NovelToon NovelToon
The Porch Light

The Porch Light

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.

Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.

Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.

Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.

Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.

Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.

Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#6

Cahaya matahari pagi memancar terik menyusup di antara celah gorden tebal Penthouse, membentang garis-garis keemasan di atas lantai kayu berkualitas tinggi. Suasana kamar utama begitu hening, kecuali suara dengung getaran ponsel yang terus-menerus memecah ketenangan dari atas meja nakas sejak beberapa jam lalu.

Rowan Vale-Knight membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa hangat, terkunci dalam sebuah dekapan erat. Saat menunduk, matanya menangkap sosok gadis yang tertidur di atas dadanya. Rambut Rossi yang sedikit bergelombang tersebar acak di atas bahu telanjangnya, sementara jemari mungil gadis itu masih mencengkeram kain sprei dengan erat.

Ponsel itu bergetar lagi untuk yang kesebelas kalinya.

Rowan menghela napas pendek, lalu mengulurkan tangannya yang panjang untuk meraih benda pipih tersebut. Dari sudut matanya, ia sempat melirik nama pembawa panggilan yang terus bermunculan.

Panggilan dari Cathez yang beruntun sejak pukul empat pagi tadi akhirnya berhenti, kini berganti dengan nama sang ibu: Suzzy Stone-Knight.

Sebelum mengusap layar untuk mengangkat panggilan tersebut, Rowan menatap sejenak mata Rossi yang terpejam rapat dalam pelukannya. Ia menyapukan ibu jarinya ke pipi halus gadis itu yang masih merona.

"Halo, Mom," sapa Rowan dengan suara parau khas bangun tidur, berusaha menjaga intonasinya sejernih mungkin.

"Pulanglah, Nak," suara bernada tegas dan sarat kekecewaan milik Suzzy Stone-Knight langsung menyambar dari seberang sambungan. "Mommy tidak pernah mendidikmu menjadi pria pengecut seperti ini."

Rowan menghela napas panjang—sebuah helaan napas berat yang terasa mengimpit dada dan paru-parunya. Benar dugaannya. Istrinya tidak membuang waktu untuk mengadu dan membawa masalah Rumah Tangga mereka ke hadapan orang tuanya.

"Aku diluar kota, Mom," sahut Rowan lirih, mencoba menyusun alasan pertahanan diri yang paling ringkas.

"TIDAK! Mommy, dia berbohong!"

Suara lengkingan Cathez terdengar menggema keras di latar belakang sambungan telepon itu. Rupanya sang istri sedang mengadu pada ibunya.

Suzzy menghela napas di seberang sana, mengabaikan teriakan menantunya sejenak. "Asistenmu mengatakan kau masih berada di kota ini, Nak. Pulanglah. Istrimu—"

"Aku akan pulang sore nanti, Mom," potong Rowan dingin sebelum ibunya merentangkan ceramah yang lebih panjang. "Aku masih memiliki urusan yang harus diselesaikan."

Di seberang panggilan, samar-samar terdengar teriakan kekesalan dari Cathez yang melampiaskan amarahnya.

Rowan memejamkan mata sejenak, memijat keningnya yang mendadak terasa pening berdenyut. Cathez tidak pernah merasa malu untuk mengumbar friksi rumah tangga mereka.

Di depan Mommy, Daddy, bahkan di hadapan-saudaranya yang masih menetap di mansion utama, wanita itu selalu menempatkan dirinya sebagai korban yang terintimidasi.

Klik.

Rowan mematikan sambungan secara sepihak sebelum perdebatan itu melebar tanpa arah.

Di dalam dekapannya, sebuah lenguhan halus keluar dari mulut Rossi.

Sejujurnya, Rossi sudah terbangun sejak dering getaran ponsel itu bergetar pertama kali di pagi hari. Namun, ia terlalu malu untuk membuka matanya.

Setiap kali ingatan tentang kejadian semalam berputar di kepalanya, dadanya berdesir hebat. Rossi mengingat betapa tidak terkontrol dan dominannya ia semalam di bawah pengaruh obat laknat itu.

Cara ia memohon, memeluk, dan merespons setiap sentuhan Rowan... Rossi merasa dirinya persis seperti jalang profesional yang tak punya harga diri.

Rowan bergerak perlahan, meloloskan tubuhnya dari dekapan Rossi tanpa menimbulkan kegaduhan berarti. Pria itu bangkit, duduk di tepi ranjang, lalu menatap Rossi yang pura-pura membelakanginya.

"Kau akan tinggal di sini," kata Rowan dengan cepat, suaranya kembali datar dan tegas seperti biasa. "Aku akan menugaskan satu pelayan pribadi untuk mengurus kebutuhanmu selama aku pergi. Aku harus pulang sebentar."

Rossi tidak berbalik, hanya memberikan anggukan kecil di balik selimut tebalnya.

Pulanglah... Aku akan kabur begitu langkah kakimu menjauh dari tempat ini, batin Rossi penuh tekad.

Namun, seolah bisa membaca jalan pikiran gadis di belakangnya, Rowan yang sedang menarik celana panjangnya mendadak menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah gundukan selimut itu.

"Pernikahan kita akan dilakukan sore nanti," tegas Rowan tanpa ruang negosiasi. "Aku akan kembali ke sini setelah selesai mengurus dokumen pendaftaran pernikahan kita. Jangan sekali-kali berpikir untuk kabur. Atau aku akan—"

"Pergilah," potong Rossi cepat dari balik selimut, memotong ancaman pria itu. "Aku tidak akan kabur, Tuan."

Rowan mengernyitkan alisnya. "Berhenti memanggilku Tuan."

Kau memang tuanku, pria asing sialan, maki Rossi dalam hatinya yang mendidih.

Namun, dari balik selimut, suaranya yang keluar terdengar mengalah dan melemah, "Baiklah... Rowan."

Suara langkah kaki Rowan terdengar menjauh, disusul bunyi gemerincing kunci dan geseran gesper kulit.

Beberapa detik kemudian, pintu kamar tidur utama terhempas pelan, lalu terdengar bunyi klek dari pintu depan Penthouse yang terkunci dari luar.

Seketika itu juga, raut wajah Rossi yang tadi tampak lemas dan pasrah berubah total.

Rossi menyibakkan selimutnya. Walaupun kedua kakinya terasa bergetar hebat dan persendian bawahnya ngilu tak tertahankan, ia memaksakan diri berdiri.

Dengan langkah tertatih-tatih, gadis itu melangkah cepat menuju lemari pakaian besar yang berdiri di sudut ruangan, berharap menemukan pakaian yang wajar untuk membantunya melarikan diri.

Ia sama sekali tidak bermaksud untuk melahirkan anak bagi pria gila yang baru dikenal semalam! Mengingat bagaimana pria itu menidurinya berkali-kali tanpa ampun hingga menjelang fajar, Rossi merinding.

Sambil melangkah, Rossi melompat-lompat kecil di atas karpet, berharap gaya gravitasi bisa mengeluarkan sisa benih yang ditanamkan pria itu di dalam tubuhnya.

"Sialan!" umpat Rossi kesal. "Aku tidak akan hamil anak dari pria yang hobinya cuma mengancam!"

Ia terus melompat-lompat kecil dengan sisa tenaganya sembari menyambar selembar kemeja putih polos berukuran besar dan celana training bertali dari dalam lemari.

"OUCHH!"

Rossi meringis keras, memegangi selangkangannya saat ia mencoba memasukkan kaki kirinya ke dalam celana.

Rasa perih dan nyeri yang tajam menyengat sarafnya. Ia merutuki kekuatan pria bertubuh kekar itu yang tidak tahu aturan.

Setelah selesai berpakaian, Rossi berjalan mengitari seluruh penjuru ruangan untuk mencari jalan keluar. Langkahnya terhenti di depan jendela kaca raksasa yang terhubung ke balkon luar.

Ia menyibak gorden, lalu menunduk menatap ke bawah. Matanya membelalak horor.

Mobil-mobil di jalan raya bawah sana hanya terlihat sebesar semut. gila! Di lantai ketinggian berapa apartemen ini berada? Menjelajah balkon adalah tindakan bunuh diri konyol.

Rossi menyandarkan dahinya pada kaca dingin, napasnya memburu frustrasi.

"Aku bersumpah... aku akan membunuhmu, Ayah," lirih Rossi dengan nada penuh kebencian.

Satu nama itu adalah dalang utama dari seluruh rantai penderitaannya.

Jika saja ayahnya tidak menjualnya pada lintah darat, ia tidak akan berada dalam situasi terjepit ini. Walaupun pria gila bernama Rowan itu menyelamatkannya dari sergapan orang-orang berjas hitam semalam, tetap saja pria itu tidak lebih dari seorang pemanfaat situasi yang memanfaatkan keterdesakannya demi kepentingan pribadi.

Dengan langkah tergesa-gesa, Rossi keluar dari kamar utama, menelusuri lorong Penthouse yang luas dan sepi. Ia mencari pintu keluar lain atau setidaknya jendela darurat yang bisa dijangkau.

Namun, begitu sampai di area ruang tamu utama, pandangannya tertuju pada pintu gerbang depan yang kokoh dengan sistem pengunci digital tingkat tinggi.

Dari tempatnya berdiri, pintu itu tampak begitu mustahil untuk ditembus tanpa kode atau kartu akses.

"Ah sialan... aku benar-benar tamat," bisiknya pasrah.

Awan gelap keputusasaan mendadak merayap menutupi pikirannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes deras membasahi pipinya.

Rasa sakit di area intimnya yang coba ia abaikan sejak bangun tidur kini meledak secara bersamaan dengan rasa lelah emosionalnya. Rasa perih, canggung, ngilu, dan kebas menyatu, membuat lututnya lemas seketika.

Rossi menyeret kakinya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa empuk di ruang tamu. Ia melipat kedua kakinya, menyembunyikan wajahnya di antara lutut, dan terisak pelan dalam kesendirian apartemen megah itu.

Di tengah isak tangisnya yang mulai mereda, pandangan mata Rossi yang kabur terarah pada interior Penthouse di sekelilingnya.

Sunyi, mewah, aman, dan sangat hangat. Sebuah pemandangan yang bertolak belakang dengan rumah kayu lapuk tempat ia diasingkan di Central Valley, atau ancaman pengorbanan yang disiapkan ayahnya.

Sebuah pemikiran baru mendadak melintas dan mengkristal di dalam kepalanya.

Daripada harus kembali ke desa bersama bibi yang berhati keras... daripada ditangkap kembali oleh ayah yang pasti akan terus mencariku karena aku melarikan diri...

Rossi menyapu air matanya dengan lengan kemeja putih yang ia kenakan.

...Melahirkan seorang anak untuk pria seperti Rowan rasanya tidak terlalu buruk.

Rossi mengingat kembali detail kejadian semalam. Meski Rowan bertindak tegas dan terkesan dingin di luar, pria itu tidak pernah bersikap kasar padanya di atas ranjang.

Sentuhannya hangat, bisikannya sarat akan janji perlindungan, dan pria itu bahkan menghentikan gerakannya hanya untuk meminta maaf karena telah merusaknya. Pria itu menepati janjinya untuk tidak memperlakukannya seperti wanita simpanan murahan.

Rasa takut di dalam dada Rossi perlahan surut, berganti dengan penerimaan yang dingin namun mantap.

Keputusannya kini telah bulat. Tetap menetap di tempat ini, menerima tawaran pernikahan tersebut, dan menjalani takdir barunya adalah akhir dari semua pelariannya.

1
Nurul
kalau bisa, kehamilan jangan ditunda-tunda
Mia Camelia
hahaa rasaiin ketauan ,rowan ngumpetin anak gadis🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkww🤣
total 1 replies
alunanfiksimalam
Wanita jahat
nayla tsaqif
Uhh,, marathon bacanya thor,, tp nyampe jg bab 20🤭
Rosdianah 🌷: Waaah luar biasa kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Rossi 😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
Rosdianah 🌷: siap kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Huwaa😭 knp q ketinggalan notifnya,, tau2 udah bab 20 ajahh,,! Semangat 30 menit pasti selesai baca💪
Rosdianah 🌷: Huhuhu semangat kak reader 🥰🫶
total 1 replies
Mia Camelia
so sweet banget sih mereka brdua🥰🥳
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mia Camelia
aduh ngenes banget ngliat rowan nanggis ky bgitu🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Mia Camelia
cathez gak tau diri banget cowo sekelas rowan di sia sia kan😔
Rosdianah 🌷: huhuhu
total 1 replies
Mia Camelia
rowan jahat banget sih cuma mau ngambil anak nya doang🤣🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: perlu digampar anak Daddy satu itu🤣
total 1 replies
Mia Camelia
rosi polos banget yaa, cocok nih sama rowan🥰🥰🥰
Mia Camelia
semua nya mudah klo rowan udh niat 😂🤣
Mia Camelia
hehe rowan kebelet banget pingin anak🤣🤣
Rosdianah 🌷: bisa bayangin lah ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pertemuan yg tak terduga😂
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
Mia Camelia
horeee 🥳 akhir nya kisah rowan publish juga🥰😄😂😂
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰
Rosdianah 🌷: Huhuhu terharu, Ma'aciww kak, Semoga suka sama ceritanya.
Happy Reading 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!