NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.

​Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.

​Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

​Dari balik celah bebatuan besar di mulut terowongan bawah tanah, Zei menajamkan pandangannya untuk menganalisis situasi di dataran hijau luar.

​Karavan yang sedang dikepung itu mengibarkan bendera hijau muda bersulam simbol pusaran angin—lambang dari Asosiasi Dagang Angin Sejuk, salah satu faksi ekonomi netral terbesar di Ibu Kota Wilayah.

​Di tengah kecamuk pertempuran, seorang wanita muda mengenakan pakaian zirah kulit ringkas berwarna perak bertarung mati-matian di depan kereta logistik utama. Wanita itu, Lin Xiao, mengayunkan sepasang belati ganda berlapis Qi angin untuk menahan gempuran tiga murid Sekte Taring Emas sekaligus.

​Kereta di belakangnya memancarkan aroma harum yang sangat pekat; muatan penuh tanaman obat langka yang tampaknya menjadi alasan mengapa unit patroli Sekte Taring Emas ini melakukan perampokan di batas kota.

​"Zei, jumlah mereka belasan, tapi sebagian besar hanya murid biasa tingkat rendah. Yang berbahaya adalah pria berjubah emas tebal di dekat kereta itu," bisik A-Lang, menunjuk seorang pria paruh baya berkumis melintang yang memegang pedang besar berenergi logam tajam.

​Zei mengepalkan kedua tangannya yang terbungkus Sarung Tangan Penghancur Gunung. Ia tahu ia belum cukup kuat untuk menantang seluruh Sekte Taring Emas. Namun, kelompok di depannya hanyalah unit patroli kecil.

​Mengingat pesan terakhir Xuan Yuan dan fakta bahwa ia membutuhkan identitas serta perlindungan untuk masuk ke Ibu Kota Wilayah, menyelamatkan asosiasi dagang ini adalah peluang taktis terbaik.

​"A-Lang, menyelinaplah lewat semak-semak kiri. Amankan kuda-kuda karavan dan siapkan rute pelarian. Begitu aku bergerak, kau beri isyarat pada para pengawal yang tersisa," perintah Zei dengan nada dingin yang sarat kepemimpinan.

​"Dimengerti." A-Lang melesat tanpa suara, menyatu dengan vegetasi hijau berkat kelincahan elemen kayunya.

​Di lapangan terbuka, kondisi Lin Xiao kian mendesak. Sabetan pedang besar sang Kapten Taring Emas memicu gelombang energi logam keemasan yang menghantam dada Lin Xiao hingga wanita itu terlempar, mendarat keras di atas tanah dengan belati yang terlepas dari genggamannya.

​Sang kapten berjalan mendekat, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dengan seringai kejam.

​"Berakhir di sini, Nona Lin. Barang-barang ini milik Sekte Taring Emas sekarang," raung sang kapten, mengayunkan pedangnya ke bawah.

​BOOMMM!

​Tepat sebelum bilah pedang itu menyentuh leher Lin Xiao, sebuah bayangan cokelat keemasan melesat dari arah tebing batu, mendarat tepat di antara Lin Xiao dan sang kapten. Benturan kaki Zei dengan tanah memicu getaran hebat yang menjalar di permukaan bumi.

​Sembilan Transformasi: Riak Gempa!

​Zei menghantamkan kepalan tangan kanannya yang terbungkus besi hitam ke atas tanah. Gelombang Qi bumi yang sangat padat merembes ke dalam tanah, membuat permukaan rumput di bawah kaki para murid Taring Emas mendadak pecah bergelombang seperti ombak laut.

​Kuda-kuda elemen logam mereka yang biasanya kokoh seketika kacau balau, membuat beberapa murid terjungkal kehilangan keseimbangan.

​Kapten Taring Emas melompat mundur untuk menstabilkan posisinya, matanya menatap Zei dengan kilatan murka. "Siapa kau?! Berani sekali mencampuri urusan Sekte Taring Emas!"

​"Hanya seorang lewat yang muak melihat anjing berbaju emas," jawab Zei datar, memasang kuda-kuda rendah.

​"Mencari mati!" Kapten itu meraung, mengalirkan seluruh Qi elemen logamnya ke bilah pedang hingga memancarkan kilauan emas yang amat tajam.

​Ia menerjang maju, melepaskan tebasan horizontal yang mampu membelah pohon besar menjadi dua.

​Secara hukum alam, logam adalah elemen yang digali dari dalam bumi, namun logam yang tajam mampu menusuk dan merusak tanah. Menghadapi tebasan tajam tersebut, Zei tidak mundur.

​Mengingat teori kompresi dari Xuan Yuan, Zei mengangkat tangan kirinya yang dilapisi Sarung Tangan Penghancur Gunung, bergerak menyambut mata pedang emas itu secara langsung dengan telapak tangan terbuka.

​KRENGGGGG!

​Suara benturan logam dan besi hitam bergema memekakkan telinga. Percikan api tebal memercik di antara keduanya. Lin Xiao yang melihat dari belakang menahan napas, mengira tangan pemuda misterius itu akan putus.

​Namun, telapak tangan Zei yang dibungkus sarung tangan warisan justru mencengkeram erat mata pedang besar tersebut.

​Zei mengaktifkan kompresi bumi ekstrem melalui jarinya, memanipulasi kerapatan partikel tanah untuk "menelan" dan mengunci energi logam tajam lawan. Ketajaman pedang sang kapten seketika tumpul, energinya terserap masuk ke dalam beratnya massa sarung tangan Zei.

​"Bagaimana mungkin?!" sang kapten membelalak panik, mencoba menarik pedangnya namun terasa seperti tertanam di dalam akar gunung.

​"Giliranku," ucap Zei dingin.

​Dengan satu langkah maju yang kokoh, Zei melayangkan tinju kanannya yang bebas langsung ke arah dada sang kapten. Tinju Membajak Bumi yang dilesakkan jarak dekat, dikombinasikan dengan berat massa Sarung Tangan Penghancur Gunung, menghasilkan daya hancur yang luar biasa.

​BRRAKKKK!

​Zirah besi tebal yang dikenakan sang kapten seketika retak seribu. Pria paruh baya itu memuntahkan darah segar berkepanjangan sebelum akhirnya terlempar sejauh sepuluh meter, menghantam kereta logistik hingga hancur berantakan. Ia pingsan seketika dengan kondisi dada yang cekung ke dalam.

​Melihat pemimpin mereka tumbang dalam satu gerakan, sisa murid Sekte Taring Emas didera kepanikan massal.

​Pada saat yang sama, A-Lang melepaskan siulan nyaring dari arah semak-semak, memicu sisa pengawal karavan untuk bangkit kembali dan mendesak mundur para penyerang yang tersisa.

​"Kita harus pergi sekarang! Sinyal suar darurat mereka mungkin sudah terpicu secara otomatis!" seru Zei, berbalik dan membantu Lin Xiao untuk bangkit berdiri.

​Lin Xiao menatap Zei dengan tatapan yang sarat akan rasa kagum dan hormat yang mendalam. Ia segera memerintahkan pengawalnya yang tersisa untuk memacu kuda-kuda karavan melewati jalur alternatif di sela-sela perbukitan yang telah diamankan oleh A-Lang sebelumnya.

​Setelah menjauh beberapa mil dari lokasi pertempuran dan memastikan tidak ada pengejaran, karavan berhenti di sebuah pos peristirahatan tersembunyi di bawah kaki bukit. Lin Xiao melangkah mendekati Zei dan A-Lang, lalu membungkuk hormat dengan sangat khidmat.

​"Saya Lin Xiao dari Asosiasi Dagang Angin Sejuk. Bantuan dari pahlawan berdua hari ini telah menyelamatkan nyawa kami dan aset terpenting asosiasi," ucapnya tulus.

​Wanita itu kemudian merogoh kantong bajunya, mengeluarkan sebuah lempengan giok hijau berbentuk pusaran angin yang memancarkan aura lembut.

​"Ini adalah Token Giok Angin Sejuk. Di Ibu Kota Wilayah, token ini akan memberikan kalian akses masuk bebas tanpa pemeriksaan ketat di gerbang utama, serta hak perlindungan identitas di seluruh penginapan milik asosiasi kami."

​Zei menerima token giok hangat tersebut dengan senyuman tipis. "Terima kasih, Nona Lin. Ini sangat kami butuhkan."

​Satu jam kemudian, Zei dan A-Lang berdiri di puncak bukit kecil terakhir sebelum batas wilayah luar kota.

​Di depan mata mereka, membentang pemandangan tembok raksasa berwarna abu-abu pekat setinggi puluhan meter yang mengitari Ibu Kota Wilayah yang luar biasa megah. Istana-istana megah dan menara sekte yang menjulang tinggi tampak menembus awan di kejauhan, berkilau di bawah siraman sinar matahari senja.

​Zei menggenggam token dagang di kantongnya, sementara tangan kanannya merasakan tekstur kokoh dari sarung tangan warisan Sekte Bumi Suci.

​Anak petani dari Desa Danau Keruh yang dulunya hanya bisa menatap lumpur sawah, kini berdiri di ambang gerbang pusat kekuasaan dunia kultivasi luar.

1
yulius hans
kok ngak tamat sich
Mamat Stone
sehat dan sukses selalu Thor 💪💪💪
Danzo28: aminnn
terimakasih ya
selanjutnya
sehat selalu 🥳🥳
total 1 replies
Mamat Stone
🤔
Mamat Stone
/Determined//Determined//Determined/
Mamat Stone
/Angry//Angry//Angry/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
😈/Determined/😈
Mamat Stone
😈/Angry/😈
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
buktikan merah Mu Jagoan Neon 😈
Mamat Stone
waktunya Jagoan Neon beraksi 😈
Mamat Stone
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!