Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .
_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Pagi berikutnya di kediaman Abrari, suasana dapur utama yang megah sudah mulai terasa gerah sejak pukul enam pagi. Eliza, yang tetap menjaga rutinitasnya sebagai istri yang berbakti, turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan khusus bagi Faas dan ibu mertuanya, Diana.
Saat Eliza sedang menata mangkuk sup di atas meja dapur, langkah kaki yang disengaja terdengar mendekat. Megan melangkah masuk dengan gaun tidur sexy nya, disusul oleh Jihan yang tampil glamor sejak pagi.
Megan menghentikan langkahnya tepat di dekat kulkas besar, matanya menatap tajam dari atas ke bawah pada cara berjalan Eliza yang tampak santai dan biasa saja. Sebuah senyum sinis dan meremehkan langsung terukir di wajah polos buatannya.
"Wah, selamat pagi, Pengantin Baru," sindir Megan dengan nada suara yang sengaja dilembutkan namun terdengar sangat menusuk. "Hehe, hebat ya Kak Eliza. Jalan ceria banget dari kamar, kelihatan biasa saja. Padahal kan katanya baru malam pertama? Biasanya kalau pengantin baru sejati itu, jangankan jalan santai, melangkah saja rasanya sudah susah dan kesakitan. Kok Kak Eliza segar bugar begini ya, apa sih rahasianya?"
Jihan yang baru saja menuangkan kopi ke cangkirnya langsung menyambar ucapan Megan dengan tawa renyah yang merendahkan.
"Kamu seperti tidak tahu saja, Megan," timpal Jihan sembari melirik Eliza dengan tatapan jijik. "Paling juga mereka berdua itu sudah terbiasa melakukannya jauh sebelum menikah. Anak narapidana dan anak buangan, gaya pacarannya pasti sangat bebas. Jadi kalau kemarin malam tidak ada efeknya, ya jelas saja, sudah tidak perawan lagi mungkin sejak dulu."
Mendengar hinaan yang sangat kotor dan merendahkan kehormatannya itu, Eliza sempat menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang sendok sup. Napasnya teratur, mencoba menahan emosi agar tidak terpancing cara murahan mereka. Ia melanjutkan menata nampan sarapan untuk suaminya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Melihat Eliza hanya diam, Megan merasa di atas angin. Ia melangkah lebih dekat, sengaja menyenggol bahu Eliza sedikit saat hendak mengambil air minum. "Makanya, Kak, kalau mau akting jadi wanita suci berhijab itu yang totalitas. Kalau jalannya saja biasa begini, semua orang di rumah juga tahu kalau pernikahan kalian itu hambar."
Selesai menata nampan, Eliza perlahan membalikkan tubuhnya. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja dapur, menatap lurus ke arah Megan dan Jihan dengan ekspresi wajah yang mendadak sangat dingin. Rasa muak yang ia pendam akhirnya mencapai batasnya.
"Kalian sudah selesai bicara?" tanya Eliza, suaranya terdengar sangat tenang namun bergaung kuat di ruangan dapur yang sunyi.
"Daripada meributkan cara berjalan saya yang kalian anggap terlalu biasa untuk seorang pengantin baru..." Eliza melangkah satu senti lebih dekat ke arah Megan, menatap mata wanita itu dengan sorot mata yang tajam dan mengintimidasi.
"Lebih baik kamu mengkhawatirkan nasib dirimu sendiri. Setidaknya, pernikahan saya dan kak Faas dilakukan secara terhormat, sah di mata hukum dan agama, tanpa ada paksaan. Daripada seseorang... yang harus menjebak laki-laki dengan cara hamil di luar nikah, lalu terpaksa dinikahkan secara siri karena aibnya keburu meledak, itu lebih memalukan."
Deg.
Wajah Megan seketika berubah pucat pasi.
Eliza tidak berhenti di situ. Ia melirik Jihan yang mulai menegang, lalu kembali menatap Megan dengan senyum tipis yang sarat akan sindiran mematikan. "Dinikahkan secara siri dalam keadaan sudah hamil... secara hukum agama, keabsahan status anak itu sebagai anak Gavin saja masih sangat diragukan. Bahkan seandainya itu memang benar anak Gavin, anak itu tidak bisa mendapatkan hak waris dan lebih parahnya, ayahnya tidak bisa jadi wali....namun Siapa juga yang bisa menjamin anak di dalam kandunganmu itu benar-benar darah daging Gavin? Bisa jadi anak pria lain yang kebetulan ingin kamu timpakan bebannya pada keluarga Abrari, kan?"
"ELIZA!!!" jerit Megan histeris, napasnya mendadak memburu dengan wajah yang merah padam karena rahasia busuk dan harga dirinya dikuliti habis-habisan di depan ibu mertuanya.
Jihan sendiri sempat tertegun dan membeku di tempatnya. Ucapan Eliza yang cerdas dan menusuk itu bagai hantaman gada besar yang menyadarkan logika otaknya. Sebagai seorang ibu, Jihan mendadak berpikir, Benar juga, apa bukti valid kalau anak yang dikandung Megan adalah cucu kandungku? Gavin bahkan tidak ingat apa-apa malam itu. Keresahan baru seketika merayap di dada Jihan akibat ucapan Eliza.
Tanpa memedulikan kemarahan Megan yang meledak-ledak dan keterpukauan Jihan, Eliza dengan anggun mengangkat nampan sarapannya.
"Permisi, Tante Jihan, Megan. Suami dan ibu mertua saya yang terhormat sudah menunggu sarapan mereka di atas," ucap Eliza tenang, lalu melangkah pergi meninggalkan dapur dengan kepala tegak, meninggalkan Megan yang menangis geram karena kalah telak dalam perdebatan pagi itu.
Kepergian Eliza meninggalkan dapur menyisakan hening yang mencekam. Wajah Megan masih merah padam, namun dalam hitungan detik, ekspresinya berubah drastis. Ia segera membuang tatapan marahnya, menggantinya dengan raut wajah melas yang dibuat-buat, persis seperti seorang gadis yang baru saja terzalimi.
Dengan langkah gemetar, Megan mendekati Jihan yang masih mematung menatap pintu dapur. Ia meraih tangan Jihan dan menempelkannya ke pipinya, lalu mulai terisak pelan.
"mama... lihat kan? Dia jahat banget. Megan cuma mau bilang, kalau sebagai pengantin baru, harusnya dia sopan. Tapi dia malah menuduh Megan yang bukan-bukan," ujar Megan dengan suara bergetar, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Apa salah Megan, mama? Megan cuma mau jadi menantu yang baik untuk keluarga Abrari. Megan sedih banget dibilang begitu sama Kak Eliza... dia meragukan bayi di perut Megan. Apa mama juga meragukan cucu mama sendiri?"
Jihan yang tadinya sempat tertegun oleh ucapan tajam Eliza, perlahan tersadar kembali. Melihat Megan yang menangis dan mengadu padanya, insting memihaknya kembali muncul. Keberanian Eliza tadi justru dianggap Jihan sebagai bentuk perlawanan, iri dan rasa tidak hormat yang tidak bisa dibiarkan.
"Sudah, sudah, sayang..." Jihan mengusap bahu Megan dengan lembut, kini pandangannya menatap tajam ke arah pintu yang tadi dilewati Eliza. "Jangan didengarkan omongan perempuan tidak tahu diri itu. Dia cuma iri karena posisinya di sini tidak stabil, makanya dia mencoba memprovokasi kita."
Megan menyandarkan kepalanya di bahu Jihan, menyembunyikan seringai licik di balik punggung wanita paruh baya itu. "Megan cuma takut, mama. Bagaimana kalau nanti dia benar-benar menghasut Gavin untuk meninggalkan Megan? Megan sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain mama dan keluarga ini..."
"Tidak akan!" potong Jihan dengan suara tegas, suaranya kini kembali penuh wibawa namun menyimpan racun. "Selama mama di rumah ini, tidak ada yang bisa menyentuhmu, apalagi Eliza. Urusan bayi itu... mama percaya kamu. Jangan biarkan ucapan sampah dari perempuan itu membuatmu stres. Ingat, kamu sedang mengandung pewaris sah, dan mama tidak akan membiarkan siapa pun meragukan itu."
Megan mengangguk patuh, menyeka air matanya dengan tisu. Dalam hatinya, ia tertawa puas. Ia tahu persis bahwa Jihan adalah pion paling mudah untuk dimanipulasi dengan sedikit air mata dan bumbu drama. Selama Jihan berada di pihaknya, posisi Megan di mansion Abrari akan tetap aman, dan Eliza akan tetap menjadi musuh nomor satu yang harus segera disingkirkan.
Faas Eliza sudah membuktikan kejayaannya ditengah kelicikan dan kebodohan yg nyata Jihan. maka tinggal Ibu Diana lagi yg klo bisa secara tidak sadar dia berlari memeluk Faas dan Eliza supayaaaaaa Jihan semaki lebar matanya melihat bahwa Ibu Diana ternyata sudah tidak lumpuh lagi 🫠 duhhb ga sabar dehh 😅
🤣