Kiran adalah wanita yang mempunyai wajah jelek, bahkan semua orang menyebutnya dengan sebutan wanita si buruk rupa. Kiran dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pengusaha tampan bernama Viki.
Viki terpaksa menikahi Kiran untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya yang hampir bangkrut.
Kehidupan Kiran sangatlah menderita, hingga suatu saat Kiran memergoki Viki sedang selingkuh dengan wanita lain. Kiran memutuskan untuk bercerai dengan Viki, dan bertekad ingin membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita.
Akankah Kiran berhasil membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 DESI
Akhirnya Raj dan Kiran pun sampai di Korea, Raj memesan dua kamar hotel untuk dirinya dan juga Kiran.
Sebelum berangkat ke Korea, Kiran kembali ke rumahnya dan mengambil semua berkas-berkas penting karena Kiran yakin kalau Viki dan keluarganya akan datang ke rumah dan mencari surat-surat berharga milik Kiran.
"Sekarang kamu istirahat dulu, baru besok kita ke rumah sakit untuk bertemu dengan dokter kenalanku," seru Raj.
"Baiklah, kamu juga harus istirahat."
"Jelas dong, aku sudah sangat lelah ini."
Raj dan Kiran pun masuk ke dalam kamar masing-masing, dan benar saja tidak membutuhkan waktu lama mereka berdua langsung tertidur saking kelelahannya.
Sementara itu di kediaman Viki, dia tampak uring-uringan karena Kiran sudah berhasil kabur dengan membawa berkas-berkas yang sudah dia buat.
"Kenapa kamu bisa seceroboh itu sih, Viki!" bentak Papa Ajay.
"Maaf Pa, aku pikir dia tidak akan bisa kabur karena kita sudah pasung dia tapi ternyata dia lebih cerdik dari yang aku bayangkan," sahut Viki.
"Terus sekarang bagaimana? kita tidak jadi dong menjadi seorang konglomerat? padahal Mama sudah bilang sama teman-teman Mama kalau Mama akan menjadi seorang konglomerat karena semua kekayaan Pak Rahul akan jatuh ke tangan putra Mama," keluh Mama Sasmita.
"Astaga Mama, bisa-bisanya Mama mengatakan hal yang belum pasti," seru Viki dengan menjambak rambutnya sendiri.
"Tenang, lebih baik sekarang kita ke rumah Pak Rahul dan mengambil surat-surat penting soal tanda tangan kita bisa memalsukannya," seru Papa Ajay.
Papa Ajay dan Viki pun dengan cepat pergi menuju kediaman Pak Rahul. Mereka dengan tidak tahu malunya masuk ke dalam rumah Pak Rahul sehingga sekuriti langsung menghalangi langkah keduanya.
"Maaf, kalian mau ke mana?"
"Astaga, kamu tidak tahu siapa kita? kenapa kalian menghalangi langkah kita?" sentak Papa Ajay.
"Maaf, kita tahu anda mertua Nona Kiran dan anda suami Nona Kiran tapi bukan berarti kalian bisa masuk sembarangan karena saya harus lapor dulu kepada Nona Kiran," sahut Sekuriti.
"Kiran? apa sekarang dia ada di dalam?" tanya Viki.
"Tidak, saat ini Nona Kiran tidak ada di dalam, bukannya Nona Kiran sudah tinggal di rumah anda kenapa anda balik bertanya kepada saya?"
Seketika wajah Viki dan Papa Ajay pucat, bisa-bisanya dia terpancing dengan pertanyaan sekuriti itu.
"Ah iya aku lupa, tadi pagi-pagi sekali Kiran pergi dan aku pikir Kiran ada di sini karena dia belum pulang," sahut Viki gugup.
Sekuriti itu tampak mengerutkan keningnya merasa curiga kepada mereka berdua.
"Nona Kiran tidak ada di sini, dan Tuan Rahul masih dalam proses pencarian jadi saya tidak bisa mengizinkan kalian untuk masuk," seru Sekuriti.
Papa Ajay dan Viki tidak bisa berkata apa-apa lagi, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pergi dari rumah itu.
Sekuriti tampak menyunggingkan senyumannya. "Dasar orang-orang jahat, tunggu saja sebentar lagi kalian akan mendapatkan balasannya," batinnya.
Kiran memang memberitahukan kepada semua pekerja di rumahnya untuk tidak memberitahukan keberadaannya.
Malam pun tiba....
Kiran tampak duduk di balkon kamar hotel di mana dia berada, saat ini Kiran menatap pemandangan kota Seoul yang sangat indah itu.
"Pa, besok Kiran akan menjalani operasi pada wajah Kiran, do'akan Kiran semoga operasinya berjalan dengan lancar dan Kiran pastikan akan membalas semua perlakuan keluarga Mas Viki dan membuat mereka hancur, sehancur-hancurnya," batin Kiran.
***
Keesokan harinya...
Kiran dan Raj sudah sampai di sebuah rumah sakit, setelah berdiskusi dengan dokternya Kiran pun langsung di bawa ke ruangan operasi.
"Raj, kamu jangan tinggalkan aku ya, kamu harus tungguin aku," seru Kiran dengan menggenggam tangan Raj.
Raj merasa terkejut dengan perlakuan Kiran, dia pun akhirnya membalas genggaman tangan Kiran.
"Kamu jangan khawatir, aku akan menunggu kamu jadi kamu harus semangat," seru Raj.
Suster pun mendorong brankar ke dalam ruangan operasi, sungguh saat ini jantung Kiran berdetak tak karuan semua perasaan campur aduk.
"Aku harus berani dan jangan takut," batin Kiran.
Dokter pun memutuskan untuk melakukan bius keseluruhan, dan perlahan tapi pasti Kiran mulai memejamkan matanya hingga beberapa saat kemudian, Kiran pun sudah tak sadarkan diri.
Tim dokter segera melakukan tugasnya untuk mengoperasi wajah Kiran, sementara itu di luar Raj tampak tidak tenang. Tidak bisa dipungkiri kalau saat ini dia pun merasa sangat khawatir.
Beberapa jam kemudian....
Operasi Kiran pun berjalan dengan sangat lancar, Raj sangat bahagia dan Kiran pun segera di bawa ke ruangan rawat inap dengan seluruh wajahnya yang masih terbalut oleh perban.
"Pasien masih belum sadarkan diri, perbannya baru bisa di buka besok pagi," seru dokter.
"Iya dok, terima kasih."
Dokter pun meninggalkan ruang rawat Kiran, Raj duduk di samping Kiran dan menggenggam tangan Kiran.
"Dari dulu aku memang sudah menyukaimu Kiran, walaupun banyak yang bilang kamu wanita buruk rupa tapi entah kenapa aku tetap menyukaimu," gumam Raj.
Tiba-tiba ponsel Raj berbunyi dan Raj dengan cepat mengangkatnya.
📞"Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan info baru?" tanya Raj.
📞"............."
📞"Kerja yang bagus, ingat kamu harus tetap mengawasi keluarga Nadeem jangan sampai kamu kecolongan," seru Raj.
Raj pun akhirnya memutuskan sambungan teleponnya, Raj menyunggingkan senyuman saat mendengar berita baik dari orang kepercayaannya tapi entah apa berita baik itu.
***
Hari berikutnya, Kiran mulai menggerakkan tubuhnya tapi dia sedikit meringis dan menyentuh wajahnya yang dibalut dengan perban itu.
Pintu ruangan rawat Kiran terbuka, ternyata Raj baru saja sarapan di kantin rumah sakit.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, Kiran."
"Raj, bagaimana dengan operasinya?" lirih Kiran.
"Kamu tenang saja, operasinya berjalan dengan lancar dan sebentar lagi dokter akan datang untuk membuka perban kamu," sahut Raj.
Tidak lama kemudian, dokter pun datang. "Nona, sekarang saya akan buka perbannya ya," seru dokter.
Kiran pun dibantu Raj untuk bangun dan duduk di atas ranjang pasien, perlahan dokter mulai menggunting perbannya. Jantung Kiran berdetak sangat kencang, dia benar-benar takut dan penasaran dengan wajahnya sekarang.
Perlahan tapi pasti, perbannya mulai terbuka. Seketika Raj membelalakkan matanya, tidak menyangka kalau Kiran sangatlah cantik. Kiran masih memejamkan matanya, dia benar-benar takut untuk membuka mata.
"Sekarang bukalah mata anda, Nona," seru dokter.
Perlahan Kiran membuka matanya dan suster memberikan cermin kepada Kiran. Kiran tampak membelalakkan matanya, tangan Kiran menyentuh wajahnya sendiri.
"Raj, serius ini wajah aku?"
"Iya Kiran, kamu cantik banget," sahut Raj.
Mata Kiran berkaca-kaca, dia tidak menyangka hasilnya akan luar biasa seperti ini.
"Lukanya sudah gak ada Raj, dan wajah aku sudah cantik," seru Kiran bahagia.
"Iya, selamat ya, Kiran."
"Terima kasih Raj, kamu sudah mau membantu aku kalau gak ada kamu, aku tidak mungkin bisa seperti ini."
"Sama-sama Kiran, aku ikut bahagia untukmu."
Kiran begitu sangat bahagia, dia terus memperhatikan wajahnya di cermin.
"Mas Viki, tunggu pembalasanku," batin Kiran.