Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang berharap rumah tangganya hancur. Semua wanita akan mengharapkan rumah tangga yang berjalan mulus dan tetap utuh.
Begitu pula dengan Renata, wanita itu mencoba untuk mempertahankan rumah tangganya dengan sekuat tenaga. Menahan sakit caci maki dari mertua, dan juga sakit akibat perlakuan suaminya.
“Apa dengan bersetubuh dan menikah secara diam-diam dengan wanita lain. Baru itu tindakan yang benar? Apa seperti itu, huh, Baji*ngan?!”
Akan tetapi, dia menyerah, saat hadir sosok orang ketiga yang tiba-tiba sudah menjadi madunya. Hatinya sakit, hancur, dan dia pun memberontak, menjadi berani demi mendapat keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my_el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpancing Dunia
Suara hiruk pikuk pekerja yang tengah mengisi perut kosongnya di jam makan siang, membuat Bagas berdecak. Pria itu tidak suka keadaan kantin yang ramai di kantor tempatnya bekerja. Terlebih dia datang cukup terlambat akibat menuntaskan hajatnya terlebih dulu ke toilet.
Seseorang menepuk pundak Bagas pelan, membuat pria itu sedikit terkejut dan menolehkan badannya untuk melihat siapa yang mengagetinya. Ternyata Agung–kepala HRD dan juga Haikal–sekretaris direktur utama tempat dia bekerja.
Senyum sopan Bagas tampilkan untuk menyapa mereka. Selain mereka termasuk seniornya, Bagas memang dekat dengan keduanya. Kerap kali Bagas menikmati makan siang atau pun makan malam bersama keduanya. Terlebih mereka sering bertemu untuk menghadiri rapat-rapat penting perusahaan.
“Kenapa diam saja, Pak Bagas. Apa Anda tidak mau makan?” Agung yang berusia paling tua tiga tahun dari keduanya membuka suara.
Bagas menghela nafas. “Sudah cukup ramai, Pak Agung, sepertinya saya sedikit terlambat,” balas Bagas sedikit lesu menatap sekumpulan karyawan yang sedang mengantre.
Haikal terkekeh. “Bukankah kantin kita memang selalu begitu di saat jam makan siang. Telat sedikit bakal antre panjang,” sahut Haikal tidak mengambil pusing.
“Bagaimana kalau kita makan di restoran terdekat, sebelum jam makan siang habis,” saran Agung membuat keduanya menyetujui tanpa berpikir panjang.
Bagas mengumpat kesal dalam hati, karena dia baru teringat akan kondisi keuangannya yang sangat kritis. Bisa-bisanya dia mengikuti saran Agung. Dia meringis ketika melihat daftar makanan beserta harga yang tertera di menu yang disodorkan oleh salah seorang pelayan di sana.
Sudah kepalang masuk dan duduk, mau tidak mau Bagas pun memesan satu makanan berat, kopi, air mineral, dan juga makanan penutup. Meski keadaan uangnya yang menipis, tak membuat pria itu memesan makanan yang harganya paling rendah. Akan tetapi, Bagas dan gengsinya yang tinggi malah memesan makanan dengan harga yang bisa dibilang mahal.
Mereka bertiga pun makan dengan sesekali mengobrol perihal pekerjaan. Bahkan, tadi Agung sempat menyentil Haikal agar menyampaikan pesan kepada direkturnya, untuk menambah fasilitas kantor, seperti kantin yang harus dibuat lebih besar atau ditambah yang disetujui oleh Bagas. Yang mendapat kekehan khas Haikal.
...****************...
Bagas masuk ke dalam ruangannya. Sebelum masuk, pria itu sedikit mengerutkan keningnya tatkala matanya tanpa sengaja melihat ponsel keluaran baru milik rekan kerjanya, karena seingatnya rekan kerjanya itu baru beberapa bulan yang lalu mengganti ponsel.
Pria itu juga menjadi menelisik penampilan rekan kerjanya yang bernama Egi itu yang berpenampilan rapi dengan pakaian mahal bermerek. Tak ingin mengambil pusing, Bagas masuk dalam bilik ruangannya.
Kepala Bagas berdenyut nyeri, ketika mendapat pesan dari sang istri yang mengatakan Ghea–anaknya tengah demam. Segera saja pria itu menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat pulang untuk membawa sang anak periksa.
Kaki Bagas melangkah memasuki lift dengan terburu-buru. Bagas sedikit terkejut ketika dirinya mendapati Egi yang juga masuk dalam lift beberapa detik setelahnya.
“Buru-buru banget, Gi,” sapa Bagas berbasa-basi.
Egi yang merupakan karyawan muda, dan belum ada dua tahun bekerja di perusahaan itu menyengir kaku ke arah Bagas. “Iya, Pak Bagas. Biar bisa mantau slot dengan nyaman,” jawab laki-laki itu antusias.
Alis Bagas menukik tajam dan menatap ke arah Egi yang sudah sibuk mengotak-atik ponselnya. “Slot online maksud kamu?” tanya Bagas dengan fokus melihat tangan Egi yang masih memainkan layar ponselnya.
Egi segera menyelesaikan kegiatannya tersebut dan memperlihatkan layar ponsel yang berisi judi online kepada Bagas. “Iya, Pak. Seperti ini. Lumayan, loh, Pak, hasilnya,” ucap laki-laki itu berbinar.
“Bukannya malah tambah rugi, ya?” tanya Bagas lagi yang masih kebingungan.
Egi menggeleng. “Enggak, Pak. Aku baru main beberapa bulan ini. Aku naruh modal 1 juta waktu itu, ini sudah berkembang jadi 10 juta,” jelasnya menggebu-gebu.
Bagas mendelik kaget. Dia tidak menyangka akan keuntungan yang besar hanya dari slot. Dia berpikir untung yang didapat tidak akan sampai berkali-kali lipat.
Lantas pria itu hendak bertanya lagi, namun urung tatkala pintu lift terbuka dan Egi pamit dengan cepat-cepat untuk pergi. Akhirnya, Bagas kembali mengatupkan mulutnya yang sempat menganga hendak berbicara.
...****************...
Bagas sampai rumah dengan cepat. Jalanan masih cukup lengang mengingat dia pulang lebih cepat, masih terbilang sore. Segera saja pria itu masuk ke dalam rumah, untuk mengecek keadaan Ghea.
Pria itu mendapati sang istri yang sudah menatap sendu ke sang anak yang tengah di kompres. “Sayang, bagaimana keadaan Ghea?” Bagas bertanya pelan karena anaknya yang tertidur.
Renata sedikit tersentak mendengar suara suaminya yang saat ini sudah ada di dekatnya. Wanita itu menghela nafas lelah. “Masih panas, walaupun tidak sepanas tadi, Mas,” jelasnya dengan raut wajah lelahnya. Bahkan, sangat terlihat jelas jika mata wanita itu sembab, habis menangis.
Bagas mengangguk dan mendekat ke arah sang istri. Direngkuhnya tubuh sang istri dari belakang guna menenangkan kekhawatiran wanita itu.
“Ya sudah kamu siap-siap, gih. Kita bawa Ghea ke klinik. Biar ditangani sama dokter secara langsung,” ujar Bagas lembut dengan mengelus pundak istrinya.
Renata menatap Bagas sejenak, dan mengangguk lemah. Sebagai seorang ibu, pikirannya langsung kalut tatkala melihat sang anak yang biasanya aktif, menjadi terdiam lemas. Apalagi, dengan kondisi tubuh yang sangat panas, membuat Renata tidak memedulikan hal lainnya. Semua pekerjaan rumahnya dia tinggal demi menunggui dan mengompres Ghea. Dia tidak tega melihat sang anak yang terdiam pucat, apalagi untuk meninggalkannya demi pekerjaan rumah.
Segera saja Bagas menggendong Ghea menuju mobilnya begitu melihat sang istri telah keluar bersiap-siap. Sebagai seorang ayah, dirinya juga kalut, namun sebisa mungkin untuk tetap tenang. Mengingat dia harus menjadi sandaran bagi sang istri–Renata.
Beruntung keadaan klinik tidak terlalu ramai akan pasien anak yang periksa. Keluarga kecil itu hanya harus menunggu dua antrean sampai Ghea bisa diperiksa.
“Tidak apa-apa, hanya demam biasa. Sepertinya anak ibu terlalu aktif bermain di tambah cuaca sedang panas membuat daya tahan tubuhnya melemah,” jelas dokter spesialis anak itu dengan lembut tak lupa senyum ramahnya.
Embusan nafas lega keluar dari sepasang suami istri itu. “Syukurlah. Memang sejak bisa berjalan, anak saya tambah aktif, Dok,” ucap Renata membenarkan ucapan sang dokter.
Dokter itu pun tersenyum ramah menatap Renata. “Wajar, Bu. Jangan terlalu cemas. Ini saya akan resepkan obat untuk Ghea.” Dokter itu menanggapi dengan menyodorkan resep ke Renata.
“Baik, Dok. Terima kasih,” ujar Renata membalas senyuman yang dokter itu berikan. Lantas, wanita itu pamit untuk pergi.
Dengan Ghea yang dalam gendongan papanya menuju mobil, Renata melihat sanga anak dan suaminya, memanjatkan rasa syukur karena sang anak hanya sakit biasa dan Bagas selaku suaminya tidak banyak berkomentar. Malah pria itu juga tidak kalah khawatir dengan anaknya.
...****************...
Melihat sang istri yang masih terjaga membuat Bagas menghela nafas beratnya. “Belum tidur?” tanya Bagas begitu keluar dari kamar mandi.
Iya, pria itu baru bisa mandi setelah pulang mengantar periksa anaknya dan juga membantu istrinya menenangkan Ghea yang rewel saat minum obat.
Renata yang tengah berbaring miring dengan mengelus kepala Ghea, menoleh menatap Bagas. Wanita itu menggeleng. “Belum mengantuk, Mas,” sahutnya singkat.
Bagas mendekat ke arah istri dan anaknya. Mengecek suhu badan Ghea yang sudah menurun, bahkan anaknya itu sudah terlelap dalam tidurnya. Pria itu tersenyum dan mengecup kening sang anak dengan sayang. Kemudian melangkah ke sisi Renata dan membaringkan diri di samping istrinya itu.
Bagas merengkuh tubuh Renata, membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya dengan mengelus lembut punggung sang istri. “Tidurlah, kamu juga butuh istirahat setelah mengurus Ghea. Jangan sampai kamu ikutan sakit,” pungkas Bagas mengingatkan sang istri akan kesehatannya sendiri.
Renata mengangguk. “Iya, Mas. Terima kasih, ya,” balas Renata lembut dan menyamankan posisinya di dalam dekapan hangat sang suami.
Dengkur lembut Bagas dengar dari arah Renata menandakan istrinya itu telah lelap dalam tidurnya. Bagas menghela nafas berat tidak bisa tidur. Pikirannya sekarang berkecamuk. Sisa uangnya sudah tinggal sedikit, dipastikan tidak akan cukup sampai gajian bulan depan.
Pria itu bingung, memikirkan cara agar bisa mendapat uang tambahan. Dirinya tidak mungkin terus-menerus memakai tabungan Renata. Karena bagaimana pun juga, dia kepala rumah tangganya. Dia yang bertanggung jawab penuh akan kebutuhan keluarganya.
Di tengah-tengah pikirannya yang rumit dan buntu. Sosok Egi tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Dia jadi teringat pembahasan Egi dan dirinya yang hanya beberapa saat itu tentang slot. Dengan menimbang-nimbang cukup lama, Bagas kalah dengan rasa penasaran dan impitan ekonominya.
Pria itu dengan pelan mengambil ponselnya mencari tahu tentang slot online. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan ke Egi.
Bagas:
Gi, awal main slot gimana?
aku harus nyetok kesabaran juga nih bacanya 🥲