Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masa lalu Fara dan kabar yang tersebar
Wajahku bersinar lega dan bahagia yang tak terlukiskan. “Terima kasih banyak atas kebaikanmu, Yamal. Terima kasih,” ucapku tulus dari lubuk hati terdalam. Begitu Yamal pergi, aku bersiap secepat mungkin — merapikan pakaian, menyisir rambut, memastikan tak ada yang terlihat berantakan — lalu meminta dipanggilkan sopir agar bisa segera berangkat menuju satu-satunya tempat yang membuatku merasa bernapas kembali.
Namun siapa sangka, kepergianku itu tidak luput dari pandangan seseorang. Dari balik tirai jendela kamar yang berada di lantai dua, sepasang mata sedang mengawasi setiap gerak-gerikku dengan tatapan yang tajam, tenang, namun penuh perhitungan yang mendalam. Itu adalah Fara. Ia sedang duduk dengan tenang di depan meja riasnya, tangannya memegang sisir namun tak benar-benar digunakannya untuk merapikan rambutnya — pikirannya justru melayang jauh kembali ke masa lalu yang kelam dan penuh penderitaan, masa yang telah memaksanya menempuh jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya hingga sampai di tempat ini.
Ia teringat semuanya dengan sangat jelas seolah baru saja terjadi kemarin: dahulu kehidupannya dipenuhi kesusahan dan kesedihan yang tak ada habisnya. Ia lahir di tengah keluarga yang serba kekurangan, ayahnya seorang pemabuk berat yang menumpuk hutang di mana-mana, dan sering melampiaskan segala kemarahannya dengan memukuli dirinya dan ibunya tanpa belas kasihan. Hingga suatu hari, ketika jumlah hutang itu sudah tidak sanggup lagi ditutupi atau ditunda pembayarannya, ayahnya membawanya pergi secara paksa menuju sebuah tempat hiburan malam yang sangat mewah, tempat yang hanya dikunjungi oleh orang-orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan besar — dengan niat jahat untuk menyerahkannya begitu saja demi melunasi segala hutang yang ia buat.
Sesampainya di sana, ia diserahkan begitu saja dengan selembar uang yang diterima ayahnya, lalu ditinggalkan sendirian di tempat asing itu tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Ia dipaksa mengenakan pakaian yang terasa begitu asing, sempit, dan memalukan baginya, lalu didorong masuk ke dalam sebuah ruangan yang membuat seluruh bulu kuduknya merinding ketakutan. Ia hanya mampu berdiri mematung sambil menundukkan kepala, berusaha sekuat tenaga menahan tangis agar tidak terdengar keluar — sampai tiba-tiba sebuah suara yang tegas namun berwibawa terdengar memecah keheningan dan menghentikan segala sesuatu yang hendak terjadi selanjutnya.
Pintu ruangan itu terbuka lebar, dan masuklah seorang wanita paruh baya yang memancarkan wibawa yang sulit untuk ditentang atau dilawan oleh siapa pun. Itulah Elina, bibi kandung dari Adrian Romanov. “Gadis ini sejak saat itu sudah menjadi milikku. Jangan ada satu pun dari kalian yang berani menyentuhnya lagi,” ucapnya tegas kepada semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Kemudian ia memutar badannya menghadap Fara, nada bicaranya tetap dingin namun setiap kata yang terucap terasa sangat jelas dan berbobot: “Dengarkan baik-baik apa yang akan kukatakan ini. Tanda tangani lembar perjanjian ini, dan seketika itu juga segala hutang piutang ayahmu akan hilang sepenuhnya seolah tak pernah ada. Ibumu akan dirawat seumur hidup di rumah sakit terbaik dengan perawatan yang sempurna, dan segala kebutuhan hidup kalian berdua akan terjamin dengan cukup sepanjang masa. Namun jika kau menolak tawaran ini, kau akan melihat nasib yang jauh lebih buruk dan menyedihkan dari apa yang bisa kau bayangkan saat ini.”
Karena diliputi rasa takut yang luar biasa dan lebih dari segalanya ingin menyelamatkan nyawa ibunya yang sedang terbaring lemah, Fara langsung meraih pena yang tergeletak di atas meja itu. Ia menandatangani lembaran kertas itu dengan tangan yang gemetar hebat, bahkan tanpa sempat membaca satu kalimat pun yang tertulis di dalamnya. Itulah awal mula perjanjian yang mengikat hidupnya hingga sampai pada saat ini.
Kini kembali ke kenyataan yang ada di hadapannya, Fara meletakkan sisir yang dipegangnya perlahan ke atas permukaan meja rias. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya ke depan wajah, lalu menatap lekat-lekat cincin berlian yang melingkar indah dan kokoh di jari manisnya. Sebuah senyum tipis namun penuh makna dan ketegasan terukir perlahan di bibirnya. Ia sangat paham betul apa peran yang harus ia jalani, dan apa saja yang diharapkan darinya oleh orang yang telah menolongnya dahulu. Tanpa lagi meragukan atau menunda waktu, ia bangkit berdiri, merapikan sedikit letak pakaiannya, lalu melangkah mantap keluar dari kamar—siap menjalankan peran yang memang sudah ditentukan untuknya sejak awal semuanya dimulai.
Sebelum berangkat menuju rumah sakit, aku terlebih dahulu mampir sebentar ke pusat perbelanjaan yang tadi sempat kami kunjungi. Aku memilihkan beberapa jenis buah yang masih segar ranum: anggur hijau yang manis, apel merah yang kulitnya mengkilap, ceri yang berwarna cerah, serta beberapa jenis buah beri lainnya. Tak hanya itu, aku juga memilihkan beberapa helai pakaian baru yang nyaman dan sopan untuk dipakai oleh Aslan nanti saat ia sudah sadar dan diperbolehkan berpakaian sendiri. Saat sedang berdiri di meja pembayaran, mataku menatap tumpukan bungkusan yang tertata rapi di hadapanku, dan seketika senyum tipis terukir di bibirku sambil bergumam pelan dalam hati: Pasti Aslan akan sangat senang melihat semua ini.
Setelah semua urusan selesai, aku berjalan keluar menuju tempat kendaraan menunggu. Dari kejauhan, sopir pribadi yang sudah disiapkan sejak tadi langsung berdiri tegak dengan sikap hormat, lalu segera membukakan pintu mobil sambil menundukkan kepalanya. Aku pun masuk ke dalam kendaraan yang nyaman itu, dan tak lama kemudian mobil melaju perlahan meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit yang kutuju.
Sesampainya di halaman depan rumah sakit, mobil berhenti dengan sangat halus tanpa terasa hentakannya. Sopir segera turun terlebih dahulu, lalu kembali membukakan pintu untukku dengan penuh kesopanan. Aku turun perlahan sambil memeluk erat kedua bungkusan buah dan pakaian itu di pelukanku. Tak disangka, beberapa orang yang sedang berjalan lewat di sana sempat berhenti sejenak dan menatapku dengan pandangan yang penuh rasa heran.
Kebetulan ada pekerja restoran tak jauh dari sana yang sedang membuang sampah. Matanya terbelalak melihatku turun dari mobil itu. Menutup mulut dengan kedua tangan, tak percaya pada pandangannya sendiri: “Bukankah itu gadis yang dulu minta sedekah di depan kedai kami? Kenapa sekarang pakaian bagus, turun mobil mahal, ada sopir khusus? Tak boleh diam saja, harus beri tahu teman-teman!”
Berlari cepat kembali ke restoran, memanggil rekan yang sedang mencuci piring dan menata peralatan. “Hei semua, ada kabar aneh dan luar biasa yang kulihat!”
Dua temannya melirik sekilas tanpa berhenti bekerja, nada mereka terdengar acuh tak acuh: “Kabar apa lagi? Tiap hari selalu ada saja hal aneh.”
“Ingat gadis yang adiknya dirawat di sini?” tanyanya dengan nada penuh rahasia, mendekatkan wajah seolah takut didengar orang lain.
“Ah ya, tentu ingat. Terus apa?” jawab salah satu sambil mengelap gelas.
“Baru saja kulihat dia di depan rumah sakit! Pakaian indah dan mahal, turun mobil mewah, sopir berdiri hormat membukakan pintu!” ceritanya dengan penekanan di setiap kata, matanya masih membelalak.
Satu rekannya yang memegang kain lap hingga benda itu jatuh ke lantai dengan bunyi berdentang. Matanya melotot tak percaya: “Apa kau tak salah lihat? Benarkah itu dia?”
“Sungguh jelas tanpa halangan sedikit pun! Aku kenal wajahnya, tak mungkin salah!” jawabnya dengan yakin dan mantap
Mereka semua pun terdiam serentak, saling berpandangan satu sama lain seolah masih belum sanggup mempercayai apa yang baru saja mereka dengar. Tanpa mereka sadari, suara percakapan mereka perlahan makin meninggi, hingga akhirnya terdengar jelas oleh pemilik restoran itu—seorang wanita yang baru saja keluar dari ruang kerjanya di bagian belakang.
“Apa yang kalian bicarakan itu? Dan di mana tepatnya kau melihat gadis itu?” tanya wanita itu dengan nada yang penuh rasa heran namun juga tajam, matanya menyipit menatap tajam ke arah pekerjanya itu.
Mereka yang tadi berbicara seketika menjadi panik dan ketakutan, segera menundukkan kepala dengan tubuh yang sedikit gemetar. “Maafkan kami, Nyonya… Tadi saat saya sedang membuang sampah, saya melihatnya turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah sakit itu,” jawabnya terbata-bata.
Wanita pemilik restoran itu terdiam sejenak, matanya makin menyipit tajam menatap ke arah pintu rumah sakit dari kejauhan, seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkan dengan sangat dalam dan direncanakan di dalam benaknya.
Sementara itu, aku berdiri diam sejenak di depan pintu kamar perawatan, memeluk bungkusan yang kubawa itu erat di dekat dadaku. Aku menarik napas panjang perlahan-lahan untuk menenangkan perasaanku, lalu dengan hati-hati memutar gagang pintu itu hingga terbuka.
Begitu aku melangkah masuk, pandanganku langsung tertuju pada tempat tidur yang ada di sudut ruangan itu—di sanalah Aslan terbaring diam dengan tenang, matanya masih terpejam rapat dan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Kaki-kakiku melangkah perlahan mendekati tempat tidur itu, lalu aku duduk di kursi yang tersedia tepat di tepi ranjang. Bungkusan yang kubawa pun kuletakkan perlahan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Aku hanya mampu duduk diam memandangi wajah adikku yang terlihat begitu pucat dan lemah, rasa rindu yang mendalam terasa begitu sesak menyempitkan dadaku hingga perlahan mataku mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hendak jatuh.
“Bangunlah segera, Dik… sampai kapan kau tidur begini?” bisikku pelan, suaraku bergetar hebat tanpa sadar. “Kakak sudah datang. Kakak sudah di sini. Bangunlah dan lihat Kakak.”
Bangkit berdiri, membuka bungkusan buah satu per satu — menatanya dengan bersih dan rapi di wadah yang tersedia, tak ada yang rusak atau terbuang. Kembali duduk diam di sampingnya, tak pernah melepaskan pandangan dari wajah Aslan. Menunggu lama, berharap sekecil apa pun gerakan kelopak matanya — tanda bahwa ia mulai terbangun dari tidur panjangnya yang seakan tak berakhir. Tanganku meraih tangannya yang dingin, menggenggamnya erat seolah tak ingin melepaskan. Aku tak tahu berapa lama aku duduk di sana — menunggu, berharap, berdoa — di satu-satunya tempat di dunia ini yang benar-benar terasa seperti rumah bagiku.