Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Tanpa Kursi untuk Sang Pahlawan
Malam itu, Jakarta seolah memancarkan aura kemewahan yang tak tertandingi. Di pusat kota, gedung Grand Diamond Hotel—salah satu hotel bintang lima paling ikonik yang sering menjadi tempat berkumpulnya para elit—tampak benderang oleh lampu-lampu kristal raksasa. Karpet merah membentang dari lobi hingga ke depan pintu aula utama, menyambut para tamu yang hadir dalam "Gala Investasi Nasional 2026".
Bagi Rama Wijaya, acara ini adalah pelampung terakhirnya di tengah samudra keputusasaan. Setelah kehilangan dukungan logistik dari Bambang Prakoso—yang lebih memilih jet pribadi emas pemberian Rizky daripada persahabatan lama mereka—Rama kini benar-benar terpojok. Perusahaannya tidak memiliki mitra, tidak memiliki investor, dan bahkan tidak memiliki vendor kertas. Ia datang ke gala ini dengan setelan jas abu-abu tua yang tampak sedikit kusam di bawah cahaya lampu mewah, mencoba mempertahankan martabatnya sebagai "pahlawan" yang jujur dan visioner.
"Aku hanya butuh satu orang. Satu investor yang memiliki nyali untuk melawan monopoli Adhitya Group," gumam Rama sambil memegang segelas sampanye dengan tangan yang sedikit gemetar. Namun, pemandangan di dalam aula justru membuatnya semakin sesak. Setiap kali ia mendekati sebuah lingkaran pengusaha, mereka segera bubar seolah-olah Rama adalah pembawa wabah menular. Ini adalah efek dari strategi "Isolasi Ekonomi" yang dijalankan oleh Vanya Alister atas perintah Rizky.
Sementara itu, di sebuah iring-iringan Rolls-Royce yang dikawal oleh helikopter pribadi, Rizky Adhitya duduk dengan gaya periang di samping Aprillia Rahma. April, yang kini telah 100% jatuh cinta pada Rizky setelah insiden badai salju di Puncak Sultan, menyandarkan kepalanya di bahu Rizky dengan ekspresi tenang.
"Rizky, apa kita benar-benar harus pergi ke sana hanya untuk melihat Rama berdiri sendirian?" tanya April dengan nada lembut.
"Oh, tentu saja, April sayang! Hiburan terbaik adalah menonton sebuah drama yang naskahnya kita tulis sendiri dengan tinta emas," jawab Rizky sambil tertawa terbahak-bahak. Sebagai mantan penulis novel gagal, ia tahu betul bahwa antagonis yang sukses tidak hanya menghancurkan musuhnya secara finansial, tapi juga secara mental dan sosial.
Tiba-tiba, layar holografis biru muncul di depan mata Rizky.
[Ding! Misi Arc 4 Aktif: Perjamuan Tanpa Kursi!] [Tujuan: Rama Wijaya sedang mencari 'tempat berlabuh' di Gala Investasi. Hancurkan kenyamanannya secara total!] [Tugas 1: Gunakan 'Pesona Sultan' untuk memikat seluruh tamu dan investor.] [Tugas 2: Beli gedung hotel ini secara tunai dan tetapkan peraturan baru yang mendiskriminasi musuh.] [Tugas 3: Beli katering acara ini dan larang pramusaji melayani siapa pun bernama 'Rama'.] [Hadiah: Poin Hedon +150.000 dan Peningkatan Skill 'Otoritas Absolut' Level 4!]
"Hahaha! Sistem, kamu benar-benar tahu cara memperlakukan pahlawan munafik itu!" seru Rizky riang. Ia kemudian melirik Rafa Ariyanto yang duduk di kursi depan dengan wajah yang tampak seolah ia baru saja menelan jeruk nipis busuk.
"Rafa! Hubungi manajemen Grand Diamond Hotel sekarang. Katakan pada mereka aku ingin membeli gedung ini beserta isinya. Berikan penawaran sepuluh triliun rupiah. Jika mereka ragu, tambahkan lima triliun lagi sebagai uang tip untuk biaya kaget mereka!" perintah Rizky santai.
"Tuan Muda... sepuluh triliun untuk hotel yang nilai pasarnya hanya tiga triliun? Dan uang tip lima triliun?!" rintih Rafa sambil memegangi dahinya yang berdenyut kencang. "Kepalaku... saya rasa saya butuh asuransi kesehatan mental yang lebih besar dari gaji saya...".
"Jangan pelit, Rafa! Gunakan Kartu Hitam-ku!" Rizky menepuk bahu Rafa dengan keras, membuat asistennya itu hampir terjungkal.
Di dalam aula gala, Rama Wijaya akhirnya berhasil menyudutkan seorang investor properti di dekat meja katering. "Pak Gunawan, saya hanya butuh lima menit. Proyek teknologi hijau saya—"
"Maaf, Rama. Saya tidak bisa," potong Pak Gunawan dengan wajah ketakutan. "Saya baru saja mendapat kabar bahwa Adhitya Group sedang memantau acara ini. Jika saya bicara denganmu, besok perusahaan saya mungkin sudah berganti nama menjadi 'Adhitya Property Cabang Sekian'."
Tepat saat itu, pintu besar aula terbuka lebar. Seluruh percakapan di dalam ruangan terhenti seketika.
Rizky Adhitya melangkah masuk, dan seketika itu juga, Skill 'Pesona Sultan' teraktivasi secara otomatis. Cahaya lampu kristal seolah-olah hanya memantul pada dirinya. Setiap langkahnya memancarkan aura wibawa yang magnetis, membuat setiap mata di ruangan itu—pria maupun wanita—terpesona tanpa alasan yang logis. April berjalan di sampingnya, tampak seperti dewi yang melengkapi sang raja.
Rama Wijaya menggertakkan giginya. Ia merasa kehadirannya sebagai "protagonis asli" benar-benar tenggelam oleh kilauan yang dibawa Rizky.
Rizky tidak menuju ke panggung. Ia justru berjalan menuju meja registrasi dan mengambil mikrofon dari pembawa acara dengan gerakan yang sangat sopan namun dominan.
"Halo semuanya! Maaf mengganggu waktu makan malam kalian yang terlihat... umm, kurang mewah," ujar Rizky dengan nada periang. "Aku punya pengumuman kecil. Lima menit yang lalu, aku baru saja membeli gedung hotel ini beserta seluruh layanannya seharga lima belas triliun rupiah tunai menggunakan kartu hitamku."
Aula itu senyap sejenak, lalu meledak dalam bisik-bisik histeris. Membeli hotel bintang lima di tengah-tengah acara gala bukan lagi soal bisnis; itu adalah pernyataan kekuasaan yang gila.
"Dan sebagai pemilik baru," Rizky menyeringai lebar sambil menatap Rama yang berdiri di pojok ruangan. "Aku ingin menetapkan beberapa aturan baru untuk kenyamanan para tamuku yang berharga. Pertama, karena hotel ini sekarang adalah properti pribadiku, aku hanya ingin orang-orang berkualitas yang duduk di meja. Untuk individu bernama Rama Wijaya, aku melarangnya duduk di kursi manapun di dalam gedung ini. Dia harus tetap berdiri selama acara berlangsung sebagai bentuk 'pelatihan ketahanan pahlawan'."
Tawa kecil pecah dari beberapa sudut ruangan. Para pramusaji segera bergerak cepat. Di depan mata Rama, kursi yang berada di dekatnya ditarik menjauh oleh petugas hotel. Bahkan saat Rama mencoba menyandar pada pilar, petugas keamanan hotel mendekat dan memintanya untuk berdiri tegak sesuai instruksi pemilik baru.
Rama wajahnya merah padam. "Rizky! Ini keterlaluan! Ini adalah penghinaan terhadap hak asasi manusia!".
"Penghinaan? Tidak, Rama! Ini adalah 'eksklusivitas'!" jawab Rizky humoris. "Oh, dan satu lagi. Aku juga baru saja membeli seluruh layanan katering malam ini. Rafa, berikan perintahnya!".
Rafa, yang sudah pasrah dengan nasibnya sebagai asisten sultan gila, berdiri dengan tabletnya. "Instruksi dari pemilik: dilarang memberikan layanan makanan, minuman, bahkan setetes air mineral pun kepada siapa pun yang memiliki nama belakang 'Wijaya'. Siapa pun pramusaji yang melanggar, akan langsung dipecat dan masuk daftar hitam industri jasa selamanya."
Rama yang sejak tadi merasa haus mencoba meraih segelas air dari nampan pramusaji yang lewat. Namun, pramusaji itu dengan sigap menarik nampannya menjauh seolah-olah Rama adalah api yang panas.
"Maaf, Tuan Rama. Perintah Tuan Muda Rizky adalah hukum di hotel ini," ujar pramusaji itu dengan nada kaku namun penuh ketakutan.
Rama berdiri di tengah-tengah aula yang megah, dikelilingi oleh makanan lezat dan minuman mahal yang aromanya menggoda, namun ia tidak diperbolehkan menyentuh apa pun. Ia tidak bisa duduk, tidak bisa minum, dan tidak ada satu pun pengusaha yang berani menatap matanya. Ia benar-benar menjadi pria paling kesepian di seluruh negeri dalam sebuah perjamuan yang dihadiri ribuan orang.
Di meja utama, Rizky duduk dengan santai sambil menyuapi April buah stroberi berlapis cokelat emas. Vanya Alister berdiri di belakang mereka, memberikan laporan bahwa tiga investor yang tadi sempat didekati Rama kini sudah menandatangani kontrak eksklusif dengan Adhitya Group hanya agar mereka tidak senasib dengan Rama.
"Rafa, lihat dia!" Rizky tertawa sambil menunjuk ke arah Rama yang berdiri mematung seperti patung pajangan yang menyedihkan. "Dia terlihat sangat 'heroik' dengan perut keroncongan dan kaki yang pegal, bukan?".
Rafa hanya bisa menghela napas panjang. "Tuan Muda... Anda baru saja menghabiskan lima belas triliun hanya untuk membuat satu orang berdiri tanpa minum air putih. Saya rasa sejarah akan mencatat Anda sebagai pemilik hotel paling aneh di dunia...".
[Ding! Misi Perjamuan Tanpa Kursi Selesai!] [Rama Wijaya kehilangan martabat sosialnya di depan 500 investor papan atas!] [Hadiah: Poin Hedon +150.000!] [Skill 'Otoritas Absolut' Naik ke Level 4: Kata-kata Inang kini memiliki pengaruh hipnotis ringan bagi orang yang memiliki mental lemah!]
Rizky menyesap sampanyenya dengan puas. Baginya, menghancurkan pahlawan bukan tentang pertarungan fisik yang melelahkan, melainkan tentang menunjukkan bahwa di hadapan uang yang tidak terbatas, seorang "pahlawan" hanyalah seorang pria yang tidak punya tempat untuk duduk.
Arc kehancuran total berlanjut, dan Rizky Adhitya memastikan bahwa setiap langkah Rama di dunia bisnis ini akan selalu berakhir di lantai yang keras, tanpa kursi, dan tanpa harapan.