Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sejak kepergian tabib tua itu, Sang Warok lebih banyak bungkam. Ia duduk terpekur di atas batang jati yang tumbang sembari mengasah goloknya. Namun, ada yang berbeda kali ini; sapuan tangannya pada batu asah tidak setenang biasanya. Ada jeda dan keraguan dalam setiap gesekan.
Jangkrik mengamati gerak-gerik itu dari kejauhan. Selama hampir setahun hidup dan ditempa oleh pria itu, baru kali ini ia melihat gurunya tenggelam dalam pikiran yang begitu dalam.
"Warok," panggil Jangkrik akhirnya memecah kesunyian.
"Hm?"
"Orang tua tadi... seberapa berbahaya dia?"
Gerakan tangan Warok terhenti. Ia menatap bilah goloknya yang berkilat. "Sangat berbahaya."
"Lebih berbahaya darimu?"
Warok mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya, tidak ada guratan senyum sinis atau tatapan meremehkan di bibirnya. "Dalam lingkaran pertarungan, Jangkrik, tidak ada manusia yang mutlak paling kuat."
Jawaban itu membuat Jangkrik mengernyit bingung. "Tapi selama ini kau selalu pongah dan berkata tak ada satu pun pendekar yang bisa mengalahkanmu."
Warok terkekeh pelan, suara tawanya terdengar getir. "Itu hanya caraku untuk membakar semangat dan mentalmu." Ia mengusap mata golok dengan ibu jarinya, memeriksa ketajamannya. "Lelaki tua itu tidak ditakuti karena jumlah nyawa yang telah ia bunuh."
"Lalu?"
"Karena jumlah nyawa yang telah ia selamatkan."
Jangkrik semakin tidak mengerti. "Kalau dia seorang penyelamat, kenapa kau harus sekaku itu menghadapi kedatangannya?"
*Sret.* Warok memasukkan kembali goloknya ke dalam sarung kayu. "Karena seseorang yang menguasai seratus cara untuk menyelamatkan nyawa... biasanya juga tahu seratus cara rahasia untuk mencabutnya."
Malam benar-benar turun. Api unggun kembali dinyalakan di depan gubuk, mengusir hawa pekat lereng gunung. Warok menusuk sepotong daging rusa lalu melemparkannya ke atas bara api. Lemak yang meleleh menetes ke arang, menimbulkan suara mendesis bersama wangi gurih yang menguar.
Mereka berdua duduk berseberangan, menyantap makanan dalam keheningan yang canggung. Sampai tiba-tiba, Warok membuka suara dengan nada rendah.
"Jangkrik."
"Apa?"
"Kau tidak ingin tahu alasan kenapa aku membantai keluargamu dan membunuh ayahmu?"
Atmosfer di sekitar api unggun mendadak membeku. Jangkrik menghentikan kunyahannya seketika. Tangannya yang memegang potongan daging mengepal begitu kuat, hingga ruas-ruas jarinya memutih dan gemetar.
"Aku memang selalu ingin tahu," jawab Jangkrik, suaranya ditekan sedalam mungkin.
Warok menatap kobaran api yang menari-nari, memantulkan cahaya kemerahan pada gurat wajahnya yang keras. "Dua puluh tahun yang lalu... aku bukan seorang perampok jalanan."
Jangkrik membelalakkan mata, menanti kelanjutan kalimat gurunya.
"Aku juga pernah menjadi seorang murid yang patuh, sama sepertimu saat ini. Guru kami menanamkan satu janji suci: *'Seorang Warok tidak boleh menjual ilmunya demi menjadi anjing penguasa.'*" Warok menusuk bara api dengan sebatang ranting, membuat percikan api beterbangan. "Namun, dunia luar terlalu silau. Murid-murid seperguruanku banyak yang tergoda. Mereka melacurkan ilmu mereka menjadi pengawal pribadi para bangsawan, bahkan sebagian menjadi pembunuh bayaran."
"Bagi guruku, itu adalah pengkhianatan yang hanya bisa ditebus dengan darah. Dan bagiku..." Warok menarik napas panjang, "...itu adalah kemuakan. Aku memilih pergi dan berjalan di jalanku sendiri."
"Aku hidup di dalam hutan, merampok orang-orang kaya yang tamak dan para pejabat korup. Aku tidak pernah menyentuh sepeser pun harta rakyat miskin."
Jangkrik langsung memotong tajam. "Tapi keluargaku bukan bangsawan! Kami hanya keluarga pedagang biasa!"
"Memang bukan," sahut Warok tenang.
"Lalu kenapa?!"
Warok menatap lurus ke dalam sepasang mata Jangkrik yang menyala. "Karena ayahmu bukan sekadar pedagang kain atau rempah biasa. Dia... menyimpan sesuatu."
Jangkrik terdiam, otaknya berputar cepat. "Sesuatu apa?"
Warok menggeleng pasrah. "Itulah misteri yang sampai detik ini belum berhasil kutemukan jawabannya."
"Apa maksudmu?" tuntut Jangkrik, menuntut penjelasan.
Warok bangkit berdiri, bayangannya memanjang di dinding gubuk. "Ayahmu memegang sebuah peti kecil yang sangat rahasia. Banyak pihak dari kalangan atas yang memburunya, dan aku adalah salah satu dari mereka yang mengendus keberadaannya. Namun, saat malam aku membantai rumahmu dan menggeledah setiap sudut... peti itu sudah lenyap."
Jangkrik mencoba menggali ingatan masa lalunya. Namun, saat tragedi berdarah itu terjadi, usianya baru delapan tahun. Ingatannya dipenuhi oleh jeritan dan genangan darah, bukan tentang sebuah peti.
"Apa isi peti itu?"
"Aku tidak tahu," jawab Warok singkat.
"Kalau kau bahkan tidak tahu isinya, kenapa kau tega menghabisi nyawa mereka?!" Suara Jangkrik meninggi, dipenuhi luapan emosi yang tertahan bertahun-tahun.
Warok terdiam cukup lama. Hening kembali menjalar, hanya ditemani derak kayu bakar yang terbakar habis. Dengan suara berat dan dingin, ia menjawab, "Karena aku yakin... ayahmu menyembunyikannya di suatu tempat, dan kematian adalah satu-satunya cara untuk memastikan rahasia itu tidak jatuh ke tangan orang lain jika aku gagal mendapatkannya."
Jangkrik langsung tersentak berdiri. Wajahnya memerah padam akibat darah yang berdesir cepat. "Jadi... kau membantai seluruh keluargaku hanya berdasarkan dugaan semata?!"
Warok tidak berkedip, tidak pula menghindar. "Ya."
Keheningan yang mencekam kembali merayap di antara mereka. Napas Jangkrik memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang nyaris meledakkan akal sehatnya. Untuk pertama kalinya, ia mendengar pengakuan keji itu langsung dari mulut sang pelaku. Jiwanya menjeritkan dendam, menuntutnya untuk menerkam pria di hadapannya saat ini juga.
Namun, di ambang batas kemarahannya, kilasan demi kilasan latihan fisik dan mental yang kejam dari Warok selama ini berputar di kepalanya. Jangkrik memejamkan mata. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia memaksa amarah membara itu turun dan terkubur jauh di dalam ulu hatinya.
Warok yang sedari tadi bersiap menghadapi hantaman muridnya, memperhatikan perubahan kontrol emosi tersebut. Sebuah anggukan pelan lolos dari kepalanya. "Bagus. Kau akhirnya mulai belajar mengendalikan diri."
Jangkrik membuka mata, menatap gurunya dengan pandangan yang kini sedingin es di puncak gunung. "Aku memang belajar dari ilmu yang kau jejalkan, Warok. Sangat banyak."
Warok menyunggingkan senyum tipis. "Lalu? Apa yang akan kau lakukan?"
Jangkrik membungkuk, mengambil sebatang kayu jati kering yang tebal dari dekat perapian. Dengan satu hentakan tenaganya, tangan kapalan bocah itu meremukkan kayu tersebut hingga patah menjadi dua.
"Mulai malam ini... aku tidak lagi ingin membunuhmu karena didorong rasa marah atau dendam."
Warok mengangkat sebelah alisnya, tertarik. "Lalu karena apa?"
Jangkrik menatap lurus, mengunci sepasang mata gurunya tanpa rasa gentar sedikit pun. "Karena keadilan."
Sang Warok tertegun. Senyum tipis kembali terukir di wajah kerasnya, kali ini dengan gurat kepuasan. "Itu... justru jauh lebih berbahaya daripada sekadar dendam."
Di balik kepekatan dan rimbunnya hutan jati, sepasang mata misterius mengamati interaksi menegangkan itu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sosok itu melebur bersama kegelapan di balik sebatang pohon raksasa, wajahnya tersembunyi sempurna oleh bayang-bayang malam.
Ia telah mendengar setiap kata, setiap pengakuan tentang peti kecil yang dicari-cari oleh Sang Warok. Di kegelapan malam Pegunungan Sewu itu, sebuah senyum misterius terkembang. Perburuan terhadap rahasia besar keluarga Jangkrik rupanya baru saja dimulai.