Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Montmartre Tidak Pernah Tidur
"Maël Delacroix! Menyerahlah!"
Suara dari helikopter terus menggema di atas langit Paris.
Aku masih terpaku.
Delacroix.
Nama itu terus berputar di kepalaku.
"Maël!"
teriak Léo sambil menarik lenganku.
"Kalau kau terus melamun..."
"...kau bakal jadi target latihan menembak!"
"Hah?"
"AYO LARI!"
Aku baru tersadar ketika peluru kembali menghantam cerobong asap di sampingku.
Dor!
Pecahan bata beterbangan.
"Oke."
gumamku.
"Aku memilih hidup."
Kami kembali berlari.
Henri memimpin di depan.
Marcel di belakang memastikan tidak ada yang tertinggal.
Kami melompati satu atap, lalu turun melalui tangga besi yang sudah berkarat.
Sesampainya di jalan kecil, Henri langsung membelok ke sebuah lorong yang bahkan tidak kulihat sebelumnya.
Lorong itu sempit.
Hanya cukup dilewati dua orang.
Di dindingnya penuh mural, coretan nama geng, dan poster konser yang sudah mengelupas.
"Paris memang romantis..."
kataku sambil terengah-engah.
"...kalau kalian tidak melihat gang-gangnya."
Léo menyenggol bahuku.
"Diam."
"Napasmu lebih mahal."
"Aku sedang menghemat."
"Bagus."
── Maël kepada kalian ──
Kalau suatu hari kalian tersesat di Paris...
Jangan percaya Google Maps.
Percayalah pada nenek-nenek yang sedang menyapu halaman.
Entah bagaimana...
Mereka selalu tahu jalan.
Sayangnya...
Kami sedang dikejar orang bersenjata.
Jadi kami tidak sempat bertanya.
── Kembali ke cerita ──
Henri berhenti di depan sebuah pintu kayu tua.
Tidak ada papan nama.
Tidak ada nomor rumah.
Hanya pintu cokelat yang catnya mulai mengelupas.
Henri mengetuk.
Tok. Tok. Tok... Tok-Tok.
Polanya aneh.
Seperti sandi.
Beberapa detik kemudian terdengar suara perempuan dari balik pintu.
"Qui est là?"
"Siapa di sana?"
Henri menjawab pelan.
"Les hirondelles reviennent toujours."
"Burung layang-layang selalu kembali."
Aku mengangkat alis.
"Apa itu?"
Léo berbisik.
"Kayaknya kata sandi."
"Aneh."
"Lebih aneh lagi..."
"...kau mengerti itu bahasa Prancis?"
"Aku tidak mengerti."
"Lalu?"
"Aku cuma pura-pura terlihat pintar."
Pintu itu terbuka perlahan.
Seorang perempuan tua berambut putih muncul.
Usianya mungkin sekitar tujuh puluh tahun.
Tubuhnya kecil.
Namun matanya tajam.
Sangat tajam.
Begitu melihat Henri, ia langsung memeluknya.
"Henri..."
"Kau masih hidup."
Henri tersenyum tipis.
"Belum sempat mati."
Perempuan itu kemudian melihat ke arahku.
Tatapannya berubah.
Ia mendekat perlahan.
Tangannya yang keriput menyentuh pipiku.
Lalu...
Matanya berkaca-kaca.
"Astaga..."
bisiknya lirih.
"Matamu..."
"...persis seperti ibumu."
Aku membeku.
Lagi-lagi.
Ibu.
Semua orang seperti mengenalnya.
Kecuali aku.
"Madame..."
kataku pelan.
"Siapa Ibu saya?"
Perempuan tua itu membuka mulut.
Namun Marcel memotong.
"Nanti."
"Tidak sekarang."
Aku langsung menoleh.
"Lagi?"
Marcel menghela napas.
"Maël."
"Percayalah."
"Belum waktunya."
Aku mendengus kesal.
"Kalau setiap orang bilang 'belum waktunya'..."
"...kapan tepatnya waktunya?"
Tidak ada yang menjawab.
Aku melipat kedua tangan.
"Baik."
"Mulai sekarang aku mogok bicara."
Léo menatapku.
"Lima euro."
"Hah?"
"Kau tidak akan tahan lima menit."
"Aku serius."
"Tiga menit."
"Dua puluh."
"Satu menit."
Aku membuang muka.
"Terserah."
Kami masuk ke dalam rumah tua itu.
Di dalamnya ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.
Rak-rak buku memenuhi dinding.
Peta Paris kuno tergantung di berbagai sudut.
Di atas meja terdapat puluhan foto hitam putih.
Beberapa di antaranya memperlihatkan anak-anak jalanan.
Yang mengejutkanku...
Salah satu foto itu adalah aku.
Masih kecil.
Sedang tertawa.
Bersama Marcel.
Aku mengambil foto itu perlahan.
"Marcel..."
"Sebenarnya..."
"...kau siapa?"
Marcel menatapku cukup lama.
Wajahnya tampak lelah.
"Aku..."
"...bukan orang yang seharusnya membesarkanmu."
"Lalu kenapa kau melakukannya?"
Karena untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya...
Marcel tersenyum dengan mata yang basah.
"Karena..."
"...aku berjanji kepada seseorang."
Ruangan kembali sunyi.
Di luar, suara helikopter masih terdengar samar.
Mereka belum menyerah.
Dan aku juga tidak.
Aku menggenggam foto itu erat-erat.
Kalau seluruh Paris menyimpan rahasia tentang hidupku...
Maka aku akan membongkarnya.
Satu per satu.
Apa pun risikonya.
── Maël kepada kalian ──
Dulu aku berpikir...
Aku hanya sedang mencari tempat untuk tidur malam ini.
Sekarang?
Aku sedang mencari siapa diriku sendiri.
Dan anehnya...
Pencarian yang kedua ternyata jauh lebih menakutkan.