NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Mekarnya Teratai Darah dan Roh Pedang Kuno

​Angin berembus pelan, membawa bau anyir darah yang sangat pekat. Semakin jauh Lin Tian melangkah ke arah barat laut, pohon-pohon hitam perlahan menghilang, digantikan oleh hamparan lumpur berwarna merah gelap yang menggelegak pelan.

​Di hadapannya terbentang Rawa Darah Pedang.

​Tempat ini bukanlah rawa biasa. Alih-alih ditumbuhi ilalang atau pepohonan bakau, rawa ini dipenuhi oleh ribuan pedang berkarat yang tertancap di tanah lumpurnya. Ada pedang patah, tombak bengkok, hingga pedang raksasa yang hancur separuh. Udara di atas rawa ini terdistorsi oleh Niat Pedang (Sword Intent) kuno yang sangat agresif. Jika kultivator fana bernapas di sini tanpa pelindung Qi, paru-paru mereka akan teriris dari dalam.

​Lin Tian berdiri di atas sebuah batu besar di tepi rawa. Alih-alih menahan napas atau membuat perisai pelindung, ia justru menarik napas dalam-dalam.

​SRAASH...

​Niat pedang di udara masuk ke dalam hidungnya, mengalir langsung ke tulang-tulangnya. Lengan kanannya berdengung pelan, merasa sangat nyaman menyerap esensi pembunuhan dari sisa-sisa pertempuran masa lalu.

​Di tengah-tengah rawa yang luas itu, di atas sebuah altar batu yang dikelilingi lumpur mendidih, sebuah kuncup bunga teratai berwarna merah kristal memancarkan cahaya redup. Itulah Teratai Darah Pedang. Bunga ini konon tumbuh dari esensi darah sejuta pendekar pedang yang gugur di masa Kekaisaran Kuno.

​Namun, Lin Tian bukanlah satu-satunya yang mengincar harta karun tersebut.

​Sekitar seratus meter di seberang rawa, dua kelompok besar kultivator telah berkumpul, saling berhadapan dengan senjata terhunus.

​Kelompok pertama mengenakan jubah putih dengan sulaman daun musim gugur—murid elit dari Paviliun Angin Musim Gugur. Di barisan paling depan, berdiri seorang pemuda tampan memegang kipas lipat dan sebilah pedang ramping di pinggangnya. Aura yang memancar darinya telah menyentuh tahap Pembangunan Pondasi Menengah. Ia adalah Feng Wuhen, jenius muda paviliun tersebut.

​Di seberangnya, kelompok kedua terdiri dari pria-pria berotot besar yang memanggul pedang berat tak bermata (blunt heavy sword). Mereka dari Sekte Pedang Tirani. Pemimpinnya, Kuang Lei, memiliki bekas luka tebas di wajahnya dan memancarkan aura buas yang setara dengan Feng Wuhen.

​"Feng Wuhen, Teratai Darah ini butuh seratus tahun untuk mekar," suara berat Kuang Lei bergema di atas rawa. "Sekte Pedang Tiraniku membutuhkan kelopaknya untuk memperkuat tubuh fisik kami. Mundurlah, dan aku berjanji tidak akan membantai murid-muridmu."

​Feng Wuhen menutup kipasnya dan mendengus arogan. "Kuang Lei, kau hanya sekumpulan otot tanpa otak. Niat Pedang di dalam Teratai itu adalah kunci untuk menyempurnakan Seni Pedang Anginku! Jika kau ingin mati di sini, aku akan dengan senang hati mengirimmu menemui leluhurmu!"

​Ketegangan memuncak. Namun, sebelum kedua faksi itu sempat saling serang, rawa di sekitar altar batu tiba-tiba bergemuruh.

​BLUP! BLUP! WUSSHH!

​Air rawa yang berwarna merah darah meledak ke udara. Ribuan pedang berkarat yang tertancap di rawa tiba-tiba mencabut diri mereka sendiri seolah dikendalikan oleh tangan kasat mata. Pedang-pedang itu beterbangan dan berkumpul, membentuk sebuah sosok raksasa setinggi sepuluh meter yang seluruh tubuhnya terbuat dari bilah pedang dan dilumuri darah kental.

​ROAAARR!

​Sosok itu mengaum, suaranya terdengar seperti ribuan logam yang saling bergesekan. Ini adalah Roh Pedang Darah—manifestasi dari kebencian dan kehendak bertarung tak kunjung padam dari ribuan manusia yang mati di lembah ini ribuan tahun lalu!

​Melihat kemunculan penjaga alam tersebut, wajah Feng Wuhen dan Kuang Lei sedikit memucat.

​"Kekuatannya setara dengan Puncak Pembangunan Pondasi!" seru Feng Wuhen. "Kuang Lei! Jika kita bertarung sekarang, kita berdua akan mati oleh Roh ini. Mari bekerja sama! Aku akan mengalihkan serangannya, kau gunakan pedang beratmu untuk menghancurkan inti wujudnya!"

​Kuang Lei mengertakkan gigi, namun menyetujui tawaran itu. "Baik! Setengah kelopak untuk masing-masing sekte. Untuk bijinya... siapa yang lebih cepat, dia yang dapat!"

​Kedua jenius itu melesat ke depan, memimpin puluhan elit mereka menyeberangi rawa menggunakan sihir meringankan tubuh. Pertempuran epik antara kultivator modern dan Roh Pedang dari era kuno pun pecah.

​Cahaya Qi beraneka warna meledak-ledak. Feng Wuhen memanggil puluhan ilusi pedang angin yang menyayat wujud raksasa itu, sementara Kuang Lei melompat ke udara dan menghantamkan pedang raksasanya bagai godam meteor.

​Namun, Roh Pedang Darah itu tidak kenal rasa sakit. Setiap kali lengannya hancur, pedang berkarat dari dasar rawa akan kembali menempel dan membentuk lengan baru. Beberapa murid sekte yang lengah tertebas menjadi dua bagian, darah mereka menyatu dengan lumpur rawa, justru membuat Roh itu semakin kuat.

​Sementara kekacauan terjadi, tidak ada yang menyadari bahwa kuncup Teratai Darah Pedang di atas altar batu perlahan-lahan mulai mekar.

​Kelopak merah kristalnya terbuka satu per satu, memancarkan aroma wangi tembaga yang memabukkan. Dan tepat di tengah-tengah kelopak itu, tergeletak tiga butir Biji Teratai Pedang seukuran kelereng, berwarna hitam legam dengan guratan perak yang menyerupai naga pedang.

​Lin Tian mengamati dari atas batu di kejauhan. Matanya terkunci pada tiga butir biji tersebut.

​Waktunya.

​Lin Tian menekuk lututnya, energi fisiknya memadat.

​BOOM!

​Batu besar tempatnya berpijak hancur berkeping-keping. Tubuh Lin Tian melesat ke depan bagai anak panah yang lepas dari busur raksasa. Ia tidak menggunakan sihir meringankan tubuh. Ia murni menggunakan lompatan fisik untuk melintasi seratus meter jarak rawa dalam satu tarikan napas!

​Di tengah pertempuran yang sengit, Feng Wuhen yang baru saja berhasil memotong satu kaki Roh Pedang Darah menyadari bahwa bunga teratai itu telah mekar sepenuhnya.

​"Teratai itu sudah mekar! Ambil bijinya!" teriak Feng Wuhen, bersiap melesat ke arah altar. Kuang Lei pun tidak mau kalah, memompa Qi-nya ke batas maksimal.

​Namun, sebelum salah satu dari mereka bisa mencapai altar, sebuah hembusan angin kencang melintas di atas kepala mereka, diiringi suara ledakan sonik yang memekakkan telinga.

​Sesosok pemuda berjubah abu-abu dengan caping bambu tiba-tiba sudah mendarat dengan mulus di atas altar batu.

​Tanpa ragu sedikit pun, tangan kanan pemuda itu—yang memancarkan kilau putih keabu-abuan layaknya logam meteorit—terulur dan meraup ketiga Biji Teratai Pedang sekaligus.

​Keheningan seketika menyelimuti medan perang. Bahkan Roh Pedang Darah yang kehilangan kakinya sejenak berhenti mengamuk.

​Feng Wuhen dan Kuang Lei terbelalak lebar. Siapa pengembara miskin ini?! Bagaimana dia bisa memiliki kecepatan yang bahkan mata Pembangunan Pondasi mereka tidak bisa ikuti?!

​"Beraninya kau, Tikus Kotor!" Feng Wuhen meledak dalam amarah. Ia telah mengorbankan belasan muridnya untuk menahan Roh Pedang Darah, hanya untuk melihat buah usahanya dicuri di depan mata. "Serahkan biji itu padaku, atau Paviliun Angin Musim Gugur akan mencincangmu hingga menjadi abu!"

​Kuang Lei dari Sekte Pedang Tirani menggeram bak harimau. "Tinggalkan biji itu! Atau pedangku akan meremukkan kepalamu!"

​Lin Tian mengabaikan ancaman mereka. Ia menggenggam ketiga Biji Teratai Pedang di tangan kanannya. Energi Niat Pedang yang sangat murni dan primitif mengalir dari biji-biji itu, mencoba menembus kulit telapak tangannya layaknya ribuan jarum. Jika orang biasa memegangnya, tangan mereka akan hancur menjadi debu. Namun, Tulang Pedang Sejati milik Lin Tian menahan energi itu dengan sempurna.

​Ini dia. Kunci untuk menggantikan Dantiannya yang hancur. Obat bagi kecacatannya.

​Lin Tian perlahan berbalik. Matanya yang dingin menatap bergantian antara kelompok Feng Wuhen dan Kuang Lei dari balik caping bambunya.

​"Kalian lambat," ucap Lin Tian datar.

​Kalimat singkat yang berisi ejekan mutlak itu membuat wajah kedua jenius sekte memerah karena murka.

​"Mati!"

​Kuang Lei tidak tahan lagi. Ia melesat ke depan, mengabaikan Roh Pedang Darah di belakangnya. Pedang tumpul raksasanya yang seberat seribu kati diayunkan lurus ke kepala Lin Tian, membawa energi Qi kuning keemasan yang bisa membelah sebuah bukit kecil.

​"Hancur kau, Tikus!" raung Kuang Lei.

​Lin Tian tidak mencabut pedang patah dari punggungnya. Ia juga tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kanannya yang memegang Biji Teratai, lalu menggunakan punggung lengannya untuk menyambut pedang raksasa yang turun seperti kiamat itu.

​TRANG!

​Sebuah suara dentang logam yang memekakkan telinga bergema ke seluruh rawa. Gelombang kejut menyapu ke segala arah, menghempaskan lumpur berdarah hingga puluhan meter ke udara.

​Feng Wuhen dan murid-murid lainnya menyipitkan mata, yakin bahwa pemuda gila itu telah hancur menjadi pasta daging. Menahan pedang raksasa Kuang Lei dengan tangan kosong adalah murni tindakan bunuh diri!

​Namun, saat debu lumpur tersibak... pemandangan yang tak masuk akal terpampang di depan mata mereka.

​Lin Tian masih berdiri tegak di tempatnya, tidak bergeser satu inci pun. Tangan kanannya menahan bilah pedang raksasa Kuang Lei. Tidak ada darah, tidak ada tulang yang patah. Sebaliknya, bilah pedang raksasa tingkat menengah milik Kuang Lei justru bengkok, dan retakan mulai menjalar dari titik benturan!

​"A-Apa...?" Mata Kuang Lei melotot nyaris keluar dari rongganya. Tangannya yang memegang gagang pedang bergetar hebat hingga mati rasa.

​"Pedangmu terlalu tumpul, dan tenagamu terlalu lemah," desis Lin Tian.

​Dengan satu sentakan santai dari pergelangan tangan kanannya, Lin Tian mematahkan pedang raksasa itu menjadi dua bagian.

​KRAK!

​Pecahan ujung pedang raksasa itu melayang ke udara. Sebelum pecahan logam itu jatuh, Lin Tian menendangnya dengan telapak kakinya.

​WUSH!

​Pecahan pedang seberat ratusan kati itu melesat layaknya peluru meriam, menabrak dada Kuang Lei dengan telak.

​DUARR!

​Kuang Lei memuntahkan darah dalam jumlah besar, tulang rusuknya remuk total. Tubuhnya terpental mundur melintasi rawa, menabrak rombongan muridnya sendiri hingga mereka semua jatuh bergulingan. Sang pemimpin Sekte Pedang Tirani itu pingsan dalam satu serangan fisik!

​Mulut Feng Wuhen ternganga lebar. Kipas lipat di tangannya terjatuh ke tanah. Murid-murid Paviliun Angin Musim Gugur mundur ketakutan, keringat dingin membasahi punggung mereka.

​Kuang Lei, yang memiliki ketahanan fisik terkuat di generasi muda wilayah ini, ditaklukkan hanya dengan satu patahan pedangnya sendiri.

​Lin Tian menoleh ke arah Feng Wuhen. Sorot matanya yang kosong dan tak berperasaan membuat lutut jenius paviliun itu bergetar.

​"Kau menginginkan biji ini juga?" tanya Lin Tian sambil melangkah perlahan dari atas altar, membiarkan jubah kusamnya berkibar membelah angin bercampur bau kematian.

1
Luthfi Afifzaidan
lg thor
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan lagi thor
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!