Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
"Lo emang istri gue, Tapi jangan pernah lupa kalo gue nikahin Lo hanya untuk Maura!" Dilan menatap pada Ana yang juga menatap malas ke arahnya.
"It's okee, Gue tidak akan pernah lupa. dan loe juga harus ingat kalo gue juga mau nikah sama lo juga karna terpaksa!" balas Ana tak kalah pedas.
Berawal dari pernikahan kontrak yang saling menguntungkan, Dilan dan Ana membangun rumah tangga tanpa dasar cinta. Dilan yang ingin memberikan sosok ibu untuk Maura, begitu juga dengan Ana terpaksa menerima tawaran Dilan karna butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya. kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? temani author melanjutkan kisah ini yuk
Update rutin setiap hari Rabu dan jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Hana
"Iyakan, Ma? malam ini om Arka juga ganteng banget" celoteh Maura sambil menoleh sebentar sama Hana yang ada di samping Arka.
"Iya, bener kata Maura, Kak. malam ini kak Arka kelihatan lebih dewasa dan lebih dari pada biasanya" ucap Hana yang berhasil membuat hati Arka berdegup kencang tak karuan. apa itu artinya Hana mengatakan jika Arka tampan? entahlah, tapi harus Arka akui jika kalimat Hana tadi sempat membuat nya salah tingkah.
"Muka om Arka kok merah, panas lagi. om Arka sakit?" kata Maura yang memecahkan keheningan antara Hana dan Arka yang sama-sama terdiam untuk beberapa saat. gadis kecil itu meletakkan tangannya pada kening Arka karna merasakan hawa panas dari tubuh pria tersebut.
"Hah, ah nggak kok, sayang. mana ada om Arka sakit."
"yang bener om Arka gak sakit? kalo om Arka sakit mending kita pulang aja, iya kan ma?"
Hana yang menyadari jika Arka salah tingkah karna ucapannya langsung mengambil alih Maura dari gendongan Arka.
"Om Arka gak sakit, sayang. lebih baik kita masuk sekarang aja ya, kayaknya acara juga sudah mau di mulai"
Halaman Villa itu memang sudah terlihat penuh dengan tamu undangan yang terus berdatangan, Hana juga sudah menyadari jika Dilan dan Monica sudah sampai sejak tadi. oleh karena itu, Hana sengaja mengeraskan suaranya ketika memuji Arka beberapa saat yang lalu.
"Yok kak kita kesana, suasana disini terlalu panas" Hana menarik tangan Arka dan memilih pergi dari tempat itu. Arka yang menyadari raut wajah Hana langsung mengedarkan pandangannya sebentar, dan benar saja, tak jauh dari tempat mereka ternyata ada Dilan dan Monica. si bucin akut lagi memperhatikan tangan Hana yang menggenggam jari Arka tanpa menghiraukan keberadaan pria tersebut.
Arka menatap Dilan dan memperhatikan genggaman tangan Hana seakan memperhatikan jika Hana dan Maura sekarang adalah miliknya.
"Brengsek! apa maksud dia seperti itu?" gumam Dilan dalam hatinya, muka yang tadi sempat bersinar dan penuh dengan senyuman itu kini sudah berubah seratus persen. seakan Dilan sudah tidak mood ada di dalam pesta itu lagi.
Tatapannya terus fokus memperhatikan Arka dan Hana yang semakin terlihat seperti pasangan yang romantis. "Apa-apaan mereka!" batinnya lagi.
Monica yang menyadari perubahan raut wajah Dilan tentu saja timbul pertanyaan besar, ada apa dengan Dilan? bukankah beberapa saat yang lalu dia yang paling antusias datang ke pesta ini? lalu kenapa sekarang wajahnya menjadi begitu berubah.
"Beb, kamu kenapa?" tanya Monica. Namun Dilan sama sekali tidak menggubris pertanyaan wanita itu. tatapannya masih fokus pada Hana dan Arka yang bercanda bersama. senyuman Hana malam ini bahkan tidak pernah Dilan lihat selama ini.
Monica mengerutkan keningnya kemudian mengikuti arah pandang Dilan, "Beb, kamu gak lagi cemburu sama mereka kan?" tanya Monica, namun Dilan sama sekali tidak menanggapi pertanyaan itu, tatapannya masih saja terus fokus pada Hana yang terlibat bersinar malam ini. mengenakan gaun dengan warna soft gray yang sangat lembut, ringan. menciptakan kesan tenang, halus, dan feminin tanpa terlihat dingin. sangat cocok dengan warna kulit Hana yang putih bersih. memberikan tampilan segar, dan elegan.
"Wah pak Arka, baru kali ini lho saya melihat anda membawa perempuan, cantik sekali. apa beliau ini kekasih anda atau?" tatapan orang tersebut berpaling pada Maura yang ada di gendongan Arka.
"Atau mereka anak dan istri pak Arka?" tanya pria paruh baya tersebut, salah satu kolega Arka dan juga Dilan.
Arka tidak memberikan jawaban yang pasti, pria itu hanya memberi senyuman hangat"doain saya ya, pak" balasnya sambil tersenyum.
mendengar itu tentu saja membuat Dilan semakin kesal dibuatnya, Dilan melepaskan genggaman tangan Monica dan berniat mendatangi Hana dan Arka, Namun, langkahnya terhenti karna tiba-tiba saja seorang pelayan menabrak Dilan dan membuat pakaian pria tersebut basah kuyup.
"Ahhhh sial, mimpi apa sih semalam gue" batinnya sambil menahan amarah. sekali lagi Dilan menoleh ke arah Hana dan Arka yang masih terlihat seperti keluarga cemara. setelah itu beranjak pergi meninggalkan pesta.
tanpa terasa waktu terus bergulir, jam ditangan Arka juga sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. pria itu melirik Hana dan Maura yang sudah duduk dan selesai menikmati jamuan yang Arka ambilkan beberapa saat yang lalu.
"sudah selesai makannya?" tanya Arka ketika menghampiri keduanya.
"sudah, kita bisa pulang sekarang kan kak? kayaknya ini Maura sudah mulai mengantuk" balas Hana pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ditempat yang berbeda, saat ini Dilan sedang mondar mandir gak jelas di depan pintu rumahnya. perasaannya tidak menentu ketika mengingat kalimat Arka tadi.
"jam segini mereka belum pulang juga? awas saja nanti kalau sudah pulang" ucapnya kesal. berulang kali Dilan menatap jam tangan itu. hingga tak berselang lama sebuah mobil sedan hitam memasuki halaman rumahnya. ya, mobil tersebut adalah mobil Arka. Hana dan Arka baru saja tiba di tempat Dilan.
Entah kenapa melihat Arka memberikan perhatian lebih terhadap Hana membuat Dilan merasa tidak suka, ada sesuatu yang bergejolak dari dalam hatinya. apa mungkin Dilan cemburu? atau hanya perasaan sementara yang membuatnya kesal?
Hana dan Arka mengabaikan keberadaan Dilan yang berdiri di depan pintu rumah tersebut. mereka berdua melewatinya seakan disana tidak ada siapa-siapa. Arka menggendong Maura yang sudah terlelap dalam tidurnya, dan Hana mengekor di belakang Arka sambil membawa tas juga beberapa barang yang dibelikan oleh Arka ketika di dalam perjalanan pulang.
hal tersebut tentu saja semakin membuat Dilan kesal dibuatnya. bagaimana bisa pemilik rumah diabaikan dan tidak dianggap ada seperti itu?
"Bagus ya, sekarang kamu sudah mulai berani pergi dan pulang larut tanpa pamit sama aku" ucap Dilan memecah keheningan setelah kepergian Arka.
Hana diam, gadis itu hanya mengambil segelas air putih dingin dari lemari es. cuek dan tak seperti Hana yang Dilan kenal selama ini.
"dengar ya, Hana. biar bagaimanapun aku ini masih suamimu. apa pantas kamu pergi bersama dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuan ku?"
"apalagi kamu perginya membawa Maura"
"aku gak suka kamu bawa-bawa anak aku untuk selingkuh" ucap Dilan lagi.
Hana yang sejak tadi hanya diam kini meletakkan gelas itu di atas meja makan, tatapannya fokus pada Dilan yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya. menatap Dilan dengan tatapan dingin serta acuh tak acuh.
"apa kmu bilang? istri? aku gak salah denger? sejak kapan kamu anggap aku istri?"
"dan tolong jangan samakan gue sama Lo, gue pergi sama kak Arka ke pesta bukan untuk berselingkuh. ingat baik-baik, gue gak sama kayak Lo" ucapnya dingin. tidak ada lagi kehangatan dari sorot mata Hana. kehangatan yang selama dua tahun terakhir ini Dilan dapatkan dari Hana kini sudah hilang.
"dan satu lagi, gue harap lo masih ingat sama ucapan lo kemaren. KITA HANYA ORANG ASING YANG TIDAK PERLU IKUT CAMPUR URUSAN MASING-MASING" ucap Hana dengan tatapan dinginnya kemudian beranjak pergi dari tempat itu, meninggalkan Dilan yang masih diam membisu seakan mencerna kalimat yang Hana ucapkan.
Dilan cukup terkejut dengan perubahan Hana yang begitu jauh. sama sekali tidak ada lagi kehangatan yang terpancar dari kedua sorot matanya.
"nggak, dia bukan Hana yang gue kenal kan? dia pasti orang lain. Hana yang gue kenal gak kek gitu orangnya" ucap Dilan pelan sambil terus menatap punggung Hana yang semakin hilang dibalik tembok.
Tapi Hana tidak merasakan itu, hatinya kerap terluka karena cintanya yang tanpa sadar tumbuh untuk Dilan, sang suami kontrak yang hanya menganggapnya hanya orang asing.
Apakan Hana akan mempertahankan cintanya atau memilih pergi...