aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 - Latihan Neraka
Kabut tebal yang biasa menyelimuti Lembah Batu Pecah di pagi hari seolah memadat, membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun, di halaman gubuk bambu, suasana terasa jauh lebih panas dari biasanya. Peristiwa kedatangan para pemburu kemarin telah mengubah segalanya. Keheningan lembah ini bukan lagi jaminan kedamaian, melainkan hitungan mundur menuju badai yang lebih besar.
Chou Tian berdiri tegak di tengah halaman. Wajah kaku pria tua itu tampak lebih keras dari hari-hari sebelumnya. Di hadapannya, Sun Chen berdiri bersiap, merapatkan jubah sederhananya yang basah oleh embun pagi.
"Musuh tidak akan pernah bersabar menunggu hingga kau siap," kata Chou Tian, suaranya dalam dan berbobot membelah hening fajar. "Metode latihanku harus diubah. Waktu kita tidak banyak."
Sun Chen menatap gurunya tanpa berkedip. Di kehidupan lalunya bersama Kultus Demonic, percepatan latihan selalu berati satu hal: memaksa pembuluh darah menerima ramuan beracun, menyerap energi kematian, dan mengorbankan masa depan demi kekuatan instan. Namun, ia tahu gurunya tidak akan menempuh jalan sesat itu.
"Aku akan mempercepat latihanmu," lanjut Chou Tian seolah membaca pikiran muridnya. "Tetapi bukan dengan memotong kompas atau merusak wadahmu. Fondasimu harus tetap sempurna. Hanya saja, penderitaan yang harus kau penuhi dalam tiga tahun, akan kutumpukkan dalam hitungan bulan."
Sun Chen menyatukan kedua tangannya, menunduk mantap. "Murid mengerti. Mohon bimbingan Guru."
Latihan hari itu berubah menjadi neraka yang sesungguhnya bagi raga balita Sun Chen.
Chou Tian tidak lagi membiarkan Sun Chen berlari bebas mengelilingi lembah. Sebuah batu kali seberat belasan kati diikatkan erat ke punggung kecilnya menggunakan kain tambang kasar. Beban itu membuat tulang belakang dan kakinya yang baru berusia empat tahun menjerit kesakitan sejak langkah pertama.
Setiap kali Sun Chen melangkah, beban di punggungnya menekan persendian kakinya, memaksanya menancapkan jemari kaki ke dalam tanah kering agar tidak terjerembap. Keringat bercampur debu mengalir deras, membasahi wajahnya hingga perih menyengat matanya.
"Jangan membungkuk!" seru Chou Tian yang berjalan di sampingnya seraya memegang sebatang bambu tipis. "Punggung yang membungkuk adalah tanda jiwa yang menyerah! Luruskan tulang belakangmu!"
Plak!
Gagang bambu itu menghentak pelan bahu Sun Chen, memaksanya kembali menegakkan tubuh.
Setelah mengelilingi lembah sebanyak sepuluh kali, latihan berlanjut ke air terjun. Kali ini, Sun Chen tidak hanya diminta berdiri di bawah kucuran air. Chou Tian menaruh dua buah batu licin di atas kedua bahunya, memaksanya menahan tumpukan beban fisik sekaligus hantaman arus air yang dingin membeku.
Hantaman air yang jatuh dari ketinggian sepuluh meter serasa memukuli kepalanya dengan palu besi. Berkali-kali batu di bahunya terlepas dan Sun Chen tersapu jatuh ke dalam kolam air yang dalam. Ia terbatuk-batuk, menghirup air, dan merasakan sekujur tubuhnya memar-memar. Namun, begitu kepalanya muncul di permukaan air, ia kembali memanjat batu datar tersebut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun keluhan.
Latihan puncak hari itu adalah meniti tiang-tiang kayu. Chou Tian telah menancapkan belasan tiang kayu keras berdiameter sempit dengan ketinggian tidak rata di atas tanah. Sun Chen diminta melompat dari satu tiang ke tiang lainnya sambil memikul sebatang bambu yang di kedua ujungnya menggantung ember terisi air penuh.
Satu langkah yang salah, keseimbangannya goyah, dan Sun Chen terhempas jatuh ke tanah keras. Sikutnya tergores, lututnya berdarah, dan air dari ember menyiram tubuhnya yang sudah menggigil.
Namun, setiap kali tubuhnya terhempas, Sun Chen segera bangkit. Wajah kecilnya penuh noda tanah dan darah, tetapi matanya memancarkan tekad yang tak tergoncangkan. Ia tidak menangis, tidak menjerit, dan tidak pernah meminta istirahat.
Di tepi halaman, Chou Tian memperhatikan setiap gerak-gerik muridnya. Di balik wajah kaku dan bicaranya yang keras, batin Setan Tinju itu bergetar hebat. Ia telah melihat banyak jenius muda di dunia persilatan, tetapi ia belum pernah menyaksikan seorang anak balita dengan daya tahan mental seteguh ini. Tekad Sun Chen bukan lagi sekadar keberanian anak-anak, melainkan besi tempaan yang siap menjadi pedang paling tajam.
Sore harinya, setelah tubuh Sun Chen benar-benar berada di ambang batas kelelahan, Chou Tian akhirnya menyuruhnya berhenti dari latihan fisik.
Mereka duduk di tanah datar depan gubuk. Chou Tian mengoleskan ramuan salep hijau ke luka-luka di tubuh Sun Chen. Untuk pertama kalinya sejak pagi, pria tua itu membawa muridnya masuk ke tahap latihan berikutnya.
"Ragamu sudah cukup panas hari ini," kata Chou Tian seraya membersihkan sisa tanah di lengan Sun Chen. "Sekarang saatnya kau belajar menyalurkan kekuatan itu. Hari ini, aku akan mengajarkan dasar dari segala bentuk pertarungan tangan kosong."
Sun Chen menatap gurunya dengan penuh perhatian. Ia mengira akan diajari jurus-jurus rumit milik klan Chou. Namun, Chou Tian berdiri, merenggangkan kakinya selebar bahu, dan melayangkan satu pukulan lurus ke udara.
Wus!
Pukulan itu tampak sangat sederhana. Tidak ada raungan angin yang menggelegar atau ledakan cahaya yang menyilaukan. Namun, gerakan itu terlihat begitu bersih, sempurna, dan tanpa celah.
"Satu pukulan lurus," kata Chou Tian seraya menarik kembali tangannya. "Banyak orang bodoh mengejar puluhan ribu jurus yang indah dan rumit, tetapi mereka tidak sadar bahwa sepuluh ribu jurus di dunia ini pada hakikatnya berasal dari satu pukulan yang benar."
Chou Tian melangkah mendekati Sun Chen, membenarkan posisi berdiri muridnya.
"Perhatikan," instruksi Chou Tian dengan nada mengajari. "Kekuatan tidak pernah dimulai dari kepalan tanganmu. Kekuatan lahir dari dorongan telapak kaki yang menjejak bumi, naik memutar melewati pinggul, menyalur melalui tulang punggung, diteruskan oleh kebasan bahu, dan baru dilepaskan di ujung buku jarimu. Jika satu saja dari rantai ini terputus, pukulanmu hanyalah kibasan tangan yang kosong."
Chou Tian menepuk pinggul dan bahu Sun Chen, membetulkan sudut kakinya. "Coba."
Sun Chen menarik napas panjang. Ia mengepalkan tangan kanannya di samping pinggang, melangkah sedikit ke depan, menjejakkan kaki belakangnya, memutar pinggulnya, dan memukul lurus ke udara.
Brak!
Pukulan pertama itu terasa kaku. Posturnya belum seimbang dan dorongan pinggulnya belum menyatu dengan lecutan tangannya.
"Ulangi," kata Chou Tian pendek.
Sun Chen mengulanginya. Sekali. Sepuluh kali. Seratus kali.
Meskipun otot-ototnya sudah lelah akibat latihan neraka sejak pagi, Sun Chen mengasah pukulan lurus itu tanpa henti. Berkat ingatan kehidupan lalunya yang kaya akan pengalaman tempur, ia dengan cepat menangkap kesalahan-kesalahan kecil pada posisi sudut siku, tumpuan kaki, dan lecutan bahunya. Perlahan-lahan, setiap kali tangan kecilnya memukul ke udara, dorongan tubuhnya terasa semakin menyatu, lancar, dan bertenaga.
Saat Sun Chen mengulang pukulan lurusnya untuk yang kelima ratus kali, sesuatu yang luar biasa terjadi di dalam tubuhnya.
Di dalam dantian bawahnya, benih Qi berbentuk benang sutra keemasan yang baru terbentuk mulai bergetar. Setiap kali kaki belakang Sun Chen menjejak tanah dan pinggulnya berputar, benang Qi itu secara alami terdorong keluar dari dantian. Aliran hangat yang sangat tipis merambat naik menyusuri tulang belakangnya, mengalir melewati bahu, dan memancar hingga ke ujung kepalan tangan kecilnya.
Wus!
Pukulan lurus Sun Chen mendadak memotong udara dengan suara desingan yang jauh lebih jernih dan tajam. Tubuhnya tidak lagi terasa berat atau lelah; sebaliknya, dorongan Qi yang mengalir selaras dengan gerakan fisiknya membuat raga kecil itu terasa jauh lebih ringan, kokoh, dan stabil.
Chou Tian yang berdiri memperhatikan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Pria tua itu hanya mengangguk pelan dengan kilatan kagum di matanya. Tanpa perlu diajari cara mengalirkan Qi secara khusus, muridnya telah menemukan sendiri hubungan alami antara tenaga dalam dan gerakan raga.
Matahari mulai terbenam di balik tebing batu, memancarkan warna jingga keemasan yang hangat. Latihan akhirnya usai.
Mereka duduk beristirahat di atas balok kayu di depan gubuk, menikmati angin sore yang berembus pelan. Sun Chen mengusap keringat di dahinya seraya menatap gurunya yang sedang memandang jauh ke arah perbukitan.
"Guru," panggil Sun Chen perlahan, memecah keheningan. "Mengapa Guru memilih hidup menyendiri di lembah terpencil ini? Dengan kekuatan sebesar milik Guru, bukankah Guru bisa menjadi tokoh yang disegani di dunia persilatan?"
Chou Tian diam sejenak. Ia menarik napas panjang, menatap asap nipis dari tungku masak mereka yang membubung ke udara.
"Nama besar dan pengakuan orang lain hanyalah ilusi yang meracuni jiwa," kata Chou Tian, suaranya terdengar emosional dan penuh kepahitan. "Puluhan tahun lalu, sebelum aku bersumpah mengasingkan diri, aku pernah mengangkat seorang murid."
Sun Chen mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Dia sangat berbakat," lanjut Chou Tian, matanya menerawang mengingat masa lalu. "Mungkin salah satu pemuda paling jenius yang pernah kutemu. Aku mencurahkan seluruh ilmu klanku padanya. Namun, hatinya tidak cukup teguh. Ia tergiur oleh janji kekuatan instan dan kejayaan cepat dari sekte sesat. Pada akhirnya... ia mengkhianati ajaran klan, membantai kawan-kawannya sendiri, dan menggunakan ilmu yang kuajarkan untuk berbuat kejam."
Chou Tian mengepalkan tangannya di atas lutut. "Sejak hari aku menghabisi murid berkhianat itu dengan tanganku sendiri, aku bersumpah tidak akan pernah mengangkat murid lagi. Kekuatan tanpa Hati Nurani hanya akan melahirkan monster."
Pria tua itu menoleh, menatap lurus ke dalam mata Sun Chen. "Itulah sebabnya aku begitu keras padamu, Sun Chen. Aku tidak ingin melahirkan monster kedua."
Sun Chen menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kata-kata Chou Tian meresap hingga ke lubuk hatinya yang paling dalam. Ia semakin memahami mengapa gurunya begitu berhati-hati dan menuntut keteguhan mental yang tinggi. Di dalam hatinya, Sun Chen berjanji tidak akan pernah mengecewakan pria tua yang telah menjadi pelindung dan pembimbingnya ini.
Sementara itu, puluhan li di luar Lembah Batu Pecah, di balik kegelapan hutan pegunungan yang rapat.
Suasana di antara pepohonan pinus tampak mencekam. Belasan sosok bergaun hitam pekat bergerak melintasi cabang-cabang pohon tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Gerakan mereka begitu halus, cepat, dan teratur—menandakan bahwa mereka adalah para pembunuh profesional kelas satu.
Di barisan paling depan, melayang seorang pria paruh baya bertubuh kurus kering dengan kulit pucat bagaikan mayat. Pria itu mengenakan jubah hitam berlapis kain sutra kelabu dan memegang sebilah pedang tipis di pinggangnya. Ia adalah Tetua Bayangan, salah satu ahli tingkat tinggi dari organisasi pemburu.
"Tetua," bisik salah satu pengawal yang mendarat di sampingnya. "Petunjuk dari pemburu yang selamat mengarahkan kita ke lembah di balik tebing depan. Pria tua bernama Chou Tian itu tinggal di sana bersama sang bocah."
Tetua Bayangan menghentikan langkahnya di atas dahan pohon tinggi. Matanya yang berwarna kelabu berkedip dingin dalam kegelapan. Tidak seperti para pemburu murahan sebelumnya yang bertindak kasar, Tetua Bayangan dan pasukannya memancarkan aura niat membunuh yang tersimpan rapat, benar-benar menyatu dengan kegelapan malam.
"Setan Tinju Chou Tian..." gumam Tetua Bayangan dengan suara parau yang menyeramkan. "Nama yang cukup legendaris di masa lalu. Sayang sekali, usianya sudah terlalu tua dan waktunya sudah habis. Pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang keluar dari lembah itu hidup-hidup malam ini."
Malam sepenuhnya menguasai Lembah Batu Pecah.
Di luar gubuk bambu, Sun Chen kembali duduk bermeditasi di atas batu datarnya. Latihan neraka sepanjang hari tadi telah memeras seluruh kemampuan fisiknya, tetapi hasilnya luar biasa.
Di dalam dantian bawahnya, benih Qi berbentuk benang sutra keemasan itu berputar semakin cepat. Aliran hangatnya merambat menyusuri dua belas meridian utama, membersihkan sisa-sisa kelelahan di otot dan tulangnya. Untuk pertama kalinya sejak ia mulai berlatih, benang Qi itu berhasil menyelesaikan satu siklus peredaran penuh di dalam tubuhnya tanpa terputus.
Hum...
Begitu siklus peredaran penuh itu tercipta, lautan kesadaran Sun Chen di dalam batinnya mendadak bergetar hebat.
Gumpalan kegelapan di dalam pikirannya terbelah. Bayangan sisik naga hitam yang purba kembali muncul, memancarkan cahaya ungu kehitaman yang jauh lebih terang dan pekat daripada sebelumnya. Cahaya itu menerangi ruang batin Sun Chen, dan dari balik pendaran energi tersebut, beberapa baris aksara kuno dari warisan purba terukir jelas dan berhasil dibaca oleh jiwanya:
"Fondasi Sempurna... Tahap Pertama..."
Cahaya ungu kehitaman itu berdenyut sekali lagi, menyalurkan pemahaman mendalam tentang cara menyelaraskan energi purba dengan raga fisiknya yang baru ditempa, sebelum akhirnya perlahan-lahan memudar dan menghilang kembali ke dalam kegelapan.
Sun Chen membuka matanya, menahan napas seraya merasakan kekuatan baru yang mengendap halus di dalam raga kecilnya.
Namun, di saat yang bersamaan, di atas puncak tebing batu yang menjulang tinggi memutari lembah...
Sosok Tetua Bayangan berdiri tegak di balik kegelapan malam. Jubah hitamnya berkibar pelan ditiup angin dingin. Matanya yang tajam dan dingin menatap lurus ke arah gubuk bambu Chou Tian yang tenang di dasar lembah.
Bibir pucat Tetua Bayangan terangkat perlahan, membentuk sunggingan senyum kematian.
"Akhirnya aku menemukan kalian."