Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI GELAP NERAKA
Pintu besi kamar isolasi itu tidak lagi menjadi pembatas antara Kirana dan dunia luar, melainkan gerbang menuju neraka yang sesungguhnya. Di tempat bordil Distrik Amethyst ini, status Kirana sebagai 'Mawar Hitam' yang disegani telah mati. Atas perintah Baskara dan dendam pribadi Broto, Kirana diturunkan ke kasta paling rendah. Ia tidak lagi ditempatkan di kamar VIP berpintu beludru untuk melayani para pejabat klimis, melainkan dilempar ke ruang bawah tanah yang lembap dan berbau pesing.
Di sinilah Kirana benar-benar tidak lagi diperlakukan sebagai manusia.
Setiap pagi dimulai dengan siksaan fisik. Anak buah Broto akan menyiram tubuhnya dengan air es, membiarkannya menggigil di atas lantai semen, sebelum memberi makan seadanya—sering kali nasi basi yang dilempar begitu saja ke lantai. Jika Kirana menolak makan atau menatap mereka dengan tatapan menantang, ujung laras pistol atau cambuk kulit akan mendarat di punggungnya hingga kulitnya pecah-pecah.
Namun, siksaan fisik itu belum seberapa dibanding kehancuran total yang direncanakan Broto untuk jiwanya.
"Malam ini, kamu ada janji dengan tamu istimewa, Kirana," bisik Broto suatu sore, menjambak rambut Kirana yang kini kusut dan kotor. Senyum bajingan itu begitu lebar. "Bukan lagi laki-laki bangsawan yang memuja kecantikanmu. Tamu-tamu ini... adalah mereka yang suka melihat mangsanya menangis darah."
Malam itu, pintu kamar Kirana terbuka. Laki-laki yang masuk bukanlah pria hidung belang biasa, melainkan sosok-sosok kasar yang memiliki kelainan dan penyimpangan seks yang mengerikan. Mereka adalah orang-orang kaya yang muak dengan kesenangan normal dan bersedia membayar mahal pada Broto hanya untuk melampiaskan hasrat sadis dan menyimpang mereka pada tubuh manusia.
Bagi mereka, tubuh babak belur Kirana adalah kanvas.
Kirana diikat, disumpal, dan dipaksa menerima perlakuan yang melampaui batas kemanusiaan. Jerit parau Kirana yang tertahan di balik sumpalan kain justru menjadi bahan bakar bagi kepuasan menjijikkan laki-laki itu. Rasa sakit yang menghujam bukan lagi sekadar rasa perih di kulit, melainkan rasa hina yang mencabik-cabik harga dirinya sampai ke akar-akarnya.
Setiap kali malam jahanam itu selesai, Kirana hanya bisa terbaring kaku di atas kasur tipis yang bernoda. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar yang berjamur. Tubuhnya gemetar hebat, dipenuhi memar baru, luka bakar akibat sundutan, dan bekas jeratan tali.
Hancur. Hidup Kirana benar-benar hancur tak bersisa.
Di dalam kegelapan itu, air mata Kirana sudah mengering. Ia merasa jiwanya telah tercabut dari raganya, menyisakan seonggok daging yang bernapas tanpa arti. Di tempat ini, tidak ada hukum, tidak ada keadilan, dan tidak ada Tuhan yang mendengar rintihannya.
Ibu... kenapa Kirana tidak mati saja malam itu bersama Ibu? batinnya meratap dalam kehampaan yang teramat pekat.
Satu-satunya hal yang menahan sisa kesadaran Kirana agar tidak melompat ke jurang kegilaan adalah bayangan wajah Danu dan Larasati yang menangis di desa. Di tengah kehancuran total hidupnya, di sela rintihan rasa sakit dari tubuhnya yang dinodai secara keji setiap malam, sebuah sisa api kecil yang sangat beracun perlahan membakar reruntuhan jiwanya.
Jika dunia mengutuknya menjadi sampah, maka ia akan menjadi sampah paling beracun yang akan menyumbat tenggorokan Baskara dan Broto sampai mereka mati lemas. Rasa sakit ini telah membunuh Kirana yang dulu; kini yang tersisa hanyalah raga kosong yang sedang mengumpulkan kutukan untuk membalas dendam dengan cara yang jauh lebih biadab dari apa yang ia terima.