NovelToon NovelToon
Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: riena

Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 15 . Telat

Satu bulan telah berlalu dengan cepat di rumah tua itu. Pola hidup baru antara Ubay dan Nadia berjalan dengan keteraturan yang sunyi namun saling mengisi. Ubay menepati janjinya, setiap awal bulan, pemuda gondrong itu meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja makan tanpa sepatah kata pun, uang saku tambahan untuk ongkos kuliah dan kebutuhan Nadia.

Nadia menerima uang itu dengan rasa syukur yang membuncah. Ia memutarnya dengan sangat hemat. Uang dari Ubay murni ia poskan untuk membayar kuliah dan ongkos angkot saban hari. Untuk urusan perut, Nadia benar-benar menerapkan sistem "bagi dua" yang ditawarkan Ubay sebulan lalu.

Nadia memasak dalam porsi yang pas. Jatah makanan yang seharusnya untuk dirinya, sengaja ia bagi dua lagi. Separuh untuk makan malam setelah pulang kuliah, dan separuhnya lagi disimpan di kulkas untuk dipanaskan sebagai menu sarapan esok pagi agar tidak membuang uang sepeser pun. Jika lauk malamnya habis, Nadia cukup membeli sebutir telur di warung depan untuk diceplok sebagai pengganjal lambung sebelum berangkat ke kampus.

Namun pagi ini, di dalam kamar paviliun yang sepi, Nadia duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang gemetar hebat. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak pucat pasi, seputih kertas layang-layang.

Kedua tangannya mencengkram pinggiran kasur kapuk dengan erat. Pikirannya kalut, berputar-putar pada satu kenyataan medis yang baru saja ia sadari sepenuhnya setelah menghitung kalender di ponselnya.

‘Sepuluh hari.’

Siklus menstruasinya yang biasanya selalu tepat waktu, kini sudah terlambat sepuluh hari penuh.

Nadia menatap ke arah lantai ubin dengan pandangan kosong, sementara dadanya terasa sesak seperti dihantam godam besar. Kilasan malam terkutuk di kamar Axel sebulan lalu, malam saat kesucian dan martabatnya direnggut paksa dalam kondisi setengah sadar kembali berkelebat hebat di kepalanya. Rasa mual tiba-tiba naik ke hulu kerongkongannya, bukan karena sakit fisik, melainkan karena rasa takut yang teramat sangat.

"Enggak... enggak mungkin..." bisik Nadia lirih, suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Tuhan, tolong aku... jangan sekarang..."

Nadia tahu persis apa arti dari keterlambatan ini. Ketakutan terbesar keluarga Pramoedya yang membuat mereka buru-buru mengusirnya, kini justru berbalik menjadi kenyataan pahit yang harus ia tanggung sendirian di atas rahimnya. Bagaimana mungkin ia bisa melanjutkan kuliah? Bagaimana ia bisa menghadapi dunia jika di dalam tubuhnya kini tengah tumbuh benih dari pria yang telah menghancurkan hidupnya?

Di saat Nadia sedang mendekap lututnya di atas kasur sembari menangis tertahan, langkah kaki berat terdengar berjalan di koridor dapur rumah depan. Ubay baru saja terbangun dan hendak mengambil air minum di kulkas.

Dari balik jendela dapur yang terbuka, Ubay yang sedang menegak air putihnya tiba-tiba menghentikan gerakannya. Pandangan matanya yang tajam menangkap pintu paviliun belakang yang sedikit terbuka, dan samar-samar ia mendengar suara isak tangis yang tertahan dari dalam sana.

Ubay meletakkan gelasnya, mengernyitkan dahi. Sudah sebulan ini ia memperhatikan Nadia selalu tampak tegar dan rajin. Tapi pagi ini, aura di sekitar paviliun itu terasa sangat pekat oleh kesedihan.

“Itu bocah kenapa menangis sepagi ini? Apa jangan-jangan dia kehabisan duit ongkos? Atau... kakinya yang sakit kambuh lagi?” batin Ubay, rasa penasarannya mulai terusik.

Ubay melangkah keluar dari pintu belakang rumah besar, berjalan perlahan mendekati paviliun Nadia untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada mahasiswi yang menumpang di rumah neneknya itu.

**

Srek... srek...

Suara gesekan sandal jepit Ubay di atas tanah cor-coran halaman belakang membuat Nadia tersentak dari lamunannya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Dengan panik, ia buru-buru menyeka air mata yang membasahi pipinya menggunakan punggung tangan, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya.

Nadia buru-buru berdiri, merapikan sedikit kaus rumahannya, dan mencoba berdiri tegak di dekat ambang pintu paviliun tepat saat sosok tinggi tegap Ubay muncul di sana.

Ubay menghentikan langkahnya satu meter di depan pintu. Rambut gondrongnya pagi ini dicepol asal-asalan ke belakang. Matanya yang tajam langsung mengunci wajah Nadia. Keterampilan akting Nadia hancur total di depan insting jalanan Ubay. Hidung gadis itu kemerahan, matanya sembab, dan kulit wajahnya sekering ubin teras, pucat pasi tanpa darah.

"Kamu... kenapa?" tanya Ubay lempeng. Nadanya datar, tapi matanya beralih menatap jemari Nadia yang saling meremas dengan sangat gelisah.

Nadia memaksakan seulas senyum kaku yang terlihat sangat menyedihkan. "Eh... Mas Ubay. Nggak apa-apa, Mas. Ini... tadi cuma matanya kemasukan debu pas mau beres-beres kamar tidur."

Ubay menaikkan sebelah alisnya. “Debu apaan yang bisa bikin muka orang pucat kayak habis lihat tuyul lewat,” batin Ubay heran.

Ubay melangkah satu tapak lebih dekat, bersandar pada kosen pintu kayu dengan tangan bersedekap di dada. Pembawaannya tetap santai, mencoba tidak membuat gadis di depannya semakin tertekan.

"Debu kamar sini emang agak kurang ajar," sahut Ubay dengan nada bercandanya yang kering. "Tapi kalau debunya sampai bikin kamu gemetaran begitu, mending kamarnya gue bom pakai baygon sekalian."

Nadia hanya bisa menunduk, tidak sanggup membalas gurauan Ubay. Rasa mual yang sedari tadi ia tahan di hulu hati mendadak naik lagi dengan hebat. Nadia refleks membekap mulutnya sendiri, tubuhnya sedikit membungkuk.

"Hoekk..."

Nadia memalingkan wajahnya ke samping, mencoba menahan dorongan mual yang menyiksa itu. Beruntung tidak ada apa pun yang keluar karena lambungnya memang masih kosong melompong belum diisi sarapan pagi.

Melihat hal itu, gurauan di kepala Ubay seketika lenyap. Kerutan di dahinya semakin dalam. Sebagai orang yang hidup di jalanan dan kenyang melihat berbagai asam garam kehidupan, insting Ubay mendadak menangkap sesuatu yang tidak beres. Wajah pucat, terus gelagat aneh Nadia, ditambah mual di pagi hari.

“Tunggu... ini bocah jangan-jangan...?” sebersit dugaan liar melintas di otak Ubay, membuat dadanya sedikit berdesir kaget. Namun, ia buru-buru menepis pikiran itu sebelum mendapat kepastian.

Ubay menghembuskan napas panjang, lalu menurunkan tangannya dari kosen pintu. Pembawaannya berubah menjadi sedikit lebih serius, meski suaranya tetap diusahakan selembut mungkin agar tidak menakuti Nadia.

"Kamu sudah sarapan?" tanya Ubay, mengalihkan topik sejenak.

Nadia menggeleng pelan tanpa berani menatap mata Ubay. "Belum, Mas. Nanti... nanti habis ini saya ceplok telur."

"Nggak usah ceplok-ceplokan. Kamu ganti baju rapi sekarang," perintah Ubay mutlak, tidak menerima bantahan.

Nadia mendongak, matanya yang sembab menatap Ubay bingung. "Mau... mau ke mana, Mas?"

Ubay membalikkan badannya, bersiap kembali ke rumah depan untuk mengambil jaket dan kunci motor RX-King miliknya. "Ikut gue keluar sebentar. Kita ke dokter atau puskesmas depan pasar. Muka lu udah kayak mayat hidup, kalau lu pingsan di kampus, repot gue musti ngegotongnya."

Tanpa menunggu persetujuan Nadia, Ubay melangkah pergi dengan cepat. Sementara Nadia terpaku di tempatnya dengan perasaan yang semakin campur aduk antara takut rahasia terbesarnya terbongkar, atau bersyukur karena di titik paling hancur ini, ada tangan kasar seorang berandalan jalanan yang bersedia mengulurkan bantuan.

Nadia tersentak mendengar ucapan Ubay. Kata "puskesmas" atau "dokter" saat ini terdengar seperti lonceng kematian bagi rahasia yang tengah ia sembunyikan rapat-rapat. Jika ia pergi ke sana dan diperiksa, kebenaran tentang kondisinya pasti akan langsung terungkap.

"Mas! Mas Ubay, tunggu!" seru Nadia agak keras, menahan langkah kaki Ubay yang baru berjalan beberapa meter di halaman.

Ubay menghentikan langkahnya, lalu menoleh dengan kening berkerut dalam. "Apa lagi? Buruan ganti baju. Keburu siang nanti antrean puskesmasnya panjang kayak antrean sembako."

Nadia menggelengkan kepalanya dengan cepat, kedua tangannya mencengkeram erat kusen pintu paviliun seolah takut ditarik paksa. "Nggak usah, Mas. Saya... saya nggak mau ke puskesmas."

"Nggak mau gimana? Muka kamu udah putih kayak tembok begini, masih keras kepala," sahut Ubay, nadanya mulai naik satu oktaf karena heran dengan ketegaran Nadia yang tidak pada tempatnya. "Aku nggak mau ya ada orang pingsan di rumah nenekku terus tetangga ngira aku ngapa-ngapain kamu."

"Saya cuma masuk angin biasa, Mas! Beneran!" potong Nadia panik, suaranya agak bergetar menahan tangis yang hampir pecah kembali. "Paling... paling cuma karena kemarin malam saya telat makan, terus tadi pagi belum sarapan. Nggak perlu sampai ke dokter. Saya cuma butuh istirahat sebentar saja, nanti juga sembuh sendiri."

Ubay menatap Nadia tajam, mencoba membaca kebohongan di balik binar mata gadis itu yang bergerak gelisah ke sana kemari. Insting Ubay yang tajam mendeteksi bahwa penolakan Nadia bukan sekadar karena takut jarum suntik atau malas mengantre. Ada ketakutan yang jauh lebih besar, ketakutan yang membuat tubuh ringkih itu gemetaran di ambang pintu.

***

1
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
orang kan cuma bisa menilai dari luar, mereka gak perlu tau kebenarannya,sudah nad jgn terlalu dipikirkan
Safitri Agus
jadi terharu kan nad,😊
Safitri Agus
gak apa-apa nad, jangan sungkan 😊
tati st🌼🌼
banyak yg tertipu dan berpikir buruk sama penampilan ubay,padahal dia baik
S.R ciplux
nadia. km jg jujur sama ubay kalo tadi km keceplosan. kasian ubay gk tau apa2
Anna Annawaliana
untung Nadia punya teman Keysha yang baik hati ,,biarin Nadira temanmu mau bilang apa tentang Ubay ,yang penting di kampus sudah aman nanti perutmu semakin beras ada mas Ubay ,
Afternoon Honey
ide ceritanya bagus ⭐
Afternoon Honey
the best Ubay ⭐💖👍
Enisensi klara
Ubay bertanggung jawab sama kamu Nadia ,jadi jgn sungkan ya 😇😇😇😇Ubay kasihan kamu sendirian 😇
Enisensi klara
Ikut aja Nadia dianterin mas ubay ke kampus sekalian sarapan bareng kasihan baby utunnya laper loh ,mas ubay mau jadi suami siaga 😍😍
Anna Annawaliana
mas Ubay lama" berubah cinta sama Nadia .
Enisensi klara
Makanya Ubay temanin Nadia dong saat ngidam kasihan dia sendirian😓
Enisensi klara
makasih up nya kk rie 😇
partini
dikit dikit lama" jadi something between two of them so sweet
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran/Heart/
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran
Rini Muharni
Makasih ya Mas Ubay, udah mau nurutin Drama Ngidam Tengah Malam Nadia.. 🤭
Safitri Agus
terimakasih mas Ubay 🙏🥰
Safitri Agus
wes kelamutan 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!