Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tanpa membuang waktu, Victoria langsung menghubungi menantunya. Nada sambung terdengar berkali-kali. Namun tak ada jawaban.
Victoria mencoba lagi, tetap tidak diangkat. Untuk ketiga kalinya ia menelepon. Hasilnya tetap sama.
"Ada apa dengan anak itu?" gerutu Victoria kesal sambil menggenggam ponsel erat-erat.
Di waktu yang hampir bersamaan, Grace Ashcroft sedang menikmati makan siang bersama lima orang teman kuliahnya di sebuah restoran terkenal.
Suasana meja mereka dipenuhi tawa.
"Ayo, pesan saja apa yang kalian mau!" ujar Grace dengan senyum percaya diri. "Hari ini aku yang traktir."
"Wah, serius?" salah seorang temannya memastikan.
Grace mengangguk mantap. "Jelas. Kalian tidak usah sungkan."
Teman-temannya pun mulai memesan berbagai hidangan. Tak lama kemudian, makanan habis disantap dan pelayan datang membawa tagihan.
"Semuanya seribu dua ratus dolar."
Grace mengambil kartu banknya dengan santai, lalu menyerahkannya kepada pelayan. "Bayarnya pakai kartu ini."
"Baik, Nona."
Pelayan membawa kartu itu ke mesin pembayaran. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan raut wajah canggung.
"Maaf, Nona."
Grace masih tersenyum. "Iya?"
"Transaksi Anda gagal."
Senyum Grace langsung menghilang. "Hah? Mungkin bisa dicoba sekali lagi."
Grace mulai merasa tidak enak. Wajahnya kaku dan cemas.
Pelayan kembali mencoba. Namun, hasilnya tetap sama. "Nona, saldo rekening Anda tidak mencukupi."
Suasana meja yang semula ramai mendadak hening. Teman-teman Grace saling berpandangan.
Grace sendiri merasakan pipinya memanas karena malu. "Mana mungkin?" gumamnya tidak percaya.
Dengan tergesa-gesa ia membuka aplikasi mobile banking di ponselnya. Begitu melihat angka saldo yang tersisa, matanya langsung membelalak. "Kenapa uangku tinggal segini?"
Grace buru-buru berdiri dari kursinya. "Tunggu sebentar."
Grace berjalan menjauh dari meja makan sambil menghubungi Vivienne. Panggilannya tidak diangkat. Ia mencoba lagi. Masih tidak dijawab. Untuk ketiga kalinya, hasilnya tetap sama.
Kesabaran Grace langsung habis. "Sial!" umpatnya sambil menghentakkan kaki. "Vivienne! Berani sekali kamu mengabaikan teleponku!"
Karena tidak memiliki pilihan lain, Grace akhirnya meminjam uang kepada beberapa orang temannya untuk membayar seluruh tagihan makan siang itu. Rasa malu membuat wajahnya memerah sepanjang waktu.
Sore harinya, Dominic sedang memimpin rapat bersama jajaran direksi ketika ponselnya terus bergetar tanpa henti. Layar ponselnya dipenuhi belasan panggilan tidak terjawab dari Victoria.
Dominic mengembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya. "Maaf, saya izin sebentar," ucapnya kepada para peserta rapat.
Pria itu keluar dari ruang rapat, lalu segera menerima panggilan berikutnya. "Halo, Mom. Ada apa?"
Belum sempat Dominic menyelesaikan kalimatnya, suara Victoria langsung terdengar melengking. "Dominic! Apa Vivienne lupa mengirim uang bulan ini?"
Dominic mengernyit. "Masa lupa?"
"Rekeningku kosong! Bahkan tadi aku dipermalukan di butik karena kartuku ditolak!"
Belum sempat Dominic memberikan jawaban, suara Grace tiba-tiba terdengar dari sambungan telepon.
"Kak! Vivienne sengaja tidak mengangkat teleponku! Aku sampai dipermalukan di depan teman-teman kampus! Kamu harus suruh dia segera kirim uang!"
Dominic memejamkan mata sejenak. Ia kembali memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut.
"Kalian tenang dulu."
"Gimana aku bisa tenang?" bentak Grace penuh emosi. "Semua gara-gara Vivienne!"
Victoria ikut menyela dengan nada tak kalah tinggi. "Suruh dia transfer sekarang juga!"
Kesabaran Dominic akhirnya habis. "Cukup!" bentaknya tegas.
Suara keras itu langsung membuat Victoria dan Grace terdiam.
"Aku sedang bekerja," lanjut Dominic dengan rahang mengeras. "Jangan meneleponku hanya karena urusan uang."
Tanpa memberi kesempatan ibunya maupun adiknya untuk berbicara lagi, Dominic langsung memutus sambungan telepon. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mengembuskan napas panjang.
"Wanita-wanita itu benar-benar membuat kepalaku pusing," gumamnya kesal sebelum kembali masuk ke ruang rapat.
Sementara itu, di apartemen Estelle. Sinar matahari sore menembus jendela besar ruang tamu, menghangatkan ruangan yang didominasi warna krem. Aroma teh melati memenuhi udara, menciptakan suasana tenang yang berbanding terbalik dengan badai yang sedang disusun oleh dua wanita di dalamnya.
Vivienne duduk bersandar di sofa sambil memangku secangkir teh hangat. Sesekali telapak tangannya mengusap lembut perut yang mulai membesar. Wajahnya terlihat tenang, bahkan nyaris damai. Sulit dipercaya kalau beberapa hari lalu dunianya baru saja runtuh.
Di sampingnya, Estelle sibuk membuka laptop sambil sesekali melirik layar ponselnya. Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi.
Estelle segera meraih ponselnya. "Detektif mengirim laporan," gumamnya.
Estelle membuka pesan itu, lalu membaca isinya perlahan. Baru beberapa baris dibaca, sudut bibirnya mulai terangkat. Tak lama kemudian, tawanya pecah. "Ha-ha-ha!
Vivienne yang sedang menyeruput teh menoleh heran. "Ada apa?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alis.
Tanpa menjawab, Estelle menyodorkan ponselnya. "Baca sendiri."
Vivienne menerima ponsel itu. Matanya bergerak pelan mengikuti setiap kalimat dalam laporan singkat tersebut.
Victoria Ashcroft dipermalukan di butik karena kartu pembayarannya ditolak. Grace Ashcroft dipermalukan di restoran saat mentraktir teman-temannya karena saldo rekeningnya tidak mencukupi.
Vivienne mengembalikan ponsel itu sambil tersenyum tipis. Senyum yang tenang. Namun, di balik senyum itu tersimpan luka yang begitu dalam.
"Itu baru permulaan," ucapnya pelan.
Estelle menyenggol bahu sahabatnya sambil tertawa kecil. "Kamu benar-benar berubah."
Vivienne menggeleng pelan. Ia menatap secangkir teh yang mulai kehilangan uap panasnya.
"Bukan berubah. Aku hanya berhenti menjadi orang bodoh."
Kalimat itu terdengar tenang. Namun, setiap katanya dipenuhi rasa sakit yang telah lama dipendam.
Estelle memandang sahabatnya beberapa saat.
Dulu, Vivienne adalah perempuan yang selalu mengalah demi menjaga keharmonisan keluarga suaminya. Apa pun yang diminta keluarga Ashcroft selalu dipenuhi. Vivienne tak pernah mengeluh dan tak pernah menghitung..Kini, wanita itu masih memiliki hati yang lembut.
Hanya saja, kelembutan itu tidak lagi disertai kebodohan.
Malam hari, mobil Dominic memasuki halaman rumah ketika langit sudah benar-benar gelap. Pria itu turun sambil melonggarkan dasinya. Wajahnya terlihat lelah setelah seharian menghadapi pekerjaan yang menumpuk, ditambah telepon tanpa henti dari ibu dan adiknya.
Begitu memasuki kamar, langkah Dominic langsung melambat.
Vivienne sedang duduk di dekat jendela dengan sebuah buku tentang kehamilan di pangkuannya. Sesekali ia tersenyum sendiri sambil mengusap lembut perutnya.
Pemandangan itu membuat wajah Dominic tanpa sadar melunak. Ia menghampiri istrinya, lalu duduk di sampingnya.
"Kamu belum tidur?" tanya pria itu lembut. Lalu, mencium pipi dan mengusap perut sang istri.
Vivienne menutup bukunya perlahan, lalu menoleh sambil tersenyum. "Belum. Aku sedang membaca tentang perkembangan bayi minggu ini."
Dominic ikut tersenyum. "Bagaimana kondisinya?"
"Katanya sekarang bayi sudah bisa mendengar suara orang tuanya." Vivienne kembali mengusap perutnya. "Makanya aku sering mengajaknya mengobrol."
Mendengar itu, Dominic ikut meletakkan telapak tangannya di atas perut Vivienne. Tatapannya dipenuhi harapan. Beberapa detik kemudian, ia menarik napas pelan sebelum akhirnya membuka pembicaraan.
"Vivi ...."
"Ya?"
"Mommy bilang uang bulan ini belum masuk."
Vivienne menatap suaminya sejenak, lalu menutup bukunya dengan tenang.
"Oh, soal itu." Nada suara Vivienne terdengar santai, seolah memang sudah menunggu pertanyaan tersebut.
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡