"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Selamat Datang di Istana Emas
Bab 5: Selamat Datang di Istana Emas
Dua hari kemudian, perjalanan kembali ke kota terasa jauh lebih mencekam bagi Hana. Mobil MPV mewah milik Adrian kini ketambahan satu penumpang baru yang duduk di baris paling belakang: Santi. Sepanjang jalan, gadis desa itu tidak banyak bicara, namun matanya yang jeli terus bergerak, mengagumi setiap detail interior mobil yang dilapisi kulit premium.
Sesampainya di rumah mewah berlantai dua milik mereka, Santi turun dengan membawa sebuah tas jinjing kain yang lusuh. Ia berdiri mematung di halaman depan, menatap pilar-pilar beton yang berdiri kokoh dan hamparan taman rumput yang tertata rapi. Mulutnya sedikit terbuka, memancarkan kekaguman yang luar biasa.
"Ayo masuk, Santi. Jangan norak berdiri di situ terus," tegur Ibu Broto, meskipun nada suaranya sama sekali tidak ketus, melainkan dipenuhi rasa bangga karena bisa memamerkan kekayaan anaknya. "Mulai hari ini, kamu tinggal di sini. Kerjamu harus rajin, biar Mas Adrian-mu ini tidak rugi memberi kamu gaji besar."
"Baik, Ibu. Saya pasti akan bekerja keras," jawab Santi dengan suara yang sengaja dilembutkan, pandangannya sekilas melirik ke arah Adrian yang sedang menurunkan koper-koper dari bagasi.
Hana berjalan perlahan melewati mereka, tangannya menopang pinggangnya yang mulai terasa linu. Ia tidak sudi memedulikan drama kecil di halaman rumahnya. Prioritas utama Hana saat ini adalah naik ke kamar, merebahkan tubuhnya yang lelah, dan memastikan janinnya tidak mengalami guncangan lagi setelah perjalanan jauh.
Namun, baru saja Hana menapakkan kakinya di ruang tengah, Ibu Broto langsung berteriak dari arah dapur. "Santi! Sini, Nduk. Ibu tunjukkan kamarmu."
Hana menghentikan langkahnya di dekat meja makan ketika melihat Ibu Broto menuntun Santi menuju sebuah kamar kecil yang terletak di dekat area dapur harian. Kamar itu sebenarnya adalah kamar asisten rumah tangga, namun kondisinya sangat bersih dan memiliki fasilitas kipas angin serta kasur yang layak.
Santi meletakkan tas lusuhnya di atas kasur, lalu tersenyum manis pada Ibu Broto. "Terima kasih banyak, Ibu. Kamar ini bagus sekali, jauh lebih bagus daripada kamar saya di kampung."
Tepat saat itu, Adrian masuk membawa koper terakhir. Ia melonggarkan dua kancing teratas kemejanya, memperlihatkan sedikit dada bidangnya yang atletis karena gerah. Keringat tipis yang membasahi pelipisnya justru menambah kesan maskulin yang matang.
Santi yang melihat kedatangan Adrian langsung bergerak gesit. Tanpa diperintah, ia mengambil selembar tisu dari atas meja makan dan melangkah mendekati Adrian dengan berani, namun dengan raut wajah yang dikondisikan tampak polos tak berdosa.
"Mas Adrian pasti lelah sekali... Ini, Mas, lap dulu keringatnya biar tidak masuk angin," ucap Santi lembut, tangannya terulur menyerahkan tisu tersebut sembari menatap langsung ke dalam manik mata Adrian. Jarak mereka begitu dekat, hingga embusan napas Santi yang hangat bisa dirasakan oleh Adrian.
Adrian agak tersentak, namun senyuman tipis segera terukir di sudut bibirnya. Ia menerima tisu itu, sengaja membiarkan jemarinya bersentuhan perlahan dengan kulit tangan Santi selama beberapa detik yang sarat akan ketegangan sensual. "Terima kasih, Santi. Kamu perhatian sekali," jawab Adrian dengan suara berat yang sengaja diredam.
Hana menyaksikan seluruh interaksi menjijikkan itu dari balik pilar ruang tengah. Dadanya bergemuruh hebat, gairah kemarahan bercampur rasa mual mendadak naik ke tenggorokannya. Baru beberapa jam menginjakkan kaki di rumah ini, Santi sudah berani meluncurkan serangan-serangan provokatif terselubung untuk menarik perhatian suaminya. Dan yang paling membuat Hana geram adalah fakta bahwa Adrian menyambut kode-kode itu dengan tangan terbuka.
Malam harinya, babak awal dari penindasan berlapis yang terstruktur mulai dimainkan oleh Ibu Broto. Saat jam makan malam tiba, Hana turun ke lantai bawah dengan pakaian rumah yang longgar. Di meja makan, hidangan mewah sudah tersaji rapi: sup buntut sapi yang mengepulkan asap hangat, ayam goreng mentega, dan pelengkap lainnya.
Hana baru saja hendak menarik kursi untuk duduk, ketika Ibu Broto berdeham keras dengan wajah yang mendadak masam.
"Hana, kamu ini tidak tahu malu ya?" ujar Ibu Broto dengan suara melengking yang khas. "Kamu kan tidak ikut memasak sore tadi karena alasan lelah dan bed rest. Yang menyiapkan semua hidangan mewah ini dari awal sampai akhir adalah Santi! Dia memasak sendirian di dapur yang panas sementara kamu enak-enakan tidur di atas."
Hana menatap Ibu Broto, lalu beralih menatap Santi yang duduk di kursi sudut dengan kepala menunduk, tampak seolah-olah dia adalah korban yang tertindas. "Ibu, dokter sendiri yang melarang saya banyak berdiri. Dan bukankah tujuan Santi dibawa ke sini memang untuk membantu urusan rumah tangga?" jawab Hana setenang mungkin, mempertahankan harga dirinya.
"Halah! Membantu ya membantu, tapi minimal kamu itu tahu diri!" ketus Ibu Broto lagi, tangannya sibuk mengambilkan nasi dan sup buntut ke piring Adrian dengan porsi besar. "Lihat Santi ini, baru satu hari di kota sudah pintar memasak. Rasa sup buntutnya ini bahkan tidak kalah dari masakan restoranmu dulu. Adrian, coba kamu rasakan masakan Santi. Enak sekali, kan?"
Adrian mengambil sendok, mencicipi kuah sup buntut tersebut. Matanya sedikit melebar, lalu ia mengangguk puas sembari menatap Santi dengan pandangan memuji yang intens. "Iya, Bu. Rasanya pas sekali di lidah. Dagingnya empuk, dan bumbunya meresap sampai ke dalam. Kamu pintar memasak, Santi."
Dipuji oleh bos besar yang tampan, Santi mendongak perlahan, menyunggingkan senyum malu-malu kucing yang sarat akan kemenangan. "Terima kasih, Mas Adrian... Santi masih belajar. Kalau Mas Adrian suka, besok-besok Santi akan masakan menu kesukaan Mas Adrian yang lain."
Hana yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum sinis di dalam hati. Ia mengambil sesendok kuah sup tersebut dan mencicipinya. Sebagai seorang koki ahli pemilik lidah emas, Hana langsung tahu rahasianya. Sup ini menggunakan penyedap rasa buatan (MSG) dalam jumlah yang terlalu tinggi untuk menutupi kurangnya takaran rempah asli—tipikal masakan instan yang akan membuat tenggorokan kering jika dikonsumsi terus-menerus. Sangat bertolak belakang dengan prinsip masakan "Rasa Hana" yang mengutamakan kaldu murni.
Namun, Hana memilih diam. Ia membiarkan Adrian dan ibunya terus memuji Santi setinggi langit demi menjatuhkan dirinya. Bagi Hana, biarkan mereka terbiasa dengan rasa murahan itu, karena kehancuran yang sesungguhnya sedang ia persiapkan lewat buku resep palsu yang sedang ia rancang di kamar.
"Makanya, Adrian," Ibu Broto kembali memprovokasi, matanya melirik sinis ke arah Hana yang sedang makan dengan tenang. "Kamu tidak usah pusing memikirkan Hana yang malas ke dapur lagi. Sekarang ada Santi yang serba bisa, penurut, dan tidak banyak menuntut. Tidak seperti istrimu yang baru sukses sedikit saja sudah sok berkuasa dan mengatur-ngatur keuangan suami."
Adrian tidak membantah kalimat ibunya. Ia justru meminum air putihnya, lalu menatap Hana dengan pandangan mata yang dingin, tanpa ada sisa kehangatan romansa masa lalu. "Han, mulai besok uang belanja bulanan rumah tangga akan aku serahkan langsung lewat Ibu, bukan lewat rekeningmu lagi. Karena sekarang yang memegang kendali dapur dan kebutuhan rumah adalah Ibu dan Santi, jadi biar mereka yang mengaturnya agar lebih hemat. Pengeluaranmu belakangan ini terlalu boros untuk ukuran orang yang hanya diam di rumah."
Boros? Hana hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengar tuduhan itu. Selama ini, uang belanja yang ia gunakan sebagian besar justru dipakai untuk membelikan obat-obatan herbal mahal untuk Ibu Broto dan kebutuhan perawatan wajah mertuanya agar tidak terlihat tua di depan teman arisannya. Sekarang, ia dituduh boros oleh suaminya sendiri di depan seorang gadis pelayan desa.
"Baik, Mas. Lakukan sesukamu," jawab Hana pendek. Ia meletakkan sendoknya, berdiri dari kursi meskipun nasinya belum habis setengah, lalu melangkah kembali menuju lantai atas tanpa memedulikan tatapan puas yang terpancar dari mata serigala milik Santi.
Malam semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hana masih terjaga di dalam kamarnya yang sunyi, duduk di tepi ranjang sembari menuliskan beberapa catatan takaran rempah yang sengaja ia keliru-kan di buku resep palsu pesanan mertuanya.
Tiba-tiba, ia merasakan haus yang amat sangat di tenggorokannya. Menyadari botol air minum di kamarnya telah kosong, Hana memutuskan untuk turun ke lantai bawah menggunakan tangga secara perlahan dan tanpa suara. Rumah mewah itu sudah gelap, hanya menyisakan lampu temaram di area lorong dapur.
Namun, langkah kaki Hana mendadak terhenti tepat di batas ruang tengah yang berbatasan dengan area dapur harian. Matanya terbelalak lebar, dan jantungnya berdegup kencang menyaksikan sebuah pemandangan terlarang di bawah temaram lampu kuning yang redup.
Di depan lemari es yang terbuka, berdiri Adrian yang hanya mengenakan celana kain hitam tanpa atasan, mengekspos punggung dan dada bidangnya yang kokoh di bawah cahaya lampu kulkas. Namun, ia tidak sendirian.
Di sampingnya, berdiri Santi yang hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih selutut—pakaian tidur yang terlalu minim dan ketat untuk ukuran seorang baby sitter baru di rumah majikan. Daster tipis itu tercetak jelas memperlihatkan lekuk tubuh rampingnya di bawah pencahayaan yang minim.
Santi tampak sedang memegang sebotol air dingin, namun tubuhnya sengaja diposisikan sangat dekat dengan Adrian. Tangan mungil Santi berpura-pura tidak sengaja menyentuh dada bidang Adrian saat hendak menyerahkan botol air tersebut.
"Ini airnya, Mas Adrian... Maaf, Santi tidak tahu kalau Mas Adrian juga terbangun malam-malam begini," bisik Santi dengan suara yang teramat serak dan manja, mendongakkan wajahnya hingga bibirnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari dagu Adrian.
Hana melihat dengan jelas bagaimana mata Adrian menggelap, dipenuhi oleh kabut gairah liar yang tertahan. Adrian tidak menjauh. Tangan kokohnya justru menerima botol air itu sembari sengaja menahan jemari Santi di atas permukaan botol, memberikan remasan intim yang membuat Santi mendesah pelan dan menggigit bibir bawahnya.
"Kamu... kenapa belum tidur, Santi? Pakaianmu ini... terlalu tipis untuk hawa malam yang dingin," bisik Adrian dengan suara rendah yang sarat akan ketegangan sensual, matanya mengunci lekuk tubuh Santi yang menantang di balik daster satinnya.
Santi justru melangkah satu senti lebih dekat, membiarkan dadanya yang membusung hampir menyentuh perut bidang Adrian. "Kamar Santi gerah, Mas... Kipas anginnya kurang dingin. Santi tidak bisa tidur... kecuali kalau ada yang menemani," jawab Santi penuh kode provokatif yang sangat berani, matanya menatap bibir Adrian dengan tatapan lapar seorang pelakor yang siap menerkam mangsanya.
Hana yang berdiri di kegelapan meremas pinggiran dinding kayu dengan sangat kuat hingga kukunya hampir patah. Rasa hancur, jijik, dan amarah yang membakar jiwanya meledak di dalam dada. Di sinilah mereka, di dalam rumah yang ia bangun dari hasil keringat dan air matanya, suaminya sedang bermain api dengan gairah murah seorang gadis desa di belakang punggungnya yang sedang mengandung.
Hana menarik napas sedalam-dalamnya, menekan emosinya agar tidak meledak sekarang. Belum saatnya. Ia harus mengumpulkan bukti yang tak terbantahkan terlebih dahulu agar posisi hukumnya mutlak saat eksekusi nanti. Dengan langkah kaki yang sengaja dikeras-keraskan di atas lantai marmer, Hana melangkah keluar dari kegelapan lorong.
Plak!
Suara langkah kaki Hana seketika memecah ketegangan sensual di dapur. Adrian dan Santi langsung tersentak kaget dan menjauhkan tubuh mereka dengan panik, wajah keduanya memucat seketika di bawah temaram lampu kulkas.