NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 : PERTARUNGAN DI JEMBATAN

Angin sore berhembus kencang, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering yang beterbangan di permukaan sungai Cikabuyutan. Air sungai mengalir deras menerpa batu-batu besar di dasarnya, menimbulkan bunyi gemuruh yang seolah memberi peringatan pada siapa saja yang melintas.

Di kejauhan, jembatan bambu melintang melintasi lembah curam itu—satu-satunya jalan pintas yang menghubungkan desa pedalaman dengan pasar besar di Ciaruteun. Papan-papan bambunya sudah mulai lapuk, tali pengikat dari serat kayu kulit pohon sudah mengelupas dimakan waktu, namun tetap menjadi urat nadi kehidupan rakyat kecil.

Bayu berdiri diam di balik batang pohon beringin raksasa yang rimbun. Matanya tak berkedip sedikit pun, mengikuti setiap gerakan sekelompok orang yang kini berkumpul di ujung jembatan seberang. Pakaian mereka compang-camping namun tebal, wajah mereka sebagian tertutup kain, dan senjata yang terselip di pinggang bukanlah senjata prajurit yang rapi dan beraturan. Itu adalah tanda khas orang-orang yang hidup tanpa hukum, mengambil apa yang mereka mau tanpa peduli siapa yang menderita.

Di sampingnya Karta berjongkok rendah, memutar-mutar gagang pisaunya di antara jari-jemari. Matanya menyipit curiga.

“Kang, itu bukan anak buah Ki Wira Kusuma. Gerakannya lain. Mereka bergerak cepat, rapi, tapi tak ada lambang Kadipaten sama sekali. Jalannya pun merata, seolah sudah sering melakukan hal begini.”

Bayu mengangguk pelan, dadanya terasa sesak menyadari apa yang sedang direncanakan.

“Itu anak buah Ki Jaka Jagad. Mereka tahu konvoi pedagang akan lewat sore ini. Mereka tahu jika mereka merampok di sini dan meninggalkan jejak panahku, semua orang akan kembali menuduhku. Mereka memakai namaku untuk tameng kejahatan mereka.”

“Berarti kita tak boleh diam saja!” seru Karta berbisik namun penuh semangat.

“Nama Kakang itu bukan untuk dipakai penjahat seperti mereka! Kalau mereka berani melangkah maju, kita beri pelajaran!”

Bayu menoleh sebentar, menatap tajam namun lembut ke arah sahabatnya.

“Kita akan menghalangi mereka. Tapi ingat pesanku baik-baik: jangan melukai nyawa. Kita bukan mereka. Kekuatan yang kita miliki bukan untuk menumpahkan darah, tapi untuk melindungi yang tak berdaya.”

Waktu berlalu perlahan seolah berhenti berputar. Tak lama kemudian, terdengar suara derap kaki kuda yang pelan, disertai bunyi roda gerobak yang berguncang melewati jalan berbatu. Tujuh pedagang dari desa-desa sekitar melangkah dengan wajah lelah namun berseri.

Di atas gerobak mereka, tumpukan hasil bumi, kain tenun buatan tangan istri dan anak mereka, serta sedikit uang hasil jualan yang akan dibawa pulang untuk makan keluarga. Mereka tertawa kecil bercerita tentang harga yang cukup baik hari itu, tak menyadari bahwa bahaya sudah mengintai tepat di depan mata.

Saat gerobak pertama baru saja menginjak papan bambu jembatan, Ki Jaka Jagad memberi isyarat dengan anggukan kepala. Seketika enam penyamun melompat keluar dari balik semak belukar, menghunus pedang dan berteriak sekuat tenaga untuk menggentarkan hati siapa pun yang mendengarnya.

“Berhenti! Jangan bergerak sedikit! Serahkan semua barang atau nyawa kalian yang jadi gantinya!”

Para pedagang terkejut setengah mati, mundur terhimpit di ujung jembatan yang sempit. Beberapa wanita yang ikut rombongan menjerit ketakutan, memeluk erat anak-anak mereka. Seorang pedagang tua mencoba maju memohon dengan suara gemetar.

“Ambil apa saja yang kalian mau,Ki… tapi jangan sakiti kami. Itu semua hasil kerja keras setahun penuh…”

“Diam kau orang tua!” bentak salah satu penyamun sambil menendang pinggul pedagang itu hingga ia terjatuh.

“Kami tak butuh omong kosong! Turunkan semuanya sekarang!”

Saat penyamun itu hendak menebas tali pengikat peti kain dengan kasar, suara berat dan tenang tiba-tiba membelah keributan.

“BERHENTI.”

Semua mata serentak menoleh ke arah sumber suara. Bayu melangkah keluar dari balik pepohonan, langkahnya pelan namun mantap. Busur Sanghyang Rasa sudah tergenggam erat di tangan kirinya, tatapannya tenang namun menembus ke dalam hati siapa pun yang berani menatapnya.

“Siapa kau?” bentak pemimpin penyamun itu, tangannya mencengkeram gagang pedang semakin erat.

“Minggir! Atau kau akan ikut binasa bersama mereka!”

“Yang lewat jalan ini berhak aman,” jawab Bayu tenang, suaranya terdengar jelas meski di tengah gemuruh angin dan sungai.

“Kalian datang bukan untuk mengambil hak kalian, tapi untuk merampas hak orang lain. Lalu kalian berniat melempar kesalahan pada orang yang tak bersalah. Itu bukan keberanian. Itu sifat pengecut.”

“Kurang ajar!” seru pemimpin penyamun itu marah.

“Serang dia! Habisi!”

Empat orang berlari maju serentak, mengayunkan pedang ke segala arah dengan niat membunuh. Bayu tak mundur selangkah pun. Tangannya bergerak lincah, menarik tali busur dengan kecepatan mata sulit mengikuti. Satu panah melesat membelah udara, menancap tepat di gagang pedang lawan, membelokkan arah tebasan hingga senjata itu terlempar jauh ke rumput tinggi.

Panah kedua melesat ke arah kaki penyamun kedua, mengenai bagian samping betis dengan ujung yang tumpul, membuatnya terjatuh kesakitan namun tak terluka parah. Panah ketiga dan keempat melesat hampir bersamaan, melumpuhkan dua penyamun lain yang hendak mengapit dari samping.

Karta tak tinggal diam. Ia melompat lincah ke tengah jembatan, pisau Sanghyang Waja berkilau terkena cahaya matahari sore.

“Hei kalian! Kalau cari lawan yang sepadan, lawan aku dulu!”

Dua penyamun berbalik menyerangnya dengan gerakan kasar. Karta menghindar ke kiri dan ke kanan sambil berceloteh tak henti.

“Wah tebasannya kencang sekali! Sayang arahnya melenceng terus! Apa matanya tertutup debu atau memang tak bermain pedang?”

Salah satu penyamun menendang keras ke arah pinggang Karta. Karta terhuyung mundur, rasa sakit sesaat menjalar, namun seketika itu juga amarahnya bangkit.

“Heh! Jangan kasar sama teman orang!”

Amarah itu seolah mengalir masuk ke dalam bilah pisau yang dipegangnya. Sanghyang Waja terasa makin berat, bergetar halus seolah menantang untuk dipergunakan. Karta mengangkatnya tinggi, lalu mengayunkan ke arah tali penyangga jembatan di sisi kanan. Bunyi retakan yang nyaring terdengar seketika. Tali serat kayu yang sekuat baja itu terbelah dua seolah hanya sehelai benang kering.

“Kang! Pegang erat semuanya!” teriak Karta sekuat tenaga.

Bayu segera memberi isyarat pada para pedagang. “Pegang tiang! Jangan lepaskan!”

Karta kembali mengayunkan pisaunya ke sisi kiri. Tali penyangga sebelah kiri pun putus bersamaan. Ujung jembatan tempat para penyamun berdiri tiba-tiba miring tajam ke bawah. Mereka berteriak panik, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh berhamburan ke sungai yang deras di bawahnya. Bunyi cipratan air yang terdengar, diikuti suara erangan saat tubuh mereka membentur batu-batu sungai.

Dari balik pepohonan, Ki Jaka Jagad mengepal tangannya erat hingga kuku menancap ke telapak tangan. Ia tak menyangka rencananya yang sudah disusun matang bisa hancur begitu saja oleh dua orang yang ia anggap tak berdaya. Ia tahu jika ia turun sekarang, ia tak akan menang mudah. Dengan gigi terkatup, ia memberi isyarat mundur pada sisa anak buahnya yang bersembunyi, lalu menghilang perlahan ke dalam kegelapan hutan.

Di atas jembatan yang kini miring, suasana hening sejenak. Para pedagang masih memeluk tiang dengan wajah pucat pasi, napas mereka tersengal-sengal menahan rasa takut yang baru berlalu. Bayu bergerak perlahan mendekati mereka, mengulurkan tangan membantu satu per satu turun ke sisi tebing yang masih aman.

“Terima kasih… terima kasih banyak, Ki…” isak seorang pedagang tua sambil mencium punggung tangan Bayu.

“Tanpa kalian, kami pasti sudah kehilangan segalanya… bahkan mungkin nyawa kami sekeluarga.”

“Kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan,” jawab Bayu pelan.

“Lanjutkan perjalanan kalian. Jangan lewat jalan ini lagi sampai jembatan diperbaiki oleh warga desa. Hati-hati di jalan.”

Saat para pedagang berjalan menjauh, rasa syukur dan pujian tak henti terucap dari mulut mereka. Kata-kata itu terbawa angin, menyebar lebih cepat dari kilat.

“Benar semua cerita orang! Si Pamanah Rasa itu pelindung rakyat kecil!”

“Kalau dia benar-benar penjahat, tak mungkin ia mempertaruhkan nyawanya demi orang yang tak dikenalnya!”

“Dia bukan perampok! Dia orang yang berani menegakkan keadilan saat penguasa berpaling mata!”

Karta berdiri memandangi mereka yang menjauh, dadanya terasa penuh bangga. Ia menoleh ke arah Bayu dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.

“Dengar itu Kang? Mereka tahu! Mereka tahu siapa yang sebenarnya baik dan siapa yang sebenarnya jahat!”

Bayu menatap air sungai yang kembali tenang, namun hatinya tak sejernih air itu.

“Pujian rakyat itu beban yang berat, Karta. Hari ini mereka memuji, besok jika kebohongan disebar lebih kuat, mereka bisa berbalik menuduh. Tapi selama kita tahu kita berjalan di jalan yang benar, beban ini akan kita pikul bersama.”

Namun jauh di dalam hati, Bayu tahu bahwa pertarungan ini baru saja dimulai. Kemenangan kecil hari ini hanya akan membuat musuh yang sebenarnya semakin berhati-hati, semakin licik, dan semakin kejam dalam merancang jebakan.

Nama Si Pamanah Rasa kini semakin harum di telinga rakyat, namun sekaligus semakin menjadi sasaran kebencian tak berujung bagi mereka yang merasa kekuasaannya terganggu. Dan di balik semua itu, bayang-bayang Ki Jaka Jagad masih terus mengintai, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang kembali dengan cara yang lebih licik.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!