NovelToon NovelToon
Fisherman'S Book

Fisherman'S Book

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:92.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Skyligh

[Minggu,Selasa, Jumat libur].
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang, di usia sepuluh tahun, mengalami tragedi pahit—didorong oleh ibu tirinya hingga terjatuh dari tebing ke laut. Dalam perjuangannya bertahan hidup, ia tanpa sengaja menemukan sebuah buku misterius yang tersembunyi di dasar laut. Saat kesadarannya mulai memudar, buku itu menyatu secara ajaib ke dalam pikirannya, menjadi awal dari takdir luar biasa yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAKAK BESAR

Siang itu, Alvarez tampak menyusuri pinggiran kota dengan langkah santai. Saat hendak menyeberang jalan, matanya menangkap kerumunan mencurigakan di dalam sebuah gang di seberang sana. Tanpa pikir panjang, ia berlari ke arah kerumunan itu.

Saat mendekat, tampak tiga pemuda sedang mengeroyok seorang laki-laki muda. Korban itu memelas dengan suara gemetar, "Ampun... saya nggak akan mengulanginya lagi..."

Mendengar suara itu, sekelebat kenangan kelam masa kecil menyusup ke benak Alvarez—masa-masa ketika ia sendiri menjadi korban. Amarah mendidih di dadanya. Tanpa aba-aba, satu pukulan telak mendarat di wajah salah satu dari tiga pemuda itu. Plak! Remaja itu terpelanting dan bangkit dengan mata melotot. “Siapa yang berani memukul gue?!”

Kedua temannya menoleh ke arah Alvarez, namun sebelum mereka bisa bereaksi, dua pukulan beruntun sudah melayang ke wajah mereka. Plak! Plak! Keduanya tersungkur ke tanah.

“Woy! Berani-beraninya lu mukul kita!” teriak salah satu dari mereka dengan darah menetes dari bibirnya.

Dengan wajah penuh amarah, ketiganya bangkit lagi dan mulai mengepung Alvarez. “Kita hajar dia bareng-bareng!”

Namun Alvarez sudah siap. Dengan gesit, ia menghindar dan melancarkan tendangan ke perut satu, pukulan ke wajah lainnya, dan siku ke dagu yang ketiga. Ketiganya ambruk kembali, kali ini lebih parah—darah menetes, napas terengah, dan mata kosong menatap jalanan gang.

Salah satu dari mereka merangkak mundur. “T-tolong... jangan dekati aku!”

Alvarez melangkah maju tanpa belas kasihan, lalu menendang kepala pemuda itu. Plak! Ia jatuh tak sadarkan diri.

“Hey, kalian berdua! Angkat teman kalian dan enyah dari sini, sebelum kalian saya buat seperti dia!” bentak Alvarez.

Tanpa pikir panjang, dua pemuda yang tersisa memapah temannya yang pingsan, lalu kabur terbirit-birit dari gang itu.

Alvarez menoleh pada korban mereka, seorang pemuda kurus yang masih duduk terguncang. “Hey, kamu bisa bangun?”

Pemuda itu mengangguk perlahan. “T-terima kasih... sudah menolong saya.”

“Sudahlah,” gumam Alvarez seraya melangkah keluar dari gang. “Aku juga muak lihat pembullyan seperti itu.”

Pemuda itu cepat-cepat mengambil tasnya dan menyusul keluar. Ketika melihat Alvarez berjalan santai sambil menikmati es krim dari kedai pinggir jalan, ia bertanya, “Eh... kenapa kamu ngikutin aku?”

Sambil menggaruk kepalanya malu-malu, pemuda itu tersenyum. “Mulai sekarang, kamu kakak aku!”

Alvarez nyaris tersedak es krimnya. “Apa?! Kakak kamu? Aku aja nggak tahu nama kamu!”

“Oh iya, hampir lupa,” ujarnya riang. “Nama aku Mendes. Tapi panggil aja Max.”

Alvarez mengangguk heran. “Max ya... eh, ngomong-ngomong, kamu tahu toko HP yang dekat sini gak?”

Max tersenyum bangga. “Kakak nanya orang yang tepat!”

Mereka pun berjalan bersama menuju toko ponsel, sambil Max menceritakan bagaimana ia tadi dicegat dan dikeroyok. Tak butuh waktu lama, mereka tiba di depan bangunan tinggi bertuliskan "Gadget Galaxy."

“Ini tokonya?” tanya Alvarez.

“Yup! Ini dia, Kakak Besar!” sahut Max penuh semangat.

“Wah, lumayan megah juga ya,” gumam Alvarez. “Ayo, masuk.”

Di dalam toko, rak-rak penuh dengan ponsel terbaru dan aksesori elektronik menyambut mereka. Max langsung menghampiri pramuniaga wanita di belakang meja.

“Nona, saya mau ponsel terbaik buat kakak saya. Ada?”

Wanita itu tersenyum, lalu mengeluarkan salah satu ponsel terbaru dari etalase. “Ini model terbaru dan termahal kami.”

“Eh, Kak!” panggil Max, “Lihat deh ini!”

Alvarez mendekat dan mengamati ponsel itu. “Lumayan bagus. Berapa harganya?”

Wanita itu mengecek daftar harga. “$1.500, karena ini model flagship terbaru.”

Max terbelalak. “Nona... apa nggak terlalu mahal?”

“Itu memang harga standarnya, Pak,” jawab si pramuniaga sopan.

Tanpa banyak bicara, Alvarez membuka tasnya, mengeluarkan uang tunai, dan menyerahkannya. “Saya ambil.”

Max mencoba membujuk. “Kak, ini mahal banget, mending kita cari yang lain aja—”

“Gak usah, Max. Aku suka ponsel ini.”

“Baiklah, Pak,” ujar sang pramuniaga. Ia lalu mengaktifkan ponsel itu, memasang SIM dan konfigurasi dasar. Setelah selesai, ia menyerahkannya.

“Semuanya sudah siap, Pak.”

“Terima kasih,” ujar Alvarez. Mereka pun keluar dari toko. Matahari sudah mulai condong ke barat.

“Max, aku pulang dulu ke desa Mosuh, ya.”

Max melambaikan tangan. “Oke, Kak! Hati-hati! Aku juga harus pulang, nanti dicariin Ibu.”

Max, seorang pelajar SMA, memang dikenal manja. Biasanya ia langsung pulang usai sekolah, tapi karena kejadian hari ini, ia jadi terlambat.

Sementara itu, sesampainya di desa Mosuh, Alvarez menuju pulau kecilnya. Di dermaga, ia melihat sosok familiar berdiri.

“Paman JAO! Lagi nungguin siapa di situ?”

Paman JAO menoleh dan tersenyum. “Baru pulang dari kota, ya?”

“Hehehe... iya, tadi jalan-jalan dulu.”

“Oh ya, ini uang kamu dari penjualan ikan tuna itu.”

“Lah, kok ditaruh di koper, Paman?”

“Di dalamnya ada $44.095. Simpan baik-baik.”

Alvarez menganga mendengar jumlahnya. “Hahaha! Ternyata nyari duit gak sesulit yang dibayangin!”

Melihat wajah ceria Alvarez, Paman JAO langsung mencubit kepalanya. “Aduh, kenapa sih mukul, Paman?!”

“Kamu nyebelin. Udah, aku pulang dulu. Hari makin gelap.”

“Baik, Paman. Aku juga mau nyebrang.”

Setelah Paman JAO pergi, Alvarez menaiki sampannya dan mendayung ke pulau kecilnya. Dengan uang sebanyak itu, malam ini ia tak perlu repot memasang perangkap. Besok ia akan memancing, siapa tahu dapat ikan lebih besar.

Sambil menatap langit senja, Alvarez baru teringat—kerang abalon-nya habis. Sebelum malam sepenuhnya jatuh, ia memutuskan menyelam dan mencari beberapa kerang lagi untuk ditaruh di tambaknya.

1
Urang sunda
luar biasa
Hary
perempuan usia 40tahun lagi enak2nya jangan coba2 bangun gairah birahinya, pasti sangat luar biasa, legit menggigit
Laizajiloh
Hai.. kapan d lanjut ceritanya kak..
Dhewa Shaied
apakah hiatus?
Kinashi Minata
he opo iki?
Kinashi Minata
🤣
Kinashi Minata
🤭
Kinashi Minata
🤭 endi
Kinashi Minata
🤭 opo iki?
Swikong
Mantul👍
Swikong
Lanjutkan........
Swikong
Ayo semuanya semangat💪💪
Swikong
👍👍👍
Swikong
👍
Swikong
Alvarez 👍👍
Swikong
Bos Alvarez👍
Swikong
Ho oh
Swikong
Mengharukan/Cry/
Swikong
Oke
Swikong
Lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!