“Aku mencintaimu, Mey. Mari kita menikah.”
Mey seorang gadis yang terpaksa bekerja sebagai ladies companion alias LC di tempat karaoke demi membiayai kebutuhan hidupnya dan Liani, anaknya yang lahir di luar nikah. Ron mengentas Mey dari dunia hiburan malam, menjadikannya kekasih, dan kemudian melamarnya.
Sayang Ron tak bersedia menerima Liani dan meminta Mey tetap menitipkannya di panti asuhan. Pria itu berjanji takkan melarang Mey menemui anaknya dan memakai uang Ron untuk membiayai kebutuhannya. Gadis itu setuju. Dia mempercayakan Liani pada Bu Widya, pengelola panti.
Setelah menikah, karir Ron melejit dari sales biasa hingga menjadi distributor sepatu ternama. Dia dan Mey dikaruniai dua anak bernama Cyll dan Sam. Mey menjadi nyonya sosialita dengan hidup gemerlap hingga kemudian syok berat mengetahui kebobrokan perilaku suaminya.
Apa yang dilakukan Mey selanjutnya? Akankah dia mempertahankan pernikahannya? Lalu bagaimana hubungannya dengan Liani?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofia Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Pengakuan
“Anakmu cantik sekali, Mey,” puji Bu Widya ketika menjenguk di rumah sakit. Dia datang sendirian, tak membawa Liani. Bu Widya kuatir kalau ketahuan Ron, akan membawa dampak buruk bagi Mey. Wanita itu juga sudah wanti-wanti agar Mey memberitahu kapan waktu yang tepat untuk menjenguk di rumah sakit tanpa harus bertatap muka dengan Ron. Bu Widya sudah muak dengan suami Mey. Dia tak mau lagi berurusan dengan pria yang dianggapnya tak berperasaan itu.
Mey tersenyum manis. “Tuhan memberkatiku, Bu. Sebagaimana Liani dulu, Cyll juga lahir lewat persalinan normal. Prosesnya juga ga susah. Ga lama setelah induksi, saya mengejan dan lahirlah Cyll. Padahal di bulan-bulan pertama kehamilan, badanku lemas terus setiap hari akibat mual dan muntah-muntah. Kupikir proses kelahiran Cyll akan runyam juga. Ternyata tidak.”
“Syukurlah, Mey. Ibu turut senang kamu melahirkan dengan selamat. Ibu dan anak sehat. Semoga kehadiran Cyll semakin merekatkan rumah tanggamu ya, Nak.”
Bu Widya mengecup kening Mey. Dia sudah menganggap perempuan ini bagai anaknya sendiri. Pun Liani sudah resmi secara hukum menjadi cucu adopsinya. Berarti Mey bisa dibilang merupakan anaknya.
“Aku kangen Liani, Bu,” cetus Mey kemudian. Senyuman getir terulas di wajahnya yang tirus. “Seandainya dia bisa kukenalkan pada adiknya yang baru lahir....”
Suasana seketika menjadi hening. Bu Widya memahami perasaan galau perempuan yang baru melahirkan itu. Setiap ibu pasti ingin anak-anaknya hidup rukun dari kecil hingga dewasa. Tapi bagaimana hal itu dapat terwujud jika anak-anak Mey tak saling mengenal?
Perasaan Bu Widya berkecamuk. Ron tak mau Liani dihadirkan dalam rumah tangganya dengan Mey. Tapi bukankah Cyll, anak mereka, berhak mengenal saudara yang seibu dengannya?
Wanita itu memberanikan diri mengutarakan pendapatnya, “Mey, Ron kan melarangmu menghadirkan Liani dalam kehidupan rumah tangga kalian. Tapi sampai kapan kamu bisa menyembunyikan pada Cyll kenyataan bahwa dia punya kakak perempuan? Liani juga berhak mengenal adik perempuannya, kan?”
“Aku tidak tahu, Bu,” jawab Mey sembari menggeleng-geleng. “Aku belum bisa berpikir saat ini. Liani dan Cyll sama-sama anak kandungku. Memang mereka berhak untuk saling mengenal. Tapi aku ga mau hal itu justru membuat mereka sama-sama terluka. Aku sayang anak-anakku tanpa ada yang berat sebelah, Bu.”
Bu Liani menghela nafas panjang. Tanpa ada berat sebelah? Justru kamu sudah tidak adil di awal pernikahan dengan Ron, Mey....
Tanpa mereka sadari, pembicaraan itu didengar oleh Bu Yuna yang baru diantar Ron kembali ke rumah sakit. Perempuan tua itu tadi pulang bersama Ron untuk mengambil baju dan selimut bayi yang tertinggal di rumah. Mey lupa hanya membawa satu baju dan selimut bayi waktu hendak bersalin. Hanya cukup dipakai Cyll di hari pertama kemarin. Nanti sore bayi molek itu siap dibawa pulang sesuai izin dokter. Dia harus ganti baju dan selimut baru supaya merasa nyaman.
Mestinya Bu Yuna balik ke rumah sakit agak sorean, sebelum Cyll dimandikan. Itulah sebabnya Mey langsung menghubungi Bu Widya agar segera datang menjenguknya tanpa diketahui Ron dan ibunya. Tapi rupanya Bu Yuna tidak betah menunggu di rumah. Dia minta Ron segera mengantarnya kembali ke rumah sakit. Ron menyanggupi. Diantarnya sang ibu. Tapi cuma diturunkan di lobi rumah sakit, karena pria itu harus mengurus pekerjaan sebentar di kantor.
Bu Yuna terbengong-bengong mendengar pembicaraan si menantu dengan Bu Widya. Tak disangkanya Mey yang masih sangat muda itu telah mempunyai anak sebelum menikah dengan Ron!
***
“Kamu mahir sekali memandikan dan merawat bayi, Mey,” puji Bu Yuna setelah memperhatikan keahlian sang menantu mengurus Cyll di rumah. “Bahkan kamu lancar menyusui Cyll tanpa hambatan, seolah-olah sudah biasa melakukannya.”
Mey tersentak. Secara refleks tubuhnya bergerak, menyebabkan Cyll yang sedang menyusu jadi tersedak. Mey terkejut.
“Oh, maaf, Sayang. Maafkan, Mama.”
Diberdirikannya posisi tubuh Cyll perlahan dalam pelukannya. Ditepuknya pelan-pelan punggung bayi yang baru berusia lima hari itu. Terdengar suara sendawa Cyll. Sang ibunda merasa lega. Anaknya tidak apa-apa.
Bu Yuna memperhatikan kejadian tadi dengan perasaan terluka. Perempuan tua itu keluar dari kamar Mey. Hatinya kecewa sekali. Memang benar menantunya itu sudah mempunyai anak sebelum menikah dengan Ron. Terlihat sekali dia begitu piawai mengasuh bayi.
Mey menidurkan anaknya. Kemudian dia keluar kamar mencari sang mertua. Dilihatnya perempuan tua itu tengah menonton TV di ruang keluarga.
“Ibu, ayo makan malam sama Mey. Ga usah nunggu Bang Ron. Dia tadi WA Mey, bilang masih lama ngobrol-ngobrol di toko customer.”
Bu Yuna tak bergeming. Pandangannya fokus pada sinetron yang tayang di TV. Mey mendekati ibu mertuanya. “Ayo makan sama Mey, Bu.”
Pandangan Bu Yuna beralih pada sang menantu. Mey merasa risih. Sorot mata sang ibu mertua berbeda dari biasanya. Tajam, menyakitkan, seperti sedang menuduh.
“Ibu kenapa?” tanya Mey bingung. “Sedang tidak enak badankah?”
Jawaban Bu Yuna bagaikan petir yang menghantam jantung Mey, “Aku kecewa sama kamu, Mey. Kukira kamu perempuan baik-baik. Ternyata kamu sudah punya anak sebelum menikah dengan Ron....”
Mey terduduk di sofa. Mukanya merah. Air mata wanita itu berjatuhan. Kalau ada mesin waktu, dia ingin menghilang seketika itu juga dari hadapan sang mertua.
***
Bu Yuna tak bisa tidur. Kisah hidup Mey meluluhkan hatinya. Menantunya itu ternyata orang baik yang pernah berbuat kesalahan besar dalam hidupnya. Dia tak bisa menyalahkan Mey. Tadi istri Ron itu bercerita tentang masa lalunya kehilangan ibu kandung tercinta, tak dihiraukan keluarga semenjak ayahnya menikah lagi, hingga hamil di luar nikah dengan kekasihnya waktu SMA.
“Maafkan Mey, Bu,” tutur menantunya itu tadi sambil terisak-isak. “Bukannya Mey mau merahasiakan masa lalu, Mey. Tapi Bang Ron bersikeras Ibu tidak boleh tahu tentang hal ini. Padahal sebenarnya Mey ingin bersikap jujur dan mengakui kalau sudah punya anak bernama Liani. Sekarang Mey jadi bingung bagaimana caranya supaya Cyll dan Liani saling mengenal. Kadangkala Mey menyesal kenapa menyetujui persyaratan yang diajukan Bang Ron waktu melamar Mey dulu...untuk tidak menghadirkan Liani dalam perkawinan kami. Mey jadi merasa sangat bersalah pada Liani dan Cyll, Bu....”
Tak ada yang bisa dilakukan Bu Yuna selain memeluk menantunya. Betapa susahnya menjadi seorang ibu tunggal di negeri ini. Beban hidup terasa begitu berat sehingga terpaksa mencari nafkah di tempat hiburan malam dan kemudian menikah dengan pria yang tak mau menerima anaknya. Dan pria itu ternyata Ron, anak Bu Yuna sendiri.
Perempuan tua itu menyesalkan sikap anaknya yang tak mau menerima Mey satu paket dengan anaknya. Bagaimanapun juga anak itu tak berdosa.
“Dimana anak itu sekarang, Mey?” tanya Bu Yuna ingin tahu. Mey sudah menjadi menantunya, otomatis anaknya adalah cucu Bu Yuna juga.
“Liani tinggal di panti asuhan pimpinan Bu Widya, Bu,” aku Mey.
Dia kemudian bercerita bahwa Liani sudah diadopsi secara hukum oleh Bu Widya. “Mey awalnya tidak rela, Bu. Tapi Bang Ron berkeras tak mau menerima Liani. Mey terpaksa setuju Bu Widya mengadopsinya. Supaya secara hukum anak Mey punya keluarga....”
Bu Yuna merenung. Dalam hati dia menyayangkan sikap Ron yang tak berkenan menerima Liani. Tapi perempuan tua itu tak berani mengkritik anaknya itu. Dia tahu Ron menyimpan banyak luka dalam hatinya. Termasuk kekecewaan atas sikapnya yang dulu pilih kasih terhadap Jim.
“Mey, Ibu minta dipertemukan dengan Liani. Bisa?”