Jia harus menerima takdir yang digariskan Tuhan untuk menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal. Semua itu atas permintaan majikannya Tuan Jaya.
Untuk membalas kebaikan Tuan Jaya, Jia menerima permintaan itu. Namun siapa sangka pria yang akan ia nikahi bukan pria sembarangan. Ia adalah seorang pengusaha muda dan pewaris terkaya di negeri ini.
Berharap mendapatkan kebahagiaan dengan Pria bernama Reno Bara, ternyata Jia hanya di jadikan pelampiasan hasrat dan pembantu gratis di rumah nya. Itu karena Reno merasa dirinya di tipu oleh Tuan Jaya dan akhirnya melampiaskan dendam nya pada Jia. Reno terus menyiksa Jia baik fisik maupun batin.
Mampu kah Jia bertahan bersama Reno? Atau justru memilih untuk pergi dan mencari kebahagiaan nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Di rendahkan serendah-rendahnya
Seperti biasa Jia sarapan di dapur. Bi Lasmi sudah menyiapkan sarapan untuknya tadi. Tiba-tiba seorang pembantu yang bernama Wati bersuara
"Enak yah makan dan santai di layani bak Tuan putri. Padahal kita sejak pagi sudah kerja, eh dia nya malah enak-enakkan."
Ucapan bernada sindiran membuat telinga Jia panas. Namun Jia berusaha mengabaikannya, ia kini sudah terbiasa di perlakuan semena-mena oleh sebagian penghuni rumah ini. Bahkan tidak ada satu pun pelayan yang menghormati nya sebagai istri dari Reno Bara yang harus di hormati kecuali Bik Lasmi.
Melihat Jia yang mengabaikan ucapan bernada sindiran itu. Bi Lasmi justru langsung bereaksi, ia tidak terima, jika ada pembantu yang memperlakukan Jia dengan begitu kurang ajar. Karena bagaimana pun Jia adalah majikan mereka juga. Istri dari seorang Reno Bara, yang harus di hormati.
"Hei Wati, apa maksud ucapanmu itu?" tegur Bi Lasmi.
"Memang nya apa yang aku ucapkan itu salah? kenapa situ tersinggung? merasa yah?" balas Wati tanpa rasa bersalah.
Bahkan perempuan muda itu tidak menunjukkan sopan santun sama sekali kepada wanita yang lebih tua darinya.
"Wati, jaga ucapan mu itu! kau sedang berhadapan dengan istri Tuan Reno. Majikan kita." ucap Bi Lasmi mengingatkan.
"Oh istri majikan yah. Maaf hampir lupa, yah bagaimana lagi kalau Tuan Reno sendiri tidak pernah memperlakukannya sebagai istrinya, kalau babu berkedok istri itu baru benar. Sudah lah bi jangan jadi penjilat pada perempuan dengan berbuat baik pada perempuan itu. Kita dengan dia itu hanya berbeda status saja. Itu pun tidak di akui. Mana mungkin seorang istri Tuan Reno makan di dapur dan melakukan tugas seperti kita-kita. Benar kan teman-teman?" Wati pun berusaha mencari dukungan dari teman-teman pembantu lainnya.
"Yoi." jawab mereka serempak.
"Kalian benar-benar kurang ajar, keterlaluan." Murka Bi Lasmi hingga suara nya terdengar bergetar karena amarah.
Melihat itu Jia segera menenangkan Bi Lasmi. Agar wanita tua itu bisa mengontrol emosi nya.
"Tenang Bi, tidak perlu meladeni mereka. Mereka hanya tidak tahu apa yang mereka lakukan itu salah. Percaya lah suatu saat nanti mereka akan sadar, jika perbuatan mereka tidak benar." Ucap Jia tanpa ada sedikitpun emosi yang ia tunjukkan.
"Enak saja kau berbicara seperti itu pada kami. Dari pada terus mengoceh lebih baik kau kerjakan tugas yang di perintahnya oleh Nyonya Ambar jangan sampai aku adukan pada Nyonya Ambar kalau kau di sini malas-malasan." Ancam Wati pada Jia.
Perila Wati pada Jia benar-benar sangat keterlaluan dan kurang ajar. Perempuan muda itu sama sekali tidak menghormati Jia sebagai istri Reno Bara. Apalagi mengakui sebagai majikannya.
Tanpa membalas ucapan Wati, Jia menarik lembut tangan Bi Lasmi agar meninggalkan tempat itu. Kedua wanita berbeda generasi itu langsung menuju ruang cuci.
Jia yang sudah memulai pekerjaan nya itu, di hentikan oleh Bi Lasmi. Di genggamlah tangan Jia dengan lembut.
"Nona, apa anda baik-baik saja. Seharusnya mereka tidak memperlakukan anda seperti itu. Sikap kurang ajar mereka tidak bisa di maafkan."
Jia langsung tersenyum mendengar ucapan wanita itu. Dan menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Bibi, tenang saja. Jia sudah kebal jadi tidak pernah mengambil hati ucapan mereka. Yang penting kita bisa hidup dengan baik dan rukun di rumah ini. Tak masalah jika saya harus hidup seperti kalian. Satu hal yang saya harapkan kita hidup rukun tanpa bermasalah satu sama lain." terang Jia.
"Nona Jia benar-benar baik. Namun sayang tidak ada seorang pun yang bisa melihat kebaikan pasa diri Nona. Sehingga mereka berlaku semena-mena pada Nona. Bibi yakin suatu saat Tuan Reno pasti menyesal karena telah menyia-nyiakan istri sebaik Nona Jia. Bibi hanya berdoa semoga pintu hati Tuan Reno di bukakan dan bisa melihat kebaikan Nona sebenarnya." ucap Bi Lasmi.
Kedua mata wanita itu berkaca-kaca, tidak tega melihat nasib buruk yang di alami Jia. Terlebih sebagian besar kesakitan itu di dapat dari suaminya sendiri.
"Bibi terlalu memuji. Sudah ah ayo kita selesaikan pekerjaan Nyonya Ambar marah." ajak Jia yang sudah memulai pekerjaan.
"Nona Jia harus tahu kalau Nyonya Ambar tidak pernah benar-benar menyanyangi Tuan Reno. Beliau melakukan itu karena takut miskin, sebab seluruh kekayaan ini semua hak milik Tuan Reno dari mendiang mama nya dulu. Jadi bibi sangat paham dengan apa yang terjadi di sini. Bahkan sebelum Tuan Reno lahir. Nanti deh bibi ceritakan semuanya." bisik Bi Lasmi.
"Iyah makasih atas kepercayaan bibi pada Jia."
"Nona berhak tahu karena Nona menantu keluarga ini. Istri dari Tuan Reno yang kami hormati."
***
Sementara di kantor, Reno bersama orang kepercayaan nya Ferdy. Tampak berjalan keluar kantor. Mereka akan meninjau proyek yang sedang berlangsung.
Ferdy membukakan pintu mobil untuk Reno saat mobil Rolex keluaran terbaru itu sudah parkir di lobi kantor. Reno duduk dengan menyilangkan kaki di jok bagian belakang. Sedangkan Ferdy juga sudah duduk di kursi depan bersebelahan dengan supir.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menuju tempat yang sudah di tentukan. Reno tampak memeriksa beberapa email yang masuk ke dalam ponselnya. Untuk menghilangkan kebosanan, hingga ....
Cekiittt.
Pak supir langsung menginjak pedal rem secara mendadak saat seorang pengendara sepeda motor menghadang mobil mereka. Hingga menimbulkan suara decitan ban yang memekakan telinga. Bukan itu saja tubuh Reno langsung terdorong begitu keras ke depan. Mengakibatkan kepala nya terantuk kursi jok depan.
Sementara Ferdy adalah korban terparah, karena kening nya juga terantuk dashboard hingga berdarah. Meski dirinya sudah menggunakan sabuk pengaman. Pria itu mengabaikan rasa sakitnya sendiri karena mengkhawatirkan keadaan sang Tuan. Ferdy segera menoleh ke arah Reno.
"Apa Tuan baik-baik saja?" tanya nya dengan begitu cemas.
"Ada apa?" Murka Reno karena kepalanya berdenyut sakit.
"Maaf Tuan, tiba-tiba ada pengendara motor yang memotong jalan." jawab Pak Sopir.
Ferdy mengalihkan pandangan nya ke depan.
"Gawat Tuan ternyata mereka membawa komplotan." seru Ferdy yang melihat ada beberapa pengendara motor yang mendekat ke arah mobil mereka.
"Tuan sebaiknya tetap berada di mobil. Biar kami berdua yang menghadapi mereka." ucap Ferdy, namun Reno tidak setuju dengan hal itu.
"Aku juga akan keluar, sudah lama aku tidak menghajar orang. Akan kulampiaskan hari ini."
Reno langsung membuka pintu yang ada di samping nya, sesaat ia menyelesaikan kalimatnya. Membuat Ferdy dan Pak Supir panik karena mengkhawatirkan keselamatan sang majikan."
"Apa yang kalian inginkan sehingga berani menghadang jalanku?" Setelah Reno berdiri gagah di hadapan para penjahat yang menghadang mobil miliknya.
"Rupanya kau berani juga keluar. Yang kami inginkan adalah nyawamu!" seru suara lantang yang di pastikan kalau itu adalah pemimpin penjahat.
Jalanan sepi membuat mereka dengan leluasa melancarkan aksi nya.
Reno tersenyum sinis dan meludah di hadapan para penjahat itu.
"Cuih, lakukan kalau kalian bisa!" ucapan Reno berhasil mematik emosi para penjahat sehingga membuat mereka tidak sabar untuk menyerang Reno Bara.
"Bangs*t! Serang mereka!" teriak pemimpin penjahat memberi komando.
Sementara Reno, Ferdy dan Pak Supir telah siap dengan posisi mereka yang akan menghadapi musuh.
Perkelahian tidak terelakan.
Reno sama sekali tidak memberi ampun kepada musuh-musuhnya. Meskipun sempat terkena pukulan beberapa kali di wajah dan perut nya. Namun akhirnya ia bisa melumpuhkan ketiga penjahat itu dengan memberikan tendangan terakhir darinya.
Hingga beberapa menit kemudian para penjahat itu kalah telak dari Reno, Ferdy dan Pak Supir sehingga mereka memilih kabur kocar-kacir meninggalkan tempat itu.
"Dasar pengecut!" seru Reno.
Reno mengusap lelehan darah di sudut bibirnya dengan menggunakan tangan sebelum Ferdy berjalan mendekat ke arahnya menanyakan keadaan pria itu.
"Tuan bagaimana keadaan anda? apa perlu ke rumah sakit?" tanya Ferdy cemas.
"Aku baik-baik saja. Tidak perlu ke rumah sakit. Dan reschedule kegiatan hari ini."
"Baik Tuan."
Ketiga pria itu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lama lama up-nya pls
biar reno berjuang tapi jgn pisah kan mereka..biar kan mereka bersatu
Masak iya fania dan ibunya yg bnr2 dalang kejahatan nya di maafkan begitu sajaa..lalu bagaimana dgn reno yg menjadi korban mereka