Xu Ming adalah pemuda biasa dari Bumi yang sangat menggemari novel dan komik kultivasi. Suatu hari, keinginannya untuk menjadi tokoh utama benar-benar terkabul. Ia tiba-tiba terbangun di Dunia Tianxuan dan memperoleh Sistem Pembimbing Kultivasi. Namun, alih-alih menjalani petualangan besar, ia justru dipaksa berlatih pedang, berkebun, memasak, melukis, memainkan qin, menulis kaligrafi, hingga melakukan berbagai pekerjaan sederhana selama sepuluh tahun.
Saat Xu Ming mengira perjalanan sebagai seorang kultivator baru akan dimulai, sistem justru menghilang setelah menyatakan bahwa tutorial telah selesai.
Menganggap dirinya masih seorang mortal yang lemah, Xu Ming memilih tinggal di Desa Qinghe dan menjalani hidup tenang. Tanpa ia sadari, seluruh latihan itu telah membuatnya melampaui semua tingkatan kultivasi. Sementara Xu Ming terus meragukan kekuatannya, seluruh dunia justru memanggilnya Senior, menganggapnya sebagai pertapa agung yang menyembunyikan identitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — Peri dari Sekte Awan Hijau
Suasana pasar Kota Qingyun perlahan kembali tenang.
Namun, ketenangan itu hanya terjadi di permukaan.
Di balik layar, hampir seluruh kekuatan besar di Kota Qingyun telah menerima kabar yang sama.
Seorang Senior misterius muncul di pasar.
Ia menjual sayuran spiritual dengan harga beberapa koin tembaga.
Bahkan sebuah kaligrafi yang mengandung Dao Agung hampir diberikan secara cuma-cuma.
Berita itu terdengar mustahil.
Tetapi orang yang menyebarkannya adalah Tetua Liu dari Sekte Awan Hijau.
Tidak ada yang berani meragukannya.
Di lantai dua sebuah rumah teh yang menghadap langsung ke pasar.
Seorang gadis berjubah putih berdiri di dekat jendela.
Rambut hitamnya menjuntai hingga pinggang.
Wajahnya begitu cantik, tetapi sorot matanya dingin dan tenang.
Namanya...
Li Qingxue.
Murid inti Sekte Awan Hijau.
Di usianya yang baru dua puluh tahun, ia telah mencapai alam Pendirian Fondasi Tingkat Kesembilan.
Di Kota Qingyun, bakat seperti itu sudah dianggap luar biasa.
Namun saat ini...
Tatapannya dipenuhi kebingungan.
"Guru..."
"Beliau benar-benar tidak memiliki aura kultivasi."
Wanita tua di sampingnya perlahan mengangguk.
"Itulah yang paling mengerikan."
Li Qingxue terdiam.
Ia telah memperhatikan Xu Ming sejak tadi.
Pria itu benar-benar tampak seperti orang biasa.
Cara duduknya santai.
Sesekali menguap.
Bahkan sibuk menghitung beberapa keping koin tembaga dengan wajah puas.
Tidak ada sedikit pun sikap seorang ahli.
Namun...
Tetua Liu justru berdiri di sampingnya dengan penuh hormat.
Hal seperti itu sama sekali tidak masuk akal.
Wanita tua itu bernama Tetua Mu.
Alam kultivasinya jauh lebih tinggi dibanding Tetua Liu.
Namun, bahkan dirinya tidak berani menggunakan indera spiritual untuk mengamati Xu Ming.
Ia hanya berkata pelan.
"Qingxue."
"Jangan pernah mencoba menyelidiki Senior itu."
"Mengapa?"
Tetua Mu menarik napas panjang.
"Aku pernah membaca catatan kuno."
"Dalam sejarah dunia kultivasi..."
"Selalu ada beberapa ahli yang telah kembali kepada kesederhanaan."
"Mereka terlihat seperti manusia biasa."
"Tetapi..."
"Satu pikiran mereka mampu menentukan hidup dan mati jutaan makhluk."
Li Qingxue menelan ludah.
"Jadi..."
"Beliau..."
Tetua Mu menggeleng.
"Aku tidak tahu."
"Dan aku tidak ingin mencari tahu."
Sementara itu...
Xu Ming mulai membereskan lapaknya.
"Hmm."
"Hampir habis."
Ia memasukkan sisa sayuran ke dalam keranjang.
"Hari ini lumayan."
Setelah menghitung semua koin, ia tersenyum lebar.
"Bisa beli beras."
"Lalu garam."
"Kalau masih cukup..."
"Mungkin beli kecap."
Anjing hitam yang sejak tadi tidur di bawah meja mengangkat kepala.
"Woof."
Xu Ming mengusap kepalanya.
"Iya."
"Kita pulang sebentar lagi."
Pemandangan sederhana itu membuat Li Qingxue semakin bingung.
'Orang seperti ini...'
'Benarkah seorang Senior?'
Atau...
Tetua Liu hanya salah paham?
Setelah beberapa saat berpikir, Li Qingxue akhirnya mengambil keputusan.
"Aku ingin mencobanya."
Tetua Mu langsung menoleh.
"Kau mau apa?"
"Aku hanya ingin membeli teh."
Tetua Mu terdiam cukup lama.
Kemudian mengangguk perlahan.
"Ingat."
"Jangan bersikap lancang."
Li Qingxue mengangguk mantap.
Xu Ming sedang mengikat keranjangnya ketika sebuah suara lembut terdengar.
"Permisi."
Xu Ming mendongak.
Di depannya berdiri seorang gadis cantik berjubah putih.
Ia sempat tertegun.
"Eh..."
"Silakan."
Li Qingxue menangkupkan kedua tangan.
"Aku ingin membeli daun teh."
Xu Ming tersenyum.
"Masih ada."
Ia menyerahkan satu bungkusan daun teh yang telah dijemur sendiri.
"Harganya lima koin tembaga."
Li Qingxue mengambilnya dengan kedua tangan.
"Terima kasih."
Xu Ming mengangguk.
"Sama-sama."
Percakapan mereka sangat singkat.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada aura mengerikan.
Xu Ming bahkan terlihat sedikit gugup karena jarang berbicara dengan gadis secantik itu.
Dalam hati ia berpikir,
"Gadis di dunia kultivasi memang cantik-cantik."
Li Qingxue sendiri juga kebingungan.
'Beliau...'
'Benar-benar memperlakukanku seperti pembeli biasa.'
Ia mengeluarkan lima koin tembaga.
Xu Ming menerimanya sambil tersenyum.
"Semoga tehnya cocok."
Li Qingxue kembali memberi hormat sebelum pergi.
Beberapa ratus meter dari pasar.
Li Qingxue berhenti.
Ia membuka bungkusan teh itu.
Aroma teh yang lembut langsung memenuhi udara.
Tetua Mu yang berada di sampingnya tiba-tiba membelalakkan mata.
"Tutup kembali!"
Li Qingxue terkejut.
"Guru?"
Tetua Mu menatap daun teh itu dengan napas memburu.
"Hanya aromanya saja..."
"...sudah membuat bottleneck-ku bergetar."
Li Qingxue ikut membeku.
Ia belum sempat menyeduhnya.
Bahkan belum meminumnya.
Namun hanya mencium aromanya...
Energi spiritual di dalam tubuhnya mulai bergerak lebih cepat.
Keduanya saling berpandangan.
Lalu, hampir bersamaan, mereka menoleh ke arah pasar.
Di kejauhan, Xu Ming sedang memanggul keranjang kosong sambil bersiul pelan.
Tetua Mu menghela napas panjang.
"Qingxue."
"Mulai hari ini..."
"Jangan pernah menyinggung Senior Xu."
"Kalau memungkinkan..."
"Jalinlah hubungan baik dengan beliau."
Li Qingxue mengangguk pelan.
Tatapannya dipenuhi rasa hormat.
Sementara Xu Ming...
Sama sekali tidak tahu bahwa sebungkus teh seharga lima koin tembaga baru saja membuat dua kultivator dari Sekte Awan Hijau kehilangan ketenangan mereka.
Dan itu hanyalah awal.
Bersambung...
terbaik/Facepalm/