Sebuah karya novel bergenre horor yang sangat menyeramkan tentang perjalanan mahasisiwa teknik geologi yang terjebak didalam desa yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riski riko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Sambut Oleh Warga
Aku dan Danu pun langsung pergi dari sana,Bulu kuduk ku masih berdiri, masih teringat sosok nenek tua yang menyeramkan berdiri di tengah tengah hujan lebat disertai petir.
Langkah ku seakan akan harus cepat cepat meninggalkan tempat itu, Kemungkinan besar nenek itu masih ada disana.
"Kenapa buru buru Ko?"
Saut Danu kepada ku karna Aku mempercepat jalanku.
Sambil menghapus air hujan yang ada di wajahku, Aku menjawab
"Gak kenapa napa Dan, Hujan ni tambah lebat, Gua udah kedinginan".
Aku memang sudah sangat kedinginan, Tampak telapak tanganku sudah berkerut.
"Ayo kalau mau ngajak cepat cepat"
Jawab si Danu yang tiba tiba berlari kencang dari belakangku hingga Aku yang tadi di depan menjadi dibelakangnya.
"Dan tunggu Gua"
Aku berlari sekuat tenaga supaya tidak tertinggal jauh dari Danu.
Sampai di sana, Kamipun mendapati Rio,Wisnu dan Pak Edi sudah siap di atas motor, Dan sepertinya motor Yang dikendarai bapak Edi sudah bagus.
Aku bersikap biasa saja seolah olah aku tidak melihat sesuatu,karna khawatir nanti akan membuat masalah baru.
"Gimana pak? Udah siap motornya"
Ucap ku sambil melambai kan tangan kepada bapak Edi yang berjarak sekitar 7 meteran.
"Udah ko, Ayo kita lanjut perjalanan"
Ucap pak Edi kepada ku yang sedang duduk dimotornya.
Kamipun melanjutkan perjalanan, dan setelah itu hujan pun reda, Barulah terlihat jelas keindahan alam disana, hutan yang sangat lebat yang dihiasi pepohonan besar,Akar akar bergelatungan indah dan Burung burung berkicau riau, seolah olah menyambut kedatangan kami.
Suasana yang seram sudah aku tidak hiraukan lagi, Karna dikalahkan oleh keindahan alam.
Terlihat sungai sungai kecil yang airnya masih jernih tampak terlihat jelas ikan ikan yang asik berenang.
Semua orang sepertinya sangat menikmati keindahan alam, Apalagi Rio,Danu dan Wisnu adalah anak kota yang sangat jarang sekali bisa melihat keindahan alam.
Baju kami basah semua,Aku sendiri merasakan kedinginan yang luar biasa.
Badan bergetar sendiri hingga bibirpun ikut bergetar, kulihat ke arah belakang tampak Si Danu dan Wisnu kedinginan juga.
dari belakang berteriaklah si Danu
"Pak kita berhenti aja dulu, Ganti pakaian. Saya sudah tidak kuat lagi ni pak"
Bapak Edi yang berada di depan langsung berhenti dan berkata
" Ayo berhenti sebentar kita tukar baju dulu, Bapak juga kedinginan ini".
Rio pun berhenti
"Iya pak benaran gak tahan lagi ni".
Kami semua pun berhenti dan membuka koper masing masing.
"Duh baju gua yang didalam koper basah semua, Tinggal sarung yang masih kering "
Ucap si Danu sambil mengambil satu persatu bajunya yang didalam koper.
"Pakai baju gua aja dulu Dan"
Ucap si Wisnu sambil memberikan sebuah baju kaos hitam kepada Danu.
"Makasih Wis"
Jawab si Danu sambil mengambil baju yang diberikan oleh si Wisnu.
"Udah siap semua dek?"
Tanya bapak Edi.
"Bentar lagi pak"
Jawab si Rio sambil membenarkan kaos yang baru ia pakai.
"Kita bentar lagi sampai, palingan tinggal 10 menit lagi, nanti kalian akan disambut langsung oleh kepala desa dan warga sekitar" Ucap pak Edi.
"Wah mantap tu pak,kayak orang penting kami ni ya pak"
Ucap si Wisnu.
"Sekali kali disambut, Gimana ya rasanya kayak presiden gitu"
Kata Danu sambil membenarkan kopernya.
"itu memang tradisinya disana dek"
Ucap pak Edi
Setelah semua siap kamipun berangkat menuju desa batu sawar.
Jalanannya ada yang sedikit bukit yang membutuhkan sedikit energi, Untung saja motor yang kami kendarai adalah motor motor yang tangguh, Jadi cukup mudah untuk dilalui.
Tidak lama kemudian, akhirnya kami sampai juga di desa Batu Sawar Kecamatan Maro Sebo Ulu.
Dan benar, Disana sudah ramai sekali warga warga yang sepertinya menunggu kedatangan kami.
Terlihat sekali warga yang begitu ramah,
Ternyata kami telah lama ditunggu mereka.
Kami pun turun dari motor masing masing, Bapak Edi yang selaku memandu kami memberikan arahan kepada kami untuk mengikuti adat istiadat disana.
"Assalamu'alaikun pak Edi"
Ucap seorang laki laki yang berumur sekitaran setengah abad, ternyata bapak ini bapak Sarmo selaku kepala desa Batu Sawar.
"Waalaikum salam bapak Sarmo"
Jawab bapak Edi sambil bersalaman.
"Ini anak anak yang dari Jakarta pak!, mohon bantuanya selama mereka bertugas didesa bapak"
Ucap pak Edi.
"Iya pak,Pasti itu Disini warganya ramah ramah semua pak"
Jawab bapak Sarmo.
Terlihat warga sekitar sangat antusias sekali, dari anak anak, hingga kakek kakek pun ikut menyambut kami.
"Kami sudah menyiapkan tari sikapur sirih untuk menyambut kalian"
Ucap pak Sarmo kepada kami.
Datanglah anak anak kecil yang memakai pakaian adat jambi untuk siap menari sikapur sirih.
Dengan alunan musik yang dimainkan oleh warga, tangan anak anak kecil itu mulai mengikuti alunan musik dengan sangat indah, Satu persatu diperagakan oleh anak anak itu, layaknya mereka sudah mendarah daging dengan alunan musik tersebut.
Setelah tariannya selesai kamipun bersalam salaman dengan warga sekitar.
Warga disana masih sangat sedikit mungkin satu desa itu hanya sekitar 100 orang.
Ramahnya warga membuat suasana desa bertambah nyaman,Tenang dan Tentram.
Senyuman senyuman mereka menjadi seni yang indah dari tebaran tebaran aroma desa.
Tidak sedikit yang menyuruh kami untuk mampir singgah sebentar kerumahnya.
Setelah penyambutan selesai kamipun diantar oleh bapak kepala desa ke penginanapan.
Sebuah rumah panggung kecil yang berdindingkan kayu, Sepertinya sudah lama tidak dihuni atau memang di khususkan untuk tamu.
"Ini dek,Tempat penginapan kalian, Maaf disini memang beginilah adanya, Tidak seperti di kota"
Ucap si Bapak Sarmo sambil memperlihatkan tempat penginapan kami.
"Udah biasa pak, Namanya juga mahasiswa, Harus siap menerima apa adanya"
Jawab pak Edi sambil melihat kearah kami.
"Iya pak, Ini kami udah berterimakasih sebanyak banyaknya, kami disambut baik oleh bapak bersama warga warga sekitar, Dan kami sudah di persiapkan penginapan oleh bapak, sekali lagi kami berterimakasih pak" Jawab ku dengan sopan santun.
"Alhamdulillahlah jika kalian senang dengan desa bapak"
Jawab pak Sarmo.
"Saya permisi dulu pak, Soalnya saya masih ada tugas, Anak anak,Saya serahkan semua kebapak"
Ucap pak Edi ingin pamit pulang.
"Adek adek. Bapak pulang dulu ya, nanti kalau ada apa apa langsung bicarakan kebapak Sarmo atau bisa juga telpon bapak"
"Iya pak"
Ucap pak Sarmo
"Terimkasih pak sudah mengantarkan kami sampai sini"
"Iya dek"
Jawab bapak Edi.
Bapak Edipun pulang, Yang ditemani oleh seorang temannya.
"Ayo dek silahkan masuk ya, Kalian bisa istirahat disana ya, Lumayan jauh juga perjalanan kalian ini, Yang pastinya capek sekali.Nanti kalau ada apa apa nanti hubungin bapak"
Kata bapak Sarmo kepada kami.
Setelah itu bapak Sarmo pun ikut permisi karna tidak ingin mengganggu kami untuk istrahat.
Tinggal kami berempat yang berdiri di depan sebuah rumah panggung kecil.
Sedikit menyeramkan,mungkin karna lama tidak dihuni.
"Ayo kita naik"
Ucap ku kepada teman teman sambil melepas sepatu.
"Kok gua jadi ngeri ya ko lihat rumah ini, Kayak rada rada angker"
Ucap si Rio.
"Iya ya, Gua jadi merinding juga ni"
Jawab si Wisnu.
Si Danu terlihat diam dan seperti juga takut untuk naik ke rumah.
"Yaudah kalian tinggal di bawah aja, biar malam malam di makan Harimau"
Jawab ku sambil menaiki tangga kayu dengan membawa koper di tangan kanan.
"Eh Gila aja gua di bawah"
Ucap Rio sambil menaiki tangga.
Kreeeekkkkkkkkkkkk
Bunyi pintu yang sedang ku buka.
Ternyata didalamnya sederhana saja, hanya ada duah buah kamar dan terdapat barang barang antik yang menghiasi dinding dinding rumah.
#Bersambung#
Terimakasih yang sudah membaca,semoga selalu memberikan like dan votenya.😁
Dan sekarang setelah 3 tahun hilang²an, akhirnya lanjut baca lagi 'Desa Yang Hilang' 😅 Makasiiih ya author