NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Jalan setapak di pinggir sungai ini selalu sepi dan teduh. Pohon-pohon besar di kiri kanan menaungi sepanjang jalan, bikin udara jadi adem banget meski matahari lagi bersinar terang di atas kepala. Aku sama Arjun jalan santai di sini, kaki kami menginjak tanah yang masih agak lembab kena sisa air semalam. Sengaja lewat sini karena Arjun bilang, ada sesuatu yang pengen dia tunjukkan, sesuatu yang sering banget dipakai dalam kebiasaan orang India.

Tiba-tiba langkahnya terhenti di depan semak rimbun yang penuh bunga kecil berwarna putih bersih. Kelopaknya bertumpuk-tumpuk, bentuknya mungil dan rapi, gantung menjuntai ke bawah. Wanginya langsung menyebar lembut ke mana-mana, manis tapi nggak menyengat, bikin hati rasanya tenang banget cuma dengan menghirup udara di sini.

"Lihat deh," kata Arjun sambil menunjuk bunga-bunga itu dengan pandangan lembut banget. "Ini bunga melati. Kamu pasti sering lihat dan tau baunya kan? Tapi tau nggak, di budaya aku, bunga ini punya tempat paling tinggi lho, di atas bunga apa pun itu."

Aku mendekat, mencium wanginya lebih dalam. "Emangnya ada bedanya sama bunga lain? Kan sama-sama wangi dan cantik."

Arjun menggeleng sambil tersenyum, lalu memetik satu tangkai kecil yang sedang mekar sempurna. Tangannya bergerak hati-hati banget, seolah takut merusak keindahan kecil itu.

"Jauh bedanya, Aira. Lihat warnanya, putih bersih gini kan? Putih itu lambang kesucian, kejujuran, dan ketulusan hati. Terus bentuknya kecil, nggak besar atau mencolok kayak mawar atau bunga lain, tapi wanginya bisa tercium jauh banget. Artinya, orang yang baik itu nggak perlu berisik atau pamer kelebihannya. Cukup jadi diri sendiri, berbuat baik, nanti keindahan dan kebaikannya bakal terasa dan diketahui semua orang, persis kayak wangi melati ini."

Dia memutar-mutar tangkai itu pelan di jari-jarinya, matanya menerawang seolah teringat cerita lama.

"Dulu kakek aku sering bilang, kalau mau belajar sifat yang indah, contoh aja sama melati. Dia tumbuh sederhana di semak-semak, nggak minta tempat tinggi buat kelihatan. Tapi kalau udah dipakai buat hiasan atau disusun jadi kalung bunga, dia jadi yang paling dicari, paling dihargai. Di India, bunga ini wajib ada di setiap acara penting, di setiap sesembahan, di setiap hiasan rambut wanita. Karena kami percaya, keindahan yang sejati itu yang bawa ketenangan, nggak yang cuma bikin mata silau doang."

Aku diam mendengarkan, ikut mengamati bunga kecil berwarna putih itu. Kelihatannya biasa aja sih, tumbuh di mana-mana, sering dipakai orang buat hiasan atau wewangian. Tapi ternyata maknanya sedalem itu ya. Sederhana tapi berharga, kecil tapi pengaruhnya besar.

"Terus... kenapa harus di rambut sih biasanya? Bukan di baju atau di tangan?" tanyaku penasaran.

Arjun menatapku sebentar, lalu perlahan mengangkat tangannya. Jari-jarinya yang bersih dan cekatan itu menyelipkan tangkai melati tadi di samping telingaku, menaruhnya dengan hati-hati di balik rambutku. Gerakannya pelan banget, penuh perhatian, tapi murni cuma ingin menaruh bunga itu saja, nggak ada maksud lain.

Aku diam mematung sebentar, merasakan ujung jari dia menyentuh kulit telingaku sekilas. Jantungku berdenyut agak cepat karena kaget, bukan karena ada rasa lain, cuma kaget aja karena tiba-tiba.

"Karena rambut itu letaknya paling tinggi di tubuh kita, Aira. Menaruh melati di sana artinya kita menghargai keindahan dan kesucian itu di tempat yang paling tinggi. Biar setiap kali kita bergerak, setiap kali kita menunduk atau menengadah, wangi baiknya selalu nemenin kita, selalu jadi pengingat buat hati kita biar tetap bersih dan tulus," jelasnya tenang, sambil mundur selangkah buat melihat hasilnya.

Dia tersenyum puas. "Cocok banget lho. Warnanya putih bersih, pas banget sama kamu yang sederhana, tenang, dan jujur gini. Nggak pernah sok tau, nggak pernah berisik, tapi kehadiran kamu itu selalu nyaman banget, kayak wangi melati ini."

Aku menyentuh bunga di rambutku dengan malu-malu, wajahku rasanya agak panas dibilang begitu. "Bisa aja kamu nyamain aku sama bunga yang mulia gini. Kan cuma manusia biasa aja."

"Siapa bilang manusia biasa nggak bisa punya sifat indah kayak bunga ini?" potong Arjun lembut. "Kakek aku selalu ngajarin, keindahan itu bukan soal fisik atau harta. Tapi soal hati. Kalau hatinya bersih, tulus, dan rendah hati, dia bakal bawa wangi ke mana pun dia pergi, bawa ketenangan buat siapa aja yang ada di dekatnya. Persis kayak kamu."

Dia berjalan lagi menyusuri jalan setapak itu, aku ikut di sampingnya sambil sesekali mencium wangi melati yang sekarang ada di rambutku sendiri. Rasanya senang banget, bangga juga dibilang punya sifat yang disamain sama bunga kesayangan orang India itu.

"Di India," Arjun buka suara lagi sambil menatap pepohonan di depan, "kalau ada orang yang berhati baik dan tulus, orang bakal bilang dia punya 'hati yang wangi'. Karena kebaikan itu nyebar, Aira. Kayak wangi melati ini, dia nggak minta disebar, tapi semua orang yang lewat pasti bisa ngerasain enaknya."

Siang itu kami habiskan waktu berjalan sambil ngobrol santai, bahas hal-hal kecil tapi selalu ada pelajaran di dalamnya. Bunga melati di rambutku makin lama wanginya makin kuat, jadi pengingat obrolan kami tadi.

Aku makin sadar, kenapa Arjun punya cara pandang yang beda dan indah banget. Semua karena didikan dan budaya yang dia pegang teguh, yang selalu mengajarkan buat ngeliat hal kecil jadi hal besar, dan hal biasa jadi hal yang berharga.

Dan rasanya masih sama persis kayak hari-hari sebelumnya: senang, nyaman, dan bersyukur kenal sama dia. Nggak ada rasa yang bikin bingung atau salah tingkah berlebihan. Semuanya wajar, semuanya indah, semuanya berjalan pelan sesuai waktunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!