi Elena, tempat ini terasa lebih mirip peti mati yang megah.
"Silakan kembali ke kamar Anda, Nyonya" ucap Thomas dengan nada suara yang teratur, seolah-olah penyerangan pelabuhan dan perang mafia adalah rutinitas minum teh sore yang biasa.
"Saya akan memastikan teh hangat dikirimkan ke atas dalam beberapa menit."
Elena menatap pelayan tua itu dengan mata melebar. "Thomas, bagaimana kau bisa se-tenang ini? Dimitri datang dengan tubuh berdarah-darah, dan Nicholas... Nicholas pergi ke tengah medan pembantaian!"
Thomas tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan ribuan rahasia kelam dari generasi keluarga Barrett sebelumnya.
"Mr. Barrett bukan pria yang mudah dijatuhkan oleh orang-orang seperti Marcus Moreno, Nyonya. Beliau telah melewati badai yang jauh lebih besar daripada sekadar penyergapan gudang logistik. Sekarang, tugas terpenting Anda adalah tetap aman di dalam kamar. Jika Anda terluka, fokus Mr. Barrett di luar sana akan terpecah, dan itulah bahaya yang sebenarnya."
Kata-kata Thomas menembus ego Elena. Benar. Di dunia yang penuh dengan mesiu dan darah ini, dia hanyalah sebuah liabilitas sebuah kelemahan yang bisa digunakan musuh untuk menghancurkan Nicholas.
Dengan langkah gontai, Elena memutar tubuhnya dan berjalan kembali menaiki tangga pualam menuju lantai dua.
Gaun rajut merah muda lembut yang dikenakannya terasa terlalu kontras dengan atmosfer rumah yang mendadak mencekik ini. Elena masuk ke dalam kamar tidur utama, membiarkan pintu besar itu tertutup rapat di belakangnya.
Dia tidak mengunci pintu itu, mengingat peringatan Nicholas pada malam pertama mereka. Lagi pula, tidak ada gunanya mengunci diri dari pria yang memegang seluruh kunci kehidupan di tempat ini.
Elena berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap ke arah hutan pinus. Di luar, kegelapan begitu pekat hingga jajaran pohon tinggi itu tampak seperti siluet monster yang sedang mengawasi benteng tempatnya beralih.
Kilatan petir sesekali menyambar, menerangi langit selama sepersekian detik dan menampilkan refleksi wajahnya sendiri di kaca wajah Elena yang kini dipaksa menggunakan nama Alana, wanita yang terjebak di antara rasa takut dan ketertarikan yang membingungkan pada seorang bos mafia.
*Klik.*
Suara pintu terbuka membuat Elena tersentak kaku. Dia berbalik dengan cepat, mengira Nicholas telah kembali, namun ternyata itu adalah seorang pelayan wanita muda yang mengantarkan nampan berisi secangkir teh kamomil hangat dan beberapa biskuit mentega.
"Teh Anda, Nyonya," ucap pelayan itu sambil menundukkan kepala dalam-dalam, meletakkan nampan di atas meja kecil di dekat sofa kulit, lalu segera undur diri tanpa berani menatap mata Elena.
Elena mendekati meja tersebut. Dia mengambil cangkir pualam itu, membiarkan kehangatannya meresap ke dalam telapak tangannya yang sedingin es. Dia mencoba meminumnya perlahan, namun rasa cemas yang menyumbat tenggorokannya membuat cairan hangat itu terasa hambar.
Pikirannya melayang pada ciuman singkat Nicholas di dahinya sebelum pria itu pergi tadi. Itu bukan tindakan seorang bos mafia yang sedang mengamankan barang investasinya.
Ada kelembutan yang nyata, sebuah ketakutan implisit yang tersirat dari cara Nicholas menekan bibirnya di kulit dahi Elena. Apakah Nicholas mulai peduli padanya? Ataukah pria itu hanya merasa bertanggung jawab karena Elena berada di bawah atap rumahnya?
"Jangan bodoh, Elena," bisikinya pada diri sendiri, meletakkan kembali cangkir teh yang masih penuh itu ke atas nampan.
"Dia adalah pria yang membakar dokumen masa lalu karena kasihan, bukan karena cinta. Kau tidak boleh menyerahkan hatimu pada seseorang yang tangannya berlumuran darah."
Namun, sanggahan itu terasa lemah bahkan di telinganya sendiri. Elena berjalan mondar-mandir di dalam kamar yang luas itu, menghitung setiap detik yang berlalu dengan detak jantungnya yang kencang.
Waktu seolah berjalan mundur. Jam dinding kuno di sudut kamar menunjukkan pukul sebelas malam, lalu tengah malam, hingga akhirnya jarum jam menyentuh pukul dua dini hari. Badai di luar mulai mereda, menyisakan rintik hujan yang konstan dan suara angin yang berdesir rendah di antara dedaunan pinus.
Ketakutan terbesar Elena bukanlah jika Nicholas kalah dalam pertempuran itu, melainkan jika Nicholas tidak pernah kembali lagi ke kamar ini.
Jika pria itu tewas, maka Marcus Moreno atau faksi mafia lainnya akan menyerbu tempat ini, mengambilnya sebagai pemuas nafsu atau piala kemenangan, dan menghancurkan sisa-sisa keluarga Vance tanpa ada yang menghalangi.
Di duniaku yang baru ini, Nicholas Barrett adalah satu-satunya dinding yang memisahkannya dari kematian yang mengerikan.
Elena merasakan kelelahan mental yang luar biasa mulai menggerogoti tubuhnya. Dia tidak ingin berbaring di atas ranjang raksasa itu sendirian. Sebagai gantinya, dia meringkuk di atas sofa kulit besar di dekat jendela, menarik sebuah selimut wol tebal untuk membungkus tubuhnya yang menggigil.
Matanya tetap terpaku pada pintu kamar, menolak untuk terpejam meskipun rasa kantuk mulai menyerang dengan gencar.
Tepat pukul tiga lewat empat puluh lima menit dini hari, terdengar suara mekanis yang berat dari lantai bawah suara gerendel baja anti peluru yang ditarik kembali ke dalam dinding.
*Mereka sudah kembali.*
Elena langsung menegakkan tubuhnya, melemparkan selimut wol itu ke samping. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia bisa mendengar suaranya sendiri di dalam telinga. Dia berdiri membeku di tengah ruangan, menatap pintu ganda dengan napas yang tertahan.
Langkah kaki yang berat terdengar menyusuri koridor lantai dua. Langkah itu lambat, tidak secepat biasanya, dan terdengar sedikit menyeret.
*Handle* pintu bergerak turun perlahan. Pintu terbuka.
Nicholas Barrett berdiri di ambang pintu. Jas hitam formalnya sudah hilang, menyisakan kemeja putih yang kini robek di bagian bahu kanan dan dipenuhi oleh noda darah yang mengering serta cipratan lumpur.
Wajah tegasnya tampak sangat pucat, dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang menunjukkan kelelahan ekstrem. Namun, sepasang mata abu-abunya langsung menemukan sosok Elena yang berdiri di tengah kamar.
Aroma tajam dari mesiu yang terbakar, karat besi, dan darah segar langsung menyerbu masuk ke dalam kamar, merusak aroma kayu cendana yang menenangkan.
"Nicholas..." Elena berbisik, suaranya tercekat. Dia melangkah maju tanpa sadar, matanya meneliti setiap inci tubuh suaminya yang tampak berantakan.
Nicholas tidak menjawab. Dia menutup pintu di belakangnya dengan satu tangan, lalu bersandar pada daun pintu kayu itu selama beberapa detik seolah seluruh energinya telah terkuras habis di Pelabuhan Timur.
Tatapannya tertuju pada gaun pink yang dikenakan Elena, lalu beralih pada wajah gadis itu yang tampak sembap karena tidak tidur semalaman.
"Kau... kau terluka?" Elena melangkah mendekat lagi, mengabaikan rasa takutnya pada noda darah yang menempel di pakaian Nicholas.
"Ini bukan darahku," jawab Nicholas, suaranya terdengar sangat serak dan dalam, hampir seperti sebuah bisikan hantu dari masa lalu.
Dia menegakkan tubuhnya dengan susah payah, berjalan menuju sofa tempat Elena meringkuk tadi, dan menjatuhkan tubuh besarnya di sana. Dia menyandarkan kepalanya ke belakang, memejamkan mata dengan rahang yang tetap mengencang.
Elena mendekati sofa itu dengan ragu-gada. Dia bisa melihat robekan di bahu kanan kemeja Nicholas menampilkan luka goresan panjang yang masih mengeluarkan darah segar kontras dengan ucapan pria itu barusan.
"Kau berbohong. Bahumu terluka," ucap Elena dengan nada menuduh yang pelan, namun sarat akan kekhawatiran.
Nicholas membuka matanya sedikit, melirik Elena dari sudut matanya yang tajam. "Hanya goresan peluru yang meleset. Bukan masalah besar."
"Itu masalah besar jika lukanya infeksi," sahut Elena ketus, mencoba meniru ketegasan Thomas.
"Tunggu di sini. Aku akan mengambil kotak P3K di kamar mandi."
Sebelum Elena sempat berbalik, tangan besar Nicholas yang dipenuhi noda hitam mesiu melesat maju, mencengkeram pergelangan tangan Elena dengan sentakan yang tidak terlalu kuat namun tidak bisa dibantah.
Nicholas menarik Elena hingga gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas pangkuan kokoh pria itu.
"Nicholas!" Elena memekik kaget, mencoba bangkit namun lengan kiri Nicholas yang kekar langsung melingkar di pinggangnya, mengunci tubuh Elena agar tetap menempel pada dada bidangnya yang berdegup dengan ritme yang konstan dan menenangkan.
"Diamlah sejenak, Elena," bisik Nicholas di dekat ceruk leher Elena, hembusan napasnya yang hangat terasa begitu intim di kulit gadis itu. Nicholas menyembunyikan wajahnya di bahu Elena, menghirup aroma tubuh istrinya yang wangi buah-buahan segar sebuah aroma kehidupan yang sangat dia butuhkan setelah menghabiskan malam di tengah pembantaian berdarah.
Elena membeku. Seluruh tubuhnya menegang berada di dalam dekapan erat sang bos mafia. Dia bisa merasakan kehangatan tubuh Nicholas yang menguar menembus kain tipis gaun pink-nya, sekaligus merasakan kelelahan yang luar biasa dari pria yang ditakuti seluruh kota ini.
Perlahan, ketegangan di tubuh Elena mencair. Tangannya yang semula mengepal di dada Nicholas perlahan terbuka, dan dengan ragu, dia menyentuh punggung Nicholas, memberikan pelukan balasan yang hangat di tengah sisa-sisa badai malam itu.