NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda"

Pagi di SMA Seiran datang dengan langit biru bersih tanpa awan. Matahari bersinar cukup hangat, tidak terlalu terik—sempurna untuk pelajaran olahraga di luar ruangan. Atau di dalam ruangan, tepatnya di gedung olahraga.

Lucy berjalan melewati gerbang sekolah dengan langkah ringan. Rambut hitam sebahu tidak lagi digerai atau diikat dengan pita. Hari ini dia mengikatnya menjadi ekor kuda tinggi, membiarkan beberapa helai kecil jatuh di samping telinganya. Kacamatanya? Tidak ada. Disimpan di dalam tas.

Dia masih menggunakan softlens hitam—itu belum waktunya dilepas. Tapi tanpa kacamata tebal yang dulu menjadi ciri khasnya, wajahnya terlihat berbeda. Lebih terbuka. Pipinya yang sedikit tembem—akibat kebanyakan makan tengah malam dan ngemil makanan instan—memberi kesan imut yang tidak bisa disembunyikan.

Beberapa murid menoleh saat dia lewat. Bisik-bisik kecil terdengar di sana-sini.

"Itu Lucy? Yang dulu kutu buku?"

"Rambutnya dipotong... kacamatanya dilepas... cantik juga ya?"

"Pipinya lucu banget. Kayak mochi."

Lucy mendengarnya. Tentu saja dia mendengarnya. Tapi dia hanya tersenyum kecil dan terus berjalan. Biarkan mereka bicara.

---

Di kelas 2-C, suasananya sudah ramai. Beberapa murid berkumpul di dekat papan pengumuman, membaca sesuatu dengan ekspresi campur aduk.

"BASKET?! SERIUSAN?!"

Suara itu berasal dari Yuki, salah satu gadis paling vokal di kelas. "Pelajaran olahraga hari ini basket?! Di gedung olahraga?! Kenapa nggak senam aja sih?!"

"Senam? Kamu kira kita masih SD?" sahut salah satu cowok sambil tertawa.

"BASKET ITU SUSAH TAHU!"

"Buat cewek-cewek mungkin. Buat kita sih gampang."

"KALIAN COWOK MAH ENAK!"

Lucy berjalan ke mejanya, meletakkan tas, dan duduk dengan tenang. Matanya sekilas melirik ke kursi Kaito Fujiwara. Kosong. Tapi itu tidak berlangsung lama—pintu kelas terbuka dan Kaito masuk bersama dua anggota Five Shadows. Langkahnya seperti biasa: santai, malas, sedikit angkuh.

Dia memakai jaket basket baru. Jaket yang berbeda dari yang dipinjamkannya pada Lucy malam itu. Matanya menyapu ruangan—dan berhenti sejenak saat melihat Lucy.

Lucy tidak menatapnya. Dia pura-pura sibuk dengan buku pelajarannya.

Bagus, pikir Kaito tanpa sadar. Dia tidak seperti yang lain.

Dia duduk di kursinya, dua baris di depan Lucy. Salah satu temannya—Riku—menepuk pundaknya. "Eh, Kaito. Lo ngeliatin siapa sih dari tadi? Jangan-jangan lo tertarik sama seseorang?"

Kaito tidak menjawab. Hanya melirik Riku dengan tatapan datar yang cukup untuk membuat Riku mengangkat kedua tangannya. "Oke, oke, becanda."

Tapi Riku tidak buta. Dia melihat ke mana mata Kaito tertuju tadi. Ke arah Lucy, gadis yang dulu tidak pernah diperhatikan siapa pun, tapi sekarang mulai berubah seperti kupu-kupu.

---

Pelajaran pertama dan kedua berlalu tanpa kejadian berarti. Begitu bel ketiga berbunyi, seluruh kelas 2-C bergerak ke gedung olahraga.

Gedung itu luas, dengan lantai kayu mengilap dan ring basket di kedua ujungnya. Guru olahraga—Pak Takeda, pria berotot dengan peluit di lehernya—berdiri di tengah lapangan.

"Baik! Hari ini kita akan belajar basket. Minggu depan adalah ujian praktik, jadi kalian harus bisa memasukkan bola ke ring minimal satu kali untuk lulus."

Suara protes langsung meledak.

"SATU BOLAA?! PAK, ITU SUSAH!"

"PAK, KAMI INI CEWEK! BUKAN ATLET!"

"BENER! MASA DISAMAIN SAMA COWOK?!"

Pak Takeda meniup peluitnya. Suara nyaring itu memotong semua protes. "Tidak ada pengecualian! Basket adalah bagian dari kurikulum. Kalian semua harus bisa. Sekarang, bagi diri menjadi tim dan mulai latihan!"

Lucy tersenyum kecil. Basket. Menarik.

Dia berjalan ke salah satu ring bersama dua orang gadis yang dulu sering duduk di dekatnya—Saki dan Emi. Dua orang teman asli pemilik tubuh ini, yang tidak pernah ikut membully, tapi juga tidak pernah cukup berani untuk membela.

"Lucy!" Saki melambai. "Ayo satu tim! Kita bisa latihan bareng!"

"Kamu sekarang udah beda banget sih," tambah Emi, menatap Lucy dari atas ke bawah. "Rambut, muka, semuanya. Aku hampir nggak kenal."

Lucy tersenyum tipis. "Aku cuma... mulai merawat diri."

"Hasilnya keren! Kamu keliatan imut banget sekarang. Apalagi pipi kamu—" Saki mencubit pipi Lucy pelan. "—tembem gini. Gemesin!"

Lucy mengerjap. Pipinya memang sedikit lebih berisi sekarang. Efek samping dari terlalu banyak makan mi kuah, ayam goreng, udang keju, dan segala makanan manusia yang dia beli tengah malam. Tapi sepertinya itu malah menambah daya tariknya.

"Makasih," katanya. "Ayo, kita latihan."

Mereka bertiga mulai melempar bola ke ring. Atau lebih tepatnya, mencoba. Saki melempar—bola membentur papan dan memantul kembali. Emi melempar—bolanya bahkan tidak menyentuh ring. Lucy melempar—bolanya melambung terlalu tinggi dan jatuh di sisi lain.

"Susaaah!" keluh Saki.

Lucy menatap ring itu. Sebenarnya, dia bisa memasukkan bola dengan mudah. Dengan kekuatan ilahinya, dia bahkan bisa membuat bola itu terbang sendiri ke dalam ring. Tapi itu bukan intinya. Intinya adalah—

Dia melirik ke sisi lain gedung.

Kaito Fujiwara sedang berlatih bersama teman-temannya. Lemparannya sempurna—setiap bola yang dia lepaskan selalu masuk tanpa menyentuh papan. Gerakannya fluid, alami, seperti dia dilahirkan dengan bola basket di tangannya.

Di sanalah targetku, pikir Lucy. Tapi bukan sekarang. Nanti.

Saat itulah, Kaito menoleh. Mata mereka bertemu sejenak. Lucy segera mengalihkan pandangannya, pura-pura fokus pada bolanya sendiri. Tapi dia tahu Kaito melihatnya. Dan dia tahu Kaito sedang memikirkan sesuatu.

Di sisi lain, Kaito memang sedang memikirkan sesuatu. Matanya hitam, pikirnya. Waktu itu biru. Apakah aku salah lihat?

"Kaito! Lo ngelamun!" Riku melempar bola ke arahnya. Kaito menangkapnya dengan satu tangan tanpa menoleh.

"Nggak."

"Bohong. Lo ngeliatin cewek itu lagi. Yang imut, pipi tembem, rambut ekor kuda."

"Apanya yang imut," gerutu Kaito.

"Oh, jadi lo ngaku ngeliatin dia?"

Kaito tidak menjawab. Dia malah menggiring bola dan melakukan dunk dengan keras, membuat ring bergetar.

Riku dan teman-teman lainnya saling pandang, lalu tertawa kecil. "Gila. Kaito yang anti perempuan... akhirnya tumbang juga."

---

Jam pelajaran berakhir, dan semua murid kembali ke kelas. Tapi Lucy tidak langsung pulang.

Dia sengaja berlama-lama di kelas, membereskan bukunya dengan lambat, menunggu sampai sebagian besar murid pergi. Lalu dia berjalan ke gedung olahraga lagi. Kali ini sendirian.

Gedung olahraga sudah sepi. Tapi tidak sepenuhnya kosong.

Di sudut, Kaito Fujiwara sedang memegang sapu. Hukuman dari Pak Takeda karena tidak hadir di jam pelajaran sebelumnya—sesuatu yang Lucy sudah duga, karena dia memang sengaja memperhatikan jadwal Kaito selama ini.

Sempurna, pikirnya.

Dia mengambil bola basket dari rak, lalu berjalan ke salah satu ring. Dia mulai melempar. Gagal. Lagi. Gagal. Lagi. Gagal.

Kali ini, beberapa lemparannya benar-benar sengaja dibuat buruk.

Kaito mendengar suara bola memantul. Dia menoleh. Di bawah ring, Lucy sedang berusaha memasukkan bola. Caranya salah total—pergelangan tangannya kaku, posisi kakinya tidak seimbang, dan bola selalu melenceng ke kiri.

Bodoh sekali caranya, pikir Kaito.

Tapi dia tidak bisa berhenti menatap.

Gadis itu mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi. Setiap kali gagal, dia menghentakkan kakinya dengan kesal. Pipinya menggembung, bibirnya manyun, dan dia bahkan menunjuk-nunjuk ring basket itu sambil mengomel.

"Dasar ring jelek! Bola jelek! Semua jelek!"

Kaito hampir tersedak. Apa dia barusan memaki ring basket?

Lucy mengambil bola lagi, kali ini dengan ekspresi yang sangat serius. "Kau lihat ya, ring sialan. Kali ini aku pasti masuk. Kalau nggak, aku hancurkan kau."

Kaito tidak bisa menahan diri. Kakinya bergerak sendiri, mendekati gadis itu.

"Caramu salah."

Lucy tersentak, berbalik dengan ekspresi terkejut—akting sempurna. "Eh?! Ka-Kaito?!"

Dia pura-pura gugup, memegang bola basket di depan dadanya seperti perisai. "A-aku... aku cuma latihan... untuk ujian..."

"Itu bukan cara melempar yang benar." Kaito memasukkan tangannya ke saku jaket.

Lucy cemberut. "Yaudah sih. Aku kan nggak bisa."

"Makanya, caramu salah."

"Terus?! Memangnya kau mau bantu?!" Lucy menatapnya dengan mata menyipit.

Kaito terdiam. Biasanya, dia akan langsung pergi. Tapi ada sesuatu tentang gadis ini yang membuatnya tetap di tempat.

"Baiklah," katanya akhirnya.

Mata Lucy langsung berbinar. Berbinar sungguhan—bukan akting. "Serius?! Kau serius mau bantu aku?!"

"Hm."

"Idih, sok cool banget ni orang satu. Dia pikir dia karakter novel apa," batin Lucy, sedikit kesal dengan jawaban singkat itu. Tapi di luar, dia tersenyum lebar.

"Yaudah, ayo! Sebelum malam, nanti kita dikurung satpam!" Tanpa pikir panjang, Lucy menarik tangan Kaito dan membawanya ke posisi yang benar di depan ring.

Kaito menatap tangan mereka yang saling menyentuh. Tangan Lucy kecil, lembut, kontras dengan tangannya yang kasar dan besar. Ada sesuatu yang aneh di dadanya—sesuatu yang tidak dia kenali.

Lalu tangan itu terlepas. Dan dia merasa... kosong.

"Ayo, jangan bengong doang!" Lucy menepuk bahunya. "Kemasukan setan kau baru tau rasa!"

Kaito tersadar. Dia menggelengkan kepalanya pelan, memasukkan tangannya kembali ke saku jaket. "Pertama, pegang bola dengan benar. Bukan seperti itu."

Lucy melihat bola di tangannya, lalu mengikuti instruksinya. Tapi tetap saja, lemparannya melenceng. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Dan kali ini, beberapa kegagalannya benar-benar asli. Bukan akting.

"ARRRGH!" Lucy menghentakkan kakinya. "DASAR BOLA SIALAN! RING SIALAN! KALIAN KERJA SAMA NGECEWAIN AKU YA?!"

Kaito menatapnya. Gadis ini—yang beberapa malam lalu terlihat misterius dengan mata biru dan tangan yang membersihkan lukanya dengan cekatan—sekarang sedang memaki bola basket seperti anak kecil yang tidak diberi permen. Kontrasnya terlalu lucu.

Sudut bibirnya tertarik ke atas.

Lucy melihatnya. "Apa? Mau ketawa?! Jangan ketawa deh! Kalau nggak mau ngajarin, ya udah!"

Dia cemberut. Pipinya menggembung seperti ikan buntal. Kaito menatapnya, dan bukannya merasa jijik, dia justru merasa... gemas.

Gemaskah? Dia bahkan tidak tahu kata itu ada dalam kamusnya.

Dia berdehem, menahan tawa dengan susah payah. "Kemarilah. Biar aku yang mengajari."

Dia mengambil bola, lalu berjalan ke belakang Lucy. Tangannya diletakkan di kedua tangan Lucy, dengan bola di antara mereka. Posisinya seperti memeluk dari belakang.

Lucy bisa merasakan tubuh Kaito di belakangnya. Otot perutnya yang keras—mungkin dia punya six-pack, khas atlet basket. Aroma kayu cendana dari tubuhnya, maskulin dan hangat. Dan jiwanya... jiwanya begitu dekat, begitu kuat, begitu—

Makanan penutup yang sempurna, pikir Lucy, menjilati bibirnya dalam hati. Tapi belum waktunya.

"Arahkan sikumu. Fokus pada titik di atas ring. Lalu lepaskan dengan pergelangan tangan, bukan lengan," suara Kaito di telinganya.

Dia membimbing tangan Lucy. Bola melambung—dan masuk.

"MASUK!" Lucy melompat-lompat kegirangan, benar-benar melupakan identitasnya sebagai Dewi. "AKU MASUK! KAU LIHAT?! MASUK!"

Tanpa berpikir, dia berbalik dan memeluk Kaito.

Kaito membeku.

Seluruh tubuhnya kaku. Tangannya di samping tubuhnya, tidak tahu harus diletakkan di mana. Ini pertama kalinya—pertama kalinya dalam hidupnya—seorang gadis memeluknya dengan tulus. Bukan karena dia Kaito Fujiwara sang ketua basket. Bukan karena dia pewaris keluarga kaya. Tapi karena... bola basket masuk ke ring.

Ini... aneh, pikirnya. Tapi... tidak buruk.

Perlahan, dia mengangkat tangannya, berniat membalas pelukan itu—

Brak.

Pintu gedung olahraga terbuka. "KALIAN! SUDAH MALAM! GEDUNG MAU DIKUNCI!"

Lucy langsung melepaskan pelukannya. Wajahnya merah padam—akting, tapi juga sedikit malu karena hampir kehilangan kendali.

"Baik, Pak! Kami segera keluar!" serunya pada satpam.

Dia berbalik, mengambil tasnya, lalu mengambil tas Kaito juga. "Ayo! Sebelum kita dikurung beneran!"

Dia menarik tangan Kaito lagi dan membawanya keluar dari gedung olahraga. Tangan kecilnya menggenggam tangan Kaito yang besar, dan Kaito... Kaito hanya membiarkannya.

---

Di luar, langit sudah berwarna jingga gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Lucy melepaskan tangannya begitu mereka sampai di gerbang sekolah, lalu berbalik.

"Terima kasih untuk hari ini."

Kaito berdehem. "Hm."

"Dasar cowok aneh. Jawabannya 'hm' terus," batin Lucy. Tapi di luar, dia hanya tersenyum.

"Aku pulang sekarang. Sampai jumpa—"

"Tunggu."

Lucy berhenti. "Kenapa?"

Kaito membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Ada perang dalam dirinya—antara kebiasaannya menolak semua perempuan dan keinginan aneh untuk tidak membiarkan gadis ini pergi dulu.

"Mau... pulang bareng?"

Lucy menatapnya, pura-pura terkejut. "Tapi... aku udah ngerepotin kamu ngajarin basket. Masa pulang bareng juga?"

"Nggak masalah."

"Tapi—"

"Nggak masalah."

Lucy terkekeh. "Baiklah, kalau begitu. Ayo pergi."

Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar yang mulai gelap. Tidak banyak bicara. Tapi keheningannya tidak canggung—lebih seperti nyaman. Sesekali Lucy melirik Kaito, dan setiap kali dia melakukannya, Kaito selalu menatap lurus ke depan. Tapi Lucy tahu dia menyadarinya.

Saat mereka sampai di depan apartemen Lucy, Kaito berhenti. "Aku pulang."

"Tunggu sebentar." Lucy masuk ke apartemennya, lalu keluar lagi dengan dua benda di tangannya. "Ini jaketmu. Sudah kucuci."

Kaito mengambil jaket itu. Bersih. Wangi. Detergen murah, tapi entah kenapa aromanya menyenangkan.

"Dan ini..." Lucy menyodorkan susu kotak rasa stroberi. "Untuk ucapan terima kasih. Aku nggak tahu kau suka apa, jadi aku kasih yang jadi favoritku."

Kaito menatap susu kotak itu. Stroberi. Manis. Gadis ini memberinya susu stroberi.

"Terima kasih," katanya. Kata-kata itu terasa asing di lidahnya.

Lucy tersenyum—senyum kecil yang manis—lalu masuk ke apartemennya dan menutup pintu.

Kaito berdiri di sana selama beberapa detik. Menatap pintu yang tertutup. Lalu ke jaket di tangannya. Lalu ke susu kotak di tangannya yang lain.

Dan dia tersenyum. Senyum kecil. Tapi tulus.

---

Di dalam apartemen, Lucy menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. "AHHH! Melelahkan!"

Lili muncul dari balik tumpukan bantal. "Rasa suka antagonis pria naik 10%. Sekarang total 40%."

"Hah?" Lucy mengangkat kepalanya. "Baru 40%? Setelah semua itu?"

"Itu sudah sangat bagus untuk seseorang yang sebelumnya membenci semua perempuan."

"Ya, ya." Lucy berdiri, meregangkan tubuhnya. "Antagonis pria ternyata cukup mudah didekati. Lebih mudah dari protagonis pria, malah. Ren terlalu dingin."

"Itu karena Kaito butuh seseorang yang tulus. Dan aktingmu sebagai gadis yang tidak peduli padanya berhasil."

"Aku tahu." Lucy tersenyum, lalu berjalan ke kamar mandi.

Air hangat menyegarkan tubuhnya. Saat dia keluar dengan gaun tidur hitam yang jatuh di atas lutut, rambutnya setengah basah. Dia duduk di depan cermin dan mulai mengeringkannya.

Lalu dia berhenti.

Di antara helaian hitam rambutnya, beberapa helai sudah berubah warna menjadi biru—biru asli tubuh ini, biru yang sama dengan rambut Dewi Rubah. Cat hitamnya mulai memudar.

Sepertinya lebih cepat dari yang kuduga, pikir Lucy. Tidak apa-apa. Aku bisa mulai menunjukkan warna asliku sedikit demi sedikit.

Matanya juga biru malam ini. Tanpa softlens. Biru permata yang dalam, berkilau di bawah lampu kamar.

Tubuh ini juga sudah mulai berubah, dia memperhatikan dirinya di cermin. Dulu, tubuh ini kurus kering, nyaris malnutrisi. Tapi sekarang, dengan makanan bergizi dan ramuan dari kastilnya, tubuhnya mulai ideal. Lengannya tidak lagi seperti lidi. Pipinya sedikit tembem. Bahkan lekuk tubuhnya mulai terlihat di balik gaun tidur.

Dia tampak seperti dirinya sendiri. Atau setidaknya, versi samar dari dirinya.

Beep.

Ponselnya menyala. Sebuah pesan masuk.

Ren: "Apa kabar?"

Lucy menatap layar itu. Ren Arisugawa, protagonis pria yang dingin, tiba-tiba mengiriminya pesan?

Oh, benar, pikirnya. Aku tidak melihatnya hari ini.

"Lili, di mana Ren?"

"Olimpiade di luar negeri," jawab Lili. "Dia akan kembali dua hari lagi."

"Jadi dua hari ini dia tidak ada di sekolah..." Lucy tersenyum. "Waktu yang tepat untuk mendekatkan diri dengan Kaito."

Dia mulai mengetik balasan.

Lucy: "Baik. Jaga kesehatan ya. Jangan lupa makan. Kalau capek, istirahat dulu. Jangan dipaksain."

Dia menatap pesannya sendiri dan merasa geli. Manis sekali. Aku sendiri tidak tahan membacanya.

Ren: "Baiklah."

Singkat. Dingin. Tapi...

"Rasa suka protagonis pria naik 2%," lapor Lili. "Sekarang 32%. Dia merasa senang dengan pesanmu."

Lucy terkekeh. "Protagonis pria ini... cukup manis sebenarnya. Di balik semua es itu."

Dia meregangkan tubuhnya, lalu merebahkan diri di atas kasur. Matanya menatap langit-langit yang retak.

"Jadi," gumamnya, "Ren kembali dua hari lagi. Aku harus memanfaatkan waktu sebelum dia kembali untuk menaikkan presentase Kaito. Lalu saat Ren kembali..." Dia menyeringai. "Aku akan memainkan mereka berdua."

"Kau jahat."

"Aku Dewi, Lili. Bukan manusia." Lucy menarik selimutnya. "Aku tidak terikat aturan moral manusia. Aku hanya ingin bersenang-senang."

Dia menutup matanya.

"Dan bersenang-senang... baru saja dimulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!