Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencintai Pembunuh Orang Tua ku.
Di sisi lain, Seolhwa perlahan terbangun dari pingsannya. Kepalanya terasa berat dan pandangannya masih kabur. Saat kesadarannya kembali sepenuhnya, ia menyadari bahwa dirinya sedang duduk di sebuah kursi dengan kedua tangan dan kaki terikat erat.
Rasa panik langsung menyerangnya.
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Di sana berdiri Tuan Seok bersama beberapa anak buahnya yang menatapnya tanpa ekspresi.
"Hai, cantik. Akhirnya bangun juga."
Suara itu membuat Seolhwa menoleh. Tuan Seok sudah berdiri tepat di hadapannya dengan senyum yang membuat bulu kuduknya merinding.
"S-siapa kamu? Di mana aku sekarang?" tanyaku gugup.
"Kau ingin tahu siapa aku?"
Tuan Seok menyeringai. Tangannya terulur, mencengkeram dagu Seolhwa dan memaksanya menatap wajahnya.
Namun, sebelum pria itu sempat melanjutkan perkataannya, suara dobrakan keras mengguncang ruangan.
Brak!
Pintu tua itu terbuka dengan paksa.
Semua orang menoleh.
Eun Dam berdiri di ambang pintu dengan tatapan penuh amarah. Wajahnya begitu dingin hingga membuat siapa pun bergidik.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung melayangkan pukulan ke wajah Tuan Seok.
Bug!
Tubuh Tuan Seok terhuyung sebelum akhirnya tersungkur ke lantai.
Beberapa anak buahnya bergerak hendak menyerang Eun Dam, tetapi Tuan Seok segera mengangkat tangan, menghentikan mereka.
Pria tua itu bangkit perlahan sambil mengusap darah di sudut bibirnya. Senyum licik masih terukir jelas di wajahnya.
"Jangan berlagak menjadi orang baik, Eun Dam."
Tatapannya beralih kepada Seolhwa.
"Kau tahu, Seolhwa? Pria yang kau sukai itu adalah seorang pembunuh."
Seolhwa membeku.
"Dia adalah orang yang telah membunuh kedua orang tuamu."
Tawa Tuan Seok menggema memenuhi ruangan.
"Hahaha!"
Mata Seolhwa membelalak lebar.
"A-apa maksudmu? Orang tuaku meninggal karena kecelakaan tunggal!"
"Tidak!" bentak Tuan Seok. "Kau salah."
Ia melangkah mendekat dengan tatapan penuh kemenangan.
"Orang tuamu meninggal karena aku yang memerintahkan Eun Dam untuk menabrak mobil mereka menggunakan truk besar. Mobil itu terguling sebelum akhirnya terlempar ke sungai."
Dunia Seolhwa seakan runtuh dalam sekejap.
Dadanya terasa sesak.
Perlahan, ia menoleh ke arah Eun Dam yang hanya terdiam dengan wajah pucat.
"E-Eun Dam..." lirihku dengan suara bergetar. "Apa semua itu benar?"
"Seolhwa... a-aku...."
"Jawab aku!" teriakku.
Air mata mulai mengalir tanpa bisa kutahan.
Eun Dam menundukkan kepala. Bahunya bergetar hebat.
"M-maafkan aku..." suaranya terdengar serak. "Maafkan aku, Seolhwa."
Ia jatuh berlutut di hadapanku.
Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya luruh begitu saja.
Saat itulah hatiku terasa hancur berkeping-keping.
Bukan hanya karena kenyataan yang baru saja terungkap, tetapi karena orang yang selama ini paling kupercaya ternyata menyimpan rahasia sebesar itu.
Di sisi lain, Hwi Sol dilanda kepanikan luar biasa setelah menerima panggilan dari Eun Dam sesaat sebelum pria itu mendatangi tempat tersebut.
Perasaannya terus-menerus tidak tenang.
Tanpa membuang waktu, Hwi Sol segera menghubungi pihak kepolisian dan memberikan lokasi keberadaan adiknya.
Setelah itu, ia bergegas menuju tempat tersebut dengan kecepatan penuh.
"Seolhwa... bertahanlah."
Tangannya mencengkeram kemudi erat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sangat takut kehilangan seseorang.
***
"Mengapa...?"
Air mataku terus mengalir tanpa henti.
"Mengapa kau melakukan itu pada orang tuaku, Eun Dam?" tanyaku dengan suara bergetar.
Dadaku terasa sesak hingga sulit bernapas.
"Apa salah mereka padamu?"
Aku menatapnya dengan tatapan penuh luka.
"Kau mendekatiku... meski tahu aku adalah anak dari pasangan suami istri yang telah kau bunuh. Keluarga yang hidupnya telah kau hancurkan!"
Tangisku pecah.
Selama ini aku percaya padanya. Aku menganggapnya sebagai tempat ternyaman untuk pulang. Namun, kini semua kepercayaan itu terasa seperti kebohongan yang menusuk tepat ke jantungku.
"Seolhwa... tidak seperti itu." Eun Dam menggeleng cepat. Air mata terus mengalir di wajahnya. "Awalnya aku tidak ta—"
Namun, sebelum ia sempat menyelesaikan penjelasannya, sebuah tendangan keras menghantam punggungnya dari belakang.
Bug!
Tubuh Eun Dam langsung terlempar ke depan dan tersungkur di lantai.
"Banyak bicara!"
Salah satu anak buah Tuan Seok berdiri dengan tatapan sinis setelah melayangkan tendangan itu.
Eun Dam berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit. Napasnya memburu, sementara air mata penyesalan masih mengalir tanpa henti.
Ia menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, pria yang selama ini terlihat kuat itu tampak begitu rapuh.
Dan pemandangan itu justru membuat hatiku semakin sakit.
"Hei!"
Tuan Seok menunjuk ke arahku.
"Hubungi oppa kesayanganmu itu. Suruh dia membawa uang tebusan jika ingin kau selamat."
Senyum licik terukir di wajahnya.
"Lalu setelah itu... aku akan menghabisi kalian semua."
"Tidak!"
Aku menggeleng kuat-kuat.
"Aku tidak akan membuatnya datang ke sini! Lebih baik habisi saja aku!"
Tangisku kembali pecah.
Mendengar penolakanku, wajah Tuan Seok berubah gelap. Amarahnya memuncak dalam sekejap.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku.
Kepalaku terhuyung ke samping. Sudut bibirku terasa perih.
"Seolhwa!"
Eun Dam berteriak.
Tanpa berpikir panjang, ia menerjang Tuan Seok dan menghantam pria itu hingga terjatuh.
Melihat bos mereka diserang, para anak buah Tuan Seok langsung bergerak.
Dalam hitungan detik, ruangan itu berubah kacau.
Eun Dam menghadapi mereka seorang diri.
Ia mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan bela diri yang selama ini dimilikinya. Namun, kondisinya tidak lagi seperti dulu.
Cedera di kakinya belum pulih sepenuhnya. Bahkan sebelum datang menyelamatkanku, ia telah menerima hantaman keras yang membuat kakinya semakin sulit digerakkan.
Meski begitu, ia tetap berdiri.
Tetap melawan.
Tetap bertahan.
Semata-mata untuk melindungiku.
Namun jumlah lawan yang terlalu banyak perlahan menguras tenaganya.
Tubuhnya akhirnya jatuh berlutut.
Napasnya memburu.
Tetapi matanya tetap menatap ke arahku seolah memastikan aku masih baik-baik saja.
Tuan Seok menatap Eun Dam dengan senyum kemenangan.
"Sudah selesai, Eun Dam."
Ia melangkah mendekat sambil menggenggam sebuah pisau kecil.
Jantungku seakan berhenti berdetak.
"Berhenti..." lirihku.
Suaraku nyaris tak terdengar.
"Jangan sakiti dia..."
Namun Tuan Seok tidak memedulikanku.
Tatapannya dipenuhi kebencian.
Lalu ia berbalik ke arahku.
Aku hanya bisa memejamkan mata saat sebuah benda keras dilemparkan ke arahku.
Rasa sakit menjalar di wajahku.
Sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, Tuan Seok kembali melangkah mendekat.
Pisau itu kini mengarah kepadaku.
Tidak.
Aku tidak takut untuk diriku sendiri.
Aku hanya takut melihat seseorang terluka karena diriku.
"Eun Dam..." bisikku.
Namun pada detik berikutnya, semuanya terjadi begitu cepat.
Eun Dam yang sebelumnya terjatuh tiba-tiba bangkit.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia berlari ke arahku dan berdiri di depanku.
Seolah ingin menjadi tameng terakhir.
Seolah ingin melindungiku sekali lagi.
Dan saat itulah...
Tubuhnya tersentak.
Mata kami bertemu.
Waktu seakan berhenti.
"E-Eun Dam..." suaraku bergetar.
Pria itu menatapku dengan senyum yang begitu lemah.
Senyum yang membuat dadaku terasa sesak.
Lututku melemas.
"Tidak..."
Air mata mengaburkan pandanganku.
"Tidak..."
Tangisku pecah.
"Tidak! Jangan!"
Namun semuanya terasa terlambat.
Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar takut kehilangan dirinya.