Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab¹
"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak."
Naura tersenyum sambil mengusap pipi putra bungsunya yang belepotan saus tomat. Di seberangnya, putri sulung mereka sedang sibuk menghabiskan segelas susu sebelum berangkat sekolah.
"Ma, nanti Mama jemput aku, ya?" tanya putrinya.
"Oke sayang, selama ini kan... Mama selalu jemput kalian."
Naura mengacak lembut rambut putrinya, meski tubuhnya kini jauh lebih berisi dibandingkan delapan tahun lalu tapi senyumnya tetap hangat.
Dua kehamilan yang berdekatan membuat berat badannya naik drastis. Bekas operasi caesar, kurang tidur karena mengurus anak, ditambah kesibukan mengurus rumah membuat tubuhnya tak pernah kembali seperti dulu.
Namun Naura tidak pernah menyesal. Baginya, kedua anak itu adalah anugerah terbesar dalam hidupnya.
Tak lama kemudian, suara klakson terdengar dari luar. Mobil penjemput sekolah sudah datang, Naura mencium kening kedua anaknya bergantian.
"Hati-hati di sekolah, ya."
"Iya, Ma!"
Setelah anak-anak pergi, rumah mewah itu mendadak terasa sunyi. Naura membereskan meja makan seorang diri.
Biasanya, Erwin sudah berangkat ke kantor sejak pagi. Namun hari ini, pria itu justru duduk di ruang keluarga dengan kaki disilangkan, mengenakan setelan jas mahal berwarna hitam. Tatapannya dingin, seolah sedang menunggu sesuatu.
"Kok belum berangkat?" tanya Naura sambil tersenyum.
"Ada yang ingin kubicarakan." Nada suara Erwin terkesan dingin.
Naura menghampiri, masih dengan raut wajah biasa saja tanpa ada kecurigaan apapun. "Ada apa?"
Tanpa banyak bicara, Erwin meletakkan sebuah map di atas meja. "Aku ingin bercerai."
Perkataan suaminya itu membuat senyum Naura menghilang seketika. "A-apa?"
"Aku sudah menyiapkan semua berkasnya."
Naura menatap map itu, lalu kembali menatap wajah suaminya. Ia berharap mendengar tawa, dan berharap semua ini hanya candaan yang kelewatan. Namun wajah Erwin sama sekali tidak berubah.
"Kau serius?"
"Sangat serius."
Jantung Naura berdegup semakin cepat. "Kenapa?"
"Aku sudah lelah."
"Lelah karena apa?"
Erwin berdiri, tatapannya perlahan turun mengamati tubuh Naura dari kepala hingga kaki. Pandangan pria itu merendahkan. "Lihat dirimu, Naura!"
Refleks Naura memegang ujung bajunya. "Apa maksudmu?"
"Kau berubah!“ Erwin mendengus jijik.
“Setelah melahirkan dua anak kita, memang tubuhku belum kembali seperti dulu..." suara Naura mulai bergetar, "Tapi Mas, aku sedang berusaha menurunkan berat badan."
Erwin justru tersenyum sinis. "Sudah tiga tahun, kau bilang masih berusaha?"
"Kau tahu bagaimana rasanya ketika semua kolega bertanya kenapa istriku terlihat seperti kau ini, gendut? Mereka membawa istri yang cantik, langsing, dan berkelas. Sementara aku... harus berdiri di samping wanita gemuk yang membuatku kehilangan rasa percaya diri." Setiap kata yang keluar dari mulut pria itu terasa seperti pisau.
Wajah Naura memucat. "Jadi... kau malu memiliki istri sepertiku?"
"Bukankah itu sudah jelas?" Erwin tersenyum sinis.
"Tubuh ini berubah karena mengandung anak-anakmu, Mas." Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Naura. "Karena setelah melahirkan mereka, setiap malam aku begadang saat mereka sakit... sementara kau sibuk bekerja tanpa pernah mau membantuku mengurus mereka."
"Itu pilihanmu." Erwin mengembuskan napas pelan.
Jawaban singkat pria itu menghancurkan seluruh pertahanan Naura.
Pilihannya? Bukankah dulu Erwin sendiri yang memintanya berhenti bekerja agar fokus mengurus keluarga? Bukankah Erwin juga yang berkata... bahwa dirinya akan menjaga Naura seumur hidup?
Ternyata semua janji itu hanya berlaku saat tubuhnya masih sempurna.
"Sayang..." Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan seorang wanita muda melangkah masuk sambil membawa tas bermerek.
Ia berhenti sesaat ketika melihat Naura. "Oh, apa aku mengganggu?"
Naura mengenal wajah itu, Davina—sekretaris pribadi Erwin.
Tatapan keduanya bertemu, Davina sama sekali tidak tampak canggung. Sebaliknya, wanita itu berjalan mendekat lalu berdiri tepat di sisi Erwin. Tangannya bahkan dengan santai melingkar di lengan pria itu.
"Jadi benar..." Dada Naura terasa sesak, Ia menatap Erwin. "Kalian memiliki hubungan?"
Erwin tidak melepaskan tangan Davina.
"Iya." Jawab pria itu singkat, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Naura tersenyum pahit. "Sejak kapan?"
"Sudah cukup lama, sejak kau mulai berubah."
Naura mengangguk pelan, kini semuanya masuk akal. Lembur suaminya yang terlalu sering, dan perjalanan bisnis mendadak. Pesan yang selalu disembunyikan, dan parfum wanita asing yang beberapa kali menempel di jas Erwin. Semuanya bukan sekadar kecurigaannya, melainkan kenyataan.
"Aku akan menandatangani surat cerai itu." Suara Naura terdengar jauh lebih tenang. "Tapi... aku ingin tetap bersama anak-anak."
Belum sempat Erwin menjawab, Davina terkekeh pelan. "Maaf, Naura. Tapi sepertinya... itu tidak mungkin."
"Apa maksudmu?" Naura mengernyit.
Erwin mengambil satu map lain dari atas meja. "Aku sudah mengajukan hak asuh penuh, kedua anak akan tinggal bersamaku."
Seolah disambar petir, tubuh Naura membeku. “Kau tidak serius..."
"Aku sangat serius, anak-anak membutuhkan lingkungan yang lebih baik." Erwin menatap tubuh Naura tanpa sedikit pun rasa iba. "Dan seorang ibu... yang bisa mereka banggakan. Lihat saja keadaanmu sekarang, bagaimana mungkin kau bisa membesarkan mereka?"
Naura memejamkan mata beberapa saat. Dadanya sesak, tetapi ia menolak menangis di hadapan mereka. Ia membuka matanya, lalu perlahan menarik map berisi surat perceraian itu ke hadapannya.
Delapan tahun pernikahan, dan dua anak yang ia lahirkan. Semua pengorbanannya, ternyata berakhir hanya dengan beberapa lembar kertas. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil pena. Namun, ia tetap membubuhkan tanda tangannya.
Brak!
Naura meletakkan pena di atas meja. "Sekarang kita sudah resmi berpisah secara kesepakatan."
Erwin mengambil kembali map itu tanpa sedikit pun keraguan, tatapan pria itu justru tampak lega.
Naura menatap pria bajingan itu dengan pandangan dingin menusuk. "Lalu tentang hak asuh anak, aku tidak akan menyerah. Kedua anak itu lahir dari rahimku, aku yang mengandung mereka selama sembilan bulan, mempertaruhkan nyawaku di ruang operasi, dan membesarkan mereka dengan tanganku sendiri. Aku akan memperjuangkan hak asuh mereka, apa pun yang terjadi!"
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂