"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."
Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.
Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.
Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.
Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...
Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.
Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Tamu Pertama
"Ada orang yang menjaga rahasiamu karena setia. Ada pula yang menjaganya karena takut kehilanganmu."
Malam mulai menyelimuti kediaman keluarga Mahendra.
Langit yang sejak sore cerah perlahan berubah gelap, dihiasi bintang-bintang yang berkelip malu di balik awan tipis. Dari balkon kamar, Ayla memandangi taman belakang yang diterangi lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak. Suara gemericik air dari kolam ikan membuat suasana rumah terasa damai.
Namun, kedamaian itu justru membuat pikirannya semakin ramai.
Ruangan yang terkunci.
Telepon misterius.
Kejadian lima tahun lalu.
Semuanya terus berputar di kepalanya.
"Aku tidak boleh terlalu banyak berpikir."
Ayla mengembuskan napas panjang sebelum memutuskan turun ke lantai bawah untuk mengambil segelas air.
Rumah itu masih sangat sunyi.
Sebagian besar pelayan sudah kembali ke kamar masing-masing. Hanya Pak Bima yang masih terlihat memeriksa beberapa lampu di ruang tamu.
"Belum tidur, Nyonya?" tanyanya ramah.
Ayla tersenyum kecil.
"Belum mengantuk."
Pak Bima mengangguk memahami.
"Hari-hari pertama memang biasanya seperti itu."
Belum sempat Ayla menjawab, suara mesin mobil terdengar dari halaman depan.
Keduanya spontan menoleh.
Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pintu utama.
Pak Bima tampak mengenali mobil itu.
"Itu Pak Raka."
Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi.
Pak Bima segera membukakan pintu.
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun melangkah masuk. Tubuhnya tinggi, berpenampilan rapi dengan setelan kemeja biru tua yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya terlihat lelah, seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan panjang.
Begitu melihat Ayla, pria itu langsung membungkukkan badan dengan sopan.
"Selamat malam, Nyonya."
Ayla sedikit terkejut.
"Selamat malam."
Pak Bima segera memperkenalkan mereka.
"Nyonya, ini Pak Raka. Beliau adalah asisten sekaligus orang kepercayaan Tuan Arsen."
Raka mengulurkan tangan dengan sopan.
"Perkenalkan. Saya Raka Pratama."
Ayla membalas jabat tangan itu.
"Saya Ayla."
"Saya tahu."
Raka tersenyum tipis.
"Tuan Arsen sudah banyak bercerita."
Kalimat itu membuat Ayla mengangkat alis.
"Bercerita?"
Sulit rasanya membayangkan Arsen yang pendiam mau menceritakan dirinya kepada orang lain.
Melihat ekspresi bingung Ayla, Raka terkekeh pelan.
"Walaupun tidak banyak."
"Itu lebih masuk akal," jawab Ayla sambil ikut tersenyum.
Suasana yang semula canggung perlahan mencair.
___________________________________________
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Arsen turun dengan pakaian santai berwarna abu-abu.
Tatapannya langsung berhenti pada Raka.
"Sudah datang."
"Maaf mengganggu malam-malam begini, Tuan."
"Ada perkembangan?"
Raka mengangguk.
"Lebih baik kita bicara di ruang kerja."
Arsen hanya mengangguk singkat.
Sebelum berjalan pergi, ia sempat menoleh kepada Ayla.
"Kau tidak usah menunggu."
"Aku memang belum berniat tidur," jawab Ayla pelan.
Arsen terdiam sesaat, lalu berkata,
"Kalau begitu, minumlah susu hangat dulu. Jangan terlalu malam."
Ucapan itu terdengar sederhana.
Namun setelah Arsen dan Raka berjalan menuju ruang kerja, Pak Bima tersenyum kecil.
"Nyonya tahu?"
"Apa?"
"Sudah bertahun-tahun saya bekerja di sini."
"Tuan tidak pernah mengingatkan siapa pun untuk menjaga kesehatan."
Ayla terdiam.
Benarkah begitu?
__________________________________________
Di ruang kerja, suasana berubah serius.
Raka meletakkan sebuah map cokelat di atas meja.
"Saya sudah meminta orang kita mencari tahu."
Arsen membuka map itu tanpa banyak bicara.
Beberapa lembar dokumen dan foto memenuhi isi map tersebut.
"Siapa?"
"Belum diketahui."
"Tapi orang itu mulai mengumpulkan data tentang proyek Mahendra Group lima tahun lalu."
Tatapan Arsen berubah tajam.
"Ada yang bocor?"
"Belum."
"Namun saya khawatir... hanya masalah waktu."
Ruangan mendadak sunyi.
Arsen menutup map itu perlahan.
"Apa ada yang mengikuti pergerakan Ayla?"
Pertanyaan itu membuat Raka sedikit terkejut.
"Sejauh ini tidak."
"Bagus."
"Tuan..."
Raka tampak ragu.
"Kalau boleh jujur..."
Arsen mengangkat pandangan.
"Sampai kapan Nyonya Ayla tidak akan diberi tahu?"
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
Akhirnya Arsen berdiri, berjalan mendekati jendela.
Sorot matanya tertuju pada taman belakang.
Di kejauhan, ia dapat melihat Ayla sedang membantu Pak Bima menyiram bunga sambil tertawa kecil.
Pemandangan yang membuat rumah itu terasa lebih hidup.
"Lebih lama lebih baik."
"Tapi suatu saat beliau pasti tahu."
"Aku tahu."
"Lalu?"
Arsen mengembuskan napas pelan.
"Aku hanya ingin... saat hari itu tiba, dia tidak ikut terluka."
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Ia sudah mengenal Arsen hampir sepuluh tahun.
Pria itu selalu memikirkan keselamatan orang lain sebelum dirinya sendiri.
Dan itulah yang paling ia khawatirkan.
___________________________________________
Sementara itu, di taman belakang...
Ayla membantu Pak Bima merapikan pot-pot bunga yang sedikit bergeser akibat hujan beberapa hari lalu.
"Nyonya ternyata suka berkebun?"
"Ayahku dulu senang menanam bunga."
"Katanya, rumah akan terasa hidup kalau ada tanaman."
Pak Bima tersenyum.
"Tuan juga pernah mengatakan hal yang hampir sama."
"Benarkah?"
"Iya."
"Beliau bilang..."
Pak Bima berhenti sejenak.
"'Rumah sebesar apa pun akan terasa kosong kalau tidak ada yang membuatnya hidup.'"
Ayla tanpa sadar menoleh ke arah jendela ruang kerja.
Bayangan Arsen terlihat berdiri membelakanginya.
Pria itu memang tidak banyak bicara.
Tetapi semakin lama mengenalnya...
Semakin Ayla merasa bahwa ada kesepian yang selama ini disembunyikan di balik ketegasannya.
Tepat saat itu, Arsen membuka tirai dan tanpa sengaja bertatapan dengan Ayla.
Tak ada senyum.
Tak ada lambaian tangan.
Namun keduanya sama-sama tidak mengalihkan pandangan selama beberapa detik.
Hingga akhirnya Arsen menutup kembali tirai jendela.
Dan untuk pertama kalinya...
Ayla merasa ada dinding besar yang perlahan mulai retak di antara mereka.
Namun ia belum menyadari...
Di balik meja kerja Arsen, tersimpan sebuah dokumen dengan satu nama yang sama sekali tidak pernah ia duga.
Nama itu...
Akan mengubah seluruh hidup mereka.
Bersambung...