Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketukan Nurani di Balik Dinding Angkuh
Suasana di ruang tamu keluarga Dafril masih sarat akan ketegangan yang mencekat dada. Jerit panik para pelayan yang membantu Pak Dafril mengurus Bu Dafril yang pingsan berangsur-angsur menjauh setelah wanita paruh baya itu dipapah menuju kamar utama di lantai bawah. Namun, sisa-sisa badai fitnah di ruangan itu sama sekali belum mereda. Aroma minyak angin kini bercampur dengan hawa permusuhan yang kian menembus batas kesabaran.
Di satu sudut, Umi Zaza masih mendekap erat tubuh putrinya sembari terisak lirih. Sementara itu, Rayyan berdiri dengan napas memburu, kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun, siap meledak untuk menerkam Davin yang masih memasang wajah sok suci. Namun, sebuah tangan yang kokoh, berurat, dan sarat akan pengalaman hidup tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Rayyan.
"Tenang, Rayyan. Istigfar," bisik Pak Zain, abi dari Zaza. Cengkeraman tangan beliau begitu mantap, menahan gelombang emosi menantunya agar tidak melakukan tindakan gegabah.
Pak Zain melangkah maju satu langkah, memosisikan dirinya di tengah ruangan, tepat di hadapan Pak Baskoro yang masih bersedekap dada dengan keangkuhan seorang pengusaha besar. Sebagai seorang pria paruh baya yang menghabiskan separuh hidupnya di dunia akademis dan laboratorium riset sebelum masa pensiunnya, pembawaan Pak Zain begitu tenang, namun sorot matanya memancarkan kecerdasan yang tajam.
"Pak Baskoro, dan kalian anak-anak muda yang sedang berdiri di atas sandiwara," Pak Zain membuka suara, nadanya rendah namun berwibawa, sanggup membungkam bisik-bisik di dalam ruangan. "Dunia ini memang panggung yang luas, dan setan selalu punya seribu satu celah untuk menuntun manusia ke dalam neraka. Setan tidak akan pernah membiarkan sebuah ikatan suci berjalan tenang jika ada celah nafsu dan dendam yang bisa mereka manfaatkan."
Beliau menatap lurus ke arah Davin, lalu beralih pada Ghea yang tampak sedikit bergeser gelisah di tempat duduknya. "Saya mengenal menantu saya, Rayyan. Jika memang anak ini melakukan kesalahan fatal karena kekhilafannya, dengan didikan yang saya berikan selama satu tahun ini, saya yakin dia akan datang kepada saya, bersujud, dan mengakui dosanya jantan sebagai seorang laki-laki. Dia tidak akan berdiri di sini dan bersumpah demi nama Allah jika dia berbohong."
Mendengar kalimat itu, Davin tiba-tiba terkekeh sinis, mencoba mengaburkan kewibawaan Pak Zain di depan Pak Baskoro. "Halah, Pak... Zaman sekarang mana ada maling yang mau mengaku? Kalau semua maling langsung mengaku setelah berbuat kriminal, ya penjara di kota ini pasti sudah penuh dari dulu! Pak Rayyan cuma takut kehilangan posisinya di Dafril Group dan takut diceraikan oleh anak Bapak, makanya dia pakai tameng sumpah."
Rayyan kembali tersentak mendengar kelancangan sekretarisnya. "Davin! Kau—"
"Rayyan, diam," potong Pak Zain tegas tanpa menoleh, tangannya tetap memegang erat lengan Rayyan.
Pak Zain kemudian menatap Pak Baskoro kembali. "Pak Baskoro, sebagai sesama orang tua, saya sangat memahami kemarahan Anda jika benar kehormatan putri Anda telah direnggut. Namun, sebagai orang yang bertahun-tahun hidup di dalam ruang laboratorium dan mengandalkan akurasi data ilmiah, saya tidak bisa mendudukkan sebuah perkara hukum dan nasib rumah tangga anak saya hanya berdasarkan kesaksian sepihak dari seorang sekretaris yang belum tentu bersih."
Pak Zain menjeda kalimatnya, merogoh saku kemejanya dengan tenang. "Oleh karena itu, jika Anda memang mencari keadilan dan pertanggungjawaban yang sebenar-benarnya, saya meminta izin kepada Anda selaku ayah Ghea, untuk kita bersama-sama membawa Ghea ke rumah sakit siang ini juga. Kita lakukan tes DNA pada janin yang sedang dikandungnya. Metode Non-Invasive Prenatal Testing atau NIPT sudah sangat akurat bahkan sejak usia kehamilan dini melalui sampel darah ibu. Biayanya, biar saya yang tanggung menggunakan uang pensiun saya."
Mendengar frasa tes DNA dan sampel darah, wajah Ghea yang semula merona merah karena sandiwara tangis langsung berubah pucat pasi seketika. Jantungnya berdegup horor. Ia melirik tajam ke arah Davin yang juga mulai berkeringat dingin di sudut ruangan. Jika tes itu benar-benar dilakukan, maka kedok mereka berdua akan telanjang bulat di depan semua orang.
"Nggak! Aku gak mau!" seru Ghea spontan, suaranya melengking tinggi, memotong pembicaraan dengan kepanikan yang tidak bisa disembunyikan lagi. Ia langsung berdiri, memegangi perutnya erat-erat seolah sedang diserang. "Papa... Ghea gak mau! Janin di dalam kandungan Ghea ini masih sangat lemah. Ghea gak mau disuntik-suntik atau diambil darahnya cuma buat menuruti ego orang-orang yang gak mau mengakui kesalahannya! Ini merendahkan harga diri Ghea sebagai perempuan, Pa!"
Pak Baskoro mengerutkan dahinya melihat reaksi putrinya yang tampak terlalu histeris untuk sebuah tes medis yang sebenarnya aman. Namun, ego kelas atasnya membuat pria paruh baya itu tetap mengeraskan suaranya. "Benar! Anak saya tidak perlu membuktikan apa pun lewat tes laboratorium murahanmu itu, Pak Zain! Kesaksian Davin dan bukti foto sudah lebih dari cukup!"
Pak Zain tidak terpancing oleh bentakan itu. Beliau justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan kemenangan logika. Sorot matanya beralih menatap Ghea yang kini membuang muka dengan napas memburu.
"Kenapa harus takut, Ghea? Jika janin itu benar darah daging Rayyan, tes DNA justru akan menjadi senjata paling ampuh untuk mengunci lidah kami semua dan memaksa Rayyan untuk tunduk pada tuntutan kalian," ucap Pak Zain dengan nada yang teramat tenang namun begitu menghunjam. "Penolakanmu yang begitu instan... justru menjelaskan banyak hal yang coba kamu sembunyikan dari ayahmu sendiri."
Ruang tamu mewah itu mendadak diselimuti keheningan yang sarat akan kecurigaan baru. Di dalam pelukan Uminya, Zaza perlahan mendongak, menatap abinya dengan rasa bangga yang luar biasa. Zaza tahu, benteng kebohongan yang dibangun oleh Ghea dan Davin kini mulai retak dari dalam, tepat ketika kebenaran ilmiah dan ketukan nurani mulai merayap naik ke permukaan.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe