NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 – Usaha yang Mulai Diuji

Paket pekerja proyek yang diperkenalkan Arga seminggu lalu mulai menunjukkan hasil.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, beberapa pekerja proyek sudah berdatangan ke warung.

Sebagian langsung memesan paket kopi dan pisang goreng.

Sebagian lagi membeli tambahan minuman atau makanan ringan untuk dibawa ke lokasi kerja.

Jumlahnya memang belum spektakuler.

Namun cukup untuk menahan penurunan penjualan akibat penutupan jalan.

Bagi keluarga Arga, itu sudah lebih dari cukup.

Pagi itu, ayah Arga sedang menghitung stok kopi sachet ketika tiba-tiba mengerutkan dahi.

"Ga."

"Iya, Yah?"

"Kopi kita habis lebih cepat dari biasanya."

Arga yang sedang membantu menyusun minuman langsung menoleh.

"Habis berapa dus?"

"Dua kali lipat dari bulan lalu."

Arga terdiam.

Lalu mengambil buku catatan penjualan.

Beberapa menit kemudian, ia menemukan penyebabnya.

Paket pekerja.

Sebagian besar pekerja proyek memilih kopi dibanding teh.

Akibatnya stok kopi berkurang jauh lebih cepat.

Masalah kecil.

Namun cukup untuk mengingatkannya pada sesuatu.

Setiap perubahan selalu menciptakan konsekuensi baru.

Kalau tidak diperhatikan, masalah kecil bisa berubah menjadi masalah besar.

"Kita harus menambah stok kopi."

Ayahnya mengangguk.

"Itu juga yang Ayah pikirkan."

"Jangan terlalu banyak."

"Hm?"

"Kita tambah sedikit demi sedikit dulu."

Ayahnya tersenyum tipis.

Beberapa bulan lalu mungkin ia akan langsung membeli sebanyak mungkin.

Namun sekarang bahkan dirinya mulai terbiasa dengan cara berpikir Arga.

Uji dulu.

Lihat hasilnya.

Baru berkembang.

Menjelang siang, warung kembali ramai.

Bukan oleh pelanggan tetap.

Melainkan oleh para pekerja proyek yang sedang beristirahat.

Mereka duduk di kursi plastik depan warung.

Mengobrol.

Minum.

Makan gorengan.

Suasana yang sebelumnya jarang terlihat.

Arga memperhatikan mereka dari balik etalase.

Lalu menyadari sesuatu.

Sebagian besar pekerja datang berkelompok.

Bukan sendiri-sendiri.

Artinya satu pelanggan bisa membawa pelanggan lain.

Konsep sederhana.

Namun sangat penting.

Di kehidupan sebelumnya, perusahaan tempatnya bekerja pernah mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan pelanggan baru.

Padahal terkadang pelanggan terbaik adalah pelanggan yang merekomendasikan bisnis kepada orang lain.

Saat sedang berpikir, suara seseorang memanggilnya.

"Mas."

Arga menoleh.

Ternyata Beni.

Pekerja proyek yang beberapa kali mengobrol dengannya.

"Ada apa, Mas?"

"Kopi yang kemarin enak."

Arga tersenyum.

"Syukurlah."

"Tapi ada satu masalah."

Arga langsung memperhatikan.

Masalah?

Keluhan pelanggan sering kali lebih berharga daripada pujian.

Karena dari situlah usaha bisa berkembang.

"Apa?"

Beni menunjuk ke arah kursi depan warung.

"Kalau siang panas sekali."

Arga mengangguk.

"Itu memang panas."

"Maksud saya tempat duduknya."

Beni tertawa kecil.

"Kadang kami mau istirahat sebentar, tapi tidak ada tempat teduh."

Setelah mengatakan itu, ia kembali bergabung dengan teman-temannya.

Namun perkataannya terus terngiang di kepala Arga.

Tempat teduh.

Ia menoleh ke depan warung.

Memang hanya ada beberapa kursi plastik.

Tanpa atap tambahan.

Kalau matahari sedang terik, tempat itu memang kurang nyaman.

Malam harinya, Arga kembali mencatat.

Keluhan pelanggan: tempat duduk kurang nyaman saat siang.

Saat melihat tulisan itu, ayahnya tertawa.

"Kamu mencatat hal seperti itu juga?"

"Justru itu yang penting."

"Kenapa?"

"Karena pelanggan sudah memberi tahu apa yang mereka butuhkan."

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Namun beberapa saat kemudian ia mengangguk pelan.

Semakin lama, ia semakin memahami cara berpikir putranya.

Dua hari kemudian, sebuah perubahan kecil dilakukan.

Ayah Arga membeli terpal bekas yang masih layak pakai.

Kemudian memasangnya di depan warung sebagai peneduh sederhana.

Biayanya tidak mahal.

Pemasangannya juga tidak rumit.

Namun hasilnya langsung terasa.

Para pekerja proyek mulai lebih sering duduk di depan warung.

Beberapa bahkan membeli minuman tambahan karena memilih beristirahat lebih lama.

Melihat itu, ibunya tersenyum puas.

"Hanya karena terpal."

Arga ikut tersenyum.

Kadang-kadang pelanggan tidak membutuhkan sesuatu yang rumit.

Mereka hanya ingin merasa nyaman.

Namun tidak semua kabar minggu itu menyenangkan.

Pada suatu sore, seorang pemasok pisang datang lebih lambat dari biasanya.

Wajah pria itu terlihat tidak tenang.

"Ada masalah, Pak?" tanya ayah Arga.

Pria itu menghela napas.

"Jalan."

"Karena proyek?"

"Iya."

Pengiriman menjadi lebih sulit.

Beberapa jalur distribusi terhambat.

Biaya transportasi mulai naik.

Akibatnya harga beberapa bahan juga mulai naik.

Mendengar itu, Arga langsung waspada.

Ini masalah yang berbeda.

Kalau pelanggan berkurang, mereka masih bisa mencari cara mendapatkan pelanggan baru.

Namun kalau biaya naik?

Keuntungan langsung tertekan.

Malam itu, keluarga kembali berkumpul.

"Kita tidak bisa menaikkan harga sekarang."

Ibunya berbicara lebih dulu.

Bu Rina mengangguk.

"Pelanggan juga sedang susah."

Ayah Arga terlihat berpikir.

"Kalau harga bahan terus naik, bagaimana?"

Pertanyaan itu membuat suasana hening.

Karena tidak ada jawaban mudah.

Arga membuka buku catatannya.

Kemudian mulai menghitung.

Harga bahan baku.

Biaya produksi.

Margin keuntungan.

Beberapa menit berlalu.

Lalu ia menghela napas.

"Kita masih aman."

"Benarkah?" tanya ibunya.

"Untuk sekarang."

Semua orang sedikit lega.

Namun Arga belum selesai.

"Tapi kalau kenaikannya berlanjut, kita harus mencari solusi lain."

"Apa?"

"Efisiensi."

Kata itu terdengar sederhana.

Tetapi sebenarnya sangat luas.

Mereka harus mengurangi pemborosan.

Mengatur stok lebih baik.

Menghindari bahan yang terbuang.

Dan memastikan setiap rupiah digunakan seefektif mungkin.

Masalah baru telah muncul.

Dan seperti biasa, Arga harus mulai memikirkan langkah berikutnya.

Malam semakin larut.

Warung sudah tutup.

Lampu depan rumah hanya menyisakan cahaya redup.

Arga duduk sendirian di kursi plastik depan warung.

Di tangannya terdapat buku catatan yang kini hampir penuh.

Ia membuka halaman-halaman lama.

Masalah produksi.

Masalah arus kas.

Masalah kualitas.

Masalah pelanggan.

Masalah pengiriman.

Kini bertambah lagi.

Masalah biaya.

Saat melihat semua itu, Arga tidak merasa putus asa.

Justru sebaliknya.

Untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami sesuatu.

Di kehidupan sebelumnya, ia selalu berpikir bahwa orang sukses memiliki hidup yang mudah.

Sekarang ia tahu itu salah.

Semakin berkembang sebuah usaha, semakin banyak masalah yang harus dihadapi.

Perbedaannya bukan pada jumlah masalah.

Tetapi pada kemampuan menyelesaikannya.

Angin malam bertiup pelan.

Dari kejauhan terdengar suara kendaraan proyek yang masih bekerja hingga larut.

Arga menatap minimarket milik Rudi di seberang jalan.

Tempat itu sudah tutup.

Namun lampu gudangnya masih menyala.

Entah kenapa, ia teringat kembali pada tawaran kerja sama beberapa waktu lalu.

Terlalu lama belum ada kabar lanjutan.

Padahal Rudi bukan tipe orang yang melempar ide tanpa tujuan.

Apakah pria itu sedang menunggu jawaban?

Atau sedang mempersiapkan sesuatu?

Arga belum tahu.

Namun nalurinya mengatakan bahwa pembicaraan mereka belum selesai.

Dan kemungkinan besar, akan menjadi salah satu keputusan bisnis terbesar yang pernah diambil keluarganya sejauh ini.

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!