NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Makan Nasgor bareng

...

Asap mengepul tinggi dari permukaan wajan besi yang hitam legam, membawa aroma gurih kecap manis yang terbakar, bawang putih yang digerus kasar, dan lada bubuk yang menyengat hidung. Di bawah temaram lampu neon watt rendah yang dikerubuti laron, sebuah tenda kaki lima sederhana berdiri kokoh di atas trotoar yang retak. Suara bising knalpot angkutan umum dan deru truk kontainer yang melintas menuju pelabuhan menjadi musik latar yang tak pernah berhenti menemani malam di pinggiran Jakarta Utara.

Tania Sae Ning duduk di atas bangku plastik panjang berwarna merah yang agak bergoyang setiap kali dia menggeser posisi tubuhnya. Di hadapannya, seiring dengan bunyi ketukan sudit besi yang beradu dengan wajan ting, ting, tok dua piring nasi goreng gila dengan kepulan uap panas diletakkan secara kasar oleh sang penjual.

Di sebelah Tania, Rangga duduk dengan santai. Pria jangkung berlogat medok itu sudah melepas sebagian atribut kebersihannya, menyisakan kaus dalam hitam dan celana oranye yang kotor di bagian lutut. Wajahnya yang rupawan, dengan rahang yang tegas namun dihiasi senyum jenaka yang tak pernah pudar, tampak berkilat oleh sisa keringat setelah seharian menyapu aspal jalanan. Harus diakui, Rangga memiliki ketampanan khas lokal yang matang jenis wajah yang dengan mudah membuat para gadis remaja di pemukiman kumuh tersipu malu saat berpapasan dengannya. Namun, ketampanan itu berjalan seiring dengan reputasi buruknya yang gemar berganti pasangan.

"Nah, toh! Apa tak bilang tadi, Neng Tania? Nasi gorengnya Pak Kumis ini baunya aja udah bisa bikin perut keroncongan!" Rangga berseru riang, langsung menyambar sendok plastik putih dan mengaduk nasinya dengan antusias.

Pak Kumis, sang penjual nasi goreng yang memiliki kumis melintang tebal sewarna arang, menyeka keringat di lehernya dengan selembar handuk kecil yang sudah dekil. Pria paruh baya itu melirik Rangga, lalu pandangannya beralih pada Tania yang duduk tegak dengan punggung kaku. Senyum usil langsung terukir di wajah Pak Kumis.

"Halah, Ngga, Rangga... kamu ini gak ada kapok, ya?" Pak Kumis berteriak dari balik wajannya, suaranya serak khas perokok berat. "Minggu lalu bawa si Siti, tiga hari lalu bawa janda kembang sebelah pasar. Sekarang bawa lagi wanita yang berbeda! Semua yang kamu bawa ke sini emang cantik-cantik, tapi yang ini... Neng yang ini beda bener. Biar mukanya cemong-cemong begitu, auranya kayak nyonya besar, Ngga. Sangat cantik. Kamu dapet dari mana lagi yang begini?"

Mendengar godaan terang-terangan dari Pak Kumis, Rangga tidak menunjukkan semburat merah di pipinya. Dia justru tertawa renyah, seolah-olah reputasi playboy-nya yang tinggi adalah sebuah medali kehormatan yang patut dipamerkan. "Wah, Pak Kumis ini suka membongkar kartu as saya di depan calon masa depan. Ini namanya Tania, Pak. Rekan baru di sektor lingkar luar. Biar begini, saya ini tulus loh mau nemenin Eneng Tania adaptasi sama kerasnya Jakarta."

Tania mendengarkan percakapan itu dalam diam. Tangannya yang ramping memegang sendok dengan cengkeraman yang agak terlalu kuat refleks pertahanan diri yang belum sepenuhnya luntur. Cemongan arang di pipi dan dahinya telah sedikit memudar oleh keringat, menampilkan bercak kulit putih porselennya yang kontras di bawah cahaya neon.

Di dunia lamanya, jika ada seorang pria kelas bawah yang berani berkomentar tentang penampilan fisiknya atau membandingkannya dengan wanita lain secara kasual, pria itu dipastikan akan kehilangan lidahnya sebelum malam berakhir. Namun di sini, kata-kata itu hanyalah bagian dari lelucon malam yang hambar namun hidup.

Tania memandang Pak Kumis, lalu beralih pada Rangga yang sedang mengunyah kerupuk dengan lahap. Dia memaksa otot-otot wajahnya untuk mengendur, mencoba membalas interaksi itu dengan keramahan, meski hasilnya tetap terasa kaku dan formal.

"Terima kasih atas pujiannya, Pak," kata Tania, suaranya terdengar datar dan rendah, tanpa intonasi manja sedikit pun. "Rangga hanya membantu saya mencari makanan. Tidak lebih."

Rangga langsung pura-pura memegangi dadanya, berakting seolah-olah kata-kata kaku Tania baru saja menusuk jantungnya. "Aduh, Neng... sakitnya tuh di sini. Dingin banget toh jawabannya hehehe"

Tania tidak menanggapi drama kecil Rangga. Dia menyendok sedikit nasi goreng ke dalam mulutnya. Rasa gurih, pedas, dan manis yang pekat langsung meledak di lidahnya sebuah cita rasa yang sangat asing bagi lidah Korea-nya yang terbiasa dengan rasa sup hangat atau daging panggang hambar di Gangnam. Namun, ada kehangatan yang jujur dari makanan ini, sesuatu yang entah mengapa membuat jiwanya yang lelah merasa sedikit berpijak pada bumi.

Dari kegelapan di seberang jalan, di balik bayang-bayang pohon angsana yang rimbun, sepasang mata dari seorang pria bermata sipit dengan jaket hitam terus mengawasi. Pria itu bertugas memastikan keselamatan Tania tanpa pernah mengintervensi hidup barunya. Mereka melihat sang ratu mafia duduk di tempat kumuh, makan bersama seorang pria lokal beraliran playboy, dan mereka tetap bertahan di posisi mereka tak tersentuh, tak terlihat, patuh pada sumpah darah klan.

...

Sementara itu, di belahan bumi bagian utara, kegelapan malam musim dingin di Seoul terasa bergulir begitu lambat dan menyiksa bagi Kapten Herry.

Pukul dua dini hari. Jam dinding di kamar apartemennya yang minimalis terus berdetak konstan, memecah kesunyian malam yang mencekam. Herry berbaring telentang di atas tempat tidur besarnya, menatap langit-langit kamar yang gelap gulita. Selimut tebalnya berantakan di sudut kasur, tanda bahwa pria itu telah berputar-putar mencari posisi tidur yang nyaman selama berjam-jam, namun usahanya sia-sia.

Dia tidak bisa tidur. Sama sekali tidak bisa.

Setiap kali dia memejamkan mata, rasa resah yang pekat langsung mencengkeram dadanya, memicu debaran jantung yang tidak beraturan. Lubang hitam di dalam memorinya seolah-olah melemparkan uap panas yang membakar otaknya dari dalam. Kilasan suara Marysa di Pelabuhan Incheon lima tahun lalu suara bergetar yang memohonnya untuk tetap hidup kini terdengar semakin jelas, menggema berulang-ulang seperti melodi kutukan yang tak memiliki akhir.

Herry bangkit berdiri dengan sentakan kasar. Dia duduk di tepi tempat tidur, menyugar rambut hitamnya dengan kedua tangan yang bergetar samar akibat kelelahan kronis. Napasnya memburu di dalam kegelapan kamar.

Kenapa wajah wanita itu tidak mau pergi dari kepalaku? batin Herry, rahangnya yang tegas mengeras kuat hingga urat-urat di lehernya menonjol.

Stres yang dia rasakan bukan lagi sekadar tentang kehilangan buronan kelas kakap atau tekanan dari Jessica yang terus menuntut perhatian menjelang hari pernikahan mereka yang kian dekat. Ini adalah krisis identitas murni. Jiwanya menolak untuk percaya pada laporan formal kepolisian yang menyatakan bahwa Marysa adalah musuh mutlaknya. Ada sesuatu yang hilang di antara mereka berdua, sepotong kebenaran krusial yang sengaja dihapus oleh takdir melalui insiden hilang ingatan sialan itu.

Herry melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke arah gemerlap lampu kota Seoul yang tertutup salju tipis. Dia menatap pantulan dirinya di kaca. Matanya terlihat begitu redup, dipenuhi lingkaran hitam yang tebal, memancarkan aura frustrasi seorang pemburu yang menyadari bahwa dirinya sendiri mungkin adalah bagian dari mangsa.

Dia tahu dia tidak bisa terus-menerus hidup dalam delusi dan penyangkalan. Sebagai seorang detektif elit, mengabaikan intuisi dan bukti memori yang muncul ke permukaan adalah tindakan bunuh diri profesional. Dia harus menemukan jawaban dengan tangannya sendiri, tanpa melibatkan timnya, tanpa melibatkan Jessica, dan tanpa membiarkan siapa pun tahu bahwa mentalnya sedang berada di ambang kehancuran.

Herry membalikkan tubuhnya, menatap kalender meja yang terletak di dekat lampu tidur. Esok hari, dia memiliki waktu senggang selama tiga jam di siang hari sebelum harus menghadiri rapat koordinasi tahunan bersama Wakil Komisaris Jenderal.

Sebuah keputusan dingin akhirnya diambil di dalam benaknya.

Dia akan pergi ke Pelabuhan Incheon diam-diam. Tempat kejadian perkara lima tahun lalu, tempat di mana tubuhnya ditemukan bersimbah darah, dan tempat di mana fragmen memori tentang Marysa selalu bermula. Dia akan memeriksa kembali lokasi itu secara personal, mencari sisa-sisa petunjuk visual yang mungkin bisa memicu ingatannya untuk kembali secara utuh.

Herry mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia menolak untuk kelihatan lemah di hadapan sistem hukum yang dia bela. Jika hukum tidak bisa memberikannya jawaban tentang siapa Marysa sebenarnya di masa lalunya, maka dia yang akan merobek tabir misteri itu sendirian, bahkan jika dia harus melangkah masuk ke dalam kegelapan yang paling pekat untuk menemukannya.

...

jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like nya 😇

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!