Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Mida menggenggam kartu itu. "Baik."
Fandi tersenyum memberi semangat. "Mulai besok... Kita bertempur lagi. Demi Harapan."
Mida mengangguk mantap. "Demi Harapan."
Mereka saling mengucapkan salam sebelum masuk ke kamar masing-masing. Di balik pintu yang tertutup, Mida memeluk foto Harapan yang selalu ia bawa. "Harapan... Ibu tidak akan berhenti."
Sementara di kamar sebelah, Fandi membuka kembali berkas perkara yang telah lusuh karena terlalu sering dibaca. Ia tahu, perjalanan mereka masih jauh. Namun malam itu, di tengah segala fitnah dan pengorbanan, keduanya memantapkan hati untuk terus melangkah. Esok hari akan menjadi awal dari perjuangan baru perjuangan yang mereka jalani bersama demi mencari keadilan bagi Harapan.
***
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Ruang sidang dipenuhi suasana tegang. Mida menggenggam tasbih di tangannya, sementara Fandi duduk di sampingnya dengan setumpuk berkas.
Ketua majelis hakim memasuki ruang sidang. Semua orang berdiri. Sidang dibuka. Setelah menjelaskan pertimbangan hukum yang menjadi dasar putusan, ketua majelis membacakan amar putusan terhadap para terdakwa. "Terhadap terdakwa Gilang..." Suasana menjadi sunyi. "...pengadilan menjatuhkan pidana sebagaimana diatur dalam putusan ini." Begitu pula terhadap dua terdakwa lain yang turut terlibat.
Untuk Ajo, putusan tersendiri sebelumnya sudah dibacakan sesuai dakwaan dan pembuktiannya.
Ketika pembacaan selesai, Mida memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, ia berdiri. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. "Ini..." Suaranya bergetar. "...tidak adil." Ruangan kembali hening. "Bagi saya, tidak ada hukuman yang dapat mengembalikan Harapan. Tetapi saya merasa putusan ini belum mencerminkan rasa keadilan. Masa Gilang dan teman-temannya hanya mendapatkan hukuman dua tahun, sementara Ajo cuma lima tahun. Ini enggak adil. Nyawa putra saya hanya dihargai segitu."
Fandi berdiri di sampingnya. Dengan tenang ia berkata, "Kita hormati putusan pengadilan." Fandi menjelaskan, masih ada upaya hukum yang bisa diusahakan yaitu banding dan Fandi akan menempuh itu. "Kita akan mempelajari salinan lengkap putusan terlebih dahulu. Kemudian menyusun alasan-alasan banding berdasarkan bukti dan pertimbangan hukum yang ada. Kita nggak akan melepaskan begitu saja."
Ayah Fandi yang duduk di belakang ikut mengangguk. "Perjuangan belum selesai."
Bu Ana menggenggam tangan Mida. "Jangan kehilangan harapan."
Mida menarik napas panjang. Ia memeluk foto Harapan yang selalu dibawanya. "Ibu akan terus berjuang. Ibu ingin memastikan seluruh proses hukum ditempuh sampai batas yang diberikan oleh undang-undang."
Mereka pun meninggalkan ruang sidang dengan langkah yang lebih mantap. Putusan telah dibacakan. Namun bagi Mida, pencarian keadilan bagi Harapan belum berakhir.
Tak lama setelah putusan dibacakan, media sosial kembali dipenuhi unggahan mengenai kasus Harapan. Tagar #JusticeForHarapan kembali menjadi perbincangan. Banyak warganet mengaku kecewa dengan putusan yang mereka nilai terlalu ringan. Berbagai komentar bermunculan.
"Kalau memang terbukti dilakukan secara berencana, seharusnya semua fakta dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Semoga proses banding memberi kepastian hukum yang lebih memuaskan."
Komentar lain berbunyi, "Harapan kehilangan seluruh masa depannya. Wajar jika masyarakat berharap hukuman yang dijatuhkan benar-benar mencerminkan beratnya akibat yang ditimbulkan."
Ada pula yang menulis, "Jangan berhenti di sini. Gunakan hak untuk banding kalau memang ada dasar hukumnya."
Namun, di antara komentar-komentar itu, ada juga yang melontarkan hujatan dan cacian kepada para terdakwa beserta keluarganya.
Dewi yang sedang membaca perkembangan itu menghela napas. "Netizen benar-benar marah."
Fandi mengangguk. "Rasa kecewa masyarakat bisa dipahami."
Mida yang duduk di sampingnya memeluk foto Harapan. "Aku hanya ingin keadilan."
Fandi menatap istrinya.."Itulah sebabnya kita menempuh jalur hukum. Kita sudah mengajukan banding. Di sana kita akan menyampaikan alasan-alasan hukum mengapa kita merasa putusan ini perlu ditinjau kembali."
Ayah Fandi ikut menambahkan, "Dalam negara hukum, ketidakpuasan terhadap putusan bukan diselesaikan dengan amarah, melainkan dengan menggunakan upaya hukum yang disediakan."
Di luar sana, ribuan orang terus mengawal perkembangan perkara. Bagi Mida, dukungan masyarakat menjadi penguat langkahnya. Namun ia tahu, pada akhirnya yang akan menentukan arah perkara adalah proses hukum yang berjalan berdasarkan bukti dan pertimbangan pengadilan. Ia menatap foto Harapan sekali lagi. "Ibu belum selesai berjuang untukmu, Nak."
***
Usai sidang putusan Harapan, untuk pertama kali Mida dibawa ke kota tempat tinggal keluarga Fandi. Malam itu, rumah keluarga Fandi terasa lebih hangat dari biasanya. Di ruang makan, Bu Ana bersama beberapa anggota keluarga menyiapkan hidangan sederhana. Tidak ada dekorasi mewah, tidak ada tamu undangan, dan tidak ada kemeriahan sebagaimana lazimnya penyambutan anggota keluarga baru. Meski begitu, semuanya dilakukan dengan penuh ketulusan.
Mida berdiri di ambang pintu, merasa canggung. Ia masih sulit percaya bahwa dirinya diterima dengan begitu hangat oleh keluarga yang baru dikenalnya.
Bu Ana menghampirinya sambil tersenyum. "Masuklah, Nak."
Mida mengangguk pelan. "Iya, Bu."
Mereka kemudian duduk mengelilingi meja makan. Ayah Fandi memimpin doa sebelum makan. Seusai berdoa, Bu Ana memegang tangan Mida dengan lembut. "Seharusnya..." Ia tersenyum tipis. "...kami membuat pesta untuk menyambutmu. Memperkenalkanmu kepada seluruh keluarga besar. Supaya semua tahu kalau Fandi sudah menikah." Bu Ana menghela napas. "Tapi keadaan sedang seperti ini. Kasus Harapan masih berjalan. Jadi, bersabarlah dulu, ya."
Mida mengangguk. Sebenarnya ia tak menyangka akan diperlakukan sebegini baiknya oleh keluarga Fandi. Pertama karena dipikirannya pernikahan antara ia dan Fandi demi menyelamatkan dirinya dari pengusiran dari kampung. Begitu kasus Harapan selesai maka ia berkeyakinan pernikahan ini juga akan diakhiri secara baik-baik.
Kedua, ia bukan siapa-siapa. Sementara Fandi berasal dari keluarga terpandang. Selain berpendidikan, keluarganya juga punya nama baik. Tetapi mereka memperlakukan Mida dengan sangat baik. Mereka menghormati Mida dengan tulus.
Bu Ana mengusap punggung tangan Mida. "Nanti, kalau semua ini sudah selesai...kita rayakan dengan baik. Untuk sekarang...kita berjuang dulu." Ia tersenyum hangat. "Berjuang dulu untuk cucu kami."
Kalimat itu membuat waktu seolah berhenti. "Cucu kami." Mida membeku. Matanya membelalak. Bibirnya bergetar. Beberapa detik ia hanya terdiam. Lalu Air matanya jatuh tanpa mampu ditahan. Tangisnya pecah. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
Bu Ana terkejut. "Mi... kenapa, Nak?"
Mida menggeleng di sela isak tangisnya. "Bukan... Bukan karena sedih, Bu." Mida berusaha tersenyum diantara tangisnya. "Saya...saya hanya..." Tangisnya semakin keras. Selama bertahun-tahun membesarkan Harapan seorang diri, Mida hampir tidak pernah mendengar ada orang yang menyebut putranya sebagai bagian dari keluarga mereka. Harapan tumbuh tanpa perhatian ayahnya. Tanpa keluarga besar yang menyambutnya. Bahkan ketika ia masih hidup, Mida sering merasa seolah hanya dirinya yang benar-benar memiliki Harapan.
Kini, setelah Harapan telah tiada, Seseorang berkata, "Berjuang dulu untuk cucu kami." Kalimat sederhana itu menghantam seluruh pertahanan hatinya. Dengan suara bergetar, Mida berkata, "Selama ini.....tidak ada yang pernah menganggap Harapan sebagai keluarganya. Saya selalu merasa... hanya saya yang memilikinya."