Ketika Cindy berusia 10 tahun, ia diperkenalkan oleh kedua orang tuanya dengan remaja muda berusia 16 tahun. Ayah dan Ibu memperkenalkannya sebagai Paman Angkat.
Singkat cerita, Paman Angkat bernama David hendak menikah dengan seorang wanita yang sudah dipacari nya lebih dari 3 tahun. Namun pernikahan itu batal, karena pihak dari pengantin wanita tidak hadir dan menikah dengan pria lain.
karena sudah menyebar undangan dan tidak ingin keluarga menjadi malu, orang tua Cindy tiba-tiba saja menikahkan dirinya dengan David, Sang Paman Angkat.
Bagaimana Kisah Mereka? Mari Disimak Sekarang Juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 8
Renata tak sengaja melihat kekasihnya bersama Cindy, langsung berjalan keduanya. Renata menyapa David seraya memeluk lengan David dengan manja.
“David, kamu kok ke sini tidak bilang sama aku? Kamu pasti merindukan aku ya?” tanya Renata sambil melirik licik ke arah Cindy.
Cindy tidak akan membiarkan Renata dekat dengan Pamannya, karena Sang Paman belum membelok sepatu yang diinginkan Cindy.
“Paman, ayo pergi!” Cindy sekuat tenaga menarik tangan David agar segera pergi dari Renata.
“Cindy, kamu apa-apaan sih? Kamu tidak lihat apa kalau Tante ada di sini?” tanya Renata dengan terus memeluk lengan kekasihnya, David.
“Paman harus menepati janji yang sudah Paman buat. Kalau tidak, Cindy akan melaporkan kepada Ayah dan Ibu,” tegas Cindy.
David tak bisa mengabaikan ucapan Cindy, dengan sangat terpaksa ia memilih untuk menemani Cindy dan meminta maaf kepada Renata karena tidak bisa membawa Renata ikut bersamanya.
Renata mendengus kesal karena kekasihnya lebih memilih Cindy daripada dirinya.
“Paman dan keponakan? Kenapa aku merasa mereka seperti sepasang kekasih?” tanya Renata bermonolog.
Renata sendiri hanya tahu hubungan keduanya adalah Paman dan keponakan. Tanpa tahu yang sebenarnya bahwa hubungan keduanya tidak ada tali persaudaraan sama sekali.
“Paman dan Tante akan baik-baik saja, 'kan? Kalian tidak mungkin bertengkar hanya karena Cindy?” tanya Cindy penasaran.
David tak ingin menjawab, dipikirannya hanya ada Renata seorang. Ia berharap Renata memaklumkan sikapnya yang cukup cuek pada Renata.
“Paman, kita ke toko itu ya!!”
“Iya,” jawab David singkat.
Cindy menyipitkan kedua matanya karena ia tahu bahwa Pamannya itu tidak fokus berada di dekatnya.
“Paman, bagaimana dengan yang ini?” tanya Cindy seraya memperlihatkan sepatu berwarna putih.
“Bagus,” jawab David.
“Kalau yang ini bagaimana?” tanya Cindy seraya memperlihatkan sepatu berwarna merah mencolok.
“Bagus,” jawab David lagi.
Cindy seketika itu memasang wajah sedih, ia kecewa dengan Pamannya.
“Paman harus fokus dengan sepatu yang ingin Cindy beli. Ketemu tante Renata bisa lain waktu,” pungkas Cindy.
David diam membisu yang mana hal itu membuat Cindy memutuskan untuk segera pulang ke rumah dan tak tertarik dengan sepatu yang ingin dibelinya.
David menahan Cindy seraya meminta maaf dan meminta Cindy untuk kembali memilih sepatu mana yang diinginkan Cindy.
Cindy yang memang mudah untuk dibujuk, langsung tersenyum dan mengambil 2 pasang sepatu.
“Cindy, kenapa malah 2 pasang?” tanya David.
“Karena Cindy mau sepatu ini dan Paman harus membelikannya,” jawab Cindy santai.
“Kalau begini, Pamanmu ini bangkrut,” celetuk David.
“Tenang saja, Paman tidak akan bangkrut. Paman tinggal bekerja saja menggunakan wajah Paman yang tampan itu. Cindy yakin akan ada banyak tante girang yang membayar mahal Paman,” pungkas Cindy.
David tersenyum kecil mendengar ucapan Cindy. Kemudian, menarik pinggang Cindy ke tubuhnya.
“Memangnya kamu pikir Paman ini cowok apaan?” tanya David dengan posisi yang sangat dekat, hingga tidak ada jarak diantara keduanya.
Cindy yang mulai salah tingkah, mencoba menarik telinga Pamannya dan untungnya Paman angkatnya segera melepaskan dirinya.
“Terima kasih untuk sepatunya, Cindy pulang duluan ya!”
Cindy tertawa lepas seraya berlari meninggalkan David di toko sepatu tersebut.
“Mas, boleh minta nomor telepon?” tanya salah satu pegawai yang bekerja di toko tersebut.
“Maaf, saya sudah punya istri,” jawab David seraya menunjuk ke arah Cindy yang sedang berlari menjauh.
Pegawai itu langsung menunduk malu setelah mendapatkan jawaban dari David.