Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Kembali ke Tempat yang Seharusnya
Udara di Kota Bandung di sekitar kawasan perumahan elite Bandung Utara terasa begitu bersih, pagi itu. Mahira duduk dengan tenang di dalam mobil sedan mewah milik Jessi yang melaju membelah jalanan aspal yang mulus.
Koper cokelat tua kusam miliknya tersimpan di bagasi belakang, satu-satunya saksi bisu dari tiga tahun masa sulit yang baru saja ia tinggalkan di rumah Ziko.
Mahira memandangi jalanan dari balik kaca mobil yang gelap. Wajahnya polos tanpa riasan, mengenakan dress katun polos yang warnanya sudah sedikit memudar.
Penampilannya masih persis seperti saat ia melangkah keluar dari gerbang rumah Ziko beberapa jam yang lalu. Namun, sorot matanya tidak lagi kosong. Tatapannya datar, dingin, dan memancarkan ketenangan yang hakiki.
Di sebelahnya, Jessi sesekali melirik Mahira dengan pandangan yang penuh rasa lega. Tiga tahun lamanya Jessi harus menahan diri, melihat sahabat karibnya mengasingkan diri menjadi seorang istri penurut yang kerap diabaikan dan disudutkan oleh suami serta ibu mertuanya.
Dan Malam tadi, ketika Mahira meneleponnya dan meminta proposal Ziko ditolak, Jessi tahu bahwa masa penyamaran sahabatnya telah selesai.
"Kita hampir sampai, Ra," ucap Jessi, memecah keheningan di dalam kabin mobil yang sejuk.
Mobil sedan mewah itu perlahan berbelok memasuki area kompleks kondominium mewah terpadu yang dijaga ketat oleh sistem keamanan berlapis. Kompleks ini bukan sekedar perumahan biasa, melainkan salah satu aset properti privat paling eksklusif di Bandung yang dikembangkan langsung oleh Grand Wijaya Group. Hanya orang-orang dari kalangan atas yang memiliki akses penuh untuk memasuki kawasan steril tersebut.
Sopir pribadi Jessi menghentikan mobil tepat di depan lobi utama sebuah griya berlantai tinggi yang megah. Begitu mobil berhenti sempurna, dua petugas keamanan berseragam rapi langsung sigap membukakan pintu mobil dan membungkuk hormat dengan sangat sopan.
"Selamat pagi, Nona Mahira. Selamat datang kembali," ucap salah seorang kepala keamanan dengan nada sangat santun.
Mahira hanya mengangguk pelan sekali tanpa ekspresi. Ia turun dari mobil, disusul oleh Jessi yang membawa tablet kerjanya. Sopir Jessi segera menurunkan koper tua cokelat milik Mahira, namun seorang petugas lobi dengan cepat mengambil alih koper tersebut untuk diantarkan langsung ke lantai atas.
Mereka berdua berjalan melintasi lobi utama yang berlantai marmer mengkilap, menuju lift privat yang langsung terhubung ke unit kediaman pribadi Mahira. Begitu kartu akses khusus ditempelkan, lift bergerak naik dengan kecepatan tinggi tanpa suara.
Pintu lift terbuka, langsung menghadap ke dalam sebuah ruangan griya tawang yang sangat luas dan megah. Dinding kaca besar menjulang tinggi dari lantai hingga langit-langit, menyuguhkan pemandangan lanskap Kota Bandung dari ketinggian yang menakjubkan.
Seluruh perabotan di dalam ruangan itu merupakan barang-barang mewah pilihan, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan kamar belakang yang sempit dan pengap yang ditempati Mahira di rumah Ziko.
Di dalam ruangan tersebut, tiga orang pelayan pribadi berseragam rapi sudah berdiri berbaris dengan kepala tertunduk hormat.
"Selamat datang kembali di kediaman Anda, Nona Mahira," ucap kepala pelayan wanita paruh baya dengan suara bergetar haru. Sudah tiga tahun tempat ini kosong karena sang pemilik memilih tinggal di rumah sederhana di pinggiran kota demi mengabdi pada seorang pria.
Mahira menghentikan langkahnya di tengah ruangan. Ia menatap sekeliling kediamannya yang sebenarnya dengan pandangan datar. Tidak ada rasa takjub, karena semua kemewahan ini memang sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak lahir.
"Semua pakaian dan kebutuhan Anda yang baru sudah disiapkan di dalam kamar utama, Nona," lanjut kepala pelayan itu dengan sopan.
"Terima kasih. Kalian boleh kembali ke tugas masing-masing," jawab Mahira pendek. Suaranya terdengar sangat datar dan tenang.
Para pelayan itu membungkuk sekali lagi lalu mengundurkan diri dengan tertib, meninggalkan Mahira dan Jessi di ruang tengah yang luas.
Jessi berjalan menuju sofa kulit besar dan menjatuhkan tubuhnya di sana, lalu meletakkan tabletnya di atas meja kaca. Ia menatap Mahira yang masih berdiri tegak di dekat dinding kaca.
"Rasanya aneh ya, Ra. Melihatmu berdiri di ruangan semegah ini tapi masih mengenakan dress katun tipis dari desa itu," kata Jessi dengan senyum tipis. "Kalau Ziko dan Bu Rani melihat tempat ini, mereka pasti akan langsung terkena serangan jantung."
Mahira tidak langsung menanggapi. Ia berjalan mendekati dinding kaca, memandangi hamparan kota di bawahnya. "Baju ini mengingatkanku pada alasan kenapa aku sempat bertahan di sana, Jes. Aku pernah berpikir bahwa ketulusan bisa mengubah tabiat seseorang. Tapi ternyata, aku diabaikan."
"Ziko terlalu buta oleh egonya sendiri, Ra. Dia mengira perusahaannya bisa besar hanya karena kemampuannya sendiri, padahal dari awal kamulah yang menggerakkannya dari balik layar," sahut Jessi dengan nada kesal. "Dia bahkan dengan bodohnya mengira Clarissa yang punya koneksi pada perusahaan kita."
Mahira membalikkan badannya, menatap Jessi dengan tatapan jernih tanpa beban. "Biarkan saja Clarissa menikmati kebohongannya untuk beberapa hari ini. Saat Ziko sadar bahwa bantuan dana yang dijanjikan Clarissa tidak akan pernah ada, dan saat perusahaannya mulai kolaps karena pemutusan hubungan dari kita, di situlah dia akan mulai mencari tahu siapa aku sebenarnya."
Jessi mengangguk setuju. Ia membuka kembali tabletnya untuk memeriksa jadwal. "Pengacara kita sudah mendaftarkan berkas gugatan ceraimu ke pengadilan agama pagi ini. Prosesnya akan dibuat secepat mungkin karena kamu tidak menuntut aset atau harta sepeser pun dari pihak Ziko. Sesuai maumu, kita buat ini bersih dan tanpa drama di meja hijau."
"Bagus," balas Mahira datar.
Ia melangkah menuju koridor yang mengarah ke kamar tidur utamanya. Koper tua cokelat miliknya sudah diletakkan di sana. Kamar berukuran besar itu terhubung langsung dengan ruang pakaian privat yang dipenuhi dengan deretan busana formal bermerek, perhiasan mewah, dan sepatu kelas atas yang selama tiga tahun ini sengaja ia simpan rapat-rapat.
"Istirahatlah dulu hari ini, Ra," kata Jessi dari ruang tengah. "Besok pagi, mobil jemputan utama akan datang. Seluruh jajaran direksi dan pemegang saham Grand Wijaya Group sudah merindukan kehadiranmu di kursi pimpinan."
Mahira berhenti di ambang pintu kamarnya, menoleh sedikit ke arah Jessi. "Aku tidak butuh istirahat lama, Jes. Tiga tahun menjadi penonton di dapur sudah lebih dari cukup. Besok pagi, aku akan memastikan Ziko menerima surat penolakan resmi kedua dari anak perusahaan kita yang lain."
Setelah mengatakan hal itu, Mahira masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan perlahan. Keheningan yang akrab kembali menyergapnya.
Di tempat inilah, di kediamannya yang sebenarnya, Mahira tidak perlu lagi menyembunyikan identitasnya. Sikap tidak peduli Ziko semalam telah menjadi penutup dari masa lalunya yang lemah, dan besok, babak baru pembalasan yang tenang namun mematikan akan segera dimulai.
Jangan lupa dukungannya ya, like, komen, vote, dll...